
Otis tersentak kaget ketika pramugari yang tadi dia temui kini duduk di atas pangkuannya. Pria itu melebarkan kedua matanya tatkala melihat baju wanita di pangkuannya yang kini terbuka di bagian dada. Sejenak keimanan Otis melemah. Gunung kembar milik pramugari itu memang sungguh menggoda. Namun Otis tidak mau sampai terjebak. Dia segera menyadarkan dirinya sendiri agar tidak sampai melakukan hal yang tidak diinginkan.
"Apa yang kau lakukan?" protesnya dengan wajah marah.
"Tuan, tolong saya," lirihnya manja. Wanita itu mengecup leher Otis dan mencumbunya dengan mesra. Tangannya dia letakkan di dada bidang Otis lalu menggodanya dengan lembut. Rambut pramugari itu sudah terlihat acak-acakan meskipun mereka belum melakukan apapun.
"Menyingkirlah!" Otis mulai kesal. Dia memegang pinggang wanita itu karena ingin menyingkirkannya secara paksa. Namun Tiba-tiba saja Otis mendengar tepuk tangan seseorang.
"Well well! Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui sifat aslimu Otis."
Pramugari itu segera beranjak dan merapikan penampilannya. Ia mengancing satu persatu kemeja ketat yang kini ia kenakan. Rok yang sempat naik ke atas juga segera ia turunkan ke bawah lagi. Napas pramugari itu memburu cepat seolah-olah dia baru saja berpadu kasih dengan Otis.
Otis menghela nafas panjang melihat kejadian itu. Jebakan seperti ini bukan sekali dua kali ia alami tapi sudah sering. Ia beranjak dari kursinya dan merapikan penampilannya sendiri juga. Dia memandang wajah Nyonya Yolanda yang kini menatapnya dengan begitu kecewa. Namun wanita itu yang lebih dulu memalingkan wajahnya karena tidak mau berlama-lama memandang wajah Otis.
"Apa kau lupa dengan apa yang aku katakan tadi. Aku bilang jika kau ingin bersenang-senang jangan di pesawatku. Aku tidak mau pesawatku kotor karena ulah manusia murahan seperti kalian!" hina Tuan Abraham. Rasanya puas sekali dia bisa memergoki Otis sambil membawa istrinya seperti sekarang. Dia berharap istrinya tidak lagi menyukai Otis. Apa lagi sampai mengguminya.
__ADS_1
"Percuma saja jika saya menjelaskan apa yang terjadi. Karena saya yakin Anda juga tidak akan percaya dengan apa yang saya katakan. Anggap saja saya ini memang pria yang murahan. Permisi!" Otis melangkah menuju ke toilet. Pramugari wanita itu terlihat kebingungan karena tidak tahu harus bagaimana. Respon yang diberikan Otis tidak sama dengan apa yang dia pikirkan. Dia sudah mencari-cari alasan untuk membela diri. Bahkan pramugari itu ingin berkata kalau Otis yang telah menggodanya duluan. Tidak di sangka seperti ini jadinya. Sekarang Pramugari itu malu sendiri atas jebakan yang ia buat sendiri.
"Maafkan saya, Tuan. Saya permisi." Pramugari itu memutar tubuhnya ingin kabur. Namun Nyonya Yolanda tidak terima. Dia ingin tahu sebenarnya Otis di jebak atau memang dia pria murahan.
"Tunggu!" teriakan Nyonya Yolanda membuat pramugari itu kembali diam. Dia memandang wajah Nyonya Yolanda dengan rasa takut-takut.
"Ya, Nyonya."
"Bukankah tugasmu di pantry? Saya rasa jarak pantry dengan tempat duduk penumpang cukup jauh. Apa dia sudah menyeretmu untuk ke sini?"
"Yolanda, mungkin saja mereka sudah janjian. Bukankah sekarang waktunya istirahat. Pasti dia tidak menyangka kalau kita akan lewat sini sekarang," jawab Tuan Abraham.
"Aku-"
"Lebih tepatnya kau yang memaksaku untuk lewat dari tempat ini," potong Nyonya Yolanda sebelum Tuan Abraham menyelesaikan kalimatnya. "Tadinya aku tidak curiga kenapa kau tiba-tiba mengajakku ke sini. Tidak aku sangka, ternyata kau sudah membuat tontonan yang begitu bagus. Sayangnya aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat. Abraham, kali ini rencanamu gagal besar. Walaupun sebenarnya aku tidak peduli dengan urusan bawahanku. Tapi jika kau terus-menerus mengusik ketenangannya, aku akan membuatmu menyesal. Memang awalnya dia bekerja di bawah tanganmu. Tetapi mulai sekarang dia akan menjadi bawahanku. Aku yang akan membayarnya. Aku yang menentukan aturan dalam pekerjaannya."
__ADS_1
Nyonya Yolanda segera pergi meninggalkan Tuan Abraham di sana sendirian setelah puas menyampaikan unek-uneknya.
Tuan Abraham terlihat kesal karena rencananya gagal. Dia memandang pramugari itu dengan wajah ingin menikam. "Aku tidak akan membayarmu! Tidak akan!" ketus Tuan Abraham sebelum pergi mengikuti Nyonya Yolanda.
Pramugari itu menangis. Dia sudah menurunkan harga dirinya tapi tidak juga mendapatkan bayaran. Dia lembar uang seratus ribu rupiah tiba-tiba muncul dari samping punggungnya. Pramugari itu segera memutar tubuhnya dan memandang orang yang sudah memberinya uang.
"Tuan," ucap Pramugari itu ketika melihat Otis berdiri di sana.
Otis memasukkan uang itu ke dalam saku baju yang ada pada pramugari tersebut. Dia menghela napas lalu memandang ke luar. "Aku tahu hidup ini kejam. Tapi sebagai wanita, jangan pernah mau untuk menjual harga dirimu hanya demi uang. Sebesar apapun uang yang kau dapat, tidak akan ada artinya jika kau tidak menggunakannya dengan baik. Aku tahu kau di suruh oleh Tuan Abraham untuk melakukan semua ini. Aku sama sekali tidak marah padamu. Aku justru ingin mengucapkan terima kasih karena dari kejadian ini aku jadi tahu, seperti apa sifat asli Tuan Abraham."
Pramugari itu berlutut di hadapan Otis. Dia merasa sangat malu. "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya akan selalu mengingat perkataan anda."
"Pergilah. Kerjakan yang seharusnya menjadi tugasmu. Jangan pernah usik ketenangan orang lain."
"Ba baik, Tuan."
__ADS_1
Pramugari itu segera pergi meninggalkan Otis sendirian di sana. Otis kembali duduk di kursinya lalu memijat kepalanya yang terasa pusing. Dia baru saja berhasil tidur tapi tiba-tiba masalah kembali muncul.
"Kira-kira apa yang sudah dipikirkan oleh Nyonya Yolanda tadi?" gumamnya di dalam hati.