
Pagi sekali Otis sudah bangun. Bukan karena pria itu ingin olahraga. Melainkan semalaman suntuk ia tidak bisa tertidur. Bayang-bayang dua pria yang sempat menariknya terus terlintas di dalam benaknya. Dia merasa kalau dua orang itu sama dengan dua orang yang pernah menyeretnya dan meninggalkannya di jurang. Detik itu Otis sadar kalau orang yang sudah membuatnya masuk ke dalam jurang adalah Tuan Abraham. Selama ini dia hanya menebak-nebak tidak pasti tanpa bukti. Tetapi kejadian tadi malam memperjelas semuanya.
Otis mengusap wajahnya dengan kasar. Tubuhnya bosan berbaring. Pria itu duduk di pinggiran tempat tidur. Ia tidak menyangka kalau pada akhirnya ia ada pada titik ketakutan seperti sekarang. Otis memandang dirinya sendiri melalui cermin yang ada di hadapannya.
Sejenak ia bertanya pada dirinya sendiri di mana letak kesalahanku. Apa tidak boleh pria biasa seperti dirinya mencintai seorang wanita bangsawan. Namun hati nurannya berkata kalau memang hubungan ini salah. Jika ia ada di posisi Tuan Abraham dia juga pasti akan marah. Meskipun pernah menyakiti setiap pria tidak akan rela wanita yang ia cintai sampai mencintai pria lain. Bukankah pria memang selalu egois?
Otis tidak mau menyiksa dirinya lagi. Ia memutuskan untuk tidak memikirkan ancaman yang akan dikirimkan oleh Tuan Abraham. Mulai detik ini dia akan kembali fokus kepada Nyonya Yolanda. Dia akan memperjuangkan wanita itu sampai mereka berhasil menikah. Luka-luka kecil yang mungkin akan ia terima tidak akan ada apa-apanya jika ia sampai berhasil menikah dengan Nyonya Yolanda.
"Katanya jodoh sudah ditentukan sejak kita lahir. Jika memang wanita itu jodohku, aku akan pasrah menerima rintangan yang akan aku hadapi," gumam Otis di dalam hati.
Otis memutuskan untuk keluar dari kamar tidurnya dan pergi ke dapur. Pagi-pagi seperti ini rasanya minum kopi adalah pilihan yang tepat. Pria itu akan menatap matahari yang akan segera muncul ke permukaan.
Baru saja menutup pintu Otis sudah bertemu dengan Tika yang sudah bersiap-siap untuk bekerja. Sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi Tika memang wanita yang cantik. Namun jika dibandingkan dengan Nyonya Yolanda tetap saja lebih menarik Nyonya Yolanda. Wanita itu berjalan menghampiri Otis dengan senyum manis di bibirnya. Tiba-tiba saja tangannya mengulur ke depan seperti sedang meminta sesuatu.
"Mana uangnya. Bukankah aku sudah bilang aku minta uang untuk beli baju. Ketika gajian akan aku bayar," ucap Tika dengan senyum centil. Ya, memang itu sangat cocok dengan karakternya yang selalu ceria. Biasanya seorang wanita akan trauma setelah mengalami kejadian buruk seperti semalam. Tetapi Tika tidak. Dalam sekejap wanita itu bisa kembali bangkit dan melupakan semua masalah yang telah terjadi.
Otis mengeluarkan dompet dari dalam saku lalu mengambil uang beberapa lembar ratusan ribu dan memberikannya kepada Tika. Pria itu menatap wajah Tika lagi. "Ambil saja tidak perlu dibayar."
"Oh, tidak bisa! Aku tidak suka berhutang budi kepada orang lain termasuk seorang pria. Uang merupakan masalah yang sangat sensitif. Aku tidak mau karena uang ini pertemanan kita bisa hancur."
Otis tertawa dibuat oleh Tika. "Jika kau ingin membayarnya maka bayar 10 kali lipat," ucap Otis sebelum melangkah pergi. Jelas saja hal itu membuat kedua mata Tika membulat sempurna.
"Otis sejak kapan kau berubah menjadi rentenir!" teriak Tika dengan sekencangnya.
"Jika Kau keberatan tidak perlu kau bayar," sahut Otis sambil melambaikan tangan. Pria itu menghilang di balik dinding. Sedangkan Tika hanya tersenyum tersipu malu memandang uang yang kini ada di genggamannya.
"Benar-benar pria baik. Jika dia sebaik ini aku semakin sulit untuk melupakannya." Wanita itu segera memasukkan uangnya ke dalam saku lalu kembali bekerja.
Otis berhasil tiba di dapur dan segera merebus air untuk membuat kopi. Ternyata dia tidak sendirian di sana. Sudah ada beberapa koki yang siap-siap untuk membuat sarapan.
"Otis, Di sana ada air panas ambillah. Kau tidak perlu repot-repot merebus lagi," ucap salah satu koki yang ada di dapur.
