
Malam harinya merupakan malam yang sangat indah bagi Nyonya Yolanda. Biasanya dia selalu duduk dan dilayani dengan begitu terhormat setiap kali ingin makan malam. Tetapi kini bersama dengan Otis, wanita itu harus mengambil makanannya sendiri yang sudah tersedia di meja-meja. Ditemani oleh Otis, Nyonya Yolanda terlihat tidak berselera ketika ingin memulai makan malamnya.
"Nyonya, makanan di sini enak. Anda bisa mencicipinya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menilai makanan ini tidak enak," ujar Otis sambil memasukkan makan malamnya ke dalam mulut.
"Otis, setelah ini kita akan kemana? Apa kau sudah berhasil mendapatkan mobil?"
"Sudah, Nyonya. Malam ini kita akan jalan-jalan menikmati pemandangan yang sangat indah. Tetapi cuaca sangat dingin. Sebaiknya ketika keluar nanti anda memakai jaket yang tebal. Saya juga tidak mau sampai anda jatuh sakit."
Nyonya Yolanda mengangguk saja. Wanita itu memperhatikan lagi makanan yang dia ambil dari hidangan prasmanan. Sungguh tidak menarik. Nyonya Yolanda memutuskan untuk meletakkan kembali sendok dan garpu yang sempat ada di genggaman tangannya.
"Aku tidak lapar," dusta Nyonya Yolanda agar Otis tidak memaksanya untuk menghabiskan makanan tersebut.
__ADS_1
"Anda belum makan sejak tadi siang. Lalu sekarang Anda bilang Anda tidak lapar. Apa seperti ini cara Anda untuk mempertahankan berat badan anda, Nyonya?" Otis lanjut makan. Pria itu merasa sangat lapar sekali. Dia harus menghabiskan makan malamnya agar bisa memiliki banyak energi ketika menemani Nyonya Yolanda menenangkan diri.
"Aku aedanh tidak memikirkan berat badan. Tapi makanan di sini tidak enak. Penampilannya sudah tidak menyakinkan. Masih enak makanan yang kau masakkan waktu itu," sahut Nyonya Yolanda membela diri.
"Anda mau dimasakkan lagi, Nyonya?" Otis menyipitkan kedua matanya.
"Tidak! Aku tahu kalau kita tidak akan memiliki banyak waktu untuk itu. Kita harus pergi. Aku bisa minum vitamin. Itu akan membuatku merasa kenyang namun tetap sehat. Kau sebaiknya tidak perlu khawatir." Nyonya Yolanda memandang ke arah lain. Wanita itu tidak mau terus-menerus bertatap muka langsung dengan Otis seperti sekarang.
"Baiklah, saya juga merasa lebih tenang sekarang, Nyonya. Setidaknya anda memiliki rencana cadangan untuk mempertahankan kesehatan anda!"
"Ada kau coba, Nyonya?" tawar Otis yang seolah tahu dengan apa yang ada di dalam pikiran Nyonya Yolanda.
__ADS_1
"Apa itu enak?" tanya Nyonya Yolanda ragu. Dia sudah memutuskan untuk tidak makan malam. Tetapi melihat Otis makan dengan lahap membuatnya lagi-lagi merasa lapar.
"Saya sudah bilang kalau semua makanan di sini enak, Nyonya. Termasuk mie yang anda ambil. Tapi, jika anda tidak selera untuk memakannya, saya tidak bisa memaksa. Saya juga kalau tidak selera makan tidak suka di paksa-paksa."
Nyonya Yolanda membuka mulutnya. "Aku ingin mencicipinya."
Otis mengeryitkan dahi. "Anda mau saya suapin, Nyonya?"
Nyonya Yolanda menatap kedua mata Otis sebelum mengangguk. "Apa kau keberatan?"
Otis memandang ke sendok yang ada di genggaman tangannya sebelum menggeleng. Dengan hati-hati pria itu menyodorkan sendok tersebut ke mulut Nyonya Yolanda. Nyonya Yolanda melirik sedikit makanan di sendok sebelum membuka mulutnya dengan lebar. Wanita itu mengangguk keenakan ketika makanan tersebut lumer di mulutnya.
__ADS_1
"Otis, ini enak." Nyonya Yolanda merebut sendok yang ada di genggaman Otis sebelum merebut piringnya. Padahal jika memang ingin makan makanan yang sama dengan Otis, Nyonya Yolanda hanya perlu meminta Otis untuk mengambilkannya. Tidak perlu merebut makanannya seperti ini.
"Nyonya Yolanda, apa benar ini anda?" tanya Otis di dalam hati.