
Otis masih berada di ruangan yang sama dengan Nyonya Yolanda. Setelah diperiksa dokter, wanita itu belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Dia memejamkan mata dan tertidur karena lelah. Sofa empuk dan suasana yang hening membuat Otis mengantuk. Berulang kali ia memaksa kedua matanya agar tetap terpejam. Namun, rasa lelah telah membuatnya lupa. Perlahan kedua mata Otis terpejam. Pria itu bahkan tidak ingat lagi dengan tugasnya yang seharusnya menjaga Nyonya Yolanda.
Ketika Otis sedang terlelap dalam mimpi, Nyonya Yolanda terbangun. Wanita itu memandang langit kamar sebelum memegang kepalanya. Mengingat kembali foto mesra suaminya bersama wanita lain hanya membuatnya kembali sesak. Hatinya sangat sakit. Buliran air mata kembali menetes.
"Tega sekali kau Abraham!" umpatnya di dalam hati. Wanita itu tidak mau membiarkan suami dan selingkuhannya menang. Dia harus bangkit dan melawan mereka berdua. Nyonya Yolanda tidak mau bernasip menyedihkan seperti istri yang diselingkuhi pada umumnya. Dia akan buat suaminya menyesal.
Nyonya Yolanda duduk di atas tempat tidur. Melihat Otis tertidur di sofa yang ada di kamarnya membuat kedua matanya melebar. "OTIS! APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMARKU!"
Otis terperanjat kaget mendengar teriakan Nyonya Yolanda. Pria itu bahkan langsung berdiri dengan posisi bersiap. Dia menundukkan kepalanya karena tidak berani memandang wajah Nyonya Yolanda secara langsung.
Nyonya Yolanda turun dari tempat tidur. Dia melangkah cepat menuju ke posisi Otis berdiri. "Lancang sekali kau!"
PLAAKKK
Sebuah tamparan mendarat di pipi Otis. Otis tidak bisa membantah. Pria itu hanya diam menerima nasipnya. Dia mengangkat tangannya dan mengusap pipinya yang memerah.
"Bagaimana bisa kau masuk ke dalam kamarku? Apa yang sudah kau lakukan?" Emosi Nyonya Yolanda memuncak. Di tambah dengan kabar perselingkuhan suaminya, rasanya amarah wanita itu meledak-ledak. Dia ingin berteriak untuk melampiaskan rasa sakit hatinya.
"Maafkan saya Nyonya. Saya terpaksa membawa anda ke kamar karena anda pingsan, Nona."
"Sudah gak bisu lagi sekarang?" sindir Nyonya Yolanda. Wanita itu melangkah ke dekat jendela. Kedua tangannya masih terlipat. "Untuk apa dia mengirimmu? Dia takut aku melakukan apa yang dia lakukan bersama wanita kotornya itu!" teriak Nyonya Yolanda. Ia memutar tubuhnya dan memandang Otis lagi. "Apa benar seperti itu, Otis? Dia takut aku selingkuh padahal dia sendiri selingkuh!"
Otis memandang wajah Nyonya Yolanda dengan tatapan tidak terbaca. Wanita cantik itu sangat sakit hati. Otis tahu kalau majikannya marah karena kecewa. Penampilan terlihat berantakan. Walaupun begitu dia tetap seorang bidadari yang cantik. Seperti apapun keadaannya, Otis tetap mengaguminya dan memujanya.
"Kenapa kau diam saja? Sampaikan kepadanya kalau aku juga selingkuh di sini. Aku tidur bersama pria bule. Aku ingin dia sakit hati. Aku ingin dia merasa sakit yang aku rasakan!" Kedua mata Nyonya Yolanda kembali berkaca-kaca. Suaranya mulai serak. Dia sedang menekan kesedihannya. Wanita itu butuh pundak untuk bersandar. Butuh seseorang untuk mendengar keluhannya. Tetapi Otis hanya seorang supir. Apa yang bisa dia lakukan untuk membuat Nyonya Yolanda kembali tenang?
"Dia jahat! Sangat jahat!" Suaranya mulai pelan.
Tanpa sadar Otis melangkah dan menarik kepala Nyonya Yolanda. Meletakkannya di bahu lalu mengusap rambutnya perlahan.
__ADS_1
"Menangislah Nyonya. Menangis sampai hati anda benar tenang. Jika anda butuh seseorang untuk dipukul, pukul saja saya. Jika anda butuh seseorang untuk dimarahi, maka berteriaklah di hadapan saya. Lakukan Apapun yang bisa membuat hati anda kembali tenang."
Mendengar perkataan Otis bukan membuat Nyonya Yolanda berhenti menangis. Justru wanita itu menangis sejadi-jadinya. Air mata yang begitu deras telah membuat baju yang dikenakan Otis basah. Satu tangannya ia letakkan di pundak Otis. Nyonya Yolanda seperti tidak memiliki tenaga untuk berdiri. Tubuhnya hampir saja terjatuh. Otis menahan pinggang mungil milik Nyonya Yolanda. Tidak ada niat lain. Pria itu hanya tidak ingin wanita di depannya terjatuh ke lantai.
Suasana kembali hening untuk beberapa saat. Suara tangisan Nyonya Yolanda mulai reda. Dia sudah bisa mengendalikan emosi dan rasa sedihnya.
Nyonya Yolanda mengangkat kepalanya dan mendorong Otis. Dia Menghapus air matanya dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Egonya kembali. Wanita itu pasti tidak mau disentuh pria miskin seperti Otis. Bukankah tubuhnya sangat berharga?
