Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Permintaan Aneh


__ADS_3

"Kenapa? Apa itu tersenyum aneh?" protes Tika.


"Apa yang kau katakan? Pacar bohongan?" Otis membenarkan posisi duduknya. "Tika, Kau harus tahu satu hal. Bahkan pacaran yang sungguhan saja aku belum pernah. Bagaimana bisa kau mengajakku untuk pacaran bohongan. Apa tujuanmu melakukan semua itu?" Otis juga ingin tahu tujuan Tika sebelum memberi keputusan.


"Aku sedang memiliki masalah besar. Anggap saja kau lagi menolongku."


"Tidak sesederhana itu Tika." Otis menghela napas dan mengitari lokasi iku lagi. "Oke begini saja katakan apa alasannya. Jika ibu masuk akal aku akan menolongmu."


"Tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu.


"Kalau begitu aku juga tidak bisa menolongmu. Kita baru saja kenal. Kita tidak saling mengetahui sifat satu sama lain. Bukannya aku menilai jelek Tentangmu. Tetapi aku hanya berjaga-jaga saja. Jika kau mau lebih terbuka maka aku akan jauh lebih tenang."

__ADS_1


"Baiklah jika kau tidak bisa membantuku tidak apa-apa. Aku tidak akan marah. Tidak akan mengubah apa yang terjadi juga. Kita akan tetap berteman seperti biasa." Tika berusaha tersenyum manis walau sebenarnya hatinya sangat kecewa. Satu hal yang membuat Otis semakin bingung. Dia melihat Tika menangis. Walaupun wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, tapi Otis tetap saja tahu.


"Aku mau ke kamar dulu. Aku lupa kalau belum mematikan air tadi. Jika sampai tahu Pak Rahmad, gajiku bisa di potong," ucap Tika dengan nada yang pelan. Suara mulai serak dan dia tidak berani memandang wajah Otis lagi.


Otis sendiri tidak bisa memaksa Tika untuk tetap di sana. Jelas-jelas tadi dia tidak bisa membantu wanita itu. Ketika sendirian di sana, Otis kembali melamun. Sampai 14 hari ke depan dia tidak akan melakukan apapun. Hanya makan tidur seperti orang kaya. Pak Rahmad pernah bilang untuk tidak mencampuri pekerjaan yang lain. Itu berarti, Otis tidak diijinkan membantu rekannya yang lain meskipun dia lagi free.


"Aku akui kalau bekerja di rumah ini sangatlah enak. Kerja tidak kerja di gaji. Besar lagi Tampa potongan. Tetapi, aku merasa tidak nyaman. Seperti sedang berdiri di depan pintu yang menuju ke lorong kematian. Apa mungkin aku akan bertahan lama di sini?" gumam Otis di dalam hati. Karena sedang melamun, sampai-sampai Otis tidak melihat Pak Rahmad yang muncul di belakangnya.


"Otis," sapa pak Rahmad.


"Ya, Pak."

__ADS_1


"Nyonya Yolanda akan lama di luar negeri. Seperti apa yang pernah aku katakan. Gajimu akan tetap segitu meskipun kau tidak kerja. Tapi, Tuan Abraham ingin memberimu bonus. Kau akan mendapatkan gaji dua kali lipat dari yang seharusnya jika kau bisa melakukan tugas yang dia berikan. Apa kau sanggup?"


Otis mengeryitkan dahinya. "Tapi saya tidak tahu apa yang diperintahkan Tuan, Pak. Bagaimana kalau saya tidak sanggup melakukannya?"


"Saya pikir kau sanggup. Kau ini pria yang suka tantangan bukan?"


"Baiklah akan saya coba. Tugas apa yang harus saya lakukan pak?" Demi yang Otis rela mencoba hal baru. Jika tidak seperti ini, dia tidak akan pernah tahu sampai dimana kemampuannya.


"Ikuti Nyonya Yolanda selama di luar negeri. Beri tahu Tuan apapun yang dia lakukan!"


Otis menaikan satu alisnya. "Bagaimana caranya, Pak?"

__ADS_1


"Jika kau bersedia, aku akan segera mengirimmu ke tempat Nyonya Yolanda. Kau bisa menjadi supirnya selama di sana. Untuk pekerjaan kali ini, kau diperbolehkan bicara dengan Nyonya Yolanda. Tuan Abraham sendiri yang memberi izin."


Ini penawaran yang sangat menarik. Rasanya sayang sekali untuk dilewatkan. "Baiklah, Pak. Saya terima tugas ini."


__ADS_2