
Nyonya Yolanda menghempaskan semua barang yang ada di hadapannya. Tidak peduli itu barang mahal dan mewah. Dia sangat-sangat marah dan tidak terima dengan keputusan Otis. Walau sempat marah ketika dia melihat apa yang terjadi antara Otis dan Tika. Tetapi wanita itu tetap ingin memiliki Otis. Sebagai wanita kaya dan berkuasa, Nyonya Yolanda tidak pernah mau mendapat penolakan. Wanita itu selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Termasuk Otis.
Tuan Abraham masuk ke dalam kamar dan terlihat kaget ketika melihat barang-barang yang berserak di lantai. Pria itu mendekati Nyonya Yolanda karena mengkhawatirkan istrinya. Belum juga berhasil menyentuh tubuh Nyonya Yolanda. Wanita itu sudah berteriak dan meminta Tuan Abraham untuk menjauhinya.
"Pergi dari sini dan jangan pernah muncul di hadapanku. Sudah tidak sepantasnya kita satu kamar lagi karena sebentar lagi kita akan bercerai," teriak Nyonya Yolanda dengan emosi yang tidak terkendali.
"Yolanda, apa yang terjadi? Kenapa kau sampai seperti ini. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Bagaimanapun juga aku ini masih suamimu."
__ADS_1
Nyonya Yolanda berjalan mendekati Tuan Abraham. Dengan kasarnya ia mencengkram kerah kemeja Tuan Abraham lalu menarik pria itu dengan emosi. "Apa yang sudah kau katakan kepada Otis. Apa kau mengancamnya hingga dia tidak mau lagi dekat-denganku."
Tuan Abraham menyunggingkan senyum kemenangan. Padahal dia belum melakukan apapun tetapi kini dia sudah mendengar kabar baik dari istrinya. "Mungkin Otis sadar diri. Dia tahu kalau posisiku tidak akan pernah tergeserkan. Dia tidak akan mungkin sanggup untuk menggantikan posisiku Yolanda. Hanya aku yang pantas menjadi suamimu."
"Kau terlalu percaya diri Abraham. Meskipun tidak bersama dengan Otis, tapi aku juga tidak mau kembali padamu. Aku tidak mau menjadi istrimu lagi," ketus Nyonya Yolanda dengan wajah yang dipenuhi kebencian.
"Aku tidak akan menceraikanmu. Kau akan selalu menjadi istriku. Aku pastikan sidang besok gagal," ujar Tuan Abraham dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Nyonya Yolanda sudah mulai curiga. Ia tahu kalau suaminya juga pria yang sangat licik.
Tiba-tiba saja Tuan Abraham mencengkram kuat pergelangan tangan Nyonya Yolanda dan menyeret wanita itu. Dia membawa Nyonya Yolanda ke Walking closed yang ada di kamar tersebut. Dengan kasar ia mendorong nenek melanda hingga terduduk di sofa yang ada di dalam sana. "Kau akan tinggal di dalam ruangan ini sampai persidangan berakhir. Aku tidak peduli jika kau bilang kalau aku ini adalah pria yang kejam. Ini adalah caraku untuk mempertahankan pernikahan kita. Aku akan membawakan makan dan minum ke ruangan ini. Istirahatlah di dalam sana."
Tuan Abraham segera menutup pintu dan menguncinya dari luar. Nyonya Yolanda berlari ke arah pintu dan menggedor-gedor pintu itu sambil berteriak. Wanita itu bahkan memaki suaminya sendiri karena kesal. Nyonya Yolanda tidak membawa ponsel saat itu. Kini dia sendiri tidak tahu harus bagaimana.
"Sial! Kenapa aku tidak terpikirkan kalau Abraham akan melakukan hal murahan seperti ini. Dia benar-benar pria yang licik. Aku harus cari cara agar bisa keluar dari tempat ini. Aku tidak mau gagal hadir di persidangan besok. Aku dan Abraham harus segera bercerai. Aku tidak mau menundanya lagi," gumam Nyonya Yolanda di dalam hati.
__ADS_1