
Keluarga besar Abraham sudah berkumpul di rumah sakit. Mereka semua dalam keadaan bersedih. Suara isak tangis terdengar begitu jelas meskipun Tuan Abraham dan Nyonya Yolanda baru beberapa meter dari posisi mereka berada. Mereka memberi jalan kepada Tuan Abraham dan Nyonya Yolanda yang ingin masuk ke dalam ruangan tempat Nyonya besar terbaring.
Sambil merangkul lengan Tuan Abraham, Nyonya Yolanda menghapus air mata yang sejak tadi menetes deras. Bisa dibilang hubungannya dengan sang mertua selama ini tidak terlalu akrab. Tetapi Hanya dia satu-satunya wanita yang bisa dipanggil oleh Yolanda dengan sebutan mama. Yolanda Sendiri yatim piatu sejak dia berusia 17 tahun. Hal Ini yang membuatnya kesepian dan butuh kasih sayang. Hadirnya Tuan Abraham di dalam kehidupannya seperti anugerah yang tiada tara. Tuan Abraham menyayanginya dan memberinya sejuta cinta yang selama ini selalu ia impikan. Yolanda sangat bahagia waktu itu. Tanpa memandang status sosial, dia menerima Tuan Abraham sebagai suaminya. Sebuah bonus bagi Nyonya Yolanda ketika dia tahu kalau keluarga Tuan Abraham berasal dari orang terpandang.
"Abraham, yang sabar ya," ucap seorang wanita yang biasa di panggil Tante oleh Abraham.
"Kenapa dengan mama? Kenapa semua menangis?" Tuan Abraham masih belum siap jika harus kehilangan wanita yang telah melahirkannya. Bersama dengan Yolanda dia menerobos masuk ke dalam ruangan.
Di dalam sana telah berbaring wanita berusia 63 tahun yang pernah melahirkan seorang Tuan Abraham. Di samping tubuh wanita itu terdapat seorang wanita yang kini menangis sendu. Dia adalah Sandra. Wanita yang tidak lain adalah selingkuh Tuan Abraham. Wanita itu bertugas sebagai suster pribadi ibu kandung Tuan Abraham.
Nyonya Yolanda diam sejenak melihat wajah Sandra. Dia memang selama ini tidak pernah bertatap muka langsung dengan Sandra. Ini pertama kalinya mereka bertemu. Rasanya ingin sekali dia segera membongkar aib suaminya dengan wanita bernama Sandra itu sekarang juga.
Namun dia masih menahannya karena masih dalam suasana berduka. Air mata yang menetes kini tidak hanya karena kesedihan. Tetapi berasal dari rasa sakit hati. Tuan Abraham segera menghampiri ibunya dan memeluknya sambil menangis. Sedangkan Nyonya Yolanda masih berdiri di sana menatap tajam Sandra yang kini tidak berani memandang wajahnya sedikitpun.
"Tinggalkan kami!" perintah Tuan Abraham.
Sandra yang merasa tersindir segera beranjak dari sana. Wanita itu menatap Nyonya Yolanda sejenak sebelum melangkah ke luar ruangan.
Nyonya Yolanda masih berusaha tetap tenang. Wanita itu mendekati suaminya dan berusaha untuk menenangkannya.
"Wanita itu? Aku tidak mungkin salah. Dia yang ada di foto itu. Aku tidak menyangka kalau Abraham selingkuh dengan wanita rendahan seperti dia. Benar-benar memalukan," umpat Nyonya Yolanda di dalam hati.
Tuan Abraham berdiri dan menghapus air matanya sendiri. Dia memandang Nyonya Yolanda yang kini berdiri di sana tanpa ekspresi apapun. "Wanita yang sangat aku sayangi kini sudah pergi untuk selama-lamanya. Apa kau juga mau meninggalkanku, Yolanda? Apa jadinya hidupku jika kau juga pergi dariku?"
