
"Tidak, Nyonya. Saya tidak bisa menerima lamaran anda."
Nyonya Yolanda menatap Otis dengan wajah tidak percaya. Bagaimana mungkin pria itu menolaknya. Apa yang kurang dari dirinya? Semua orang memandangnya sebagai wanita yang paling cantik dan juga kaya raya. Tidak sedikit orang yang memujinya baik hati dan sabar. Sebagai seorang wanita, Nyonya Yolanda merasa yakin kalau dia sudah mendekati predikat sempurna.
"Apa alasanmu menolakku, Otis?" Wajah Nyonya Yolanda berubah sedih ketika ia kembali sadar kalau ia tidak pernah bisa melahirkan seorang anak. "Apa karena aku tidak bisa memberikanmu keturunan? Tadinya aku pikir kau memiliki prinsip yang berbeda dari Abraham."
"Saya tidak mau menikah dengan wanita yang masih berstatus sebagai istri orang lain. Apa maksud anda, anda ingin memiliki dua suami, Nyonya?"
Nyonya Yolanda langsung tersenyum mendengar jawaban Otis. "Itu bukan sebuah alasan. Setelah Abraham dihukum atas perbuatan yang dia lakukan maka aku akan segera memaksanya untuk menandatangani surat cerai. Setelah itu kita akan menikah." Nyonya Yolanda merapikan kembali penampilan Otis yang terlihat sedikit berantakan. "Setelah itu kita akan hidup di rumah ini sebagai sepasang suami istri. Kita akan hidup bahagia bersama. Kau tidak lagi dipandang sebagai seorang supir. Semua orang akan memanggilmu dengan sebutan Tuan."
"Ucapan Anda terlalu tinggi Nyonya, Sampai-sampai saya tidak berani untuk membayangkannya. Saya rasa mungkin tidak perlu ditanyakan lagi. Saya sangat menyayangi anda sejak pertama kali bertemu dengan anda. Saya bertekad untuk melindungi anda dengan satu-satunya nyawa yang saya miliki meskipun saat itu posisi saya hanya sebagai seorang supir. Tapi bagaimana dengan anda. Sejak kapan anda memutuskan untuk tertarik kepada saya. Bagaimana mungkin seorang wanita bangsawan bisa jatuh hati kepada pria biasa seperti saya, Nyonya?"
"Kau harus memanggilku dengan sebutan Yolanda mulai dari sekarang. Aku tidak peduli kalau usiaku lebih tua darimu. Bagaimanapun juga, aku tetap terlihat jauh lebih muda bukan? Pertanyaanmu tadi sepertinya aku tidak bisa menjawabnya. Aku tidak tahu waktu pastinya. Yang aku ingat aku mulai merindukanmu dan mengkhawatirkan keselamatanmu. Cintaku terhadap Abraham perlahan luntur sejak aku tahu dia selingkuh dengan wanita lain. Untuk memandangnya saja aku jijik sejak wanita selingkuhannya mengandung anak hubungan haram mereka. Ini keputusan yang tepat bagiku. Mungkin semua orang di luar sana akan berpikiran buruk tentangku nantinya. Tetapi aku bisa menggunakan video skandal Abraham dan wanita itu untuk membela diri. Semua akan baik-baik saja. Dan kau tidak akan pernah dilibatkan oleh orang lain ke dalam masalah yang terjadi antara aku dan Abraham."
Kali ini Otis terlihat bisa kembali tersenyum manis seperti biasanya. Tiba-tiba saja pria itu membuka kedua tangannya hingga membuat Nyonya Yolanda tersipu malu. Mereka terlihat seperti remaja yang baru saja pacaran. "Apa kau mau memelukku Yolanda?"
