Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Amarah Nyonya Yolanda


__ADS_3

Otis membuka kedua matanya ketika merasakan seseorang tidur dan menggunakan lengannya sebagai bantal. Pria itu memandang wajah Tika dengan tatapan tidak percaya. Rasanya dia seperti mimpi. Otis mengerjapkan matanya berulang kali dan memandang Tika sekali lagi. Ketika dia sadar kalau wanita yang kini memeluknya adalah Tika, pria itu segera membuka matanya lebar-lebar.


"Tika, kenapa kau bisa ada di sini?"


Tika membuka kedua matanya karena Otis menarik paksa tangannya yang sejak tadi digunakan Tika sebagai bantal. "Ada apa Otis? Kenapa kau berteriak seperti itu?"


Otis duduk dan memandang apa yang ada didepannya dengan wajah frustasi. Tubuhnya dan juga Tika sama-sama tidak memakai busana dan kini bersembunyi di balik selimut. Pria itu tidak ingat dengan apa yang terjadi tadi malam. Dia menatap Tika dengan wajah yang begitu kecewa.


"Kau menjebakku?"


Tika menatap wajah Otis tanpa tahu harus bicara apa. Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Otis dan Tika sama-sama kaget dan memandang ke arah pintu. Karena saat itu tubuh Tika yang paling sensitif Otis cepat-cepat menutup tubuh polos Tika dengan selimut agar orang lain tidak sampai melihatnya.


Nyonya Yolanda berdiri di sana dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu terlihat sangat kecewa. Hal yang membuat Otis sangat kaget ketika dia melihat Tuan Abraham berdiri di belakang Nyonya Yolanda. Pria itu tersenyum melihat Otis. Seolah-olah Dia sedang berkata kalau kini dialah pemenangnya.


Nyonya Yolanda berjalan menghampiri Otis dengan tangan terkepal kuat. Tiba-tiba saja wanita itu menampar wajah Tika dengan sangat keras.


"Pelacu*r!" umpatnya. "Kau wanita yang tidak sadar diri. Kenapa kau tega menggoda Otis?"


Ketika Nyonya Yolanda ingin menjambak rambut Tika tiba-tiba saja Otis menarik tubuh Tika dan memeluknya untuk melindunginya. Jelas aja hal itu membuat Nyonya Yolanda semakin panas. Wanita itu menangis sambil menatap wajah Otis.


"Kau membela wanita ini. Dia sudah menjebakmu. Aku yakin orang suruhan Abraham yang sudah meminta wanita ini untuk menggodamu. Katakan saja kalau kau dijebak. Aku akan memaafkanmu. Tapi tidak dengan wanita ini. Aku akan menyeretnya ke dalam penjara."


"Tika tidak menjebakku. Kami melakukannya atas dasar mau sama mau," jawab Otis.


Jawaban pria itu bukan hanya membuat Nyonya Yolanda saja yang kaget. Tetapi juga Tika. Tika menatap Otis sambil menggeleng kepalanya. Tadinya dia pikir Otis akan membela diri mati-matian dan menyalahkan dirinya. Tetapi sekarang justru kejadiannya terbalik. Justru kelihatannya Otis yang mati-matian membela Tika.


"Kenapa Otis? Kenapa kau tega melakukan semua ini?" tanya Nyonya Yolanda dengan nada yang sangat lemah.


"Kami sama-sama saling membutuhkan. Kami juga sama-sama single," jawab Otis dengan ekspresi datar.


Nyonya Yolanda mengangguk dengan wajah kecewa. "Baiklah kalau memang ini keputusanmu." Nyonya Yolanda segera pergi dari sana. Otis tahu kalau semua ini akan menjadi akhir dari segalanya. Hancur sudah keputusan Otis untuk bersatu dengan Nyonya Yolanda. Pria itu memandang lagi Tuan Abraham yang kini tersenyum di depan pintu. Dengan santainya Tuan Abraham memutar tubuhnya dan pergi dari sana. Bahkan pria itu tidak mengatakan satu kata pun.

