
Waktu berjalan dengan sangat cepat hingga tidak terasa sudah satu minggu Nyonya Yolanda dan Otis ada di Kanada. Dalam satu minggu itu nomor mereka berdua masih belum bisa dihubungi. Mereka sama sekali tidak memikirkan perasaan Tuan Abraham. Dipikiran Otis hanya ingin Nyonya Yolanda tetap bahagia. Apapun caranya akan dia lakukan agar Nyonya Yolanda tetap tersenyum dan tidak meneteskan air mata lagi.
Siang ini nyonya Yolanda ingin bermain Ski di gunung salju. Otis yang sama sekali tidak pernah bermain Ski memilih untuk menjadi penonton saja. Pria itu tidak mau sampai cedera dan membuat Nyonya Yolanda repot. Sambil menikmati coklat panas yang ia pesan dari kafe tempatnya duduk, pria itu mengawasi Nyonya Yolanda yang sibuk ke sana kemari dengan menggunakan papan seluncur. Sesekali pria itu juga tertawa ketika Nyonya Yolanda terjatuh di atas tumpukan salju.
"Dia benar-benar sangat menarik. Hanya pria bodoh yang kepikiran untuk menduakannya. Meskipun dia tidak bisa memberikan anak tapi itu tidak bisa dijadikan alasan. Kesetiaan yang ia miliki cukup diacungkan jempol," gumam Otis di dalam hati.
Pria itu dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba saja menepuk bahu kanannya. Ia segera memutar kepalanya ke belakang lalu memandang wanita yang kini berdiri di sana. Wajahnya kembali tenang ketika wanita yang baru saja memukulnya adalah orang yang ia kenal.
"Nona Tesya, apa kabar? Terima kasih karena sudah mengirim makanan setiap hari. Saya merasa tertolong karena tidak perlu memasak lagi."
Tesya tersenyum mendengar pujian Otis. Wanita itu duduk di kursi yang ada di samping Otis lalu memandang ke depan.
"Sepertinya Nyonya Yolanda sangat menikmati liburannya. Dia bahkan tidak peduli dengan suaminya," ucap Tesya sambil tersenyum.
Otis mengeryitkan dahinya. "Kau tahu sesuatu?"
Tesya menggeleng. "Rahasia yang kau simpan rapat bersama dengan Nyonya Yolanda masih tetap tidak aku ketahui. Tapi, aku tahu kalau sekarang Tuan Abraham membayar orang untuk mencari keberadaan kalian berdua. Tidak lama lagi kau dan Nyonya Yolanda akan ditemukan. Mungkin untuk Nyonya Yolanda sendiri dia akan baik-baik saja karena suaminya tidak berani melakukan apapun terhadap wanita yang ia cintai. Tapi, bagaimana denganmu? Kau hanya seorang supir. Mungkin dia akan memecatmu." Tesya menahan kalimatnya sejenak. "Tidak. Kalau pecat terlalu ringan. Mungkin dia akan melaporkanmu ke polisi dengan tuduhan menculik istrinya selama satu minggu." Tesya tertawa setelah bicara seperti itu. Berbeda dengan Otis yang kini memasang wajah serius. Pria itu takut jika apa yang dikatakan Tesya benar. Otis hanya ingin bekerja dengan baik agar bisa mendapatkan gaji yang halal. Bukan untuk mendapat masalah apa lagi sampai di penjara.
"Otis, aku hanya bercanda. Kenapa wajahmu panik seperti itu?" ledek Tesya. Dia menyenggol lengan Otis sambil tertawa kecil. "Tuan Abraham tidak bisa berbuat apa-apa jika Nyonya Yolanda ada di pihakmu." Tesya mendekati telinga Otis. "Bisa di bilang Tuan Abraham itu suami takut istri walaupun wajahnya terlihat menyeramkan," bisik Tesya.
"Bagaimana kalau Nyonya Yolanda tidak memihakku?"
Tesya mengeryitkan dahinya. "Itu tidak mungkin. Nyonya Yolanda tidak seperti itu."
"Bagaimana denganmu? Apa selama ini Nyonya Yolanda selalu ada di pihakmu?"
"Otis, kau harus tahu satu hal. Sampai detik ini Tuan Abraham tidak tahu kalau aku bekerja sebagai pengawal pribadi Nyonya Yolanda. Yang dia tahu aku ini sepupu Nyonya Yolanda. Aneh bukan?"
"Sepupu?"
__ADS_1
Tesya mengangguk. "Nyonya Yolanda tidak mau Tuan Abraham mengusik kedekatan kami. Agar tidak tahu apa yang terjadi, aku terpaksa menjaga Nyonya Yolanda secara diam-diam. Tapi, dengan cara ini Tuan Abraham tidak curiga. Aku bisa dengan bebas menjaga Nyonya Yolanda tanpa hambatan apapun."
"Tesya, aku ingin bicara dengan Nyonya Yolanda. Sepertinya aku sudah lupa kalau aku ke sini karena Tuan Abraham. Aku harus segera menghubungi pria itu." Otis beranjak dari duduknya.
"Kau takut?" Tesya kaget mendengar perkataan Otis.
"Aku tidak takut. Tapi aku hanya ingin menjadi pria yang bertanggung jawab. Tidak lebih dari itu." Otis segera pergi meninggalkan Tesya sendirian di sana. Tesya menopang kepalanya dengan tangan sambil mengetuk-ngetuk meja yang ada di hadapannya.