Tanpa menjawab pertanyaan Otis, Nyonya Yolanda segera berhambur ke dalam pelukan Otis. Wanita itu masuk ke dalam lengkungannya. Kedua mata mereka sama-sama terpejam untuk menikmati lengan yang kini saling melingkar. Otis meletakkan tangannya di pinggang Nyonya Yolanda begitupun sebaliknya. Mereka sama-sama saling merindu.
"Terima kasih karena kau sudah mau menikah denganku. Terima kasih karena kau mau menerimaku apa adanya," ucap Nyonya Yolanda sebelum memeluk Otis lebih erat lagi.
...***...
Di dalam kamar berukuran lima meter, Tika duduk sambil memeluk tubuhnya sendiri. Bayang-bayang ketika Otis dan Nyonya Yolanda berpelukan mesra masih mengiang di dalam ingatannya. Tetes air mata masih mengalir dengan begitu Deras. Sudah berulang kali ia berusaha untuk tidak menangis lagi. Tetapi hasilnya nihil. Wanita itu sakit hati. Tetapi ia juga tidak bisa memaksa Otis untuk mencintainya.
Ditambah lagi selama ini dia sudah banyak menyimpan rahasia dari Otis. Melihat Otis tetap hidup saja sudah membuatnya jauh lebih tenang. Dia sendiri juga tidak menyangka setelah Otis kembali ke kota, pria itu justru mencarinya dan menemuinya. Meminta perlindungannya.
Otis adalah pria yang membuat kaget Tika saat itu. Pria itu muncul dengan kondisi wajah dipenuhi luka. Tika membawanya kembali ke rumah lalu mengobati semua luka Otis dengan begitu sabar. Tika juga yang menyiapkan makan dan minum Otis. Sampai akhirnya Otis terbang dan mereka mendapat kabar kalau Nyonya Yolanda dalam keadaan terguncang karena kepergian Tesya.
Otis memaksakan diri untuk menemui Nyonya Yolanda dan memastikan sendiri keadaan wanita itu baik-baik saja. Tadinya yang ada di pikiran Tika, mungkin saja itu hanya kekhawatiran antara supir terjadi majikannya. Tidak di sangka ada perasaan spesial di dalam hati Otis terhadap Nyonya Yolanda.
"Untuk apa kemarin dia menemuiku, jika wanita yang sangat ia rindukan adalah Nyonya Yolanda. Aku benar-benar bodoh karena sudah sempat berpikir kalau Otis memiliki perasaan yang sama denganku. Aku terlalu Naif untuk hal yang seperti itu. Sekarang Tante Renata sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sepertinya ini adalah akhir dari segalanya. Aku sendiri juga tidak tahu sebenarnya masalah apa yang terjadi di antara Tante Renata dan juga Nyonya Yolanda. Sampai sini aku bisa bernapas dengan lega karena aku tahu kalau orang yang mengincar nyawa Nyonya Yolanda sudah tidak ada lagi di dunia ini. Aku putuskan untuk pergi dari rumah ini saja. Untuk apa aku bertahan jika pada akhirnya aku hanya akan melihat pria yang aku cintai bersenang-senang dengan wanita lain."
Tika beranjak dari sana lalu berjalan menuju ke lemarinya. Wanita itu mengambil koper dan mengisi barang-barangnya di dalam sana. Kali ini dia mulai terlihat jauh lebih tegar. Tidak ada lagi air mata yang menetes begitu deras. Setelah memastikan semua barang pribadinya masuk ke dalam koper, wanita itu segera mengganti pakaiannya di kamar mandi. Tika juga sebenarnya tidak tahu harus pergi ke mana setelah ini. Karena Tika tidak memiliki tempat tinggal lain selain di rumah ini. Yang ia miliki saat ini hanya uang. Tika yakin dia bisa membeli sebuah rumah sederhana yang jauh dari Otis.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama bagi Tika untuk bersiap-siap. Wanita itu kini sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian yang begitu rapi. Dia menarik koper warna merah miliknya menuju ke rumah utama. Beberapa pelayan yang berpapasan dengan Tika berhenti dan menghadang wanita itu. Mereka juga sangat menyayangi Tika dan tidak ingin Tika pergi dari rumah itu.
"Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau membawa koper seperti ini Tika. Kami tahu kalau Tante Renata sudah tidak ada di dunia ini lagi. Tapi kau masih memiliki kami. Kami akan selalu menyayangimu dan menjagamu dengan sepenuh hati," ucap salah satu pelayan wanita yang saat itu ada di depan Tika.
"Ini bukan masalah tante Renata. Tetapi karena aku merasa sudah tidak pantas lagi tinggal di rumah ini. Aku bosan bekerja. Aku ingin istirahat."
"Tika, pikirkanlah sekali lagi. Jika nanti kau ingin kembali bekerja belum tentu Nyonya Yolanda mau menerimamu lagi. Di rumah ini adalah tempat bekerja yang paling sempurna. Jangan sia-siakan kesempatan yang kau miliki."
"Keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap pergi dari rumah ini. Terima kasih karena kalian semua sudah sangat perhatian padaku."
Mendengar jawaban Tika membuat pelayan wanita itu tidak bisa berbicara lagi. Mereka memeluk Tika bergantian dengan mata berderai air mata. "Kami akan sangat merindukanmu dan akan selalu merindukanmu. Kita sudah lama bekerja di rumah ini dan seperti sudah seperti keluarga."
Tika hanya tersenyum saja ketika memeluk rekan-rekannya tersebut. Wanita itu menghapus air matanya lagi. "Aku ingin menemui Nyonya Yolanda dan berpamitan. Aku masuk ke rumah ini secara baik-baik dan harus pergi dengan cara baik-baik juga."
"Ya, kau bisa menemui Nyonya Yolanda sekarang juga. Tadi aku lihat dia berjalan ke arah ruang baca bersama dengan Otis. Sepertinya mereka ingin membicarakan sesuatu yang penting," ucap salah satu pelayan yang ada di sana.
"Baiklah. Aku akan segera menemui mereka. Tika kembali menarik kopernya menuju ke ruang baca yang tadi dikatakan oleh rekannya. Wanita itu lagi-lagi harus menghapus air mata yang tersisa di pipi. Dia tidak mau ketika bertemu dengan Otis nanti masih dalam keadaan menangis. Lorong menuju ke ruang baca memang sangat sunyi. Hanya ada angin yang berhembus dari jendela jendela yang ada disepanjang jalan. Langkah Tika semakin melambat ketika dia hampir tiba di ruang baca. Kedua mata wanita itu melebar ketika dia melihat Otis dan Nyonya Yolanda tengah berciuman dengan begitu panas di sisi dinding dekat rak buku. Mereka berdua sama-sama bergairah dan saling merindukan. Dengan cepat Tika memalingkan wajahnya dari arah mereka. Lagi-lagi air mata tidak bisa ditahankan.
Otis dan Nyonya Yolanda melepas cumbuhan mereka. Otis yang paling panik ketika melihat Tika berada di ujung dekat pintu masuk. Pria itu seperti sangat malu. Dia segera merapikan penampilannya dan mendekati Tika. Sedangkan Nyonya Yolanda terlihat biasa saja. Wanita itu duduk di kursi kerja yang biasa diduduki oleh suaminya. Dia menarik laci lalu memeriksa dokumen penting yang tersimpan rapi di dalam sana.
"Tika, Apa yang kau lakukan di sini?" Otis melirik koper yang tergeletak di lantai. "Apa koper ini milikmu? Kau akan membawa koper ini ke mana?"
"Aku ingin bertemu dengan Nyonya Yolanda," ucap Tika tanpa mau menjawab pertanyaan Otis.
"Baiklah. Silakan masuk. Aku juga harus pergi karena masih ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan."