Nyonya Yolanda menghapus air mata yang lagi-lagi menetes. Dia menarik Tuan Abraham dan memeluknya. Mengusap punggung pria itu dengan penuh kasih sayang. "Maafkan aku. Aku tidak akan meninggalkanmu," ucapnya pelan hingga membuat Tuan Abraham kembali tenang. Pria itu menangis di dalam pelukan istrinya. Ruangan yang sunyi itu kini dipenuhi dengan suara Isak tangis yang begitu menyayat hati. Kabar ini terlalu mendadak. Tuan Abraham merasa sedih karena terakhir kali dia bertemu dengan ibu kandungnya satu minggu yang lalu. Jarak rumah yang sangat jauh membuat Tuan Abraham tidak bisa sering-sering menjenguk orang tuanya.
Di depan kamar, Sandra menjauh dari keluarga besar konglomerat itu. Dia tahu kalau posisinya masih belum pantas untuk berbaru dengan mereka semua. Sandra menghapus air matanya sambil melangkah ke kursi yang letaknya lumayan jauh dari yang lain. Dia kembali membayangkan ekspresi Nyonya Yolanda ketika menatapnya di ruangan tadi.
"Apa dia sudah melihat fotonya? Itu berarti sekarang dia sudah tahu kalau aku memiliki hubungan yang manis dengan suaminya," gumam Sandra di dalam hati.
Di sisi lain, Otis duduk di sebuah kursi sambil memandang ke kolam ikan. Pria itu masih tidak percaya melihat uang yang ia terima dari Nyonya Yolanda. Hadiah yang tadi diberikan oleh Tesya ternyata isinya uang bernilai 20 juta rupiah. Itu nominal yang sangat banyak bagi seorang supir seperti Otis. Sampai detik ini Otis tidak berani menggunakan uangnya. Dia ingin bertemu dengan Nyonya Yolanda dan bertanya langsung. Sebenarnya uang itu untuk apa?
"Hei! Melamun saja."
__ADS_1
Tika muncul di samping Otis dan segera duduk di samping pria itu. Dia terlihat bahagia bisa bertemu dengan Otis lagi seperti sekarang.
"Apa kabar? Tadi saat aku tiba, aku tidak ada melihatmu," tanya Otis.
"Kecarian ya?" ledek Tika sambil tersenyum.
"Jelas saja. Kita teman," perjelas Otis lagi.
"Aku ada di kamar. Seharian ini kepalaku pusing sekali jadi aku minta ijin tidak bekerja sama Pak Rahmad," jawab Tika.
Otis menghela napas sebelum menjatuhkan tubuhnya di sandaran sofa. "Apa Nyonya Yolanda sudah sampai? Mereka tidak keluar untuk makan siang."
"Kau belum tahu kabar terbarunya ya?"
"Kabar terbaru apa?" Otis membenarkan posisi duduknya. Dia ingin tahu sebenarnya ada informasi penting apa yang belum dia ketahui.
"Nyonya besar meninggal. Baru saja kabarnya sampai ke rumah ini. Dengar-dengar katanya karena jantungnya kumat. Semua orang pasti kumpul di rumah sana. Termasuk Tuan Abraham dan juga Nyonya Yolanda. Pak Rahmad saja sudah berangkat ke sana."
"Ya. Kau memiliki banyak waktu untuk istirahat. Bukankah itu menyenangkan?" Tika tertawa lagi. Wanita itu memandang ke depan memperhatikan ikan yang ada di kolam. Berbeda dengan Otis yang kini lagi-lagi memikirkan nasip Nyonya Yolanda.
"Belum juga masalah yang satu selesai sudah datang masalah baru. Semoga saja kepergian Nyonya besar bisa memberi solusi atas masalah yang dihadapi oleh Nyonya Yolanda dan juga Tuan Abraham," gumamnya di dalam hati.
***
Keesokan harinya adalah acara pemakaman Nyonya besar. Mereka tiba di pemakaman setelah sore hari. Untuk satu malam Jasad Nyonya Besar di bawa ke rumah agar semua keluarga yang belum sempat bertemu bisa melihat untuk yang terakhir kalinya. Semua orang sudah ada di sana untuk mengantarkan sang Nyonya besar ke peristirahatan terakhirnya. Suasana duka itu ditemani dengan rintik gerimis yang membasahi tubuh. Beberapa penziarah menggunakan payung untuk melindungi diri mereka dari gerimis. Sebagian lagi justru rela berbasah-basahan.
