Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Bukan Balapan


__ADS_3

Otis melajukan mobilnya sekencang mungkin. Pria itu tidak sempat lagi memandang wajah kekasihnya yang duduk di samping. Hanya terdengar teriakan Nyonya Yolanda karena wanita itu benar-benar histeris ketika berulang kali Otis hampir saja menabrak mobil orang lain. Berbeda dengan Tika yang duduk di belakang. Suara wanita itu nyaris tidak terdengar. Bisa dipastikan kalau wanita itu duduk tenang sambil berpegangan di belakang sana. Tidak seheboh Nyonya Yolanda yang memang ini adalah pengalaman pertama baginya.


Otis begitu lihai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai-sampai segerombolan sepeda motor yang tadi sempat mengejarnya kehilangan jejak. Mereka gagal mengikuti mobil Otis ketika mobil Otis berhasil memasuki kota yang begitu ramai.


"Akhirnya, kita selamat," ucap Tika sebelum bersandar dan duduk dengan tenang. Berbeda dengan Nyonya Yolanda yang masih mengatur nafasnya. Wanita itu tidak bisa setenang Tika. Bayang-bayang kejadian tadi masih terlintas di dalam benaknya. Bukan hanya tangannya saja yang gemetar tapi seluruh tubuhnya. Nyonya Yolanda rasanya ingin menangis ketika membayangkan kejadian tadi. Bukan karena dia takut mati tapi dia takut kecelakaan dan berakhir cacat seumur hidup. Itu jauh lebih mengerikan daripada cerita kematian.


"Maafkan saya," ucap Otis sambil memandang wajah Nyonya Yolanda yang masih terlihat pucat.


Nyonya Yolanda hanya menjawab dengan gelengan kepala. Sepertinya wanita itu juga tidak tahu harus bicara apa sekarang. Ia ingin segera tiba di rumah. Dia ingin istirahat. Sejak jam 07.00 pagi meninggalkan rumah wanita itu belum ada istirahat sama sekali.


"Sebenarnya siapa mereka?" Otis melirik Tika melalui spion yang ada di depannya.


"Mereka itu preman. Mereka tahu kalau aku baru saja mengambil uang dari bank. Mereka mengambil semua uang tabunganku. Tidak puas sampai di situ mereka bahkan tertarik dengan tubuhku. Walau jelek-jelek seperti ini, tapi aku masih perawan. Aku tidak mau ada pria yang menyentuhku sebelum dia menikahiku."


Kalimat yang diucapkan Tika seperti membuat Nyonya Yolanda tersindir. Wanita itu memandang Otis sejenak sebelum memalingkan wajahnya. Sedangkan Otis sendiri hanya fokus dengan laju mobilnya yang sekarang. Tidak terlalu ambil pusing dengan apa yang diucapkan oleh Tika.


Berbeda dengan Tika yang memang sengaja mengatakan kalimat seperti itu untuk menyindir Nyonya Yolanda dan memperingati Otis. Tika ingin Otis sadar bahwa perawan jauh lebih menarik daripada seorang janda meskipun kaya raya. Ditambah lagi jandanya masih berstatus sebagai istri orang lain.


"Apa rumahmu jauh dari tempat tadi?" tanya Otis ingin tahu lagi.


"Jauh sekali. Aku berlari sangat jauh sampai kakiku terasa sakit. Padahal uang itu akan aku gunakan untuk membeli rumah yang sekarang aku tempati. Tapi sepertinya semua Rencanaku gagal. Sekarang aku tidak punya tempat tinggal dan juga tidak memiliki uang. Aku tidak tahu harus bagaimana."


"Tika, sejak awal aku sudah bilang. Jika kau ingin kembali untuk bekerja di rumah kau bisa datang kapan saja. Pintu rumah selalu terbuka untukmu. Sepertinya kita berdua memang dijodohkan untuk selalu bersama. Kembalilah bekerja di rumah. Aku akan menggajimu seperti biasa. Kamarmu juga masih kosong. Karena sampai detik ini aku belum menemukan orang yang tepat untuk menggantikan posisimu," jawab Nyonya Yolanda memberi solusi.


"Terima kasih, Nyonya. Anda memang wanita yang sangat baik." Tika tersenyum. Wanita itu melirik Otis sekali lagi sebelum menghela nafas kasar. "Kenapa mereka terlihat semakin akrab. Bukankah Nyonya Yolanda belum juga bercerai sampai detik ini?" gumam Tika di dalam hati.


"Otis kita berhenti dulu di restoran untuk makan. Perutku sudah sangat lapar dan aku sudah tidak tahan lagi," ucap Nyonya Yolanda.


"Baiklah. Di restoran mana, Nyonya?" tanya Otis sambil memandang wajah Nyonya Yolanda.

