Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Supir Pribadi


__ADS_3

Otis berangkat ke Kanada untuk menjadi mata-mata Nyonya Yolanda. Ini benar-benar pengalaman baru bagi Otis. Tanpa memiliki uang banyak dia bisa berangkat ke Kanada. Ya, Nyonya Yolanda sedang berlibur ke Kanada. Wanita itu ingin menikmati musim dingin selama dua minggu di sana. Dia memang tidak sendirian. Ada beberapa wanita yang berangkat bersama dengannya. Tetapi, tetap saja itu tidak menjamin kalau Nyonya Yolanda tidak bertemu dengan pria ketika ada di sana.


Pak Rahmad membekali Otis sejumlah uang dan ponsel. Otis hanya membawa dua pasang baju ketika berangkat. Pak Rahmad melarang Otis membawa banyak baju ganti. Pria itu meminta Otis untuk membeli baju sesuai dengan kebutuhannya ketika tiba di Kanada nanti.


Sepanjang perjalanan menuju ke Kanada, Otis tidak ada hentinya membaca kamus agar dia bisa lebih lancar lagi dalam berbahasa Inggris. Otis memang bukan pria pintar. Tetapi dia jago bahasa Inggris. Kali ini tidak sulit baginya untuk menyesuaikan diri ketika tiba di Kanada nanti.

__ADS_1


"Kira-kira seperti apa reaksi Nyonya Yolanda nanti ketika dia bertemu denganku? Apa dia langsung marah dan mengusirku? Atau jangan-jangan dia memang membutuhkan supir selama berada di sana?" Otis menutup kamus yang tadi dia baca dan menjatuhkan tubuhnya di sandaran kursi. "Sebenarnya masalah ini sangat sepele. Tuan Abraham tidak perlu mencurigai istrinya. Memang benar kalau Nyonya Yolanda itu cantik dan menarik. Tapi, bukankah wanita itu setia? Kenapa harus di ragukan lagi? Dalam pernikahan harus ada rasa saling percaya. Jika tidak, pernikahan itu sudah tidak ada indahnya lagi."


Entah kenapa tiba-tiba saja Otis jadi memikirkan nasip majikannya. Ini pertama kalinya dia pusing memikirkan rumah tangga majikan di tempatnya bekerja. "Masih ada waktu lima jam lagi untuk tidur. Sebaiknya aku gunakan waktu ini untuk istirahat." Otis segera mencari posisi nyamannya dan segera memejamkan mata. Pria itu memasang musik favoritnya agar bisa tidur dengan nyenyak.


***

__ADS_1


"Mau sampai kapan dia memata-mataiku seperti ini? Jika dia tidak percaya, untuk apa dia mengizinkanku pergi?" gumam Nyonya Yolanda sambil tersenyum. Dia meletakkan minuman hangat itu di meja dan memandang ke jendela. Melihat salju yang ada di luar cafe membuatnya kembali tenang. "Kita lihat saja. Berapa lama dia bisa bertahan menjadi supir pribadiku?" Nyonya Yolanda merasa yakin kalau secepatnya Otis pasti akan memutuskan untuk pulang ke Indonesia tanpa membawa kabar buruk seperti apa yang dipikirkan oleh Tuan Abraham.


"Nona, seseorang mengirimkan ini untuk anda." Salah satu pelayan cafe meletakkan kotak warna biru di atas meja.


"Apa ini?" Nyonya Yolanda segera membuka kotak tersebut. Pelayan cafe tadi segera pergi. Sebelum memeriksa isinya, Yolanda membaca kartu ucapan yang ada di atas hadiah tersebut.

__ADS_1


"Untuk Yolanda Tercinta," eja Nyonya Yolanda secara perlahan. "Siapa yang berani mengirim surat cinta seperti ini kepadaku?" Dengan tidak sabar Nyonya Yolanda mengambil hadiah itu. Kedua matanya melebar melihat foto-foto yang ada di dalam kotak. "Apa ini? Siapa yang mengirim semua ini?"


__ADS_2