
Bara dan Sukma merasa terkejut ketika mendengar teriakan Pak Urip, kemudian mereka menghampiri Pak Urip yang saat ini tengah pingsan.
"Kenapa Pak Urip bisa sampai pingsan?" tanya Bara.
"Tadi sebelumnya Pak Urip berteriak menyebut hantu, apa kamu masih menunjukan wujud kepada manusia lainnya?" sukma balik bertanya.
"Aku lupa, karena tadi ketika pulang dari acara seminar aku menghemat energi, sehingga aku hanya terlihat oleh kamu saja," jawab Bara dengan menepuk dahinya.
"Pantas saja Pak Urip berteriak hantu, pasti karena tadi dia melihat mobil yang kita kendarai berjalan sendiri, dan Pak Urip mengira jika pintu mobil terbuka dan tertutup sendiri pada saat kamu ke luar dari dalam mobil.
"Ya sudah, sebaiknya sekarang kamu pindahkan Pak Urip ke dalam Pos, dan buat Pak Urip melupakan kejadian tadi," ujar Sukma kepada Bara, dan dengan mudah Bara memindahkan Pak Urip menggunakan kekuatannya, kemudian menghapus ingatan Pak Urip supaya Pak Urip tidak banyak pertanyaan dan merasa ketakutan.
Ketika Bara dan Sukma hendak ke luar dari dalam pos Satpam, tiba-tiba Pak Urip membawa pentungan untuk memukul kepala Bara.
"Bara awas !!" teriak Sukma, dan Bara langsung saja menghindari pukulan yang dilayangkan oleh Pak Urip.
"Kita akhirnya bertemu kembali Raja Genderewo," ujar Raja iblis yang saat ini merasuki tubuh Pak Urip.
"Kalau kamu berani, jangan memakai tubuh manusia tidak berdosa Raja iblis, sekarang kita bertarung tanpa menggunakan perantara," tantang Bara.
Raja iblis yang merasuki tubuh Pak Urip akhirnya ke luar, dan langsung bertarung dengan Bara.
Duar..duar..
Suara letusan dari tenaga dalam yang dikeluarkan oleh keduanya saling bertubrukan dan kedua Raja makhluk ghaib tersebut pun saling terpental karena kekuatan yang seimbang.
"Rupanya sekarang tenagamu lumayan juga Raja Genderewo. Ternyata Istrimu pandai sekali dalam mencari tumbal," ujar Raja iblis dengan memegang dadanya yang terasa sakit.
Bara yang mendengar perkataan Raja iblis merasa geram, karena dia kembali teringat tentang pengorbanan yang telah Sukma lakukan.
"Tutup mulut kamu sebelum aku merobeknya," teriak Bara, kemudian Bara menyerang Raja iblis dengan membabi buta, sampai akhirnya Raja iblis kembali terluka parah.
"Kali ini kamu menang Bara, tapi ingat, suatu saat nanti aku akan merebut Sukma darimu," ujar Raja iblis kemudian menghilang.
__ADS_1
Sukma yang melihat Bara masih duduk bersimpuh di atas tanah, berlari untuk menghampiri Bara, dan ketika Sukma sudah berada di hadapannya, Bara langsung saja mendekap erat tubuh Sukma.
"Bara, apa kamu baik-baik saja?" tanya Sukma.
"Aku takut Sukma, aku sangat takut kehilanganmu," jawab Bara dengan mengeratkan pelukannya.
"Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada di sampingmu, daripada aku harus bersanding dengan Raja iblis, lebih baik aku mati Bara, supaya Raja iblis tidak bisa mendapatkanku. Jadi, tidak ada yang perlu kamu takutkan, karena hanya maut yang dapat memisahkan kita.
......................
Hari ini Sandi sudah diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit, dan Sandi langsung meminta kepada Bu Inem supaya mengantarkannya untuk bertemu dengan orangtua kandungnya.
"Bu, sekarang kita langsung pergi ke Jawa timur saja ya, Sandi ingin segera bertemu dengan orangtua kandung Sandi."
"Apa sekarang kondisi Sandi sudah lebih baik?" tanya Bu Inem.
"Alhamdulillah Bu, Sandi sudah merasa lebih baik.
Sandi dan Bu Inem sampai di Jawa Timur pada sore hari, dan Bu Atun yang melihat wajah Sandi mirip sekali dengan Jaka langsung berteriak histeris.
"Pak, Jaka masih hidup Pak," teriak Bu Atun.
"Istighfar Bu, kasihan Jaka kalau kita masih belum mengikhlaskan kepergiannya," ujar Pak Parjo yang masih berada di dalam rumah.
