Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Titipan Tesya


__ADS_3

Pukul 08.00 Pagi mereka telah tiba di Indonesia. Nyonya Yolanda dan Tuan Abraham segera masuk ke dalam mobil yang sudah menjemput mereka. Kali ini Otis tidak mengantarkan majikannya karena Tuan Abraham dan Nyonya Yolanda sudah dijemput oleh supir pribadi Tuan Abraham.


Sambil menunggu Tesya muncul, Otis duduk di salah satu kursi yang ada di bandara. Pria itu rencananya akan pulang dengan taksi. Uang di dompetnya masih cukup untuk membayar taksi dan membeli keperluannya sampai gajian tiba. Otis tidak bisa berharap banyak dengan gaji yang dijanjikan oleh Tuan Abraham. Sudah pasti pria itu tidak akan membayarnya.


"Apa kau sudah lama menungguku?" Tesya tiba-tiba saja muncul. Wanita itu duduk di samping Otis dan tersenyum mengembang. Sepertinya dia sudah lupa dengan karakternya selama ini sejak bertemu dengan Otis. Biasanya Tesya di pandang sebagai wanita galak yang tidak memiliki hati. "Ini barangnya." Tesya memberikan sebuah kotak yang dibungkus lakban cokelat. Tanpa pikir panjang Otis menerima barang tersebut.


"Ini milik Nyonya Yolanda?"


"Tidak. Nyonya Yolanda bilang ini untukmu," sahut Tesya.


"Untukku?" Otis terlihat tidak percaya. Pria itu ingin segera membuka bungkusnya untuk melihat isi di dalamnya.


"Hei, jangan buka sekarang. Sebaiknya kau segera pulang. Nyonya Yolanda membutuhkanmu." Kali ini ekspresi Tesya berubah lagi. Wanita itu yang tadinya terlihat ceria kini memasang wajah sedih. Lagi-lagi hal itu membuat Otis bingung.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Perasaan Nyonya Yolanda. Kenapa Tuan Abraham tega menyelingkuhinya?"


"Kau sudah tahu?"


Tesya mengangguk. "Saat membereskan barang-barang Nyonya Yolanda ke dalam koper tanpa sengaja aku menemukan foto-foto mesra Tuan Abraham bersama dengan seorang wanita. Sekarang kau sedang menyelidiki wanita di foto itu. Aku harus tahu siapa sebenarnya dia. Kenapa dia berani sekali menggoda Tuan Abraham."


Otis tidak jadi pulang. Dia juga ingin mengobrol lebih lama lagi dengan Tesya. "Jika kau sudah mengetahui identitas wanita itu, kira-kira apa yang ingin kau lakukan?"


"Banyak! Membuatnya menderita dan membuatnya menyesal karena sudah berani menggoda Tuan Abraham." Tesya menghela napas panjang. "Nyonya Yolanda sangat setia. Kenapa Tuan Abraham tega melakukan semua ini?"


"Aku tahu kalau Nyonya Yolanda wanita yang setia. Tapi, dia tidak memberikan anak."

__ADS_1


"Otis! Kenapa kau mengatakan kalimat sekejam itu! Tadinya aku pikir kau ada di pihak Nyonya Yolanda."


"Aku tidak ada dipihak manapun. Aku tahu berada di pihak Tuan Abraham maupun Nyonya Yolanda sama-sama tidak menguntungkan bagiku. Aku ini hanya manusia miskin yang butuh kerjaan. Tidak seharusnya aku ikut campur dengan urusan orang yang sudah membayar ku."


"Jika kau terus-menerus menyimpan pikiran seperti itu, aku yakin kau tidak bisa bangkit menjadi pria sukses. Kita memang harus sadar diri dengan kemampuan kita. Tapi, gunakan juga hati nurani kita, Otis. Nyonya Yolanda sudah melakukan berbagai upaya untuk bisa hamil. Tapi semua gagal. Sedangkan Tuan Abraham, sekalipun dia tidak mau melakukan pemeriksaan. Keluarga Tuan Abraham juga terus menyalahkan Nyonya Yolanda. Jika aku ada di posisi Nyonya Yolanda aku tidak akan tahan lagi." Tesya menghapus air matanya yang sudah menetes. "Mereka menikah sudah hampir 10 tahun. Aku menjaga Nyonya Yolanda sudah enam tahun lamanya. Aku tahu bagaimana kehidupan mereka. Mereka itu pasangan yang bahagia. Saling mencintai. Bahkan aku sempat bermimpi ingin memiliki suami seperti Tuan Abraham. Kabar ini benar-benar mengejutkanku. Apa lagi Nyonya Yolanda. Dia tidak akan siap menerimanya."


Otis memberikan sapu tangan kepada Tesya. "Jangan menangis lagi. Orang-orang akan berpikir kalau aku yang sudah menyakitimu," protes Otis.


"Otis, kau inikan pria. Kira-kira apa alasan Tuan Abraham selingkuh? Kau pasti tahu. Dari segi kepuasan aku pikir Nyonya Yolanda sudah melayani Tuan Abraham dengan semaksimal mungkin."


