Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Penyusup


__ADS_3

Otis terus mengejar pria yang sempat mengintipnya. Pria itu berlari dengan sangat cepat. Tetapi orang yang dia kejar justru berlari lebih cepat lagi. Mereka saling kejar-kejaran di atas tumpukan salju. Otis bahkan tidak tahu dimana sekarang dia berada. Pria itu sudah terlalu jauh dari rumah.


"Berhenti!" teriak Otis.


Kali ini penyusup yang ia kejar justru menahan langkah kakinya setelah mendengar teriakan Otis. Dengan nafas yang sama-sama tersengal mereka saling memandang satu sama lain. Namun Otis tidak bisa melihat jelas wajah penyusup itu karena dia menggunakan masker. Dilihat dari penampilannya, penyusup itu seumuran dengannya.


"Siapa sebenarnya kau. Apa yang kau inginkan. Kenapa kau mengintip seperti tadi?" tanya Otis masih dengan nada bersahabat agar penyusup itu tidak kabur lagi.


"Aku yang seharusnya bertanya. Kalian ini siapa? Kenapa kalian bisa tinggal di rumah itu," jawab pria itu dengan penuh selidik.


Otis mengeryitkan dahinya. "Anda warga sini?"


"Rumah yang kalian tempati adalah rumah seorang pembunuh. Pembunuh itu menghilang selama beberapa bulan ini setelah ia berhasil membunuh satu keluarga yang tinggalnya tidak jauh dari daerah sini. Sudah cukup lama rumah itu kosong. Setelah melihat lampu rumah hidup, saya penasaran dan memutuskan untuk mengintipnya. Tadinya saya pikir pembunuh telah kembali. Bahkan saya hampir saja menghubungi polisi. Saya tidak menyangka kalau orang asing yang sudah menempatinya. Apa pembunuh itu telah menjual rumah itu?"


"Saya hanya seorang supir. Saya sama sekali tidak mengerti tentang rumah itu. Saya ada di sini karena saya di tugaskan untuk menjaga Nyonya Yolanda. saya akan tanyakan masalah kepemilikan rumah itu kepada Nyonya saya. Tapi, maukah anda ikut bersama saya untuk membantu saya menjelaskan masalah ini kepadanya?"


Pria itu menggeleng. "Maaf saya tidak mau terlibat dalam masalah ini. Saya mengatakan semua ini karena saya tidak mau anda berpikir yang aneh-aneh tentang saya. Jika anda sudah jelas saya akan pergi. Saya tidak akan mengganggu anda lagi. tolong jangan ikuti saya." Pria melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Otis sendirian di sana.


"Tunggu!" teriak Otis. Namun pria itu tidak mau berhenti lagi. Dia justru menghilang setelah melewati beberapa pohon yang rimbun.


Otis memperhatikan keadaan sekitar. Sunyi dan menyeramkan. Walau hari masih pagi, tapi rasanya lokasi di sana seperti sudah mau malam lagi. Detik itu dia baru merasa dingin. Dia masih tidak memakai baju. Tubuhnya mulai menggigil dan bibirnya membiru.


"Ke mana jalan ke rumah itu?" gumam Otis. Jejak kaki telah tertutup salju. Kali ini Otis benar-benar terjebak. Jika Nyonya Yolanda tidak mengirimkan bala bantuan, pria itu pasti akan mati mengigil.


"Gawat!" Pria itu melangkah pelan sambil menebak-nebak ke arah mana dia melangkah tadi. Namun, tetap saja Otis tidak berhasil menemukan jalan keluar. "Aku bisa mati kedinginan jika seperti ini."


...***...

__ADS_1


Di rumah, Nyonya Yolanda sudah sangat khawatir karena Otis tidak juga kembali. Wanita itu memang sudah menghubungi orang kepercayaannya agar segera datang dengan membawa pakaian ganti. Namun, tetap saja dia tidak tenang karena dia tidak tahu ke arah mana Otis pergi tadi.


Tok tok


Suara ketukan pintu membuat Nyonya Yolanda kaget. Wanita itu tidak langsung membukanya. Dia juga ingin memastikan kalau orang yang mengetuk pintu bukan orang jahat.


"Siapa?"


"Nyonya, ini saya," sahut seorang wanita di depan sana.


Tanpa pikir panjang Nyonya Yolanda segera membuka pintu. Dia kenal suara itu. Orang kepercayaannya telah tiba di depan.


"Nyonya," sapa wanita yang biasa di panggil Tesya itu.


"Tesya, kau harus membantuku." Nyonya Yolanda memegang tangan Tesya dengan begitu panik.