__ADS_1


"Otis Kenapa kau tidak membela dirimu sendiri. Kau ini benar-benar bodoh," umpat Tika geram.


"Lalu bagaimana dengan dirimu Tika. Kau sudah kehilangan mahkota yang selama ini kau jaga. Aku tahu kalau kau menjebakku. Bahkan aku tahu kalau roti itu sudah ada obatnya. Tetapi aku tetap memakannya."


Tika kaget mendengar jawaban Otis. "Kau mengetahui semuanya?"


"Ya. Saat pria itu menemuimu aku juga ada di sana. Aku mendengar semua yang kalian bicarakan. Setelah Kau pergi pria itu menelepon seseorang dan aku masih di sana untuk mengupingnya. Pria itu tidak benar-benar serius ingin membebaskanmu dari masalah ini. Setelah kau berhasil melakukannya, maka kau harus menghadapi masalah yang lebih berat lagi. Malam itu aku sudah tahu kalau Tuan Abraham telah bebas dari penjara. Aku duduk di kursi dan tadinya ingin menyampaikan kabar ini kepadamu. Tetapi semua tidak berjalan sesuai dengan rencanaku. Aku sempat bimbang untuk memakan roti yang kau berikan. Tiba-tiba saja aku putus asa mendengar Tuan Abraham sudah bebas dari penjara. Harapanku untuk bersatu dengan Nyonya Yolanda kandaslah sudah. Pria sepertiku tidak akan pernah bisa melawan Nyonya Yolanda. Sebelum kau datang menemuiku aku langsung menghubungi Tuan Abraham dan melakukan negosiasi dengan pria itu secara langsung. Aku katakan padanya kalau aku akan mundur dari Nyonya Yolanda. Aku akan melakukan permainan yang akan Ia berikan. Sebagai gantinya dia harus berjanji untuk mencintai dan menyayanginya Nyonya Yolanda. Kami melakukan kesepakatan itu tadi malam. Tuan Abraham menyetujuinya. Dia juga memberi penawaran yang bagus dengan tidak memasukkanmu ke dalam penjara. Aku tidak bisa mempertahankan cintaku dan mengorbankan orang lain yang ada di sekitarku. Bukan karena aku takut mati ketika bertentangan dengan Tuan Abraham. Tetapi aku tidak tahu, sampai kapan aku dan Nyonya Yolanda bersembunyi nantinya. Jika kami sampai menikah, Tuan Abraham juga tidak akan pernah tenang. Dia pria yang sangat berkuasa. Seperti yang kau katakan kalau jarak diantara kami seperti langit dan bumi. Sepertinya memang sejak awal aku sudah mengambil keputusan yang salah. Sebelum terlambat Aku tidak mau melanjutkannya lagi."


Mendengar penjelasan Otis membuat Tika menangis sejadi-jadinya. Wanita itu sekarang tidak tahu dengan apa yang ia rasakan. Antara bersalah sedih dan juga senang.


"Otis Maafkan Aku. Aku benar-benar merasa bersalah karena sudah menjebak pria baik sepertimu."


"Sekarang bukan saatnya menyesali apa yang sudah terjadi. Tetapi kita harus berpikir ke mana kita harus pergi karena sebentar lagi kita berdua pasti akan diusir dari rumah ini."


Tika tertawa kecil mendengarnya. "Aku juga tidak tahu ke mana kita harus pergi. Tetapi jika bersama denganmu Aku akan jauh lebih tenang."


"Maafkan aku Tika. Aku tidak bisa berjanji untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku. Meskipun pada dasarnya Akulah pria pertamamu. Bukankah sebelum mengambil keputusan ini kau sudah tahu seperti apa konsekuensinya?"


