Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Hukuman


__ADS_3

Otis sempat kaget melihat lokasi yang sekarang mereka datangi. Itu bukan sebuah cafe melainkan rumah kosong yang ada di tengah-tengah perkebunan. Tuan Abraham segera turun meskipun Otis belum membukakan pintu. Tanpa pikir-pikir Otis juga segera turun dari mobil dan mengejar Tuan Abraham yang kini berjalan masuk menuju ke rumah kosong tersebut.


Tuan Abraham masuk ke dalam rumah yang tidak terkunci. Meskipun dari luar rumah itu terlihat terbengkalai, tetapi dalamnya terlihat rapi dan bersih. Tuan Abraham segera duduk di kursi kerja yang ada di sana. Otis memandang Tuan Abraham sejenak sebelum mengamati ruangan itu kembali.


"Selamat siang, Tuan."


Tiba-tiba saja Otis mendengar seseorang berbicara di belakang. Pria itu langsung memutar tubuhnya. Seorang pemuda bertubuh tegap dengan mata berwarna biru berjalan mendekati Otis. Otis masih bertanya-tanya di dalam hati sebenarnya siapa pria itu. Mereka tidak saling kenal dan tidak pernah bertemu sebelumnya. Tidak mau ambil pusing Otis kembali menunduk. Posisinya di sana hanya sebagai bawahan. Tidak sepantasnya ia memandang rekan majikannya dengan cara yang seperti itu.


"Dia adalah target yang harus kau habisi hari ini!" ujar Tuan Abraham hingga membuat Otis segera mengangkat kepalanya. Otis masih belum paham sebenarnya Tuan Abraham berbicara dengan siapa. Berbicara dengannya atau pria yang kini berada di sampingnya.


"Ini tugas yang sangat mudah,” jawab pria berbadan tinggi itu dengan santai hingga membuat Otis hanya bisa membisu. Pria itu mengatur nafasnya agar kembali tenang. Ruangan itu diselimuti dengan keheningan. Otis mulai gugup dan dia tidak bisa menyembunyikan rasa takut yang kini membuat sekujur tubuhnya gemetar.


"Kau takut mati Otis?" tanya Tuan Abraham seolah-olah pertanyaan itu tidak ada maknanya sama sekali.

__ADS_1


"Tidak, Tuan. Saya tidak takut mati karena setiap orang yang hidup pasti akan mati. Hanya saja cara kematiannya mungkin berbeda-beda. Ada yang mengenaskan dan ada yang mati dengan tenang," sahut Otis sambil memandang wajah Tuan Abraham. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menantang pria itu secara langsung. Cepat atau lambat dia akan dibunuh oleh pria yang kini berdiri di sampingnya.


Tuan Abraham mengangguk mendengar jawaban Otis. "Sepertinya kau akan mati dengan cara yang begitu mengenaskan. Aku ingin melihatmu menderita dan mati secara perlahan. Itu juga belum sebanding dengan rasa sakit hati yang pernah aku rasakan." Tuan Abraham kembali bersandar di kursi yang ia duduki. Memperhatikan Otis dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Sebenarnya kau ini pria yang sangat spesial. Sebagai seorang supir kau mendapatkan gaji besar jika dibandingkan dengan gaji supir pada umumnya. Kau bisa dipercaya. Tapi sayangnya kau sangat mudah untuk tergoda. Tapi aku tidak bisa menyalahkanmu, Otis. Bagaimanapun juga, istriku sangat cantik. Pria mana yang tidak tergoda ketika melihatnya. Apa lagi ketika diajak mengobrol. Bisa dibilang semalam keadaan sangat menguntungkan bagimu kan. Ketika Yolanda tahu kalau aku berselingkuh dengan Sandra dia membutuhkan sandaran untuk melampiaskan kesedihannya dan kebetulan kau pria yang ada di sampingnya. Tadinya aku pikir kau memang benar-benar menjaganya dari bahaya. Ternyata kau berniat untuk menyingkirkan namaku dari dalam hatinya. Sejak kemarin ada satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan langsung kepadamu." Tuan Abraham beranjak dari kursi yang ia duduki dan berjalan mendekati Otis. "Otis, apakah kau benar-benar mencintai istriku atau kau hanya sekedar tertarik saja padanya. Jawabanmu menentukan keselamatanmu hari ini."