__ADS_1


Nyonya Yolanda mengernyitkan dahinya ketika mendengar Otis memanggilnya dengan sebutan Nyonya. Namun wanita itu tidak mau marah karena dia tahu Otis seperti itu karena di dalam mobil mereka ada Tika.


"Tidak jauh dari sini. Jalan saja nanti akan aku beritahu," jawab Nyonya Yolanda sebelum memandang ke depan. Ia juga tidak mau bersikap manja-manja kepada Otis karena di sana masih ada Tika.


Tika memandang ke belakang mobil untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya lagi. Wanita itu merasa jauh lebih lega sekarang karena sudah berada di tempat yang aman. Walaupun begitu ia merasa sangat kesal karena semua uang tabungannya habis tak tersisa. Sekarang dia benar-benar miskin. Bahkan uang Rp100.000 saja tidak punya. Dia harus bekerja lagi di rumah Nyonya Yolanda. Semua ini harus ia lakukan agar dia tetap bertahan hidup.


Otis memberhentikan mobilnya ketika Nyonya Yolanda menunjuk restoran yang ingin dijadikannya tempat makan. Mereka bertiga sama-sama turun dari mobil. Melihat Nyonya Yolanda turun dari mobil, seorang pelayan restoran sudah menyambut Nyonya Yolanda dengan begitu ramah. Dilihat dari sikapnya sepertinya Nyonya Yolanda sudah menjadi langganan di restoran itu. Tika berdiri di samping Otis ketika Nyonya Yolanda sibuk bercakap-cakap dengan orang yang menyambut kedatangannya.


"Bagaimana dengan Tuan Abraham. Apa beliau sudah di sidang?" tanya Tika dengan nada berbisik.


"Belum. Mereka masih memanfaatkan waktu untuk mengumpulkan bukti-bukti. Aku sendiri masih tidak menyangka kalau Tuan Abraham bisa setega itu. Sampai hati sekali dia membunuh Pak Rahmad. Orang kaya seperti Tuan Abraham apa masih mendapatkan keuntungan ketika dia sudah membunuh orang miskin seperti Pak Rahmad. Sampai sekarang aku masih tidak habis pikir. Pak Rahmad juga pergi karena pulang kampung."


Tika yang tahu kejadian sebenarnya hanya bisa diam saja. Ia tahu betul kalau tuan Abraham dijebak oleh Tante Renata agar masuk ke dalam penjara. Tetapi Tika sendiri tidak mau terlibat dalam masalah ini. Dia hanya berdoa di dalam hati agar Tuan Abraham dan pengacaranya berhasil menemukan bukti-bukti agar bisa terbebas dari hukuman. Dengan begitu kecil kemungkinannya Otis dan Nyonya Yolanda kembali bersatu.


"Otis, Ayo kita masuk," ajak Nyonya Yolanda. Wanita itu memandang wajah Tika sekilas sebelum memandang ke depan dan melangkah cepat. Dilihat dari ekspresinya sepertinya wanita itu cemburu.


Otis tersenyum lalu menepuk pundak Tika dengan pelan. "Terima kasih," ucapnya sebelum pergi mengejar Nyonya Yolanda yang sudah terlalu jauh dari mereka.


"Yolanda, berhenti. Kenapa kau meninggalkanku?" Otis memegang tangan Nyonya Yolanda. Pria itu kaget bukan main ketika Nyonya Yolanda menghempaskan tangan Otis dan menatapnya dengan wajah angkuh.


"Jangan sentuh aku Otis. Di restoran ini ada banyak sekali konglomerat dan para pejabat yang mengenalku dan suamiku. Aku tidak mau kedekatan kita dijadikan bahan gosip. Ini akan merusak reputasiku!" Nyonya Yolanda kembali melangkah cepat masuk ke dalam restoran. Sikap wanita itu benar-benar jauh dari apa yang dipikirkan oleh Otis. Otis sempat merasakan sakit hati ketika Nyonya Yolanda mengatakan jarak yang ada di antara mereka. Namun tiba-tiba aja Otis tersadar dan berpikir dengan hati yang jernih. "Apa dia sengaja mengatakan kalimat menyakitkan seperti itu karena terlalu cemburu? Ya mungkin saja. Sebaiknya aku tidak perlu berpikiran yang aneh-aneh."


Tika yang lagi-lagi sudah muncul di samping Otis segera mengajak pria itu masuk ke dalam. Dilihat dari wajah Tita, wanita itulah yang paling senang melihat Otis dimarahi oleh Nyonya Yolanda seperti tadi.


Nyonya Yolanda memilih kursi yang letaknya di sudut dan hanya ada dua kursi. Baru saja dia duduk beberapa detik sudah ada beberapa Chef yang menghampirinya dan melayaninya dengan sukacita. Wanita itu memang benar-benar mendapat sambutan hangat dari semua orang yang ada di restoran. Yang membuat Otis tidak habis pikir. Saat itu Nyonya Yolanda masih menggenakan kaos dan jaket miliknya.