"Saya hanya ingin-"
"Pergi dari sini," usir Nyonya Yolanda. Dia bahkan tidak memandang wajah Otis lagi.
Otis menunduk hormat. "Baik, Nyonya." Tanpa banyak kata lagi Otis segera meninggalkan kamar itu. Ia menutup rapat pintunya dari luar.
Nyonya Yolanda masih berdiri terpaku sambil memandang keluar jendela. Dia merasa hidupnya benar-benar hancur sampai-sampai bersikap seperti orang bodoh.
***
Otis Menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Rasa ngantuk yang tadi sempat ia rasakan kini hilang entah kemana. Wajah sedih Nyonya Yolanda memenuhi pikirannya. Pria itu tidak tega melihat majikannya menangis. Nyonya Yolanda terlalu berharga untuk disakiti. Jika saja Otis juga berasal dari kalangan bangsawan, mungkin sekarang dia sudah mengajak Nyonya Yolanda untuk pergi.
"Manusia tidak pernah puas dengan apa yang dia dapatkan. Apa yang sudah membuat Tuan Abraham selingkuh? Nyonya Yolanda berasal dari kalangan bangsawan dan juga memiliki rupa yang sangat cantik. Apa semua ini karena masalah keturunan. Tuan Abraham menjalin hubungan dengan wanita lain demi mendapatkan anak. Tapi, bukankah masih banyak solusi lain. Mengambil anak dari panti asuhan misalnya. Kenapa harus selingkuh? Bukankah selingkuh hanya akan memperburuk keadaan. Belum tentu juga wanita yang sekarang ia dekati sebaik dan setulus nyonya Yolanda."
Otis memijat kepalanya dengan lembut. Dia di bayar oleh Tuan Abraham. Dengan kata lain, dia adalah anak buah Tuan Abraham. Dia Bekerja sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Tuan Abraham. Tetapi setelah melihat keadaan Nyonya Yolanda yang seperti tadi, hilanglah sudah rasa hormat terhadap Tuan Abraham. Pria itu tidak ada bedanya dengan pria yang ada di luar sana.
Ponsel Otis yang tiba-tiba berdering menyadarkannya dari lamunan. Pria itu meraih ponselnya dengan tangan sebelum membaca nama yang tertera. Dahinya mengernyit melihat nama Tuan Abraham muncul di sana. Tanpa berpikir ia segera mengangkat panggilan tersebut.
"Apa kau sudah tiba di Kanada?"
"Sudah, Tuan."
__ADS_1
"Apa yang sekarang dilakukan oleh Yolanda? Apa dia sudah makan?"
Dari nada bicara Tuan Abraham, Otis bisa tahu kalau pria itu tidak merasa bersalah atas apa yang dia lakukan. "Sudah, Tuan. Nyonya masih ada di kamar."
"Apa kau sudah bertemu dengannya?"
"Sudah, Tuan."
"Apa dia baik-baik saja?"
"Kenapa Tuan Abraham bertanya seperti ini? Apa dia tahu kalau Nyonya Yolanda sudah mengetahui perselingkuhannya?" gumam Otis di dalam hati. "Sepertinya Nyonya Yolanda baik-baik saja, Tuan."
Suara ketuka pintu membuat Otis segera melangkah ke depan. Teleponnya masih di telinga. Karena Tuan Abraham masih ingin bicara, pria itu tidak mungkin mematikannya begitu saja.
"Otis, tolong jaga istriku selama dia berada di sana. Apapun kegiatan yang dia lakukan segera beritahu aku. Foto setiap dia melakukan sesuatu lalu kirimkan ke nomorku."
Otis membuka pintu. Wajahnya kaget melihat Nyonya Yolanda berdiri di sana. Ketika Nyonya Yolanda ingin mengatakan sesuatu, Otis cepat-cepat bicara.
"Baik, Tuan. Saya akan melakukan apa yang anda perintahkan."
Kalimat itu membuat Nyonya Yolanda kembali diam. Dia tahu kalau suaminya yang kini sedang menghubungi Otis. Tanpa permisi wanita itu menerobos masuk ke dalam. Dia mendorong Otis agar memberi jalan.
"Saya percayakan istri saya kepadamu." Tuan Abraham memutuskan panggilan telepon tersebut. Otis segera memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mengikuti Nyonya Yolanda dari belakang. Dia ingin tahu apa tujuan Nyonya Yolanda masuk ke dalam kamarnya. Bukankah tadi Wanita itu sudah mengusirnya.
"Apa dia memintamu untuk memata-mataiku? Dia ingin tahu apa saja yang aku lakukan selama ada di sini?" tanya Nyonya Yolanda tanpa memandang.
"Benar, Nyonya." Otis tidak memiliki pilihan lain selain jujur. Toh kini orang yang paling tersakiti adalah Nyonya Yolanda.
Nyonya Yolanda melemparkan sebuah kunci mobil kepada Otis. "Bersiap-siaplah. Aku ingin pergi ke suatu tempat. Aku akan menunggumu di lobby." Nyonya Yolanda berputar dan pergi meninggalkan ruangan itu. Bahkan dia tidak ada memandang wajah Otis. Otis melihat kunci mobil itu sebelum melihat kepergian Nyonya Yolanda. Tidak ada yang ia pikirkan selain segera bersiap-siap dan berangkat.
__ADS_1