
Sukma dan Yusuf terlihat cemas karena sudah cukup lama Bara berada dalam kamar mandi, tapi Bara masih belum juga ke luar.
"Bu, Ayah kenapa ya lama sekali berada di dalam kamar mandi?" tanya Yusuf.
"Entahlah Nak, Ibu juga khawatir. Sepertinya tadi Ayah mimpi buruk," jawab Sukma.
Tapi kenapa tadi Ayah seperti ketakutan saat melihat Yusuf ya? batin Yusuf kini bertanya-tanya.
"Yusuf kenapa melamun terus? apa Yusuf sudah lapar?" tanya Sukma.
"Iya Bu, Yusuf sudah lapar, tapi kita tunggu Ayah dulu, sebentar lagi juga Ayah pasti ke luar dari dalam kamar mandinya," jawab Yusuf.
Beberapa saat kemudian, Bara yang sudah merasa lebih baik, akhirnya ke luar dari dalam kamar mandi, padahal sebenarnya Bara baru saja pulang dari menenangkan diri.
"Sayang, maaf ya, Ayah sakit perut, makanya Ayah lama di dalam kamar mandi," ucap Bara yang mencoba mencari alasan.
"Emang makhluk halus bisa juga sakit perut ya?" tanya Sukma dengan memicingkan matanya, apalagi Sukma melihat jika mata Bara terlihat bengkak seperti habis menangis.
"Aku kan makannya juga samaan seperti kamu sayang, jadi suka sakit perut juga," jawab Bara dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yusuf sayang, Yusuf sudah lapar kan? coba Yusuf lihat apa Kakak-kakak Yusuf sudah selesai memasaknya," ujar Sukma yang sengaja mencari alasan supaya Yusuf ke luar dari dalam kamarnya, karena Sukma yakin jika saat ini Bara sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Setelah Yusuf ke luar dari dalam kamar Sukma, Sukma mengajak Bara untuk duduk di atas kasur.
"Bara, kamu kenapa? apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku," tanya Sukma dengan menggenggam erat tangan Bara.
"Aku tidak menyembunyikan apa pun darimu sayang," jawab Bara.
"Bara, aku ini istri kamu, kamu bisa membohongi oranglain, tapi kamu tidak akan pernah bisa membohongi insting seorang istri."
Bara beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum menceritakan semuanya kepada Sukma.
"Sayang, aku sebenarnya sangat takut berpisah denganmu, aku tidak mau kehilangan kamu Sukma," ujar Bara dengan memeluk tubuh Sukma.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? apa semua itu ada kaitannya dengan mimpi yang kamu alami?" tanya Sukma.
"Iya, karena tadi aku bermimpi Yusuf menentang hubungan kita, bahkan Yusuf memisahkan kita karena kita berdua berbeda alam," jawab Bara dengan memeluk erat tubuh Sukma.
"Bara, mimpi itu cuma bunga tidur, dan selama ini Yusuf terlihat mendukung hubungan kita, jadi tidak ada yang perlu kamu khawatirkan," ujar Sukma dengan mengelus lembut punggung Bara.
__ADS_1
"Saat ini mungkin benar kalau Yusuf masih merestui hubungan kita karena Yusuf masih kecil dan belum mengerti hukum alam yang tidak memperbolehkan dua makhluk berbeda alam untuk hidup bersama, tapi semua itu akan Yusuf lakukan setelah dewasa nanti, karena Yusuf sudah ditakdirkan untuk memutus jerat iblis yang mengikatmu Sukma."
"Bagaimana kalau aku sendiri yang tidak mau terlepas darimu? sudahlah Bara, kamu jangan terlalu banyak pikiran, karena apa pun yang terjadi, kita akan selalu hidup bersama hingga maut yang dapat memisahkan kita. Ya sudah, sebaiknya sekarang kita menyusul Anak-anak menuju meja makan, perutku juga rasanya sudah lapar sekali," ujar Sukma dengan menggandeng tubuh Bara.
Saat ini Alexa dan Angel sedang terlihat menata makanan di meja, dan mereka mencoba memasak tanpa menggunakan kekuatan yang mereka miliki.
"Sepertinya masakan yang kalian buat terlihat enak nih," ujar Sukma.
"Tapi tidak akan ada yang bisa mengalahkan masakan buatanmu sayang," ujar Bara.
"Masakan Angel juga enak, kalau masakan Alexa pasti keasinan karena sudah ngebet pengen nikah," sindir Alex.
"Kakak tega banget sih ledekin Adiknya? awas saja ya kalau Kakak makan masakan Lexa."
"Oh iya Alex, kapan kamu dan Angel akan melangsungkan pernikahan?" tanya Bara.
"Kami sebenarnya sudah pengen cepet-cepet nikah Yah, tapi kami juga ingin ikut memeluk Agama islam bersama Ayah dan Alexa, jadi rencananya kami akan melangsungkan acara pernikahan setelah kami mempunyai keyakinan, karena selama ini kita belum memiliki keyakinan, dan hati Alex selalu merasa tenang dan damai ketika mendengar suara Adzan berkumandang," jawab Alex.
