
"Tidak! Aku tidak mau menceraikanmu, Yolanda. Apa Kau pikir aku tidak tahu rencana yang sudah kau siapkan? Kau ingin menikah dengan pria rendahan itu, bukan? Tidak semudah itu Yolanda. Aku berada di penjara ini juga bukan atas keinginanku. Aku sama sekali tidak terlibat dalam kematian Rahmad. Pengacaraku pasti akan berhasil menemukan bukti-bukti dan membebaskanku dari tempat ini. Kau tidak bisa menjadikan masalah ini sebagai alasan untuk menggugat cerai. Sampai kapanpun aku tidak mau menceraikanmu!" teriak Tuan Abraham dengan emosi yang menyala-nyala. Bahkan dia sendiri belum siap untuk menerima kenyataan buruk sekarang sudah datang masalah baru.
Tuan Abraham melempar surat cerai yang seharusnya dia tandatangani ke lantai. Pria itu sangat marah sampai-sampai tidak mau memandang Nyonya Yolanda lagi. Polisi yang ada di sana hanya diam saja melihat apa yang terjadi.
"Itu pilihanmu. Kau berhak untuk menolaknya. Tetapi keputusanku sudah bulat. Aku tetap ingin berpisah darimu. Semua ini bukan karena Otis. Bukan juga karena statusmu yang berada di dalam penjara. Tetapi karena aku sudah tidak siap menerima pria yang pernah tidur dengan wanita lain. Aku tidak sanggup memandang wajah suamiku lagi sejak saat itu. Bayang-bayang wanita itu selalu mengganggu pikiranku. Ditambah lagi kalian sampai memiliki anak. Wanita hamil bukan? Aku juga tahu kalau kau telah membuang wanita itu ke luar negeri bersama anak yang ada di dalam kandungannya. Aku harap kau tidak melupakan kesalahan yang pernah kau perbuat." Karena gagal mendapat tanda tangan Tuan Abraham, Nyonya Yolanda memutuskan untuk segera pergi dari sana. Dia mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja. Tuan Abraham segera memegang tangan Nyonya Yolanda dan menatap wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
"Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku, Yolanda. Kenapa kau memutuskan untuk pergi meninggalkanku di saat keadaanku seperti ini. Aku benar-benar tidak berdaya. Aku membutuhkanmu. Kau satu-satunya wanita yang sangat aku cintai. Tidak ada wanita lain di hati ini. Tolong percaya padaku," ucap Tuan Abraham dengan wajah memohon. Dia merasa tidak peduli dengan harga dirinya. Apapun akan ia lakukan demi mempertahankan istrinya.
"Jika kau benar-benar mencintaiku seharusnya kau senang melihatku bahagia. Bukan senang ketika melihatku menderita. Dari sini sudah terlihat jelas. kalau kau tidak benar-benar tulus mencintaiku." Nyonya Yolanda menarik paksa tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Tuan Abraham.
"Aku sangat-sangat tulus mencintaimu Yolanda. Tidakkah kau tahu itu. Bagaimana mungkin aku mau merelakan seluruh kekayaan yang aku dapatkan dengan susah payah kepada seorang wanita. Jika bukan karena aku sangat mencintainya. Kenapa kau masih meragukannya." Tuan Abraham terus berjuang.
"Kau juga tidak boleh lupa kalau harta yang kau miliki juga ada campur tangan dariku. Jadi jangan berkata seolah-olah aku ini tidak memiliki harta sepeserpun!"
Tuan Abraham membisu sambil tersenyum kecil. Pria itu kehabisan kata-kata ketika berdebat dengan Nyonya Yolanda. "Tetapi Apapun alasannya aku tidak setuju jika kita harus bercerai. Masih banyak solusi lain."
"Permisi!" pamit Nyonya Yolanda sebelum melangkah pergi meninggalkan Tuan Abraham. Wanita itu terlihat sangat gusar. Langkahnya sangat cepat dan kepalanya menunduk. Kedua tangannya meremas gaun yang saat itu ia kenakan. Rasanya Ia benar-benar muak untuk merayu Tuan Abraham. Entah cara apa lagi yang bisa ia gunakan agar bisa segera bercerai dari suaminya itu.
"Yolanda, Apa yang terjadi? Kenapa kau murung seperti ini?" tanya Otis yang sejak tadi sudah menunggu Nyonya Yolanda di dekat pintu keluar. Pria itu sengaja tidak masuk ke dalam karena tidak mau memperkeruh keadaan. Jika sampai Tuan Abraham tahu dia juga ada di sana maka pria itu bisa melakukan segala cara untuk menyakiti hati Nyonya Yolanda.
"Dia tidak mau menandatangani surat cerainya. Bagaimana sekarang. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Nyonya Yolanda sambil menatap wajah Otis dalam-dalam. "Aku ingin segera menikah denganmu. Aku ingin segera menjadi istrimu."