__ADS_1
Otis memandang ke arah teko yang ditunjuk. Pria itu tersenyum. "Terima kasih," ucapnya sebelum melangkah menuju ke teko tersebut. Otis meracik kopi buatannya. Sebenarnya itu hanya pekerjaan yang sederhana. Semua orang bisa melakukannya. Tetapi bagi Otis berbeda. Meskipun hanya membuat kopi. Dia sudah merasa bangga pada dirinya sendiri. Dan yang pasti kopi buatannya sangat enak.
"Di sana ada kue yang bisa kau makan untuk sarapan pagi sebagai teman kopi," ucap koki yang tadi menawarkan air panas.
Otis memandang ke arah yang ditunjuk oleh koki tersebut. Ternyata benar di sana ada banyak sekali kue yang sudah disiapkan untuk makanan para pekerja yang ada di rumah ini. Otis mengambil satu iris kue lalu membawanya ke depan bersama kopi yang sudah jadi. Pria itu berencana untuk minum kopi bersama dengan supir-supir yang lainnya. Bagaimanapun juga status Otis di rumah itu masih sebagai seorang sopir.
Langkah Otis semakin melambat ketika baru beberapa meter saja menjauh dari dapur. Pria itu mengerjap berulang kali. Pusing. Itulah yang dirasakan untuk saat ini. Otis tetap berusaha untuk membuka matanya lebar-lebar agar kembali fokus dengan pandangan yang ada di depan. Tetapi kepalanya terasa berat. Langkahnya terhuyung hingga membuat kopi yang ada di genggamannya tumpah. Pria itu sempat mengumpat di dalam hati. Dia tidak boleh sampai sakit. Dia harus kuat demi Nyonya Yolanda.
PRANGGG
Kopi itu tidak berhasil lagi ia genggam hingga akhirnya jatuh ke lantai dan membuat suara yang begitu berisik. Beberapa pekerja yang ada di sana memandang ke arah Otis dengan wajah khawatir. Otis masih sempat-sempatnya mengukir senyuman berharap semua orang yang melihat tidak panik. Sebelum akhirnya ia jatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri lagi. Bahkan piring kecil yang menjadi tempat kue juga sudah tergeletak di lantai.
"OTIS!" teriak Tika dengan wajah panik. Wanita itu langsung berlari menghampiri Otis.
Sayangnya wanita itu tidak berhasil menghampiri Otis. Suara teriakan Nyonya Yolanda mengalahkan langkah kakinya. Sebelum Tika tiba di samping tubuh Otis, Nyonya Yolanda sudah berlutut di sana. Menepuk pipi Otis dengan wajah khawatir. Bahkan terlihat jelas genangan air mata di pipinya. Wanita itu seperti tidak peduli jika apa yang ia lakukan dipandang oleh semua pekerja yang ada di rumahnya.
"Bahkan Nyonya Yolanda sudah tidak peduli lagi dengan status sosial yang ia miliki. Apa dia benar-benar sangat mencintai Otis. Apa benar cinta dia bukan sekedar pelarian saja?" gumam Tika di dalam hati dengan tangan terkepal kuat.
...***...
"Nyonya Yolanda berangkat ke kantor polisi. Tadi sepupu Tuan Abraham menjemputnya. Mereka bilang kalau di dalam penjara ada yang berusaha untuk membunuh Tuan Abraham," ucap Tika. Wanita itu selalu tahu dengan apa yang dipikirkan oleh Otis.
"Bagaimana bisa ada orang yang berusaha untuk membunuhnya. Sedangkan dia saja berniat untuk membunuhku," ucap Otis.
"Mungkin dia sengaja membuat drama seperti itu agar Nyonya Yolanda mau datang ke penjara," jawab Tika. Wanita itu beranjak dari kursi yang ia duduki.
"Kau mau ke mana?"
"Kerja. Kenapa?"
Otis menggeleng. "Apa tadi aku benar-benar pingsan?"
__ADS_1
Tika memajukan kepalanya hingga dalam posisi membungkuk. Wanita itu menatap kedua mata Otis dalam-dalam. Jelas saja hal itu membuat Otis sedikit memundurkan tubuhnya jika tidak mereka bisa sampai berciuman.
"Ya, kau pingsan. Dan kau beruntung tidak pingsan di jalan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya keadaan Nyonya Yolanda jika kau sampai pingsan di jalan dalam keadaan sedang menyetir mobil. Itu sangat buruk. Dan mungkin akan menjadi berita duka. Aku tidak peduli statusmu yang sekarang menjadi kekasih gelap Nyonya Yolanda. Yang aku tahu kau tetap supir Otis. Jaga kesehatanmu. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Kau ini seorang pria. Harus tetap kuat."
Sebenarnya Tika mengatakan itu bukan karena ia tidak suka menolong Otis yang sedang pingsan. Tetapi dia sedih jika Otis sampai jatuh pingsan. Tika tidak mau Otis jatuh sakit. Dia ingin pria itu tetap kuat seperti pertama kali mereka bertemu.
"Terima kasih karena kau sudah mau memperingatiku. Aku akan lebih hati-hati lagi dalam bekerja." Otis menunduk dan memalingkan pandangannya. Sedangkan Tika segera pergi dari sana. Wanita itu juga tidak tahu harus bicara apa lagi.