"Dia pria yang penakut dan itu membuatnya terlihat semakin menggemaskan," puji Tesya di dalam hati.
...***...
Nyonya Yolanda memandang Otis yang kini berjalan mendekatinya. Wanita terlihat sudah kelelahan. Dia bahkan melempar papan ski yang sempat ia kenakan bermain ke tumpukan salju. Wanita itu duduk dengan kedua kaki diluruskan ke depan. Sesekali dia memperhatikan orang-orang yang masih asyik bermain salju.
"Nyonya, ada yang ingin aku katakan," ucap Otis. Sepertinya dia sudah tidak mau banyak basa-basi lagi. Pria itu ingin segera memberitahu maksud tujuannya sekarang.
"Katakan saja. Aku akan mendengarkan semua yang kau katakan," jawab Nyonya Yolanda tanpa memandang.
"Lakukan saja yang menurutmu baik. Aku tidak akan mencegahmu lagi." Nyonya Yolanda meneguk air minum yang ada di genggaman tangannya sebelum berdiri. "Jika kau bicara dengannya, katakan padanya kalau aku akan pulang 1 bulan lagi. Aku masih ingin tinggal di sini. Aku masih belum siap untuk memandang wajahnya yang brengsek itu."
"Baik, Nyonya." Otis menunduk hormat. Dia memotret Nyonya Yolanda yang berjalan pergi lalu segera mengaktifkan hari telepon yang memang selama ini dia buat mode terbang.
Ketika ponselnya diaktifkan, puluhan pesan Tuan Abraham masuk. Belum sempat membaca yang satu pesannya sudah tertimpa pesan yang lainnya. Untuk beberapa saat Otis tidak melakukan apapun. Dia hanya memandang layar ponselnya untuk menunggu pesan yang dikirimkan Tuan Abraham masuk semua.
"Dia benar-benar memakiku," gumam Otis di dalam hati ketika dia membaca satu pesan yang isinya memang sebuah makian. Tidak mau semakin sakit hati, Otis menghapus semua pesan yang dikirimkan Tuan Abraham. Dia tidak mau membacanya satu persatu. Secepatnya pria itu menekan nomor Tuan Abraham untuk menghubunginya.
"Otis, kau benar-benar brengsek!"
Baru satu detik tersambung, sudah terdengar suara makian dari Tuan Abraham dari kejauhan sana. Otis masih belum mau bicara. Ia menunggu sampai emosi Tuan Abraham mereda. Bicara dengan orang yang emosi juga tidak akan ada akhirnya.
__ADS_1
"Otis, apa kau mendengarku? Kemana saja kau membawa istriku? Dimana Yolanda? Kenapa dia juga mematikan ponselnya? Apa kalian bersekongkol? Kalian ini buat aku sakit jantung karena mengkhawatirkan keadaan kalian? Tidak! Aku tidak akan peduli jika kau mati di Kanada. Tapi, bagaimana dengan istriku! Aku merindukan suaranya Otis. Satu minggu aku tidak mendengar kabar dari wanita yang aku cintai."
"Wanita yang dicintai?" Otis sempat tersenyum meledek mendengarnya. Memang kalimat apapun bisa dengan mudah untuk diucapkan. Tetapi tidak akan mudah untuk membuktikannya.
"Maafkan saya, Tuan. Ponsel saya rusak. Saya sudah berusaha untuk memperbaikinya. Soal nomor Nyonya Yolanda yang tidak aktif, saya tidak tahu Tuan. Tugas saya hanya menjaga Nyonya Yolanda dan memastikan dia baik-baik saja. Sisanya saya tidak mau terlalu ikut campur."
Emosi Tuan Abraham meredah. Pria itu seperti sudah bisa mengontrol ucapannya. "Sekarang dimana istriku? Apa yang dia lakukan?"
"Saya sudah mengirim fotonya ke ponsel anda, Tuan. Nyonya Yolanda baru saja selesai bermain ski. Dia masih duduk di depan sana dan mengobrol bersama beberapa bule." Entah kenapa jiwa jahil Pria kembali muncul kepermukaan. Dia juga ingin membuat Tuan Abraham panas ketika membayangkan wanita yang ia cintai akrab dengan pria lain.
"Otis, kau harus tahu apa tugasmu! Aku tidak mau tahu. Singkirkan pria-pria itu dari istriku!"
"Baik, Tuan."
"Jangan pernah matikan ponselmu lagi. Atau aku tidak akan membayarnya bulan ini!"
"Baik, Tuan. Tapi sebelumnya saya ingin bilang. Tadi Nyonya Yolanda berkata kalau dia akan pulang satu bulan lagi, Tuan."
"Satu bulan kau bilang? Bukankah seharusnya satu minggu lagi?"
"Soal itu saya juga tidak tahu apa alasannya Tuan."
Tidak lagi terdengar suara Tuan Abraham. Sepertinya pria itu syok ketika tahu kalau istrinya akan pulang 1 bulan lagi.
"Tuan Apa Anda masih mendengar saya?"
"Kirimkan alamat lengkapnya. Malam ini aku akan berangkat ke sana untuk menjemput istriku!"
panggilan telepon itu segera terputus. Otis memandang layar ponselnya sekilas sebelum memasukkannya ke dalam saku. Pria itu ingin memberitahu Nyonya Yolanda kalau Tuan Abraham akan menjemput mereka.
__ADS_1
"Aku harap setelah mereka bertemu nanti, Nyonya Yolanda tidak lagi menangis," gumam Otis di dalam hati.