
Perasaan Sukma kini bertanya-tanya, karena Sukma merasa tidak asing dengan pelukan hangat Bara.
Kenapa hangatnya pelukan Raja Genderewo rasanya tidak asing untukku, ucap Sukma dalam hati.
"Namaku Bara Permaisuriku, jadi kamu panggil saja Bara, jangan Raja Genderewo," ujar Bara dengan tersenyum manis.
"Lho, kok kamu bisa tau isi hatiku?" tanya Sukma.
"Tentu saja, aku kan bukan manusia, aku ini makhluk halus, apa kamu lupa?" ujar Bara dengan mengeratkan pelukannya.
"Maaf, aku lupa," ujar Sukma dengan tertunduk sedih karena mengingat Yusuf.
"Aku tau sayang, kalau kamu sedih karena memikirkan Yusuf, tapi kamu jangan khawatir ya, saat ini Yusuf baik-baik saja, dan dia sudah bersama orang yang tepat," ujar Bara, sehingga Sukma merasa heran.
"Jadi Yusuf bukan bersama dengan Yuli dan Mas Jaka?" tanya Sukma.
"Tentu saja bukan, karena Yusuf saat ini tinggal di sebuah Pesantren yang masih berada di daerah Jawa Timur. Awalnya Yuli dan Jaka membawa kamu dan Yusuf untuk mereka tumbalkan, tapi saat Yuli dan Jaka tertidur, Yusuf kabur."
Sukma nampak tertegun mendengar perkataan Bara, sampai akhirnya Bara memperlihatkan tangannya.
"Kamu lihat sendiri, ini Yusuf kan," ujar Bara, dan Sukma begitu terkejut saat melihat tangan Bara yang seperti memutar video, karena di sana Yusuf terlihat sedang bermain dan tertawa dengan kedua orangtua barunya.
"Ke_kenapa bisa seperti itu?" tanya Sukma dengan tergagap.
"Sayang, kenapa kamu selalu lupa kalau aku bukan manusia. Apa kamu takut kepadaku?" tanya Bara.
"Mungkin awalnya aku takut kepadamu Bara, tapi kalau dipikir-pikir, Yuli, Mas Jaka dan Dukun yang membantu mereka, lebih menakutkan dari kamu, karena mereka adalah iblis yang berada dalam sosok manusia, bahkan mereka lebih kejam daripada iblis," ujar Sukma dengan menangis.
"Sayang, kamu jangan sedih ya, aku dan Anak kita akan selalu ada untuk kamu," ujar Bara.
"Mana mungkin kita sudah mempunyai Anak, kita kan baru saja menikah?" ujar Sukma yang merasa terkejut dengan perkataan Bara.
"Apa kamu tau tanda yang ada pada bahu kamu?" tanya Bara.
__ADS_1
"Si Mbok dulu bilang kalau ini adalah tanda yang diberikan oleh makhluk halus yang menginginkanku sejak aku masih berada dalam kandungan," jawab Sukma.
"Kamu benar, dan makhluk halus tersebut adalah Aku. Mungkin kamu tidak tau juga kalau orang yang sudah menolong kamu saat jatuh ke jurang saat kamu masih kecil dulu adalah aku juga."
Sukma merasa terkejut karena selama ini Sukma selalu mengira jika orang yang menolong hidupnya adalah Jaka, bahkan Sukma berjanji akan mengabdikan hidupnya kepada orang yang telah menolongnya, makanya Sukma sampai jatuh cinta kepada Jaka.
"Tidak mungkin, kamu tidak sedang membohongiku kan?" tanya Sukma yang masih belum percaya dengan perkataan Bara.
"Untuk apa aku membohongimu, kamu pikir saja sendiri, apa mungkin Jaka yang hanya manusia biasa bisa menyelamatkanmu dari jurang yang sangat dalam, bahkan kamu tidak terluka sedikit pun, apalagi saat itu kalian berdua masih kecil," ujar Bara.
Sukma nampak memikirkan perkataan Bara yang ada benarnya juga.
"Jadi selama ini aku sudah salah mengira, aku pikir Mas Jaka yang sudah menyelamatkanku, makanya aku sampai berjanji untuk mengabdikan seumur hidupku untuknya."
"Benar, selama ini kamu telah salah mengira, tapi mulai sekarang aku yang akan mengabdikan seluruh hidupku untukmu Permaisuriku," ujar Bara, sehingga membuat hati Sukma terasa menghangat.
"Tapi aku juga masih bingung, bagaimana bisa kita mempunyai Anak? bagaimana caranya aku bisa mempunyai Anak darimu?" tanya Sukma yang masih saja merasa heran.
