Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Salah Sangka


__ADS_3

"OTIS!"


Otis tersentak bangun ketika mendengar teriakan Nyonya Yolanda. Pria itu segera duduk sambil membuang selimut yang sempat menutupi wajahnya. Dipandangnya Nyonya Yolanda yang kini menatapnya dengan dada turun naik. Napas wanita itu memburu cepat seperti baru habis lari marathon. Penampilannya kacau sekali. Rambutnya yang biasa rapi kini terlihat acak-acakan. Inilah versi natural seorang Nyonya Yolanda. Walaupun begitu, dia tetap saja terlihat seperti seorang bidadari.


"Ada apa, Nyonya? Kenapa Anda berteriak sepagi ini?"


"Kau masih memiliki keberanian untuk bertanya?" Bukan menjawab pertanyaan Otis justru Nyonya Yolanda melangkah mendekat. Dengan ringannya tangannya dia layangkan ke pipi kiri Otis. Otis hanya bisa memejamkan mata ketika telapak itu mendarat di pipinya dan menyisakan bekas kemerahan di sana.


"Nyonya, Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Saya baru saja tidur sebentar lalu tiba-tiba saja anda bangun dan marah-marah seperti ini. Sebenarnya apa yang sudah saya lakukan? Perasaan sejak tadi malam saya tidak melakukan kesalahan apapun. Saya justru menjaga Anda hingga pagi hari." Otis berusaha membela diri. Walau dia tahu itu hanya akan sia-sia saja.


Nyonya Yolanda melirik penampilan Otis dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria itu tidak memakai baju dan juga celana. Hanya celana pendek seperti bokser saja. Jelas saja itu membuat kecurigaan yang begitu mendalam.


"Ke mana bajumu Otis? Apa yang kau lakukan dengan penampilan seperti ini? Kenapa kau harus memakai celana pendek? Ke mana semua pakaianmu. Apa yang sudah kau lakukan." Nyonya Yolanda menyipitkan matanya. "Dan kenapa pakaianku terganti?" tanyanya lagi penuh selidik.


Otis paham sekarang apa yang sudah membuat Nyonya Yolanda tiba-tiba marah. "Saya tidak seburuk yang anda pikirkan nyonya. Bahkan saya baru tidur 10 detik dan kini sudah bangun lagi. Semalaman Anda muntah-muntah hingga membuat baju saya dan baju anda sendiri kotor. Belum lagi Anda mengigau tidak jelas. Berulang kali Anda hampir terjatuh dari tempat tidur karena anda melompat-lompat di atas sana. Lalu setelah bangun Anda menyalakan saya? Jika anda tidak bisa minum, kenapa Anda harus memaksakan diri untuk mabuk, Nyonya ...." Kesabaran Otis sudah hampir habis. Namun dia masih berusaha bicara dengan sopan agar tidak sampai melukai hati wanita di depannya.


"Jadi kau menyalahkanku?" Nyonya Yolanda menunjuk wajahnya sendiri.


Nyonya Yolanda melangkah maju. Sepertinya dia tidak puas jika hanya menampar wajah Otis sekali saja. Namun kali ini langkahnya tidak semulus dengan yang pertama. Selimut yang tergeletak di lantai menghalangi jalannya hingga membuatnya tersandung. Tubuhnya tersungkur ke depan hingga mendorong tubuh Otis. Mereka sama-sama terjatuh di sofa. Dengan posisi Nyonya Yolanda ada di atas tubuh Otis.


"Anda telah memperkosa saya nyonya," sindir Otis gantian. Rasanya puas sekali karena akhirnya dia bisa gantian menyindir Nyonya Yolanda dan membuat wanita itu malu.


"Kau!" Nyonya Yolanda menahan kalimatnya. Wanita itu segera menarik diri dari atas tubuh Otis. Tatapannya masih penuh curiga. Dia masih belum percaya dengan semua yang dikatakan Otis tadi.


"Jujur saja padaku. Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan tadi malam. Kali ini aku tidak akan marah karena aku akan menghargai kejujuranmu. Rumah ini hanya ada kita berdua. Bagaimana mungkin kau tidak melakukan apapun ketika mengganti bajuku."

__ADS_1


Otis tahu kalau itu adalah kalimat jebakan. Jika dia menjawab Ya maka akan timbul masalah baru. Namun jika ia menjawab tidak juga tidak akan memberi solusi apapun. Kecurigaan Nyonya Yolanda memang hal yang wajar. Mengingat memang hanya ada mereka berdua di rumah itu.