Otis memalingkan pandangannya. Lagi-lagi pria itu memikirkan Nyonya Yolanda. "Maafkan aku karena sudah menyakiti hatimu, Nyonya."


...***...


Ada rasa takut yang begitu menyiksa ketika Otis melangkah ke ruang kerja Tuan Abraham. Dia bukan takut celaka ketika bertemu dengan pria itu. Bukan juga takut diusir dari rumah mewah tersebut. Tetapi Otis tidak mau menatap wajah pria licik tersebut. Seumur-umur Ini pertama kalinya Otis bertemu dengan pria jahat seperti Tuan Abraham.


Otis berdiri di depan pintu lalu mengetuk pintu ruangan itu secara perlahan. Tidak ada yang membukakan pintu. Hanya terdengar suara perintah agar Otis masuk ke dalam. Tanpa pikir panjang Otis masuk ke ruangan itu. Ruangannya terasa sangat dingin. Debaran jantung Otis semakin tidak karuan. Dari balik meja Tuan Abraham menatap Otis dengan tatapan tidak terbaca. Sebuah pistol yang tergeletak di atas meja menjadi perhatian utama Otis. Sejenak Otis berpikir mungkin Tuan Abraham memanggilnya karena ingin membunuhnya hari ini. Mungkin saja pria itu sudah sangat geram melihat tingkah lakunya.


"Kau pasti bingung kenapa Aku memanggilmu ke sini. Jelas-jelas kita musuhan. Seharusnya kita tidak perlu bertemu lagi. Tetapi rasanya aku sangat ingin bertemu dan melihat langsung selingkuhan istriku. Aku juga ingin melihat dari mana istimewanya dirimu sampai-sampai Yolanda tergila-gila padamu," ucap Tuan Abraham sambil menyunggingkan senyum mengejek.


Otis menatap Tuan Abraham. "Saya harap anda tidak lupa dengan janji yang anda katakan tadi malam. Bebaskan Tika. Dia tidak bersalah."


"Aku bukan seorang pembohong Otis. Aku selalu menepati janjiku." Tuan Abrahah menarik punggungnya dari sandaran kursi yang ia duduki. Meletakkan siku tangan di atas meja. Sementara matanya melirik penampilan Otis lagi dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lagi-lagi pria itu tersenyum menghina.

__ADS_1


"Masih bekerja sebagai seorang supir kan?"


"Ya," jawab Otis datar. Pria itu mulai bisa menguasai rasa takutnya.


Tuan Abraham menggeser kursi yang ada di belakang lalu berdiri dan sedikit membungkuk. Pria itu menatap tajam Otis sebelum menggebrak meja yang ada di hadapannya. Otis sempat tersentak kaget dan terpancing emosi. Namun pria itu tetap berusaha tenang. Sebelum diserang dia tidak akan menyerang.


"Aku sudah peringatkan sejak awal. Jangan pernah pandang istriku dan jangan pernah bicara dengannya. Apa dari kalimat itu kau tidak bisa mengartikannya betapa sayang dan cintanya aku kepada istriku. Sampai-sampai Aku tidak mau dia dipandang dan berbicara dengan pria lain. Kenapa kau mengabaikannya Otis? Kenapa kau harus menyukai Istriku dari semua wanita yang ada di rumah ini. Aku mencintainya Otis. Sangat mencintainya. Bahkan kami masih berstatus suami istri. Tetapi dengan beraninya kau menjalin hubungan dengan istriku. Bahkan selama aku ada di penjara mata-mataku bilang kalau kalian sering berduaan."


"Saya tidak akan mengucapkan kata maaf karena sejak awal saya tidak pernah menggoda istri anda tetapi istri anda sendiri yang datang kepada saya. Kalau saja anda tidak bermain api anda tidak mungkin terbakar Tuan. Kesalahan utamanya ada di diri Anda sendiri. Anda yang berselingkuh dan Itu menyakiti hati Nyonya Yolanda. Betapa baiknya Nyonya Yolanda tetapi Anda mengabaikan cintanya."


