Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Hukuman dari Tesya


__ADS_3

Sandra tersadar dari lamunannya. Wanita itu segera mematikan televisi yang sejak tadi menyala. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa yang empuk lalu mengangkat satu kakinya di atas meja. Rumah yang nyaman dan mewah itu adalah hasil jerih payahnya selama ini karena sudah berhasil menggoda Abraham. Setiap kali mereka berhubungan Abraham selalu mengirim sejumlah uang dan itu ditabung oleh Sandra. Hingga akhirnya uang itu berhasil ia belikan sebuah rumah secara diam-diam. Bahkan sudah ada mobil putih yang terparkir di depan rumah. Mobil itu adalah hadiah dari Abraham saat terakhir kali mereka bertemu.


"Aku tidak pernah rugi jika harus pergi dari rumah itu karena sekarang aku memiliki rumah yang bagus untuk aku tempati. Sekarang rencana selanjutnya adalah menghancurkan Abraham. Aku akan membuat hubungannya dengan Yolanda hancur. Aku harus memberitahu kehamilan ini kepada Yolanda agar dia bisa menggugat cerai Abraham. Jika aku tidak bisa menikah dengan Abraham setidaknya Abraham dan Yolanda tidak bahagia di atas penderitaanku." Sandra diam sejenak sebelum mengukir senyuman licik. "Tapi, kalau diingat-ingat lagi sepertinya Abraham tidak tahu kalau ternyata Dia mandul. Buktinya saja saat dia tahu kalau aku hamil, wajahnya terlihat sangat bahagia. Sepertinya hanya Nyonya Besar yang mengetahui hal itu. Dan Nyonya Besar menyimpan rapat-rapat rahasia Ini dari semua orang."


Sandra terperanjat kaget ketika mendengar suara bel pintu. "Siapa yang datang. Apa makanan pesananku sudah sampai? Tapi kenapa cepat sekali."


Sandra segera beranjak dari sofa dan melangkah menuju ke pintu. Tanpa rasa curiga sedikitpun wanita itu membuka lebar pintu rumahnya. Wajahnya terlihat bingung ketika dia melihat seorang wanita berpenampilan aneh berdiri di hadapannya. Wanita itu adalah Tesya. Tesya memakai tank top hitam dan celana pendek yang begitu ketat. Rambutnya diikat satu. Dua tangannya ada di pinggang dan kini menatap Sandra dengan Tatapan yang menikam seolah-olah ingin melahap wanita itu hidup-hidup.


"Maaf, anda siapa?" tanya Sandra masih dengan tangan memegang handle pintu.


Tesya memperhatikan penampilan Sandra dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Apa kau yang bernama Sandra?" tanya Tesya balik tanpa mau menjawab pertanyaan Sandra.


"Ya, benar. Ada urusan apa mencariku?" Sandra melipat kedua tangannya di depan dada. Dia kali ini gantian memandang Tesya dengan tatapan menghina.


Tesya tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan Sandra. Wanita itu langsung mendorong Sandra masuk ke dalam. Diikuti oleh dua pria yang entah sejak kapan ada di sana. Ketika Tesya masuk dua pria itu juga masuk. Tesya mengunci pintu rumah itu rapat-rapat hingga membuat Sandra ketakutan. Sejenak Ia berpikir kalau orang-orang yang ada di depannya ingin merampok harta yang ia miliki.


"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?"


"Hebat ya. Seorang suster bisa membeli rumah dan mobil mewah. Sepertinya Anda sangat bersungguh-sungguh dalam bekerja hingga bisa menabung uang sebanyak ini." Tesya berjalan ke sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana.


"Anda siapa. Pergi dari sini atau saya akan telepon polisi," ancam Sandra. Berharap orang-orang yang di rumahnya itu takut.


"Kau tidak akan memiliki kesempatan untuk menghubungi polisi. Karena sebelum Polisi datang kau sudah tidak bernyawa!" ancam Tesya gantian.


Sandra melebarkan kedua matanya mendengar perkataan Tesya. "Apa yang kalian inginkan? Katakan saja saya akan memberikan harta yang saya miliki asalkan kalian membiarkan saya untuk tetap hidup." Kali ini Sandra sudah mulai memikirkan cara untuk menyelamatkan diri.


"Sayangnya yang kami inginkan adalah nyawamu. Bukan hartamu."


Tesya beranjak dari sofa dan mendekati Sandra. Wanita itu seperti sudah sangat geram melihat pelakor yang berdiri di hadapannya. Tanpa belas kasih ia menjambak Sandra dan menghempaskan kepala wanita itu dengan kuat.


"Sakit. Tolong jangan siksa saya," lirih Sandra.


"Ini belum seberapa dari pada rasa sakit yang dirasakan oleh Nyonya saya. Sebelum masuk ke dalam kehidupan orang lain sebaiknya berpikirlah seribu kali. Setiap tetes air mata yang dikeluarkan oleh Nyonya saya harus anda bayar dengan tetesan yang begitu perih."