Setelah Tika keluar, Otis juga turun dari tempat tidur dan mencari ponselnya. Dia ingin menghubungi Nyonya Yolanda dan mendengar kabar wanita itu. Otis ingin tahu sebenarnya apa yang dilakukan oleh Nyonya Yolanda di sana.
Otis menemukan ponselnya di atas tempat tidur. Cepat-cepat dia mengambil ponselnya tersebut. Belum juga menekan nomor Nyonya Yolanda pria itu sudah membaca pesan yang dikirimkan oleh Nyonya Yolanda ke dalam ponselnya.
"Otis, Aku tidak akan pulang ke rumah. Keluarga Abraham mengetahui hubungan kita. Dan sekarang mereka melarangku untuk kembali pulang dan bertemu denganmu. Aku dipaksa untuk pulang ke rumah mertuaku dan berada di sana sampai sidang Abraham tiba. Aku harap kau tidak berpikir yang aneh-aneh. Semua ini demi kebaikan hubungan kita. Perbanyak istirahat di rumah. Aku tidak mau kejadian seperti tadi terulang lagi."
Otis menghela nafas kasar ketika selesai membaca pesan dari Nyonya Yolanda. Dia sangat kecewa. Otis tidak mau berpisah dari Nyonya Yolanda dengan cara seperti ini. Lagi-lagi dia menyalahkan dirinya sendiri. Andai saja tadi dia tidak pingsan mungkin ia memiliki kesempatan untuk meracuni pikiran Nyonya Yolanda agar menentang permintaan semua orang. Tapi semua sudah terjadi. Sekarang Otis tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Kenapa dia selalu saja menuruti permintaan mereka?" Otis melempar ponselnya Kembali ke tempat tidur tanpa mau membalas pesan dari Nyonya Yolanda. Pria itu kembali duduk di tempat tidur. Kepalanya sudah tidak terasa pusing lagi. Dan lagi-lagi Otis merasa bosan berada di kamarnya. Setelah memasukkan ponsel ke dalam saku Otis pergi meninggalkan kamar. Dia lebih baik duduk di depan sana sambil memandang ikan di dalam kolam daripada harus mengurung diri di dalam kamar yang sempit tersebut.
Otis terus berjalan menelusuri lorong yang akan menghubungkannya dengan kolam ikan yang ada di halaman samping. Pria itu menahan langkah kakinya ketika ia melihat Tika sedang membersihkan lemari medali yang tidak jauh letaknya dari kolam ikan. Wanita itu menggunakan tangga karena lemari yang ia bersihkan sangat tinggi. Otis melipat kedua tangannya. Ia memperhatikan Tika dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pria itu tersenyum kecil setelahnya.
Ketika ingin melangkah pergi tiba-tiba saja Otis mengernyitkan dahinya melihat tangga yang dinaiki Tika bergerak. Secepat kilat Otis berlari menghampiri Tika untuk memegang wanita itu agar tidak sampai terjatuh. Tika berteriak sekencang-kencangnya karena kaget. Satu medali yang sempat ada di genggam tangannya terlepas hingga jatuh ke lantai dan pecah. Namun wanita itu tidak sampai terbentur karena Otis segera menangkapnya. Otis memegang pinggang Tika erat-erat. Tika memejamkan mata karena ketakutan. Hidung mereka saling bersentuhan satu sama lain. Kedua tangan Tika ada di pundak Otis.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Otis.
Tika membuka kedua matanya secara perlahan. Bukan menjawab pertanyaan Otis justru wanita itu terpana melihat ketampanan Otis. Dilihat semakin dekat pria itu semakin sempurna. Tika merasa beruntung meskipun hanya hidungnya saja yang bersentuhan dengan hidung Otis. Dengan posisi seperti ini dia merasa seperti sedang digendong. Ada senyum mengembang di bibir Tika. Dan itu membuat Otis segera melepas rangkulannya.
Tika yang sadar kembali memasang sikap juteknya. Wanita itu menendang tangga yang hampir saja membuatnya jatuh. "Dasar tangga tidak berguna. Hampir saja Ia membuat wajahku terluka. Jika tadi aku sampai terjatuh siapa yang mau bertanggung jawab?"
"Lain kali sebelum bekerja periksa lebih dahulu alat yang ingin kau gunakan agar kau tidak sampai celaka. Jangan menyalakan alat itu sendiri setelah kejadian," sahut Otis.
Melihat medali yang tergeletak di lantai. Wanita itu langsung ketakutan. "Medali ini kenapa bisa sampai pecah." Walaupun sebenarnya Tika tidak tahu medali itu medali apa. Tetapi dia tahu kalau semua benda yang ada di lemari Ini adalah koleksi pribadi Tuan Abraham. Jika jumlahnya sampai kurang satu bisa gawat akibatnya.
__ADS_1
"Katakan saja yang sebenarnya terjadi kepada Nyonya Yolanda Setelah dia pulang. Jangan menangisi medali karena dia tidak akan kembali," ucap Otis sebelum pergi. Tika memandang punggung Otis sejenak sebelum memandang medali itu lagi.
"Bisa-bisa gajiku dipotong selama setahun," gumamnya di dalam hati.