
Keesokan paginya, Alexa dan Sandi terbangun saat mendengar suara Adzan Subuh berkumandang, dan Alexa terlihat meringis kesakitan ketika merasakan area sensitifnya yang sakit.
"Lexa kenapa? apa ada yang sakit?" tanya Sandi.
"Jelas saja sakit, semalam kan habis tertusuk duri yang sangat besar," jawab Alexa dengan tersenyum sekaligus meringis.
"Maaf ya, kalau Mas Sandi sudah membuat Alexa kesakitan," ucap Sandi yang masih merasa bersalah.
"Udah, Mas Sandi jangan minta maaf terus, sekarang belum Lebaran. Mas Sandi bantuin Lexa jalan saja ya ke kamar mandi," ujar Alexa, tapi Sandi langsung mengangkat tubuh Alexa.
"Gak usah digendong, digandeng aja," ujar Alexa yang takut jika sampai kembali terjatuh.
"Mas Sandi kuat kok, kan semalam udah minum susu," ujar Sandi dengan cengengesan sehingga membuat Alexa merasa malu.
Alexa menyuruh Sandi untuk ke luar dari dalam kamar mandi, karena takut kalau Sandi akan kembali memakannya.
"Mas Sandi gak bakalan ngapa-ngapain Lexa kok, Mas Sandi cuma mau bantuin Lexa mandi aja."
"Beneran gak ngapa-ngapain ya," ujar Lexa yang sudah ketakutan karena masih merasakan sakit.
"Iya bener," ujar Sandi, tapi ketika Sandi kembali melihat tubuh mulus istrinya, Sandi tidak dapat menahan semuanya, dan Sandi seakan lupa dengan perkataannya sendiri.
Lexa ke luar dari dalam kamar mandi dengan cemberut.
"Maaf ya Sayang, Mas Sandi gak kuat menahan semuanya."
"Pokoknya mulai hari ini Mas Sandi puasa satu minggu," tegas Alexa.
"Lama amat sih puasanya."
"Ya udah sekalian saja satu bulan seperti puasa Ramadhan," tegas Alexa.
"Aduh, jangan dong, satu hari saja ya," rengek Sandi.
"Gak ada, pokoknya Mas Sandi gak boleh pegang-pegang kalau Lexa masih merasa kesakitan," ujar Lexa.
"Emang Lexa gak takut dosa kalau nolak Suami?" tanya Sandi, dan Alexa terlihat berpikir.
__ADS_1
"Ya sudah, sebaiknya kita Shalat Subuh dulu, nanti Lexa pikir-pikir lagi."
......................
Alexa dan Sandi tersenyum malu ketika ke luar dari dalam kamar mereka, apalagi saat ini semuanya sudah terlihat berkumpul untuk melakukan sarapan.
"Bagaimana Sandi, semuanya lancar kan?" bisik Pak Parjo pada Sandi yang saat ini duduk di sebelahnya.
"Alhamdulillah Pak lancar, makanya Sandi nyesel," jawab Sandi.
"Kok nyesel, emang kamu nyesel kenapa?" tanya Pak Parjo.
"Nyesel karena Sandi baru ngerasain semuanya sekarang, kalau tau nikah itu enak, udah dari dulu sandi cepet-cepet nikah Pak," jawab Sandi dengan cengengesan.
"Kalian ngomongin opo toh pake bisik-bisik segala?" tanya Bu Atun.
"Ini urusan lelaki Bu, jadi Ibu gak usah kepo," jawab Pak Parjo.
"Sepertinya Bapak nanti malam minta tidur di luar ya," ujar Bu Atun.
"Pak Kyai, terimakasih banyak atas semua kebaikan Pak Kyai dan keluarga yang telah menerima kami dengan tangan terbuka. Hari ini kami sudah memutuskan untuk kembali ke Jakarta," ujar Sukma.
"Sama-sama Nak, kita adalah keluarga, dan saya bahagia karena kita semua bisa berkumpul untuk bersilaturahmi," ujar Kyai Ahmad.
"Kenapa cepat sekali Nak Sukma pulangnya, padahal Ibu seneng kalian berada di sini, apalagi Yusuf selalu ingin dekat dengan kedua orangtuanya," ujar Umi Maryam yang sangat mengerti perasaan Yusuf.
"Bukannya kami tidak ingin tinggal lama di sini Umi, tapi di Jakarta banyak pekerjaan yang menunggu kami. Sandi dan Lexa mau ikut ke Jakarta sekarang atau bagaimana?" tanya Sukma.
"Kami sudah berencana untuk ikut Bunda dan Ayah ke Jakarta dulu, Nanti setelah dari Jakarta, baru Lexa dan Mas Sandi akan menetap di Jawa Timur, karena Mas Sandi akan membuka usaha di sana," jawab Alexa.
