
Otis telah tiba di titik pertemuan dengan pria tersebut. Sambil membawa kotak yang ia temukan di kamar Tante Renata, Otis berjalan cepat menuju ke lokasi. Dia memandang ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya malam ini.
Pria itu sudah menunggu di persimpangan jalan. Dia masih duduk di dalam mobil. Ketika melihat Otis muncul, pria itu segera membuka pintu dan meminta Otis untuk masuk ke dalam. Dia tidak mau mengambil resiko jika ada yang melihat keberadaan mereka di sana.
"Apa itu kotak yang kau maksud tadi?" tanya pria itu tidak sabar.
"Ya." Tanpa menunggu lagi Otis segera memberikan kotak tersebut. Sebenarnya dia bisa segera pergi agar tidak ada yang curiga namun Otis penasaran dan sangat ingin tahu sebenarnya ada apa di dalam kotak tersebut. Otis memutuskan untuk bertanya banyak agar bisa mengetahui sebenarnya apa yang terjadi.
"Apa kau sedang menunggu sesuatu?" tanya pria itu sambil mengotak-atik gembok yang terdapat pada kotak tersebut.
"Apa kau mau cerita sedikit? Setidaknya aku tidak penasaran dengan tugas yang sekarang aku kerjakan."
"Ini tidak ada di dalam perjanjian," sahut pria itu tanpa mau memandang Otis secara langsung.
__ADS_1
"Apa ini murni karena kau ingin mengetahui orang yang sudah membunuh Tesya atau ada tujuan lain?"
Pria itu berhasil membuka kotaknya. Tidak ada tanda-tanda ingin menjadi pertanyaan Otis. Pria itu membuka kotak tersebut untuk memeriksa isi di dalamnya.
Pria itu mengeluarkan foto Nyonya Yolanda dari dalam serta beberapa flash disk yang ia sendiri tidak tahu isi di dalamnya apa. Ada juga sebuah kartu nama.
"Kenapa bisa ada foto Nyonya Yolanda di dalam kotak ini?" tanya Otis bingung. "Bahkan fotoku dan juga Tuan Abraham ada di dalam sini," ujar Otis sekali lagi.
"Sepertinya kita akan menemukan petunjuk jika memeriksa flashdisk-flashdisk ini," ujar pria itu. Dia melihat foto Otis dan Tuan Abraham yang kini ada di genggaman tangan. "Ternyata targetnya bukan hanya Nyonya Yolanda saja tetapi kau dan juga Tuan Abraham," ujar pria itu sambil tersenyum kecil.
"Target? Target apa maksudmu?" Otis semakin tidak tenang.
"Kau ini bodoh sekali. Mereka membunuh Tesya karena mereka tahu kalau Tesya satu-satunya orang yang selalu melindungi Nyonya Yolanda selama ini. Sebelum kau menjadi supir Nyonya Yolanda pastinya. Ketika mereka telah berhasil menghabisi Tesya. Kau dan juga Tuan Abraham yang menjadi target selanjutnya karena mereka tahu kalau kau juga pasti akan melindungi Nyonya Yolanda."
__ADS_1
"Target utama Nyonya Yolanda? Itu berarti sekarang ini Nyonya Yolanda berada dalam bahaya. Jika memang orang yang menginginkan nyawa Nyonya Yolanda masih berkeliaran di luar sana. Kenapa dia tidak segera mengambil tindakan? Bukankah sekarang aku dan Tuan Abraham tidak ada di sisi Nyonya Yolanda."
"Jelas saja orang yang mengincar nyawa Nyonya Yolanda masih berkeliaran di luar sana. Kita bisa tahu kalau Renata dan Tika hanya tangan kakinya saja. Sementara dalang dari semua ini masih belum tertangkap. Di koper Tika aku juga tidak menemukan petunjuk apapun selain panggilan telepon dari Renata. Beberapa pesan yang pastinya kau sendiri juga akan kaget ketika membacanya." Pria itu mengambil pasal Tika lalu menunjukkan pesan yang ia maksud tadi.
"Pesan ini dikirim beberapa jam sebelum Renata dan Tesya bertengkar dan tewas."
Otis menerima ponsel itu lalu membaca pesannya dengan seksama.
"Aku sangat kecewa padamu Tika. Selama ini aku pikir kau bisa dihandalkan ternyata kau menghianatiku. Hanya karena kau mencintai supir murahan itu kau menggagalkan semuanya."
Dari pesan itu saja Otis bisa tahu kalau ternyata Tika lebih memilih untuk tidak melakukan tugas yang diperintahkan oleh Renata karena ia ingin melindungi Otis dari bahaya.
"Tika. Kau benar-benar wanita baik. Aku tidak pernah menyesal karena sudah mengenalmu," gumam Otis.
__ADS_1