"Anak. Tuan Abraham pasti melakukan semua ini karena anak. Dia ingin memiliki anak," jawab Otis penuh keyakinan.


"Anak? Kenapa mereka tidak mengambil anak di panti asuhan? Itu jauh lebih baik karena memang sudah sejak lama Nyonya Yolanda ingin melakukannya."


"Tuan Abraham ingin memiliki anak yang benar-benar anaknya. Maksudku, anak kandung. Bukan anak orang lain. Mungkin cintanya memang hanya untuk Nyonya Yolanda. Tetapi sebagai pria sukses, dia mulai memikirkan ahli warisnya. Jelas saja dia ingin anak kandungnya yang menerima semua harta yang ia miliki. Bukan anak angkat yang tidak tahu asal usulnya."


"Lalu, bagaimana dengan Nyonya Yolanda?"


Tesya beranjak dari kursi yang ia duduki. "Ayo aku antar." Dia melempar kunci mobilnya. "Mobilku ada di sana. Apa hanya ini saja barang bawaanmu?" Tesya melirik satu koper yang ada di samping Otis.


"Ya. Sebagian aku berikan kepada teman baruku di Kanada. Ayo kita berangkat." Otis segera membawa kopernya menuju ke mobil. Tesya juga berjalan mengikuti Otis dari belakang.


...***...


Nyonya Yolanda dan Tuan Abraham tidak langsung pulang ke rumah. Mereka berdua berangkat ke sebuah restoran mewah karena ingin bertemu dengan pengacara Tuan Abraham. Nyonya Yolanda ingin secepatnya mendapatkan apa yang dia inginkan. Wanita itu bahkan menolak untuk menginjakkan kaki di rumah jika surat yang ia minta belum ada di genggaman tangannya.


"Ini Nyonya, anda bisa memeriksanya lagi," ucap pengacara tersebut.

__ADS_1


Nyonya Yolanda segera membuka dokumen itu lagi. Ada wajah puas setelah dia membacanya. Secepatnya wanita itu membubuhi tanda tangannya di sana. Dia meletakkan lagi di meja dan memberikan semua surat itu kepada pengacaranya sendiri.


"Sekarang, apa kau puas?" tanya Tuan Abraham. Pria itu tetap terlihat tenang meskipun kini semua harta yang ia miliki sudah atas nama istrinya.


"Aku mau kita cerai!"


Tuan Abraham melebarkan kedua matanya. "Cerai?"


Nyonya Yolanda menatap wajah Tuan Abraham dengan menahan air mata. "Ya. Aku mau kita cerai!"


Tuan Abraham tidak menyangka kalau istrinya akan meminta cerai. Tidak mau ribut di sana, dia segera menarik tangan Nyonya Yolanda dan membawanya pergi. "Kita bicara di rumah."


Tuan Abraham dan Nyonya Yolanda meninggalkan pengacara mereka begitu saja di sana. Tuan Abraham masih belum mau mengatakan satu katapun meskipun kini dadanya terasa sesak. Dia sangat mencintai istrinya. Bagaimana mungkin dia mau menceraikannya?


"Masuk!" perintah Tuan Abraham ketika mereka sudah ada di samping mobil. Walau dalam keadaan marah, tapi pria itu masih sempat membukakan pintu untuk istrinya. Nyonya Yolanda segera masuk ke dalam mobil. Dia duduk lalu memalingkan wajahnya dari Tuan Abraham.


Tuan Abraham juga segera masuk. Dia meminta supirnya untuk segera jalan.


Di tengah jalan, ponsel Tuan Abraham berdering. Pria itu mengabaikannya begitu saja. Mau sepenting apapun orang yang kini menghubunginya, dia tetap tidak akan mengangkat panggilan teleponnya. Masalahnya dengan Yolanda sudah membuat konsentrasinya hilang. Sekarang bernapas saja dia terasa kesulitan.


Setelah belasan panggilan masuk tidak di jawab, kini gantian ponsel Nyonya Yolanda yang berdering. Wanita itu segera mengangkat panggilan masuk yang berasal dari keluarga Tuan Abraham.


"Ya, ma," jawabnya dengan nada lembut. Selang beberapa detik kemudian, ponsel itu terlepas dari genggaman tangannya. Tuan Abraham yang kaget segera menatap wajah Nyonya Yolanda dan memegang tangannya. Dia juga menghapus air mata yang ada di pipi istrinya.


"Ada apa?"


Napas Nyonya Yolanda berubah sesak. Dia bahkan tidak bisa berkata-kata lagi. Tuan Abraham menarik tubuh Nyonya Yolanda ke dalam pelukannya. Dia mengutip lagi ponsel Nyonya Yolanda yang jatuh di bawah. Kebetulan panggilan telepon itu belum berakhir. Dia segera bicara.

__ADS_1


"Ada apa Ma? Ini aku."


"Mama sudah meninggal, Abraham."


__ADS_2