Tuan Abraham berjongkok di samping makam sang ibunda sambil mengusap baru nisan. Air mata Majah menetes dengan deras. Dia sangat menyayangi ibunya. Bahkan wanita itu juga yang membuatnya sampai kenal dengan Sandra. Berulang kali ibunya meminta Abraham untuk menikahi Sandra karena wanita itu sudah di jamin akan memberikannya keturunan. Kini Abraham menyesal karena sudah tergiur dengan tawaran ibu kandungnya sendiri. Dia merasa bersalah karena sudah melukai perasaan istrinya. Jika ibu kandungnya sudah tidak ada lagi, rasanya dia tidak perlu anak. Sampai matipun dia rela tidak memiliki keturunan asalkan dia tetap bersama istrinya. Yolanda.
"Kita harus pulang. Hari sudah gelap," ucap Nyonya Yolanda.
"Aku masih ingin di sini. Pulanglah duluan. Aku akan pulang nanti," ucap Tuan Abraham. Dia masih ingin berlama-lama di sana. Meluapkan kesedihan yang begitu menyesakkan dada.
"Baiklah," ucap Nyonya Yolanda. Wanita itu berdiri dan berjalan pergi. Diikuti supir yang akan mengantarnya. Orang-orang yang ada di sana juga mulai bergerak pergi. Mereka juga tidak mau sampai malam ada di pemakaman.
__ADS_1
Setelah hampir setengah jam sendirian di sana dengan tubu basah kuyup, tiba-tiba ada sebuah tangan memegang punggung Tuan Abraham. Dia berpikir kalau itu adalah tangan lembut milik istrinya.
"Pergilah. Aku akan pulang sebentar lagi. Aku masih ingin sendiri," usia Tuan Abraham.
"Ini aku."
Tuan Abraham melebarkan kedua matanya dan memandang ke samping. Dia syok bukan main melihat selingkuhannya ada di sana. Pria itu memandang ke sana kemari untuk memastikan tidak ada orang lain selain mereka berdua.
"Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kalau ada yang melihat kita?"
"Aku tidak tega melihatmu seperti ini. Jangan sedih lagi. Ada aku yang akan selalu memperhatikanmu." Sandra ingin memeluk Tuan Abraham. Tetapi pria itu segera menghempaskan tangan Sandra.
"Kenapa?" protes Sandra.
"Sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita. Aku tidak mau sampai istriku mengetahui hubungan ini," ucap Tuan Abraham.
Sandra menggeleng. "Tidak bisa! Bagaimana dengan anak ini?"
"Mamaku yang menginginkannya. Bukan aku!" teriak Tuan Abraham frustasi. "Sekarang dia sudah tiada. Untuk apa lagi aku mempertahankan mu?"
PLAAKKK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Tuan Abraham. Jelas saja hal itu membuat Tuan Abraham marah karena Sandra telah lancang menampar wajahnya.
"Berani sekali kau!" umpat Tuan Abraham.
"Anak ini anakmu! Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan memberi tahu semua orang kalau aku telah mengandung anakmu. Aku memiliki banyak bukti untuk membenarkan berita ini!"
Tuan Abraham mengukir senyuman licik. "Lakukan saja jika kau berani!" ancamnya sebelum pergi.
Tuan Abraham seperti telah melupakan janji-janji manisnya terhadap Sandra selama ini. Pria itu tidak mau melanjutkan kesalahan yang pernah dia lakukan. Dia sudah tobat. Dia tidak mau kehilangan istrinya. Apapun keadaan Yolanda, akan ia terima dengan penuh cinta.
"Abraham! Aku tidak akan kalah. Aku akan membuat hidupmu hancur. Aku akan memberi tahu semua ini kepada istrimu!" umpat Sandra di dalam hati. Dia menghapus air matanya sebelum berdiri dari sana. Wanita itu memandang lagi baru nisan di depannya. "Nyonya besar yang terhormat, tadinya aku pikir setelah kau mati aku akan mendapatkan posisi yang aku inginkan. Ternyata hidupku semakin hancur. Jika tahu seperti ini, aku tidak akan memberi tahu kehamilan ini kepadamu. Anda tidak perlu kena sakit jantung karena kaget!"
__ADS_1