"Apa Nyonya Yolanda yang sudah membayar anda untuk melakukan semua ini?" tebak Sandra asal saja.


"Anda tidak perlu tahu saya datang dari mana dan disuruh oleh siapa. Yang Anda harus tahu adalah tujuan saya datang ke sini." Tesya mendekatkan bibirnya ditelinga Sandra. "Saya ingin memberi pelajaran kepada wanita murahan seperti anda. Anda tenang saja karena penyiksaan yang saya berikan tidak sampai membuat Anda mati sekarang juga. Mungkin anda akan menyesal seumur hidup anda karena sudah berani mengusik rumah tangga orang lain."


Tesya langsung menghempaskan Sandra ke lantai tanpa peduli kalau kini Wanita itu telah mengandung.


"Tolong jangan sakiti saya. Saya ini sedang hamil."


"Ckckck! Anda pikir Anda bisa membuat saya menjadi baik ketika anda bilang kalau anda hamil? Tidak! Justru Ketika saya mengetahui kalau anda hamil, saya semakin bersemangat untuk menyiksa anda." Tesya memandang pria yang tadi ikut bersama dengannya. "Sekarang wanita ini menjadi tugas kalian. Kirimkan videonya ke emailku setelah kalian selesai."

__ADS_1


"Baik, Bos," jawab dua pria itu secara bersamaan. Tesya yang merasa urusannya sudah selesai memutuskan untuk segera pergi meninggalkan rumah itu.


Sandra yang ketakutan berusaha untuk kabur. Namun dua pria itu segera menangkapnya dan menyeretnya ke kamar.


Sebelum keluar meninggalkan rumah, Tesya memandang ke belakang lagi dan meneteskan air mata. Sebenarnya dia tidak pernah tega jika berurusan dengan seorang wanita. Dia tidak mau menyiksa seorang wanita hingga sekeji ini.


Namun ini yang harus ia lakukan untuk membalaskan rasa sakit yang sudah dirasakan oleh Nyonya Yolanda. Nyonya Yolanda memang tidak memberinya perintah apapun. Tetapi sebagai seorang pengawal Tesya merasa ini adalah tugasnya.


"Mulai hari ini kau tidak akan pernah berhenti menangis. Kau tidak akan pernah melupakan kejadian ini seperti apa yang dirasakan oleh Nyonya Yolanda yang tidak pernah melupakan foto mesra kalian dari ingatannya," gumam Tesya di dalam hati. Wanita itu segera pergi menuju ke mobil karena tidak mau mendengar jeritan Sandra dari dalam rumah lagi.


...***...


Satu Minggu Kemudian


Nyonya Yolanda berdiri di depan tubuh Tuan Abraham. Dengan sabarnya wanita itu memasangkan dasi suaminya. Sesekali dia melirik Tuan Abraham lalu tersenyum.


"Kenapa kau cantik sekali pagi ini, Yolanda," puji Tuan Abraham. Pria itu mengecup pucuk kepala istrinya lalu mengusap pipinya dengan lembut.


"Apa selama ini aku tidak cantik?" Nyonya Yolanda melepas dasi suaminya. Wanita itu merasa puas melihat penampilan suaminya yang telah rapi.


"Aku selalu tergila-gila padamu. Setiap harinya. Hanya kau wanita yang bisa membuatku rela menyerahkan segalanya."


Nyonya Yolanda terdiam. Padahal dia sudah berusaha keras untuk melupakan apa yang terjadi dan membuka semuanya dari awal lagi. Tetapi entah kenapa bayang-bayang foto mesra suaminya selalu mengiang di dalam ingatannya hingga membuatnya jadi ingin marah.


Nyonya Yolanda menggeleng sambil menyelipkan rambutnya di belakang telinga. "Aku mau belanja siang ini."


"Aku temani ya?" tawar Tuan Abraham.


Nyonya Yolanda menggeleng. "Hanya beberapa barang saja. Kau pasti sibuk di perusahaan. Aku nanti akan singgah ke perusahaan jam makan siang," ucap Nyonya Yolanda dengan nada lembut.


"Baiklah. Kalau begitu ayo kita sarapan." Tuan Abraham segera menggandeng pinggang istrinya dan membawanya turun ke bawah.


Setibanya di bawah, Tuan Abraham dan Nyonya Yolanda duduk di kursi yang telah di sediakan. Nyonya Yolanda memandang ke arah ruangan yang biasa digunakan sebagai tempat makan para pekerja di rumah itu. Sudah satu minggu dia tidak bertemu dengan Otis. Sejak suasana duka itu, kemana saja Nyonya Yolanda ingin pergi, Tuan Abraham selalu mengantarnya.


"Ada yang kau cari?" tanya Tuan Abraham. Pria itu tahu siapa yang sedang di cari oleh istrinya. Namun dia masih berusaha tetap tenang dan menekan emosinya walau sebenarnya dia sangat cemburu dan ingin memecat Otis secepatnya.