Ketika Pak Parjo ke luar untuk menghampiri Bu Atun, Pak Parjo langsung terlonjak kaget.
"Jaka, kenapa Ruh kamu masih saja gentayangan? apa sebenarnya keinginan kamu yang masih belum terlaksana, biar nanti Bapak coba wujudkan keinginan terakhir Jaka, tapi sekarang Bapak mohon, Jaka harus beristirahat dengan tenang," ujar Pak Parjo dengan memeluk tubuh Bu Atun yang menangis.
"Bu, apa Bapak dan Ibu ini adalah Orangtua kandung Sandi?" tanya Sandi kepada Bu Inem yang saat ini bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Benar Nak, Atun dan Parjo adalah Orangtua kandung Sandi," jawab Bu Inem.
"Inem, itu kamu kan? kemana saja kamu selama ini? kenapa kamu bisa datang bersama Jaka? apa kamu juga sudah meninggal seperti Jaka, makanya kalian datang ke sini untuk mengunjungi kami?" tanya Bu Atun, karena baik Bu Atun mau pun Pak Parjo tidak pernah mengetahui kalau mereka mempunyai Anak kembar.
__ADS_1
"Atun, Parjo, maafkan kesalahanku, kalian tau sendiri kan kalau aku tidak bisa memiliki keturunan, makanya Suamiku meninggalkan ku dan berselingkuh dengan perempuan lain. Dulu saat aku membantu Atun melahirkan, sebenarnya Atun melahirkan bayi kembar, aku benar-benar minta maaf karena saat itu aku khilaf sehingga mengambil salah satu bayi Atun ketika ia pingsan, apalagi saat itu Parjo sedang tidak ada di rumah," ujar Bu Inem.
"Jadi ini bukan hantu?" tanya Pak Parjo.
"Tentu saja bukan, tapi dia adalah Sandi, kembarannya Jaka," jawab Bu Inem.
Sandi secara perlahan melangkahkan kaki untuk menghampiri kedua orangtuanya, begitu juga Bu Atun dan Pak Parjo yang menghampiri Sandi, sampai akhirnya mereka bertiga berpelukan.
"Ibu, Bapak, Sandi bahagia sekali bisa berjumpa dengan Ibu Bapak. Maaf kalau Sandi baru mengetahui semuanya kemarin."
Bu Atun dan Pak Parjo yang masih penasaran dengan sosok Sandi kini melihat ke arah bawah tubuh Sandi.
"Napak Pak, berarti ini memang bukan Jaka," celetuk Bu Atun.
"Nak, maafkan kami juga yang baru mengetahui tentang keberadaan Sandi, sebaiknya sekarang kita masuk ke dalam rumah," ajak Pak Parjo, tapi Bu Inem masih terlihat diam mematung karena malu dengan Bu Atun dan Pak Parjo, sampai akhirnya Bu Atun menghampiri Bu Inem dan memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku Atun, aku benar-benar menyesali semuanya. Seharusnya sebagai sahabat aku tidak melakukan semua itu kepadamu," ucap Bu Inem dengan menangis dalam pelukan Bu Atun
"Sudahlah Inem, semuanya telah terjadi, dan aku sangat berterimakasih karena kamu sudah membesarkan Anak kami," ucap Bu Atun.
"Jadi kamu tidak marah dengan semua yang telah aku lakukan?" tanya Inem.
"Tentu saja tidak, bagaimanapun juga kamu adalah sahabat terbaikku. Kalau begitu sekarang sebaiknya kita masuk, kasihan kalian pasti kecapean setelah melakukan perjalanan jauh," ujar Bu Atun dengan menggandeng tubuh Bu Inem untuk masuk ke dalam rumah.
Sandi merasa terkejut ketika melihat fhoto Sukma yang dipajang di rumah kedua orangtuanya.
"Bu, siapa gadis dalam fhoto ini?" tanya Sandi.
"Ini adalah fhoto Sukma, istrinya mendiang Jaka. Memangnya kenapa? jangan bilang Sandi menyukai Sukma," tanya Bu Atun dengan tersenyum.
"Sukma mirip sekali dengan majikan Sandi di Jakarta Bu, tapi namanya Monalisa, bahkan kemarin Mona yang memberitahukan semuanya kepada Sandi kalau Sandi adalah kembaran Jaka, dan bukan Anak kandung Bu Inem."
"Apa mungkin Sukma masih hidup Pak?" tanya Bu Atun dengan mata yang berbinar, karena Bu Atun masih berharap kalau Sukma bisa berkumpul kembali dengannya.
__ADS_1