Otis menarik nafasnya yang mulai pendek tanpa berani memandang wajah Tuan Abraham secara langsung lagi. "Saya hanya ingin melindungi Nyonya Yolanda. Tidak lebih dari itu, Tuan," dusta Otis. Dia terpaksa mengatakan kalimat sekejam itu agar nyawanya selamat.


"Menjaganya?" Tuan Abraham mengambil map yang tergeletak di atas meja lalu dan beberapa tumpukan foto lalu melemparkannya ke wajah Otis. "Menjaga kau bilang. Kau menciumnya! Memeluknya! Bahkan mungkin kalian sudah pernah tidur bersama!" teriak Tuan Abraham yang sudah disulut api emosi. "Sekarang kau masih berani bilang kalau kau hanya sekedar menjaganya?"


Tiba-tiba saja Tuan Abraham mendaratkan pukulan yang sangat kuat di rahang Otis. Sampai-sampai kepala pria itu tersentak ke samping. Otis terus saja mengepal kuat tangannya yang gemetar sambil menahan emosi yang sudah tidak terkendalikan lagi.


"Ya. Saya memang mencintai Nyonya Yolanda," ucap Otis dengan sadar padahal sebenarnya ini bukan waktu yang tepat untuknya jujur. Namun Otis tidak memiliki pilihan lain lagi. Toh nyawanya juga sudah diambang kematian."


"Beraninya kau mengatakan kalimat itu di depanku!"

__ADS_1


"Nyonya Yolanda adalah wanita yang sangat baik. Hatinya sungguh bersih. Seputih kapas. Tidak sepantasnya wanita sebaik dia diselingkuhi oleh pria seperti anda. Sebelum menyalakan orang lain sebaiknya Anda intropeksi diri sendiri, Tuan. Jika anda sudah yakin kalau tidak pernah melakukan kesalahan, baru anda berhak untuk menyalakan orang lain. Seharusnya Anda berterima kasih kepada saya karena jika saya tidak ada di samping Nyonya Yolanda mungkin saat ini Yolanda sudah tidak ada di dunia ini lagi. Wanita itu pasti sudah bunuh diri karena kecewa pada suami yang sangat dia cintai. Sekarang gantian saya yang bertanya. Kenapa Anda mengkhianati cintanya?"


"Kau tidak perlu tahu alasanku melakukan semua ini. Tugasmu hanya menjaganya bukan mencintainya!" teriak Tuan Abraham tanpa mau menjawab pertanyaan Otis.


"Itu sudah cukup menjawab pertanyaan saya, Tuan. Intinya anda tidak benar-benar mencintai Nyonya Yolanda." Otis kali ini berani memandang wajah Tuan Abraham secara langsung.


Pria yang berdiri di samping Otis segera mengeluarkan senjata apinya lalu mengarahkannya kepala Otis. Dia juga geram melihat kelakuan Otis yang terus saja menantang Tuan Abraham.


"Tembak dia sekarang juga!" perintah Tuan Abraham sebelum memutar tubuhnya membelakangi Otis.


Otis memejamkan kedua matanya secara perlahan. Suara letusan senjata api kembali memecah keheningan di lokasi tersebut. Otis terhempas ke lantai ketika peluru mendarat di perutnya. Pria itu sempat meletakkan tangan di atas dada yang terasa begitu nyeri padahal yang sebenarnya tertembak ada di perut. Darah segar membanjiri baju yang kini ia kenakan. Otis mulai merasa sesak napas. Otis memandang langit-langit ruangan tempatnya berada sebelum memejamkan mata.


"Apa ini akhir dari kisahku?" gumam Otis di dalam hati sebelum ia tidak sadarkan diri lagi.

__ADS_1


__ADS_2