"Tidak ada. Aku butuh bantuan Tika. Biasanya dia selalu berdiri di sana," dusta Nyonya Yolanda. Wanita itu segera melahap dara paginya.


Lima menit setelah mereka duduk, Otis muncul bersama dengan pelayan lainnya. Karena pagi ini dia tidak ada kerjaan, Otis sarapan lebih siang. Pria itu sama sekali tidak melirik ke arah Tuan Abraham dan Nyonya Yolanda. Dia tahu, sedikit saja dia salah menggerakkan matanya, maka itu akan menjadi masalah besar.


"Otis, kemarilah!" teriak Tuan Abraham.


Nyonya Yolanda yang tadinya ingin memasukan makanan ke mulut seperti tidak berselera lagi. Wanita itu mengambil jus jeruk dan meneguknya. Tuan Abraham melirik Nyonya Yolanda sejenak sebelum tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Otis dengan sopan.


"Pak Rahmad bilang kalau kau dan dia sekampung. Hari ini Pak Rahmad ijin untuk pulang kampung. Aku tugaskan kau untuk mengantarkan Pak Rahmad dan menjamin kalau dia tiba di kampung dengan selamat."


Otis mengeryitkan dahinya. Dia tahu Tuan Abraham melakukan semua ini karena pria itu sudah sangat muak melihatnya. Tuan Abraham tidak mau dia ada di dekat Nyonya Yolanda lagi. Hingga terus saja mencari cara untuk mengusirnya jauh-jauh.


"Dia supirku! Aku yang berhak menentukan kemana dia pergi!" ketus Nyonya Yolanda.


Tuan Abraham menatap wajah Nyonya Yolanda dengan ekspresi menahan marah. "Kau istriku. Sudah sepantasnya kau menurut dengan aturan yang aku buat!"


Nyonya Yolanda berdiri dan menggebrak meja. Hal itu bukan hanya membuat Otis saja yang kaget. Tetapi semua pekerja yang ingin sarapan. Mereka menunda sarapan mereka dan memilih untuk pergi menjauh.


"Aku tidak setuju jika Otis harus mengantarkan Pak Rahmad. Masih banyak supir lain yang bisa menggantikan tugas Otis."


"Kau tidak mau supirmu ini jauh-jauh darimu?" ketus Tuan Abraham. Nada bicaranya mulai tinggi.


"Ya!" sahut Nyonya Yolanda. "Dia harus tetap di rumah ini. Apa kau pikir aku tidak tahu tentang rencana licik yang sudah kau siapkan untuk Otis? Kau bukan hanya ingin menyingkirkannya dari rumah ini. Tetapi kau juga ingin menyingkirkannya dari dunia ini bukan?"


"Yolanda!"


"Cukup Abraham! Satu minggu ini aku diam dan terus-terusan menuruti permintaanmu bukan karena aku benar-benar sudah memaafkanmu. Aku hanya tidak mau orang-orang yang tidak bersalah menanggung akibatnya!"


"Apa maksudmu? Apa kau mau bilang kalau senyum dan segala perlakuan lembutmu selama ini palsu?"


"Ya," jawab Nyonya Yolanda mantap. "Aku hanya pura-pura."


"Tapi kenapa Yolanda? Kenapa kau seperti ini? Aku pikir semua masalah yang terjadi di antara kita sudah selesai."


"Belum! Dan tidak akan pernah selesai. Selamanya kau akan aku pandang sebagai pria menjijikkan!"


"YOLANDA!"


"Kau selingkuh dengan suster Mama! Abraham, itu memalukan!" teriak Nyonya Yolanda. Wanita itu tidak bisa membendung air matanya. Dia menangis sambil terisak ketika rasa perih itu kembali menghantam hatinya. "Dia di sana. Di rumah itu. Setiap saat kalian bertemu."


Tuan Abraham mematung. Dia sama sekali tidak menyangka kalau istrinya sudah mengetahui perselingkuhannya. "Yolanda, aku bisa jelaskan semua ini." Tuan Abraham ingin mendekat.


"Berhenti di sana! Jangan sentuh aku!" Nyonya Yolanda memandang Otis yang hanya berdiri diam tanpa tahu harus bagaimana. "Otis, siapkan mobil. Kita pergi sekarang!"


"Ke mana?" Tuan Abraham berlari mendekati Nyonya Yolanda. "Jangan pergi. Ini rumah kita," ucapnya dengan wajah memohon.


"Lepaskan. Biarkan aku sendiri!" ketus Nyonya Yolanda. Wanita itu pergi meninggalkan Tuan Abraham setelah membawa ponselnya yang tergeletak di atas meja.


Tuan Abraham yang geram dan marah menarik kain alas meja hingga membuat semua makanan yang ada di sana berserak di lantai. Pria itu sangat-sangat emosi hingga tidak ada yang berani mendekatinya.

__ADS_1


"Sandra! Aku yakin dia yang sudah memberi tahu Yolanda!" gumam Tuan Abraham di dalam hati.


__ADS_2