
Yolanda dan Otis berjalan beriringan melewati gang sempit. Otis tidak mau melepaskan genggaman tangannya. Pria itu tidak mau sampai Nyonya Yolanda jauh-jauh dari dirinya. Sedangkan Nyonya Yolanda sendiri memilih untuk menunduk di balik topi dan masker yang sekarang ia kenakan. Wanita itu bahkan tidak berani bertatap langsung dengan warga sekitar yang kini menatapnya dengan penuh tanya.
"Di sana rumahnya. Aku ingat betul. Cat berwarna coklat," ucap Otis sambil menunjuk rumah yang letaknya beberapa meter dari posisi mereka berada. Nyonya Yolanda mengangkat kepalanya sekilas sebelum menunduk lagi. Wanita itu sudah pasrah mau ke mana saja Otis membawanya.
"Otis, apa benar itu kau?" teriak seseorang dari kejauhan.
Otis menahan langkah kakinya lalu berputar. Pria itu hanya melambaikan tangan sebelum lanjut jalan lagi.
"Siapa dia?" tanya Nyonya Yolanda ingin tahu. "Kenapa dia bisa kenal denganmu?"
"Bukankah aku tadi sempat bilang kalau aku pernah ngontrak di sini. Dia adalah salah satu tetanggaku. Kami sering mengobrol bareng setiap malam. Tadinya aku pikir dia sudah lupa. Ternyata tidak. Dia benar-benar ingat dengan wajahku. Meskipun sekarang wajahku terlihat jauh lebih buruk dari dulu."
Nyonya Yolanda hanya diam saja. Wanita itu berpegangan kuat di lengan Otis.
"Kita sudah sampai. Aku akan ketuk pintu. Duduklah di sana." Otis menunjuk kursi kayu yang ada di teras rumah. Kursinya dipenuhi dengan tumpukan debu. Hal itu membuat Nyonya Yolanda enggan untuk duduk di sana. Nyonya Yolanda lebih memilih untuk berdiri saja daripada duduk dan mengotori baju yang ia kenakan.
Sedangkan Otis segera mengetuk pintu untuk bertemu dengan sang pemilik rumah. Sudah berulang kali Otis mengetuk pintu dan memanggil nama sang pemilik rumah tetapi tidak ada juga yang keluar dari dalam sana. Dari arah depan, seorang wanita berjalan menghampiri Otis dan Nyonya Yolanda.
"Apa kau Otis?"
Otis dan Nyonya Yolanda sama-sama berputar ke belakang. Seorang wanita berbadan gemuk dan mengenakan daster berdiri di sana dan menatap mereka dengan tatapan yang begitu tidak bersahabat. Hal itu membuat Nyonya Yolanda takut hingga akhirnya ia memutuskan untuk bersembunyi di balik tubuh Otis.
"Benar. Maaf saya tidak mengingat anda."
"Kau tidak perlu mengingatku karena memang kita tidak saling kenal." Wanita itu mengeluarkan sebuah kunci dari dalam saku dasternya. "Kek Mun sudah tiada. Beliau berpesan jika suatu saat Anda datang ke sini bersama dengan seorang wanita. Saya harus memberikan kunci rumah ini kepada Anda. Kek Mun Tidak memiliki kerabat lain lagi. Dia sudah menganggap anda sebagai anaknya. Beliau mewariskan rumah ini untuk anda."
Otis menjadi sedih mengetahui pria yang ingin Ia kunjungi kini sudah tidak ada di dunia ini lagi. Pria itu rasanya ingin menangis namun Ia tetap tegar di depan Nyonya Yolanda. "Terima kasih," ucap Otis. Dia menerima kunci rumah tersebut lalu membuka pintunya.
"Kau yakin ingin masuk ke dalam?" tanya Nyonya Yolanda yang saat itu terlihat ragu untuk masuk ke dalam rumah tidak berpenghuni tersebut.
"Kenapa tidak. Bukankah sekarang rumah ini sudah menjadi milikku?" jawab Otis dengan santai.
"Bagaimana bisa? Tidak ada perjanjian hitam di atas putih. Rumah ini bisa menjadi milik siapa saja," ucap Nyonya Yolanda tidak percaya.
"Kehidupan di sini begitu santai. Tidak seperti kehidupan orang kaya di kompleks perumahan Anda Yolanda. Orang-orang miskin seperti kami tidak pernah memiliki niat untuk merebut milik orang lain. Mereka semua tahu batasan. Jika rumah ini sudah menjadi milik saya maka tidak siapapun akan menghuninya selain saya. Bukankah jika dipikir-pikir lagi bisa saja wanita tadi tinggal di rumah ini karena orang yang memilikinya sudah tiada dan tidak bisa protes lagi. Tetapi tidak terjadi sedemikian. Justru dia datang untuk memberikan kunci ketika aku berdiri di sini."