"Ini terlalu mendadak untuk Tuan Abraham. Dia butuh waktu untuk memutuskannya. Aku yakin seiring berjalannya waktu ia bisa menerima semua kenyataan ini," jawab Otis dengan penuh keyakinan.
"Kau yakin akan seperti itu. Bagaimana kalau sampai bertahun-tahun dia tetap tidak mau menandatangani surat cerai itu?"
"Masalah ini tugas pengacara kita. Mereka jauh lebih tahu dari apa yang kita pikirkan. Sekarang ayo ikuti aku. Aku ingin membawamu ke suatu tempat dan membuatmu jauh lebih tenang di sana." Otis menautkan kesepuluh jari mereka.
"Ke mana?" tanya Nyonya Yolanda bingung.
"Kejutan sayang," bisik Otis mesra. Pria itu menggandeng pinggang Nyonya Yolanda dan membawanya menuju ke mobil. Sesekali Otis mengecup pipi Nyonya Yolanda. Pria itu seperti sudah tidak malu-malu lagi mengumbar kemesraannya bersama dengan sang majikan. Meskipun kini status majikannya masih resmi menjadi istri Tuan Abraham.
Di dalam kantor polisi, Tuan Abraham belum kembali ke dalam tahanan. Pria itu masih ingin bertemu dengan pengacara yang mengurus kasusnya. Dengan tangan terkepal kuat dia memandang pengacaranya untuk menagih sebuah penjelasan.
"Apapun caranya aku tidak mau bercerai dari Yolanda. Aku sangat mencintainya. Aku tidak mau dia menikah dengan Otis. Aku tidak mau dia menjadi milik pria lain," ucap Tuan Abraham dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Saya akan membantu Anda Tuan. Saya harap anda bisa jauh lebih tenang untuk saat ini. Kita harus fokus terhadap masalah utama yang membuat anda berada di dalam penjara. Setelah anda berhasil lolos dari jerat hukum, maka kita akan pikirkan lagi cara untuk mempertahankan Nyonya Yolanda agar tidak sampai menceraikan anda. Jika saja Nyonya Yolanda tidak memiliki alasan yang kuat dia tidak akan bisa cerai dari anda," jawab pengacara itu penuh keyakinan.
"Tetapi Yolanda wanita yang cerdas. Dia tidak pernah mau kalah."
"Saya sudah membawa beberapa bukti. Semoga saja bukti-bukti ini bisa meringankan hukuman anda. Karena untuk keluar dari sini rasanya sulit sekali. Karena sidik jari anda ditemukan di lokasi kejadian."
"Sebenarnya siapa bedebah yang sudah berani menjebakku hingga seperti ini. Padahal aku juga sangat menghargai Rahmad sebagai bawahanku. Tidak pernah terbesit sedikitpun di dalam pikiranku untuk menjebaknya apalagi sampai membunuhnya. Justru aku sangat percaya padanya."
"Jawabannya sudah jelas Tuan. Orang yang ingin menjebak Anda adalah orang yang benar-benar sangat ingin melihat anda menderita. Tapi di lokasi kejadian hanya ditemukan sidik jari anda di sebuah sapu tangan. Bisa saja seseorang mengambil sapu tangan anda dan meletakkannya di lokasi kejadian. Saya akan usahakan agar semua bukti-bukti bisa terkumpul. Tetapi sebaiknya anda tidak membahas masalah perceraian dulu untuk saat ini. Saya akan coba bicara dengan pengacara Nyonya Yolanda. Saya harap mereka mau mengerti dengan kondisi anda yang sekarang."
Tuan Abraham tidak bisa berkata-kata lagi selain menunduk pasrah. Saat ini kondisinya benar-benar terpuruk. Ibu kandung yang ia miliki sudah tiada. Harta benda yang ia cari selama ini juga sudah atas nama Yolanda. Meskipun beberapa aset masih ia simpan dan atas nama pribadi miliknya tetapi tetap saja harta itu tidak bisa membantunya keluar dari kantor polisi ini.
Belum juga masalah satu yang selesai kini justru Tuan Abraham harus dihadapkan kenyataan dengan sang istri yang ingin menggugat cerai karena ingin menikah dengan pria lain. Ini sungguh menyakitkan. Bahkan berkali-kali lipat dari sakit hati yang pernah ia berikan kepada Nyonya Yolanda.
"Karma ini terlalu instan aku dapatkan," gumam Tuan Abraham di dalam hati.
...***...
"Tempat apa ini Otis. Kenapa kau suka sekali membawaku ke tempat-tempat yang aneh?" tanya Nyonya Yolanda sambil memperhatikan keadaan sekitar.
Nyonya Yolanda tersipu malu mendengar perkataan Otis. Dia merasa sangat dihargai saat itu. Wanita itu merangkul lengan Otis dengan manja lalu memandangnya dengan wajah sendu. "Terima kasih Otis. Kau selalu memiliki cara untuk membuat hatiku bahagia. Rasanya aku tidak pernah menyesal telah memutuskan untuk menikah denganmu."
