
Otis melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang. Sejak duduk di dalam mobil, pria itu belum ada mengeluarkan satu katapun. Ia terus saja melajukan mobilnya menuju arah yang tak pasti. Pria itu tidak berani bertanya karena dia tidak mau mengganggu Nyonya Yolanda yang kini sedang menenangkan diri.
Sesekali Otis melirik Nyonya Yolanda yang duduk di belakang untuk memastikan wanita itu sudah tidak menangis lagi. Namun hasilnya sama saja. Sepanjang perjalanan wanita itu tetap mengeluarkan air mata. Yang pada akhirnya membuat Otis tidak habis pikir. Jika masih cinta, kenapa harus pergi?
"Berhenti!"
Perintah Nyonya Yolanda membuat Otis segera menginjak rem. Mobil itu berhenti secara mendadak tepat di pinggiran jalan yang sunyi.
Otis mengernyitkan dahi ketika melihat hamparan rumput yang gersang di sana. Tidak ada mall, cafe atau apapun yang bisa dikunjungi. Tapi kenapa Nyonya Yolanda memintanya untuk berhenti?
Belum sempat Otis bertanya, Nyonya Yolanda sudah turun dari mobil. Dengan sigap Otis juga turun untuk menemui wanita itu. Sejenak dia berpikir kalau majikannya ingin bunuh diri.
"Nyonya, anda mau ke mana? Kenapa anda meminta saya-" Otis tidak jadi melanjutkan kalimatnya ketika dia melihat Nyonya Yolanda berjongkok dan melanjutkan tangisnya yang belum berakhir. Otis mendesah melihat pemandangan itu. Dia hanya seorang supir. Apa yang bisa ia lakukan sekarang?
"Nyonya ...." Otis lagi-lagi tidak tahu harus bicara apa. Hingga Nyonya Yolanda akhirnya berdiri dan menatap Otis dengan mata yang memerah.
"Bawa aku pergi Otis. Kemanapun. Ke tempat yang tidak bisa diketahui Abraham. Tempat yang tenang. Aku butuh tempat untuk menenangkan pikiranku!" teriak Nyonya Yolanda.
Otis tahu dimana letak tempat yang sesuai dengan keinginan Nyonya Yolanda. Tapi dia ragu untuk membawa Nyonya Yolanda ke sana. Apa mungkin wanita yang berasal dari keluarga terhormat itu mau datang ke kampung?
"Ke mana Nyonya? Ada banyak tempat di dunia ini yang pernah anda kunjungi. Sedangkan saya tidak pernah pergi kemanapun," jawab Otis.
__ADS_1
"Aku ingin menghilang dari hidupnya. Aku akan kembali menemuinya ketika hatiku sudah benar-benar kuat. Ketika aku sudah bisa menjamin kalau air mata ini tidak akan menetes lagi."
"Ya, Nyonya. Saya mengerti kalau sekarang anda sedang sedih. Tapi saya tidak tahu ke mana harus membawa anda pergi."
Nyonya Yolanda menghapus air matanya. Dia memandang ke samping dan melihat mobil Tuan Abraham berhenti di depan mereka.
Otis memilih untuk menunduk ketika Tuan Abraham keluar dari mobil dengan wajah bersalahnya.
"Yolanda," bujuknya dengan sepenuh jiwa.
"Berhenti di sana! Jangan dekati aku!" teriak Nyonya Yolanda. Sepertinya dia sudah sangat-sangat benci dengan suaminya sendiri sampai-sampai tidak mau didekati lagi.
"Maafkan Aku. Kau harus tahu alasanku mendekatinya apa. Semua ini karena mama. Mama yang sudah mendekatkan kami hingga akhirnya kami kenal. Aku memang pria yang bejat. Aku ini pria yang sangat menjijikan. Tetapi kau harus tahu satu hal. Aku sudah memutuskan untuk meninggalkannya. Aku sudah berjanji di depan makam Mama kalau aku tidak akan menjalin hubungan dengannya lagi. Aku ingin memperbaiki semuanya. Bersamamu. Aku ingin kita seperti dulu lagi."
"Aku tidak Mencintainya. Yolanda, Kau harus tahu satu hal kalau aku melakukan semua ini bukan karena nafsu tapi aku butuh anak. Aku ingin anak. Aku ingin memberikan Mama cucu sebelum dia pergi."