"Alhamdulillah kalau seperti itu, sebaiknya besok atau lusa kita ke Pesantren Kyai Ahmad sekalian mengantar Yusuf pulang," ujar Bara.
Yusuf sebenarnya masih ingin berada dekat dengan kedua orangtuanya serta saudara-saudaranya, tapi Yusuf tidak mau kalau sampai ketinggalan pelajaran saat Sekolah dan mengaji. Meskipun saat ini Yusuf baru berusia tiga tahun, tapi Yusuf sudah masuk Sekolah Dasar, karena ia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh Anak seusianya.
"Yusuf sebenarnya masih ingin tinggal bersama Ayah dan Bunda, serta Kakak-kakak Yusuf."
"Ya sudah, kalau begitu nanti Yusuf ikut ke sini lagi saja setelah Ayah dan Kakak-kakak Yusuf selesai urusannya di Pesantren," ujar Sukma.
"Tidak bisa seperti itu Bu, saat ini Yusuf sudah bersekolah, jadi Yusuf tidak mau sampai ketinggalan pelajaran Sekolah dan mengaji."
Bara yang melihat Yusuf sedih merasa kasihan juga.
"Kalau begitu besok kita semua ke Pesantren untuk mengantarkan Yusuf, dan kita juga sekalian menginap beberapa hari di sana untuk menemani Yusuf," usul Bara, sehingga Yusuf tersenyum bahagia.
"Ide yang bagus tuh, nanti sekalian saja Lexa nikah sama Mas Sandi," celetuk Alexa sehingga mendapat tatapan tajam dari semuanya.
"Kenapa lihatin nya gitu amat ya," ujar Alexa dengan cengengesan.
"Nak, kami tau kalau Lexa ingin segera menikah dengan Sandi, tapi saat ini Lexa belum menjadi manusia seutuhnya, jadi Lexa sabar dulu ya," ujar Sukma dengan mengelus lembut punggung Putrinya tersebut.
"Iya Bunda, maaf, Lexa lupa," ujar Alexa dengan tertunduk sedih.
__ADS_1
"Udah, gak usah sedih begitu, setelah kamu jadi manusia, kamu bisa segera menikah dengan Sandi. Sekarang giliran Kakak dulu, enak saja mau ngelangkahin Kakak," ujar Alex.
"Kita kapan makannya?" celetuk Yusuf.
"Maaf sayang, kami lupa," ujar Sukma dengan tersenyum.
Akhirnya Bara dan keluarga melangsungkan sarapan dengan ditemani canda dan tawa Anak-anaknya.
Aku tidak tau apa jadinya hidupku tanpa kalian, tapi aku selalu berharap kita semua akan selalu hidup bersama. Bolehkah aku egois menginginkan semua itu, meskipun aku tau jika tidak ada sesuatu yang abadi, ucap Bara dalam hati dengan tersenyum bahagia karena melihat kebahagiaan istri dan Anak-anaknya.
......................
Sandi yang sudah berkirim pesan dengan Alexa terlihat melamun membayangkan wajah cantik pujaan hatinya.
"Kenapa waktu rasanya berjalan begitu lambat? ingin sekali rasanya segera besok, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan pujaan hatiku," gumam Sandi dengan senyum-senyum sendiri.
Sandi tidak sadar jika saat ini dirinya sedang berada di atas pohon, karena tadi Sandi mencoba untuk mengambil mangga yang sudah terlihat matang.
"Lho, kok tubuhku gatal-gatal ya," gumam Sandi dengan menggaruk tubuhnya yang digigit semut.
Sandi mencoba untuk berdiri, tapi naas di atas kepalanya ternyata ada sarang lebah sehingga terjatuh karena tersundul kepala Sandi.
Gedebug
Sandi terjatuh dari atas pohon karena hilang keseimbangan.
"Aduh sakitnya bokongku," ujar Sandi dengan mengelus bokongnya, tapi ternyata kesialan yang di alami Sandi tidak sampai di situ, karena saat ini lebah yang merasa terganggu langsung menyerang Sandi.
"Lontong, lontong, eh tolong," teriak Sandi dengan berlari mengelilingi pohon mangga.
Kyai Ahmad yang melihat Sandi dikejar Lebah berteriak kepada Sandi supaya masuk ke dalam empang.
"Sandi, masuk ke dalam empang," teriak Kyai Ahmad.
Sandi yang mendengar teriakan Kyai Ahmad langsung menceburkan diri ke dalam Empang.
Byur
Sandi yang sudah merasa kesakitan karena terjatuh dari pohon mangga, bertambah sakit lagi karena tersengat lebah, apalagi saat ini Sandi harus bermandikan lumpur.
__ADS_1
"Nasib-nasib, sudah jatuh tertimpa tangga pula," ujar Sandi yang saat ini meratapi nasib sial yang menimpanya.