"Aku tidak pernah mengabaikan cintanya. Dia tetap satu-satunya wanita yang ada di hatiku. Aku memiliki alasan kenapa menjalin hubungan dengan Sandra." Tuan Abraham masih berusaha membela diri walau jelas-jelas dialah yang salah.


"Begitu juga dengan saya. Saya dekat dengan istri anda karena saya ingin menghiburnya. Kalau saja saya tidak ada di sampingnya mungkin detik ini Nyonya Yolanda sudah tidak ada di dunia ini lagi. Wanita itu frustasi. Dia berubah menjadi gila setelah tahu suami yang sangat ia percaya dan sangat ia cintai selingkuh."


Tuan Abraham menggangguk. "Kau benar. Seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih kepadamu karena kau telah melindungi Istriku dari bahaya selama ini. Meskipun cara yang kau gunakan itu salah. Tetapi aku tidak akan mempermasalahkannya lagi. Aku memanggilmu ke sini hanya ingin mengatakan kalau Yolanda tidak mau aku memecatmu. Sepertinya dia masih tergila-gila padamu Otis. Padahal aku sudah sangat muak melihat wajahmu ada di rumah ini."


"Saya hanya ingin anda menepati janji anda. Bebaskan Tika dan jangan melibatkan Tika lagi dalam masalah yang ada."


"Ya di situ dia poin utamanya. Bukankah kalian sudah melewati malam yang begitu membahagiakan. Kenapa kalian berdua tidak menikah saja. Dengan begitu istriku akan melupakan rasa cinta yang ada di dalam hatinya untukmu."


"Jika saya tidak bisa menikah dengan istri Anda maka saya tidak akan menikah dengan wanita manapun!"


Jawaban Otis benar-benar memancing emosi Tuan Abraham. Wajah pria itu menjadi semakin tegang. Emosi membakar dada. Tuan Abraham menjauh dari meja kerjanya lalu menghampiri Otis. Tiba-tiba saja sebuah tinju mendarat di rahang Otis.


"Brengsek!" umpatnya marah. "Apa tidak bisa kau berpikir dulu sebelum berucap. Berani-beraninya kau...." Tuan Abraham menggeram. Rahangnya mengeras dan matanya memerah. Otis tahu pria itu sangat emosi kali ini.


Otis kembali menegakkan bahu dan mengusap darah yang ada di sudut bibirnya. Ia menatap Tuan Abraham dengan wajah menantang.


"Bagaimana kalau kita bertarung saja Tuan. Pemenangnya yang akan maju untuk hidup bersama Nyonya Yolanda."


Tuan Abraham tertawa mendengar tantangan Otis. Entah karena pria itu tidak sanggup menghadapi Otis atau dia merasa sangat percaya diri kalau dia akan menang melawan Otis. "Aku tidak mau membunuhmu di rumahku. Aku juga tidak sudi mengotori tanganku. Beberapa hari berada di dalam penjara seperti kemarin sudah membuatku cukup menyesal. Aku tidak mau mengulanginya lagi. Aku lebih menyukai seseorang hidup dalam ketidakpastian setiap harinya. Mulai detik ini Aku pastikan hidupmu tidak tenang lagi. Bukan hanya rasa cemburu yang kau dapatkan. Tapi rasa sakit karena orang-orang ku akan terus menemuimu dan memberimu pelajaran. Perlahan kau akan mati dengan sendirinya. Inilah hukuman yang telah aku siapkan untukmu. Karena kau telah berani menyentuh istriku." Tuan Abraham tersenyum lebar penuh kemenangan. Namun dari balik senyum itu Otis bisa tahu kalau ada kecewa yang ia sembunyikan di balik matanya.

__ADS_1


"Kita lihat saja. Sampai kapan anda bertahan dengan wanita yang hatinya sudah menjadi milik pria lain, Tuan."


__ADS_2