Sandi dan Alexa ikut ke Jakarta karena sudah berencana untuk menakut-nakuti Yuli yang saat ini berada di dalam penjara.
"Nak, kalau kalian mau, Sandi bisa memegang salah satu Perusahaan kami di Jakarta," ujar Bara.
"Terimakasih banyak Ayah, bukannya Sandi menolak rezeki, tapi kasihan Ibu dan Bapak jika Sandi dan Lexa tinggal di Jakarta, jadi sebaiknya Sandi membantu Bapak untuk mengelola peternakan serta membuka usaha kecil-kecilan saja di Jawa Timur."
"Apa pun keputusan kalian kami pasti akan selalu mendukung, meski pun kami sebenarnya berharap kita semua bisa selalu berkumpul," ujar Sukma dengan tertunduk sedih.
__ADS_1
Bu Atun yang melihat kekhawatiran pada wajah Bara dan Sukma, akhirnya angkat suara.
"Nak, kalian tidak usah mengkhawatirkan Alexa, karena kami pasti akan menyayanginya seperti kami menyayangi Putri kami sendiri."
"Iya Bu, Sukma percaya, karena dulu Ibu juga sudah sangat menyayangi Sukma, dan Sukma tidak akan pernah melupakan semua kebaikan Ibu dan Bapak. Sukma titip Lexa ya, tolong ajarkan Lexa bagaimana caranya menjadi istri yang baik."
"Insyaallah Nak, kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk Sandi dan Lexa," ujar Bu Atun, sehingga membuat Sukma bisa bernapas lega.
Yusuf yang mendengar kedua orangtuanya akan kembali ke Jakarta terlihat sedih, karena Yusuf ingin selalu berada di dekat Sukma dan Bara.
"Yusuf jangan sedih ya, sebentar lagi kan libur semester, jadi Yusuf bisa liburan di Jakarta, dan nanti Ayah sama Ibu akan mengajak Yusuf ke tempat pariwisata yang Yusuf mau," ujar Bara dengan membawa Yusuf untuk duduk di pangkuannya.
"Makasih Ayah, Yusuf sayang Ayah," ucap Yusuf dengan mencium wajah Bara, karena Yusuf merasa bahagia.
Sukma yang melihat kedekatan Bara dan Yusuf, merasakan sesak dalam dadanya, karena Sukma kembali kepikiran dengan sesuatu yang akan terjadi di masa depan tentang hubungan Yusuf dan Bara.
......................
Semuanya kini telah bersiap untuk pulang. Sukma, Bara Alexa dan Sandi akan berangkat menuju Jakarta, sedangkan Bu Atun, Pak Parjo dan Bu Inem, akan kembali pulang ke Jawa Timur.
"Yusuf sayang, kami pulang dulu ya Nak, kami pasti akan merindukan Yusuf. Yusuf jangan nakal di sini, Yusuf harus jadi Anak yang saleh," ujar Bara.
"Pak Kyai, Umi, kami titip Yusuf ya, dan ini ada sedikit rezeki dari kami untuk keperluan Pesantren," ujar Sukma dengan memberikan amplop coklat yang berisi uang seratus juta rupiah.
"Insyaallah kami akan selalu menjaga Yusuf, karena Yusuf sudah kami anggap sebagai Anak kandung kami sendiri." ujar Umi Maryam.
"Terimakasih banyak ya Nak Sukma dan Nak Bara, semoga rezekinya semakin lancar. Saya sebenarnya sudah berencana, jika suatu saat nanti, Yusuf yang akan menggantikan saya menjadi Pemimpin Pondok Pesantren ini," ucap Kyai Ahmad yang di Amini oleh semuanya.
Setelah semuanya berpamitan, Bu Atun, Pak Parjo dan Bu Inem terlebih dahulu melajukan mobilnya menuju Jawa Timur, begitu juga dengan Sukma dan keluarga yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Sandi, kamu itu jadi Menantu gak ada akhlak, masa kamu mau jadiin Ayah mertua kamu Supir, sana kalian pindah ke depan," ujar Bara kepada Sandi yang saat ini sudah duduk di jok belakang bersama Alexa.
Sandi yang mendengar perkataan Bara hanya nyengir kuda, kemudian Sandi pindah ke depan untuk mengemudikan mobilnya, dan Alexa duduk di sebelah Sandi.
"Sayang, sekarang giliran kita duduk di belakang supaya kita bisa bermesraan," ujar Bara kepada Sukma, dan Sukma memutar malas bola matanya, melihat kelakuan Bara yang semakin menjadi-jadi.
Akhirnya Sandi melajukan mobilnya menuju Jakarta, dan mereka melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan kepada Yusuf dan kedua orangtua angkatnya.
__ADS_1