"Maafkan aku Sukma, aku tidak bisa menahannya, dan kamu tetap yang terindah dalam hidupku, Permaisuriku." ujar Bara dengan membawa Sukma ke dalam pelukannya, setelah Bara menyelesaikan permainannya.
Sukma merasa malu karena tadi sudah berkata kalau dia belum siap, tapi kenyataannya Sukma begitu menikmati sentuhan yang diberikan oleh Bara, sampai akhirnya mereka berdua tertidur dengan saling berpelukan.
......................
Saat ini Abi Ahmad dan Umi Maryam akan berkunjung menuju rumah Bu Atun dan Pak Jarwo, dengan Yusuf yang menjadi petunjuk jalan mereka.
Sepanjang perjalanan, mereka bertiga terlihat bahagia, apalagi Yusuf terus saja berceloteh dan bertanya ketika melihat sesuatu yang belum Yusuf ketahui.
"Umi sangat bersyukur karena hidup kita terasa lengkap sejak kehadiran Yusuf, Abi."
"Begitu juga dengan Abi, karena Yusuf membawa kebahagiaan dalam kehidupan kita. Semoga saja nanti Kakek dan Neneknya Yusuf mengijinkan kita untuk mengadopsi Yusuf."
"Iya, semoga saja Bi, karena Umi tidak mau berpisah dengan Yusuf.
__ADS_1
Akhirnya Yusuf dan kedua orangtua angkatnya sampai di halaman rumah Kakek dan Neneknya setelah menempuh hampir lima jam perjalanan, dan di teras terlihat Bu Atun dan Pak Parjo yang sedang menangisi hilangnya Sukma dan Yusuf.
"Assalamu'alaikum," ucap Yusuf, Abi Ahmad dan Umi Maryam.
"Wa'alaikumsalam. Yusuf," teriak Bu Atun dengan berhambur memeluk tubuh Yusuf.
"Yusuf kemana saja? kenapa Yusuf dan Ibu tidak pamit kepada Kakek dan Nenek?" tanya Bu Atun.
Pak Parjo dan Bu Atun sangat bahagia karena akhirnya bisa kembali melihat Yusuf.
"Pak, Bu, silahkan masuk, sebaiknya kita mengobrol di dalam," ujar Pak Parjo yang bisa melihat aura putih pada Abi Ahmad dan Umi Maryam, sehingga Pak Parjo tidak mempunyai pikiran buruk terhadap mereka.
Bu Atun terus saja memeluk erat tubuh Yusuf, karena Bu Atun tidak mau berpisah kembali dengan Yusuf.
"Kemana Ibu Sukma Nak?" tanya Bu Atun kepada Yusuf.
"Ibu dibawa sama Ayah dan Tante jahat Nek," jawab Yusuf dengan menangis.
"Astagfirullah, tega sekali Jaka dan Yuli kepada Sukma dan Yusuf," ujar Bu Atun dengan kembali menangis.
"Maaf Pak, bagaimana ceritanya Anda bisa bertemu dengan Cucu kami?" tanya Pak Parjo.
Abi Ahmad akhirnya menceritakan tentang awal mula pertemuannya dengan Yusuf, bahkan pertemuannya dengan Bara yang telah menitipkan Yusuf kepadanya, karena saat ini Nyawa Yusuf berada dalam bahaya.
"Terimakasih banyak Kyai telah menyelamatkan Cucu kami, meskipun kami belum tau bagaimana nasib Sukma sekarang," ujar Pak Parjo.
"Sudah seharusnya kita saling menolong, dan saya sangat bahagia dengan kehadiran Yusuf, karena sudah tiga puluh tahun kami menikah, kami masih belum mempunyai keturunan. Bara bilang kalau Sukma dan Yusuf akan dijadikan tumbal pesugihan, tapi Bara akan berusaha untuk menyelamatkan Sukma," ujar Abi Ahmad.
"Semoga saja Bara berhasil menyelamatkan Sukma. Kami tidak pernah menyangka jika Jaka dan Yuli tega melakukan semua itu kepada Sukma dan Yusuf, bahkan mereka juga telah tega mengambil semua uang dan harta yang kami punya," ujar Pak Parjo yang sangat kecewa terhadap Jaka.
Akhirnya Abi Ahmad mengutarakan keinginannya untuk mengadopsi Yusuf, supaya Yusuf juga aman jika tinggal di Pesantren.
"Bagaimana Pak, Bu, apa Ibu dan Bapak mengijinkan jika Yusuf menjadi Anak angkat kami dan tinggal bersama kami di Pesantren?"
__ADS_1