Tetapi wanita itu justru terlihat sangat modis. Dia selalu bisa memadupadankan pakaian yang ia gunakan. Sampai-sampai orang berpikiran kalau apa yang ia kenakan adalah pakaian model terbaru.


Otis masih menahan kakinya di sana sambil mengamati Nyonya Yolanda dari kejauhan. Begitu juga dengan Tika. Otis hanya takut jika ia duduk di dekat Nyonya Yolanda, wanita itu akan marah-marah lagi seperti tadi. Dan itu akan menarik perhatian semua orang yang ada di restoran.

__ADS_1


Tiba-tiba seorang pria berpakaian rapi menghampiri Nyonya Yolanda dan duduk di depan wanita itu. Nyonya Yolanda sempat memandang Otis sejenak sebelum dia memandang pria yang duduk di hadapannya. Karena jarak mereka cukup jauh, Otis tidak bisa mendengar jelas apa yang diobrolkan oleh mereka berdua.


"Kita duduk di sana saja masih ada kursi kosong," ajak Tika kepada Otis. "Tapi Otis. Apa kau bisa berani jamin kalau Nyonya Yolanda yang akan membayar makanan kita malam ini. Karena jika tidak kita bisa dipenjara. Makanan di sini harganya sama dengan gaji kita satu bulan. Kita tidak akan sanggup membayarnya."


Otis seperti tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Tika. Pria itu berjalan ke arah kursi yang tadi ditunjuk Tika dan segera duduk di sana. Kali ini gantian hatinya yang mendidih karena cemburu melihat Nyonya Yolanda bercakap-cakap dengan pria lain. Sedangkan Tika yang mengenal pria yang kini duduk di depan Nyonya Yolanda hanya diam saja tanpa mau menjelaskan siapa sebenarnya pria itu.


Satu pelayan datang menghampiri Tika dan Otis untuk memberikan buku menu. Sebelum menentukan makanan yang akan ia makan malam ini, Tika berkata kepada pelayan tersebut Kalau makanan mereka akan dibayar oleh Nyonya Yolanda. Pelayan itu tersenyum ramah seolah-olah dia sudah tahu.


"Kau mau makan apa Otis. Kenapa kau diam saja. Apa mau aku pilihkan?" tawar Tika sambil memilih makanan yang ingin dia makan.


"Ya. Pilihkan saja," jawab Otis masih dengan tatapan ke arah Nyonya Yolanda.


Dari meja Nyonya Yolanda, wanita itu sudah memesan makanan yang ingin dia santap malam ini. Ternyata Nyonya Yolanda juga merasa bersalah karena sudah berkata kasar seperti tadi kepada Otis. Sebenarnya dia sengaja mengatakan kalimat seperti itu agar Otis tidak dekat-dekat dengannya. Tanpa disangka di restoran itu Nyonya Yolanda bertemu dengan sepupu Tuan Abraham. Pria yang kini duduk di hadapannya adalah sepupu Tuan Abraham. Bagaimanapun juga ia masih menyandang status sebagai istri Abraham. Wanita itu tidak bisa berbuat sesuka hatinya. Jika tidak gugatan perceraian yang ia layangkan akan gagal dan ia tidak bisa bercerai dari Abraham.


"Yolanda, aku lihat penampilanmu sangat buruk hari ini. Apa kau sedih karena Abraham masuk ke dalam penjara? Tadi aku sempat menjenguknya di dalam penjara. Dia bilang kau juga baru saja menjenguknya dan dia sangat senang."


"Dia tidak bilang tentang hal lain?" selidik Nyonya Yolanda.


"Tidak ada. Aku berharap kau tetap sabar menghadapi cobaan ini. Abraham difitnah oleh seseorang. Kita tidak bisa menyalahkannya. Siapa saja bisa mengalami masalah ini. Aku yakin pengacara Abraham pasti berhasil membebaskan Abraham."


Nyonya Yolanda tersenyum kecil. "Berapa lama kau ada di Indonesia?"


"Aku akan tetap ada di Indonesia sampai Abraham menyelesaikan masalahnya. Dia sangat mencintaimu sampai-sampai memintaku pulang untuk menjagamu di Indonesia."


"Tapi aku baik-baik saja. Aku juga memiliki banyak bodyguard yang bisa menjagaku kapan saja," tolak Nyonya Yolanda.


"Ya aku tahu. Tapi akan lebih aman jika kau bersamaku. Istriku juga tidak akan cemburu karena dia memintaku untuk menjagamu." Pria itu mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. Sedangkan Nyonya Yolanda terlihat kesal karena sekarang harus ada penghalang yang membuat dia dan Otis tidak bisa sering-sering bersama lagi.


"Sekarang aku harus bagaimana. Abraham benar-benar licik. Lebih baik aku ikuti saja apa yang dia inginkan daripada semua rencanaku gagal," gumam Nyonya Yolanda di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2