Otis mendaratkan kecupan singkat di hidung Nyonya Yolanda sebelum kembali fokus dengan laju mobilnya. Pria itu harus melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan karena kini mereka mulai memasuki jalanan berlubang.
"Pegangan, Yolanda. Karena setelah ini tidak ada jalan yang bagus lagi." Otis memandang Nyonya Yolanda sambil tersenyum. Dia tahu apa yang sekarang dipikirkan oleh Nyonya Yolanda. Wanita itu pasti terus mengumpat kesal.
Yolanda menjauh dari tubuh Otis dan segera berpegangan. Wanita itu memandang ke jalan depan dengan tatapan yang begitu serius. Bisa dibayangkan bagaimana jika sampai mobil yang mereka tumpangi saat ini rusak. Nyonya Yolanda tidak mau menginjakkan kakinya di jalan becek seperti itu. Masih membayangkannya saja sudah membuatnya jijik.
Otis memberhentikan Mobilnya di depan gang sempit. Pria itu membaca lagi nama gang yang akan ia masuki dengan jalan kaki. Sedangkan Nyonya Yolanda terlihat sibuk memperhatikan keadaan sekitar.
"Otis, kau yakin di sini tempatnya?" Nyonya Yolanda terlihat ragu.
"Benar. Ini nama gangnya." Otis memandang wajahnya Yolanda. "Kita akan masuk ke dalam gang itu dengan jalan kaki."
"Dengan penampilan seperti ini?" Nyonya Yolanda menunjuk penampilannya untuk saat ini. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pakaian yang saat itu dikenakan oleh Nyonya Yolanda. Namun untuk sekelas Otis, pakaian pendek wanita itu terlalu norak. Dan Otis yakin ketika nanti Nyonya Yolanda turun dan masuk ke gang itu akan banyak mata yang memandangnya karena memuji kecantikannya.
__ADS_1
"Anda bisa gunakan kaos ini dan jaket ini." Otis melirik paha mulus Nyonya Yolanda yang terekspos begitu saja. Itu benar-benar masalah besar yang tidak boleh dibiarkan. "Apa Anda bawa pakaian ganti, Yolanda?"
"Kenapa kau tidak bilang kalau kita akan pergi ke tempat seperti ini. Jika aku tahu sejak awal aku akan pergi ke butik untuk membeli baju. Sekarang bagaimana. Apa di dekat sini ada butik?"
"Sepertinya tidak ada." Otis diam sejenak sambil memikirkan solusi yang tepat untuk permasalahan mereka saat ini.
"Anda tidak memakai celana?"
"Otis!" umpat Nyonya Yolanda dengan wajah malu. "Apa maksudmu dengan bertanya seperti itu?"
"Maksud saya kaos dan jaket ini sudah cukup panjang. Mungkin Jika anda pakai bisa sampai selutut. Apa di balik gaun itu Anda menggunakan celana pendek?"
"Tentu saja," jawab Nyonya Yolanda cepat.
"Oke. Sepertinya tidak ada masalah lagi. Cepat pakai kaos dan jaket ini. Kita akan segera turun." Otis ingin pergi keluar mobil dan membiarkan Nyonya Yolanda berganti pakaian. Belum sempat pria itu melangkahkan kakinya keluar tiba-tiba Nyonya Yolanda sudah menarik lengannya dengan kencang.
"Tetap di sini karena aku tidak mau ditinggal sendirian."
"Tapi-" Otis tidak bisa lagi melanjutkan kalimatnya ketika Nyonya Yolanda sudah membuka gaun yang ia kenakan begitu saja.
"Jangan mengintipku Otis karena kita belum sah menjadi suami istri!" ancam Nyonya Yolanda sambil menatap tajam wajah Otis.
Otis segera memalingkan pandangannya. Namun pria itu terlanjur melihatnya tadi. Ia bahkan sempat menikmati pemandangan yang begitu indah. Memainkan lidahnya di dalam mulut. Dia benar-benar gemas dengan kekasihnya tersebut.
"Tubuh anda jauh lebih putih daripada tangan dan kaki anda, Yolanda," ledek Otis masih dengan posisi kepala miring.
Nyonya Yolanda melempar gaun yang sudah terlepas sempurna dari tubuhnya ke arah Otis. "Gunakan gaun itu untuk menutup matamu!" perintah Nyonya Yolanda.
Otis menurunkan gaun yang sempat menghalangi pandangannya. Pria itu menghirup aroma Woody yang masih melekat di gaun Nyonya Yolanda. Pikirannya melayang jauh hanya dengan menghirup aroma tubuh wanita itu saja. Sampai-sampai dia tertarik untuk memandang apa yang terjadi di sampingnya. Tanpa rasa takut lagi Otis memandang Nyonya Yolanda yang masih belum selesai mengenakan pakaian.
"Sudah aku katakan untuk tidak mengintip!" teriak Nyonya Yolanda.
"Aku tidak mengintip tetapi aku melihat calon istriku mengenakan pakaian."
"OTIS!"
__ADS_1