"Itu membuatku kagum," puji Nyonya Yolanda.
"Ayo kita masuk ke dalam." Otis mendorong pintu yang dipenuhi debu tersebut. Pria itu mengajak kekasihnya masuk ke dalam rumah. "Aku juga pernah tidur di kamar yang ada di rumah ini. Dia memberiku kamar khusus di sebelah sana. Ayo kita lihat kamar yang pernah aku tiduri seperti apa. Aku harap kau tidak kaget ketika melihatnya nanti. Karena mungkin semua yang anda lihat akan sangat menjijikkan karena rumah ini kotor dan dipenuhi debu. Tidak sebersih dan seindah rumah yang selama ini anda tempati."
__ADS_1
Nyonya Yolanda hanya diam saja. Dia sudah tahu kalau seperti inilah resikonya jika sampai memutuskan untuk menikah dengan pria biasa seperti Otis.
Otis masuk ke dalam kamar dan segera membuka jendela untuk membiarkan udara masuk ke dalamnya. Nyonya Yolanda melangkah ke jendela karena ruangan itu benar-benar bau. Wanita itu membuka topi yang sejak tadi menutupi rambut indahnya. Hembusan angin membelai rambutnya hingga berterbangan. Dari posisi Nyonya Yolanda berada wanita itu bisa melihat petakan sawah hijau yang begitu indah. Ini pertama kalinya Nyonya Yolanda bisa melihat persawahan secara langsung. Tanpa sadar wanita itu tersenyum dan sangat menikmati pemandangan yang ada di sana.
"Kenapa kompleks perumahan sempit seperti ini bisa menyajikan pemandangan yang begitu indah?" tanya Nyonya Yolanda pemasaran.
"Pemilik rumah ini adalah seorang petani. Bahkan semua orang yang tinggal di daerah sini awalnya adalah seorang petani. Tanah yang sekarang dijadikan sebagai tanah bangunan dulunya juga tanah-tanah sawah. Semakin berkembangnya jaman mereka semakin kesulitan mengelola sawah hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjual sawah-sawah itu kepada pengusaha untuk dijadikan mall dan lain sebagainya. Hanya pemilik rumah ini yang tidak menjualnya. Berkat dia jadi ada tanah sawah di tengah kota."
"Bukankah pemiliknya sudah tidak ada kenapa sawahnya masih terurus dan terawat."
"Soal itu aku juga tidak tahu."
Nyonya Yolanda berbalik badan lalu menatap wajah Otis. Dia melirik kasur berukuran single yang masih tertutup sprei warna coklat tua. Ada lemari mini kecil di samping tempat tidur. Tidak ada kamar mandi di dalam kamar itu. Setelah jendela dibuka kamar itu terlihat nyaman untuk ditempatin.
"Sepertinya ada yang membersihkan kamar ini setiap harinya. Tadinya aku pikir kamar ini sangat kotor dan berdebu." Nyonya Yolanda memegang di dindingnya dan tidak menemukan debu di sana.
"Bisa jadi," jawab Otis.
Nyonya Yolanda berjalan menghampiri Otis. Pria itu mendongakkan wajahnya lalu menatap Otis dalam-dalam. "Kehidupanmu yang dulu memang sangat sederhana. Tetapi aku bisa tebak kalau kehidupanmu sangat bahagia. Aku bisa merasakan kehangatanmu hanya berada di dalam kamar ini saja."
"Kalau begitu peluk aku sekarang juga," pinta Otis dengan mesra.
Otis menatap wajah Nyonya Yolanda dan tanpa sadar menelusuri wajah wanita itu. Desiran hangat mengalir di dalam dada. Otis sadar kalau hanya mereka berdua di dalam kamar. Hal itu membuat pikiran kotor kembali memenuhi isi otaknya.
"SIAPA KAU!"
Otis dan nyonya Yolanda sama-sama memandang ke arah pintu. Mereka melihat anak kecil berusia sekitar 10 tahun berdiri di sana dengan tangan di pinggang. Anak kecil itu terlihat tidak suka melihat Otis dan nyonya Yolanda ada di sana. "Kenapa kalian bisa ada di dalam kamarku?" Teriak anak kecil itu dengan wajah tidak terima.
"Kamarmu?" Otis mengeryitkan dahinya. "Ini kamarku. Aku Otis. Pemilik rumah ini."
