
Nyonya Yolanda baru saja selesai mandi. Wanita itu masih memakai bathrobe di tubuhnya. Dia terlihat sedang asyik mengeringkan rambut dengan hair dryer. Wanita itu sama sekali tidak sadar kalau seseorang masuk ke dalam kamarnya. Suara hair dryer yang berisik membuat langkah kaki tidak lagi terdengar.
Ketika ingin memutar tubuhnya, Nyonya Yolanda dikagetkan dengan kemunculan Tuan Abraham di hadapannya. Wanita itu langsung mematikan hair dryer dan duduk di kursi yang ada di dekatnya.
"Selamat pagi Yolanda sayang. Bagaimana kabarmu?"
Tuan Abraham mendekat. Dia menghidupkan lagi hair dryer yang tergeletak dan membantu Nyonya Yolanda mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah. Sesekali pria itu mencium aroma rambut istrinya dengan penuh penghayatan. Dari tatapan matanya terlihat sangat jelas kalau pria itu merindukan istrinya.
"Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Apa Otis tidak memberi tahumu kalau aku akan datang?" tanya Tuan Abraham balik.
Nyonya Yolanda sebenarnya sudah tahu kalau Tuhan Abraham akan segera datang menemuinya. Kemarin Otis sempat menjelaskan semua yang terjadi. Wanita itu sengaja bertanya seperti itu agar kesannya dia dan Otis tidak akrab.
"Tidak. Dia tidak mengatakan apapun padaku. Sepertinya dia selalu ada di pihakmu," jawab Nyonya Yolanda tanpa memandang.
Tuan Abraham tersenyum penuh arti. "Apa kau sedang melindunginya, Yolanda?"
"Aku tidak perlu membela diri. Karena aku tidak merasa bersalah!" Nyonya Yolanda beranjak dari kursi yang ia duduki. Mengabaikan suaminya yang masih memegang hair dryer dalam keadaan hidup.
"Kenapa? Apa salahku? Kenapa kau tidak memberiku kabar selama satu minggu? Apa salahku? Bukankah kita baik-baik saja sebelum kau berangkat ke Kanada?"
__ADS_1
Nyonya Yolanda memilih baju dari dalam lemari. Wanita malas berbicara dengan suaminya. Tuan Abraham yang kesal segera mendekat dan mencengkram lengan Nyonya Yolanda.
"YOLANDA!"
"LEPASKAN AKU!" teriak Nyonya Yolanda hingga membuat Tuan Abraham kaget. Belum pernah Nyonya Yolanda semarah itu sebelumnya. Tuan Abraham berpikir kalau seharusnya dia yang marah saat ini karena Nyonya Yolanda tidak ada kabar.
"Kau kenapa sayang?" Nada bicara Tuan Abraham melemah. Dia mengalah demi kebaikan semuanya. "Apa aku salah? Maafkan aku."
"Lepaskan!" Nyonya Yolanda menghempaskan tangan Tuan Abraham. Wanita seperti jijik di sentuh oleh suaminya sendiri.
"Yolanda, sebenarnya salahku apa? Katakan. jangan marah-marah tidak jelas seperti ini." Tuan Abraham masih belum menyerah. Dia terus membujuk istrinya agar mau mengatakan kesalahannya.
Nyonya Yolanda seperti tidak peduli. Wanita itu segera memakai pakaian dinginnya karena memang siang ini dia ada rencana jalan-jalan ke gunung salju lagi.
Nyonya Yolanda memejamkan matanya berusaha menekan air mata yang ingin menetes. Dia tidak mau menangis di hadapan suaminya. Walau rasanya hatinya begitu perih, tetapi dia berusaha tetap tegar.
"Maafkan aku ya?" bisik Tuan Abraham di telinga Nyonya Yolanda.
"Aku mau semua aset yang kita miliki dialihkan atas namaku!"
Tuan Abraham mematung. Dia tidak menyangka kalau istrinya akan mengatakan kalimat seperti itu. Memang tidak jadi masalah baginya. Harta yang ia miliki juga tidak ada artinya jika Yolanda tidak ada di sisinya. Namun, ini semua terlalu mendadak hingga membuat Tuan Abraham syok.
__ADS_1
"Semuanya?" tanya Tuan Abraham untuk kembali memastikan.
"Ya. Kenapa? Apa kau keberatan?"
Tuan Abraham tertawa kecil. Dia memutar tubuhnya Nyonya Yolanda agar menatap wajahnya. "Tidak sayang. Sama sekali tidak. Apa kau mulai meragukan suamimu ini?" Tuan Abraham mengusap lembut pipi Nyonya Yolanda.
Nyonya Yolanda mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang Tuan Abraham. "Keluargamu memandangku sebagai wanita mandul. Aku juga tidak bisa memberimu anak sampai detik ini. Aku hanya ingin jaga-jaga saja kalau suatu saat nanti kau menendangku dari rumah itu. Aku tidak mau sampai kau lebih kaya dariku."
Tuan Abraham menggeleng. "Tidak sayang ... Aku bukan pria seperti itu. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Hanya Kau satu-satunya wanita yang ada di dalam hati dan pikiranku. Percayalah padaku."
"Aku percaya dengan semua yang kau katakan. Sampai detik ini kau sudah membuktikan semua ucapanmu. Bukankah itu berarti tidak ada alasan lagi untukmu menolak permintaanku. selama menikah aku tidak pernah menuntut lebih. Sebagai seorang istri aku sangat mematuhi suamiku. Apapun yang kau katakan selalu Aku turuti. Sekali saja permintaanku kenapa tidak bisa kau kabulkan?"
Nyonya Yolanda mendaratkan bibirnya di bibir Tuan Abraham. Dia wanita yang sudah hampir 10 tahun hidup bersama Tuan Abraham. Jelas saja dia tahu bagaimana cara menggoda suaminya. Dia sangat paham, untuk membuat pertahanan suaminya goyah.
Tuan Abraham memejamkan mata ketika mendapatkan sentuhan hangat dari istrinya. Pria itu memang sudah sangat merindukan istrinya. Dia menarik pinggang Nyonya Yolanda dan membalas ciuman itu hingga lebih panas lagi.
Nyonya Yolanda membuka satu persatu kancing kemeja suaminya. Dia memandang kedua mata Tuan Abraham dengan tatapan penuh cinta. Air mata dan rasa benci itu ia tekan rapat-rapat di dalam hati.
"Sayang, aku menginginkanmu. Sangat menginginkanmu," bisik Tuan Abraham dengan suara serak. Nafsu pria itu sudah tidak bisa ditahankan lagi. Pria itu membutuhkan istrinya.
"Siapkan semuanya maka kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan!" Nyonya Yolanda mendorong Tuan Abraham hingga pria itu jatuh di sofa. Dengan santainya Nyonya Yolanda pergi meninggalkan Tuan Abraham yang saat itu dalam keadaan tersiksa.
__ADS_1
"Yolanda! Jangan tinggalkan aku!" teriak Tuan Abraham. Namun Nyonya Yolanda tidak peduli. Karena memang targetnya saat itu bukan untuk bercinta. Tetapi untuk harta.