Otis bangkit lagi dan berdiri tegak. Kali ini dia mengambil jarak dari Nyonya Yolanda agar tidak diserang lagi. "Saya tidak melakukan apapun Nyonya. Tolong percaya pada saya."


"Tidak mungkin!" sangkal Nyonya Yolanda lagi.


"Tubuh Anda memang begitu menggoda. Tapi saya tidak pernah memiliki niat jahat untuk menyentuh anda. Anda itu majikan saya. Seseorang yang sepatutnya saya jaga, bukan saya celakai. Apa lagi sampai saya nodai."


"Bahkan menciumku saja tidak ada?"


"Tidak ada, Nyonya."


Mendengar perkataan Otis membuat Nyonya Yolanda bungkam. Wanita itu seperti sudah kehabisan kata-kata untuk menuduh Otis yang bukan-bukan. Anehnya kedua matanya kembali berkaca-kaca. Bibirnya terlihat gemetar seperti sedang menahan kesedihan.


"Nyonya, anda kenapa?" tanya Otis khawatir.


"Benar, Nyonya. Saya berani bersumpah," jawab Otis dengan wajah putus asa.


"Pantas saja Abraham selingkuh."


Otis semakin bingung. Kenapa tiba-tiba Tuan Abraham ada di dalam percakapan mereka. Padahal sejak awal Otis tidak ada menyinggung pria itu sama sekali.


"Nyonya, ebenarnya Anda ini kenapa?" gumam Otis sambil memijat dahinya. Wanita memang sulit di mengerti.


"Bahkan seorang sopir saja jijik menyentuhku. Pantas saja suamiku selingkuh dengan wanita murahan itu. Tubuhku sudah tidak menarik lagi. Aku sudah tidak bisa menggoda suamiku lagi," lirihnya dengan dipenuhi derai air mata yang semakin menjadi.

__ADS_1


Rasa kesal yang sempat memenuhi pikirannya kini Terganti dengan rasa kasihan. Otis menjadi tidak tega melihat Nyonya Yolanda sedih seperti ini. Pria itu mendekat berusaha untuk menenangkan majikannya lagi.


"Nyonya, sebenarnya tubuh anda itu sangat menggoda. Melihat leher dan dada anda-"


PLAKKKK


Kali ini Otis tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika pipinya menjadi sasaran tamparan Nyonya Yolanda.


"Dasar lancang!" umpat Nyonya Yolanda.


"Apa ini?" umpatnya di hati. Posisinya benar-benar serba salah. Bohong salah jujur apa lagi. Hingga akhirnya Otis pasrah saja dengan apa yang ingin dilakukan oleh Nyonya Yolanda.


"Terserah Anda, Nyonya! Terserah anda! Mau anda menampar saya berulang kali. Mau anda memukul Saya. Bahkan jika anda ingin menjambak saya pun silakan. Saya tidak akan menolak. Yang penting anda jangan menangis. Yang penting anda bisa bahagia."


Untuk beberapa saat mereka sama-sama diam. Nyonya Yolanda sudah tidak menangis lagi dan itu membuat Oti sedikit lega. Wanita itu sekarang memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela. Entah apalagi yang dia pikirkan. Yang penting tidak ada lagi air mata di pipinya.


"Otis, Apa kau bisa memasak?"


"Bisa, Nyonya. Anda ingin dimasakkan apa biar saya masakan. Tetapi jangan yang aneh-aneh."


"Aneh-aneh?" Nyonya Yolanda mengernyitkan darinya.


"Maksud saya stok bahan makanan di kulkas terbatas. Saya juga bukan seorang koki yang biasa bekerja di restoran bintang 5. Saya bisanya memasak makanan kampung yang sering Saya masak ketika lapar."


"Baiklah terserah kau saja. Masak saja apa yang menurutmu enak tetapi jangan beri racun di dalamnya. Aku mau mandi. Tubuhku terasa sangat kotor." Nyonya Yolanda melangkah menuju ke kamar mandi. Sedangkan Otis memandang wanita itu untuk beberapa saat sebelum menghela nafas lega.

__ADS_1


"Dibalik wajahnya yang begitu cantik, dia itu seorang wanita yang bar-bar. Dia semakin terlihat menarik di mataku," gumam Otis sambil tersenyum.


__ADS_2