Awalnya anak kecil itu terlihat ingin protes. Namun ekspresi wajahnya terganti ketika dia tahu kalau pria yang berdiri di hadapannya adalah Otis. Sang pemilik rumah.
"Paman Otis, kenapa Anda bisa datang ke rumah ini. Kenapa anda tidak datang di saat Kakek meninggal?" Anak itu menjadi sedih.
Otis mengernyitkan dahi dengan wajah bersalah. Pria itu mendekati anak kecil tersebut lalu berjongkok di hadapannya. "Siapa namamu?"
"Ali. Paman Otis, apa wanita cantik itu adalah istri anda. Kakek bilang Anda akan datang ke rumah ini bersama dengan istri Anda suatu hari nanti."
"Ya, dia istri saya," jawab Otis dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Kalau begitu tugasku menjaga kamar ini telah selesai. Aku mau kembali ke rumahku."
"Ali, jika aku ingin bertemu denganmu lagi aku harus mencarimu di mana?"
"Anda pasti sudah bertemu dengan ibuku. Tubuhnya besar dan suaranya sangat keras."
Otis tertawa mendengarnya karena pria itu sudah tahu kalau sebenarnya ibu kandung Ali adalah wanita gemuk yang tadi mengantarkan kunci. "Baiklah aku memang sudah bertemu dengan Ibumu dan aku tahu kemana dia pergi. Terima kasih karena sudah menjaga kamarku dengan begitu baik." Otis mengambil dompet dari dalam saku lalu mengeluarkan beberapa lembar uang Rp100.000. "Ambil ini untuk jajan."
Ali terlihat sangat senang. Ia menerima uang itu dengan penuh antusias. "Paman Otis, jika anda butuh sesuatu panggil saja Ali. Ali akan datang untuk membantu Paman Otis." Setelah itu Ali berputar dan pergi meninggalkan rumah.
Otis tanya geleng-geleng saja melihat tingkah laku Ali yang begitu menggemaskan.
"Dia anak yang pintar," puji Nyonya Yolanda yang masih berdiri di dekat jendela.
Otis segera berjalan ke arah pintu dan mengunci rapat pintu kamar tersebut. Jelas aja hal itu membuat Nyonya Yolanda terlihat khawatir. Sampai-sampai Nyonya Yolanda menatap Otis dengan begitu gugup.
"Kenapa harus dikunci?"
"Agar tidak ada yang masuk secara tiba-tiba lagi seperti tadi." Otis bukan mendekati Nyonya Yolanda melainkan berjalan ke arah lemari. Pria itu seperti mengambil sesuatu dari dalam lemari kecil tersebut. Sedangkan Nyonya Yolanda yang merasa kelelahan memilih untuk duduk di atas kasur.
"Apa anda merasa kepanasan?"
"Ya, apa di kamar ini tidak ada AC."
Otis tertawa kecil. Dia tidak tahu kekasihnya ini benar-benar polos atau sedang menghina jiwa kemiskinannya. "Ada kipas kecil di atas plafon tetapi aku tidak tahu dia masih berfungsi atau tidak." Otis menghidupkan kipas angin tersebut. Wajah pria itu terlihat lega ketika kipas angin itu masih bisa berputar. Namun suaranya yang begitu berisik mengganggu pendengaran mereka. Nyonya Yolanda yang juga mendongak ke atas mengerutkan dahinya melihat kipas angin tersebut.
"Kau yakin benda ini tidak akan melukai kita?"
Otis yang tadinya mendongak kini memandang wajah Nyonya Yolanda lagi sambil menggeleng pelan.
"Saya tidak yakin, Nyonya."
Nyonya Yolanda tertawa geli mendengar jawaban Otis. Wanita itu menutup mulutnya dengan tangan sambil tertawa malu-malu. Tingkah lakunya yang seperti itu membuat Nyonya Yolanda terlihat semakin cantik. Otis segera mematikan kipas anginnya karena tidak mau jika kipas itu sampai mencelakai mereka.
Tiba-tiba saja Nyonya Yolanda memeluknya dari belakang. Wanita itu menyandarkan kepalanya di punggung Otis. "Apa aku boleh memelukmu seperti ini?"
"Tentu saja boleh," jawab Otis pelan.
"Apa kau tidak ingin mengenal diriku lebih dalam lagi Otis? Di tempat ini hanya ada kita berdua."
__ADS_1
Nyonya Yolanda mencium leher Otis hingga menciptakan desir-desiran aneh yang begitu nikmat. Tangan wanita itu berhasil masuk dan main di balik dada bidang Otis. Otis memejamkan mata dan sangat menikmatinya.
"Cepat Otis. Ini adalah waktu yang tepat," bisik Nyonya Yolanda dengan begitu menggoda.