Nyonya Yolanda membisu mendengarnya. Hatinya seperti dihantam dan terasa semakin sakit. Dia tidak bisa memberikan anak dan suaminya memutuskan untuk selingkuh dengan wanita lain. Nyonya Yolanda merasa kalau harga dirinya telah diinjak-injak sekarang. Sebagai wanita dan seorang istri kehadirannya sudah tidak diharapkan lagi.
"Dia hamil," ucap Tuan Abraham lagi. "Aku berencana untuk mengambil anak itu dan meninggalkan ibunya. Kita bisa sama-sama merawat anak itu Yolanda. Anak itu akan menjadi anakmu. Anak kita."
Air mata kembali menetes dengan begitu deras. Rasanya Nyonya Yolanda sudah benar-benar tidak tahu harus bicara apa lagi. Membayangkan suaminya selingkuh dengan wanita lain saja sudah sakit. Ini justru suaminya berencana untuk membawa anak hasil perselingkuhannya ke rumah.
__ADS_1
"Kau memang benar-benar pria yang tidak memiliki hati nurani. Jangan ikuti aku. Jika kau mengikutiku maka surat cerai kita akan segera turun." Nyonya Yolanda memutar tubuhnya dan segera masuk ke dalam mobil. Tuan Abraham ingin mengejar Nyonya Yolanda namun ditahan oleh Otis.
"Lepaskan aku supir sialan!" umpat Tuan Abraham emosi.
"Tuan, Nyonya Yolanda butuh ketenangan. Sebaiknya biarkan dia sendiri. Sebagus apapun rayuan yang anda ucapkan tidak akan bisa meluluhkan hatinya yang sedang hancur. Sebaiknya Anda intropeksi diri sendiri saja."
Tuan Abraham menatap Otis dengan begitu sinis. Dia tidak bisa marah karena apa yang dikatakan Otis itu benar. Harusnya dia memberi waktu untuk Yolanda menenangkan pikiran. Dia sendiri juga harus intropeksi diri agar tidak melakukan kesalahan lagi.
"Jaga dia. Pastikan dia tidak telat makan dan istirahat yang cukup." Tuan Abraham memutar tubuhnya dan segera masuk ke dalam mobil. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Otis juga segera masuk ke dalam mobil untuk melihat keadaan Nyonya Yolanda. Hatinya terasa teriris perih ketika melihat Nyonya Yolanda menutup wajahnya dengan tangan sambil menangis senggugukan.
Otis mengambil tisu dan menyerahkannya kepada Nyonya Yolanda. "Nyonya Tenanglah." Kini Otis bisa melihat wajah Nyonya Yolanda dari jarak yang begitu dekat karena wanita itu duduk di samping jok pengemudi.
Nyonya Yolanda membuka tangannya lalu memeluk Otis yang memang jaraknya sangat dekat dengannya saat itu. Wanita itu kembali menangis. Dia sedang mengadu. Menceritakan apa yang ia rasakan melalui tangisan.
"Nyonya menangislah. Saya tidak akan melarang anda untuk menangis lagi. Tetapi jika hati anda sudah kembali tenang. Saya minta anda untuk berjanji jangan pernah teteskan air mata lagi. Air mata Anda begitu berharga untuk dikeluarkan."
Nyonya Yolanda melepas pelukannya dan memandang wajah Otis. Matanya semakin bengkak karena terlalu banyak menangis. Dia segera menghapus air mata di pipi wanita cantik itu. Hingga sesuatu terjadi. Nyonya Yolanda tiba-tiba saja mencium bibir Otis. Otis merasa seperti tersengat aliran listrik. Dia mematung. Ia membatu dan tidak tahu harus bagaimana. Bibir wanita itu basah dan kini ada di bibirnya. Manis. Ini pertama kalinya Otis berciuman dengan seorang wanita. Selama ini ia menjaga dan mempertahankan ciuman pertamanya. Tapi kali ini justru ada wanita yang dengan sengaja merebutnya dan Otis hanya diam saja tanpa memberi penolakan apapun.
Nyonya Yolanda mulai ******* bibir Otis dengan lembut meskipun detik itu Otis belum membalasnya. Wanita itu sudah tidak menangis lagi. Tapi ciumannya membuat Otis tertarik untuk membalasnya.
__ADS_1
Otis menarik pinggang ramping Nyonya Yolanda dengan tangannya sebelum membalas ciuman wanita itu dengan lembut. Otis tahu perbuatan ini sangat berdosa. Tapi dia juga tidak bisa menolak bibir lembut yang kini bermain di mulutnya.
"Oh Tuhan ... apa ini? Kenapa nikmat sekali," gumamnya dengan gemas sebelum membalas ciuman Nyonya Yolanda lebih panas lagi.