Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Nenek Zue


__ADS_3

"Nyonya, Kenapa anda tidak menghabiskan makan malam anda. Tubuh anda terlihat sangat kurus. Anda terlihat seperti orang yang kurang gizi. Saya memasak semua makanan ini khusus untuk anda. Memperhitungkan dengan baik giz yang ada di dalamnya," ucap Nenek Zue yang saat itu duduk di depan Nyonya Yolanda.


"Aku sedang memikirkan seseorang. Jika aku belum berhasil menemukannya, rasanya selera makanku tidak akan kembali. Semua orang berkata kalau dia sudah tiada namun hati kecilku mengatakan dia masih hidup dan sekarang sedang tidur di suatu tempat. Tapi aku tidak memiliki petunjuk apapun untuk mencarinya. Bahkan hatiku terus menolak jika memang benar dia telah tiada. Aku tidak siap untuk kehilangannya," jawab Nyonya Yolanda. Wanita itu meletakkan sendok yang sejak tadi ia genggam kembali ke piring lalu bersandar dan menatap wajah Nenek Zue.

__ADS_1


"Kedengarannya seseorang itu sangat spesial bagi Anda Nyonya. Kalau boleh saya tahu, siapa pria itu. Selama ini saya berpikir kalau hanya Tuan Abraham satu-satunya pria yang selalu ada di dalam hati anda. Kabar perceraian Anda ini sungguh mengagetkan bagi saya. Bertahun-tahun anda tidak ada kabar tiba-tiba saja menghubungi saya dan mengatakan kalau anda telah bercerai dengan Tuan Abraham. Bahkan lucunya Anda bertanya kepada saya apa boleh Anda tinggal di rumah ini. Jelas-jelas ini adalah rumah anda untuk apa bertanya lagi? Justru sayalah yang sedang menumpang di rumah ini."


"Tidak, Nek. Rumah ini sudah menjadi milik anda seperti yang dulu pernah dikatakan oleh kedua orang tua saya. Mereka telah memberikan rumah ini sebagai ucapan terima kasih mereka kepada anda. Saya tidak ingin mengusiknya lagi. Saat ini memang saya butuh seorang teman. Saya bisa saja membeli rumah sesuai dengan yang saya inginkan. Tetapi untuk saat ini saya bukan hanya sekedar membutuhkan tempat tinggal tetapi saya juga membutuhkan seseorang untuk mendengar cerita saya."

__ADS_1


"Wanita ini benar-benar pandai berkata. Aku tahu dia datang ke sini hanya ingin merebut segalanya. Bersikap sok manis padahal di belakang dia sedang merencanakan sesuatu. Aku harus bertindak cepat. Aku tidak mau harta yang seharusnya menjadi milikku kembali ke tangannya. Bagaimanapun juga dia adalah anak kandung sedangkan aku hanya kepala pelayan yang tidak memiliki wewenang apapun. Aku sudah terbiasa hidup mewah selama ini. Aku tidak mau hidup miskin dan kekurangan lagi," gumam Nenek Zue di dalam hati. "Anggap saja saya ini adalah orang tua Anda. Dengan begitu anda tidak perlu sungkan-sungkan menceritakan masalah anda kepada saya, Nyonya." Nenek Zue mengukir senyuman manis.


"Sekarang saya minta anda untuk memakan makanan ini. Walau hanya sedikit setidaknya ada yang masuk ke dalam perut anda. Saya tidak mau anda sampai jatuh sakit. Masalah yang selama ini anda hadapi sudah cukup menguras emosi anda. Jangan sampai membuat anda jatuh sakit."

__ADS_1


"Baiklah, Nek. Saya akan memakan makanan ini. Dilihat dari tampilannya sepertinya sangat lezat. Sebenarnya saya juga sangat merindukan masakan nenek. Saya yakin kalau kedua orang tua saya memilih anda sebagai pengurus rumah bukan tanpa pertimbangan. Mereka sudah sangat percaya dengan Anda dan bisa menjamin kualitas yang anda berikan. Buktinya sampai sekarang saya sudah tua pun Anda masih mau merawat dan memperhatikan Saya. Anda benar wanita yang baik," puji Nyonya Yolanda tidak ada habisnya.


"Terima kasih, Nyonya," jawab Nenek Zue. Wanita itu memandang ke samping sambil mengepal satu tangannya. Rasanya ia merasa sangat muak mendengar perkataan Nyonya Yolanda.

__ADS_1


__ADS_2