
Otis mendorong pintu kamar itu secara perlahan. Belum juga menginjakkan kakinya di lantai kamar Tante Renata, pria itu sudah merasa takut. Debaran jantungnya menjadi tidak karuan.
"Kenapa rasanya seperti masuk ke kamar hantu?" gumam Otis di dalam hati. Pria itu memperhatikan kamar Tante Renata dengan saksama. Kamar itu bersih dan mewah. Tidak ada yang harus di takuti. Tapi entah kenapa Otis merasa takut.
Otis menutup pintu kamar itu lagi. Dia memandang lemari yang ada di samping tempat tidur. Tidak terlalu banyak prabot di dalam sana. Hanya nakas dan lemari baju. Kamar bercat abu-abu itu memang cukup elegan. Terlihat seperti kamar mewah bukan seperti kamar pembantu pada umumnya.
Otis segera menarik pintu lemari dan memeriksa isi di dalamnya. Terlihat beberapa setel baju masih tergantung rapi di dalam sana. Tidak ada seorangpun yang berani mengambilnya meskipun mereka tahu kalau pemiliknya sudah tiada. Otis mengernyitkan dahi melihat sebuah kotak di dasar lemari. Pria itu segera mengambilnya.
__ADS_1
"Kotak apa ini?" tanya Otis sendiri. Kotak itu dikunci dengan gembok. Lagi-lagi Otis harus frustasi karena dia tidak tahu di mana letak kunci gembok tersebut. Otis berusaha mencari ke segala lemari namun tidak juga menemukannya. Otis merasa yakin kalau apa yang ia cari pasti ada di dalam kotak tersebut. Karena tidak tahu dimana letak kuncinya maka pria itu memutuskan untuk pergi dari kamar tersebut. Sebelum meninggalkan kamar Otis kembali memeriksa nakas yang ada di samping tempat tidur. Ternyata nakas itu kosong. Tidak ada benda apapun di dalamnya. Setelah memastikan tidak ada lagi yang harus diperiksa, pria itu segera meninggalkan kamar tersebut. Ia juga tidak mau sampai ketahuan karyawan lainnya. Otis mengunci pintu kamar itu seperti sedia kala. Ia memandang keadaan sekitar sekali lagi. Ketika dirasa aman, Otis segera pergi meninggalkan lokasi tersebut menuju ke kamar tidurnya.
Otis merasa sangat lega ketika dia berhasil tiba di kamar dalam keadaan tidak diketahui oleh siapapun. Pria itu meletakkan kotak yang tadi ia bawa di atas tempat tidur sebelum mengambil ponselnya. Ia ingin memberitahu kabar ini kepada pria tersebut.
"Apakah kau sudah berhasil masuk ke dalam kamar Renata?" tanya pria di dalam telepon.
"Bawa kotak itu kepadaku. Aku pasti bisa membukanya," ucap pria itu dengan penuh percaya diri meskipun dia belum melihat kotaknya secara langsung.
__ADS_1
"Baiklah aku akan memberikan kotak ini kepadamu. Tapi tidak sekarang. Aku akan menemuimu pada malam hari. Tunggu aku di persimpangan jalan tidak jauh dari rumah ini. Aku akan ke sana sekitar jam 09.00 malam nanti."
"Baiklah aku akan menunggumu di situ."
Panggilan telepon segera berakhir. Otis memandang kamar tidurnya yang sangat berantakan. Pria itu menghela nafas panjang. Seingat Otis sebelum pergi meninggalkan kamar itu, kamar itu dalam keadaan rapi. Dia merasa sangat yakin kalau ada seseorang yang masuk ke kamarnya dan mencari sesuatu hingga mengacak-ngacak kamarnya.
Otis menyimpan kotak tadi di dalam lemari agar lebih aman. Setelah itu ia mulai membereskan kamar tidurnya agar terlihat rapi. Sebuah gelang tergeletak di atas tempat tidur. Ia ingat betul siapa pemilik gelang tersebut.
__ADS_1
"Nyonya Yolanda. Apa dia sempat datang ke kamar ini setelah aku pergi?" gumam Otis di dalam hati.