"Otis, dia pergi entah kemana. Dia mengejar seseorang tadi. Aku takut dia dalam bahaya. Dia belum pernah ke luar negeri sebelumnya. Bagaimana kalau dia tersesat? Jarak rumah ini dengan rumah yang lainnya sangat jauh sekali. Salju juga terus saja turun. Bahkan tadi dia tidak memakai baju. Bagaimana kalau dia mati kedinginan?" Nyonya Yolanda memegang tangan Tesya berharap wanita itu bisa membantunya saat ini.


"Nyonya, tenanglah. Saya akan pikirkan cara untuk menemukan keberadaannya. Apa dia membawa ponsel?"


"Tapi di daerah sini tidak ada jaringan. Bagaimana caranya kita menghubungi Otis jika tidak ada jaringan?"


"Nyonya, Apa Anda lupa kalau jaringan ini bisa mati dan hidup atas izin anda? Anda sendiri yang membuat jaringan di sekitar sini hilang. Bukankah dengan begitu kita bisa menghidupkannya kapan saja jika diperlukan?" jawab Tesya dengan tenang.


Nyonya Yolanda tersenyum. Karena terlalu panik ia sampai menjadi bodoh. Padahal tadi dia juga menghidupkan jaringan untuk beberapa saat ketika ingin menghubungi Tesya.


"Kau benar. Tapi aku tidak memiliki nomor teleponnya."

__ADS_1


"Anda tenang saja Nyonya. Saya akan mencari nomor pria itu." Tesya mengambil ponselnya. Dia mengotak-atik ponselnya seperti sedang. Karena terlalu lelah berdiri Nyonya Yolanda memutuskan untuk duduk di sofa yang ada di dekat pintu. Wanita itu memijat-mijat kepalanya yang terasa pusing. Hilangnya Otis membuat dia lupa akan sakit hati yang sempat ia rasakan terhadap suaminya.


"Nyonya, saya berhasil mendapatkan nomor teleponnya," teriak Tesya kegirangan.


"Cepat temukan dia! Jangan banyak bicara."


"Baik, Nyonya." Tesya tidak berani mengeluarkan kata lagi. Wanita itu segera menekan nomor telepon Otis berharap panggilan teleponnya tersambung. Baru dua detik panggilan telepon itu tersambung, mereka sudah mendengar daringan telepon dari arah dapur. Nyonya Yolanda dan Tesya sama-sama menghela nafas panjang. Suara deringan ponsel itu menandakan kalau kini tidak membawa ponselnya. Ini akan menyulitkan mereka untuk menemukan keberadaan Otis.


"Nyonya, sebaiknya anda kembali ke hotel saja. Saya tidak bisa meninggalkan anda sendirian di rumah ini. Membawa anda untuk mencari Otis juga tidak mungkin," ucap Tesya memberi solusi.


"Kenapa tidak mungkin? Aku akan membantumu untuk mencari keberadaannya. Aku tidak mau kembali ke hotel jika dia belum ditemukan. Bagaimanapun juga aku orang yang paling bertanggung jawab atas hilangnya Otis. Dia ada di rumah ini karena mengikuti perintahku. Dia Pergi mengejar penyusup itu juga karena ingin melindungiku."


"Baiklah Nyonya jika anda memaksa. Saya akan meminta orang untuk datang membantu kita mencari keberadaan Otis. Sambil menunggu mereka datang, sebaiknya kita pergi untuk mencari lebih dulu. Apa anda tahu ke mana tadi Otis pergi?"


"Aku tahu. Ayo ikuti aku," ajak Nyonya Yolanda. Mereka sama-sama keluar dari rumah dengan pakaian yang tebal. Baru tiba di depan teras rumah mereka sudah di kagetkan dengan kemunculan Otis. Pria itu berdiri di sana dengan bibir tersenyum. Dia sudah memakai pakaian hangat hingga membuat Nyonya Yolanda penasaran, sebenarnya apa yang sudah terjadi.


"Otis, darimana saja kau?" ketus Nyonya Yolanda.


Otis memandang Tesya sejenak sebelum melangkah mendekati Nyonya Yolanda. "Nyonya, ceritanya panjang. Tapi, sebelum saya menjelaskan semuanya, apa bisa kita pergi meninggalkan tempat ini?"


Nyonya Yolanda menggeleng tidak setuju. Dia sangat suka tinggal di rumah itu daripada di hotel. "Aku tidak mau. Rumah ini adalah rumahku."


"Otis, jelaskan saja sebenarnya apa yang terjadi. Aku bisa menjamin keselamatan Nyonya Yolanda," ucap Tesya dengan penuh keyakinan.


Otis memperhatikan Tesya dengan saksama. Dia menemukan pistol di pinggang wanita itu. Kali ini Otis bisa bernapas sedikit lega. "Bisa kita masuk, Nyonya?"


Nyonya Yolanda memutar tubuhnya dan masuk ke dalam rumah duluan. Diikuti oleh Otis sebelum akhirnya Tesya. Mereka menutup pintu rumah dan duduk di sofa yang dekat dengan perapian.

__ADS_1


__ADS_2