"Otis, tunggu sebentar," cegah Tika. Wanita itu memandang wajah Otis sejenak sebelum menunduk lagi. "Terima kasih karena kau pernah mau menjadi temanku. Kau teman yang sangat baik. Aku tidak akan mungkin melupakan kebaikanmu. Maafkan atas kesalahan yang pernah aku perbuat."
"Kenapa kau harus bicara seperti itu, Tika? Seperti ingin berpisah saja." Otis kembali memperhatikan koper yang tergeletak di atas di lantai. Pria itu mengangkat kopernya lalu melebarkan kedua matanya ketika tahu kalau koper itu ada isinya. "Apa yang ada di dalam sini?"
"Pakaianku dan semua barang-barang pribadiku," jawab Tika dengan santai.
Otis menggeleng tidak percaya. "Apa maksudmu, Tika?"
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Nyonya Yolanda. Ternyata wanita itu tidak bisa duduk dengan tenang ketika dia melihat Tika dan Otis sedang mengobrol.
"Nona, sebelumnya saya ingin minta maaf." Tika menundukkan kepalanya dan berdiri di depan Nyonya Yolanda. "Saya sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan saya."
"Apa?" celetuk Otis kaget. "Kau mau pergi dari rumah ini? Tapi kenapa?"
Nyonya Yolanda melirik ke arah Otis sejenak. Ada rasa cemburu ketika dia melihat ekspresi Otis yang seolah tidak rela jika Tika mengundurkan diri dari pekerjaannya. "Apa alasanmu pergi dari rumah ini?"
"Anda terlalu baik bagi saya, Nyonya. Saya tidak bisa mengatakan alasan saya pergi dari rumah ini karena memang tidak ada alasannya. Uang tabungan saya sudah cukup untuk membeli rumah sederhana. Mungkin saya akan membuka usaha di rumah itu nantinya. Memang lokasinya saya sendiri belum tahu di mana. Saya lelah bekerja Nyonya. Saya ingin menikmati hasil kerja saya selama ini."
"Baiklah. Aku tidak akan melarangmu untuk pergi. Tetapi satu hal yang harus kau ingat. Jika kau butuh bantuan dan kau ingin kembali datang saja temui aku. Pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar untukmu Tika."
Tika tersenyum mendengarnya. "Terima kasih Nyonya. Anda memang wanita yang sangat baik."
"Tunggu sebentar di sini." Nyonya Yolanda memutar tubuhnya lalu berjalan menuju ke arah meja kerja. Wanita itu mengambil sejumlah uang di dalam brankas lalu memasukkannya ke dalam amplop coklat. Dia membawa amplop coklat itu mendekati ketika.
"Ini ada sedikit hadiah untukmu karena kau selama ini sudah bekerja dengan rajin. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku kepadamu."
Tika menerima amplop coklat itu dengan bibir tersenyum. "Terima kasih, Nyonya."
"Otis akan mengantarkanmu."
"Tidak Nyonya. Tidak perlu," tolak Tika. Otis mengernyitkan dahinya mendengar penolakan Tika. Sikap wanita itu memang sangat berbeda dari sebelumnya. Otis merasa Tika seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kenapa jika aku yang antar?"
"Sekarang Nyonya Yolanda dalam bahaya. Aku tidak mau kau pergi meninggalkannya sendiri. Tolong jaga Nyonya Yolanda dengan baik." Tika selalu saja bisa menemukan alasan untuk menghindar dari masalah.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pesankan taksi saja," ucap Nyonya Yolanda memberi solusi.
"Terima kasih Nyonya. Kalau begitu saya pergi ke depan rumah dulu." Tika mengambil kopernya lalu menyeretnya pergi meninggalkan Otis dan Nyonya Yolanda. Sambil berjalan wanita itu memejamkan mata untuk menekan rasa sakit yang kini menyesakkan dada.
"Aku pasti kuat. Aku harus kuat," gumam Tika di dalam hati sebelum melangkah lebih cepat lagi.
__ADS_1