
"Kita mau kemana Otis?" tanya Nyonya Yolanda ketika mobil yang ia tumpangi bersama Otis menembus kesunyian malam. Kabut tebal menghalangi pandangan. Udara malam itu terasa sangat dingin. Memang tempat yang dikunjungi Otis adalah daerah pegunungan. Pada malam hari, suhu menjadi sangat rendah hingga membuat pengunjung harus menggunakan pakaian tebal.
"Ke suatu tempat yang indah, Nyonya. Anda pasti senang," jawab Otis dengan penuh percaya diri. Pria itu memandang majikannya yang duduk di samping sebelum memandang ke depan lagi. Selama berada di kampung halaman, Nyonya Yolanda tidak pernah duduk di belakang. Wanita itu selalu memilih untuk duduk di samping Otis. Di depan semua orang dia tidak lagi memperlakukan Otis layaknya seorang supir. Bahkan sebagian orang yang tidak mengetahui tentang mereka berpikir kalau mereka sedang pacaran. Meskipun usia Nyonya Yolanda jauh di atas Otis, tetapi wajahnya yang awet muda membuat semua orang berpikiran kalau usianya masih jauh di bawah Otis.
"Saat malam hari, danau itu terlihat sangat menyeramkan," ucap Nyonya Yolanda sambil melihat ke danau yang terbentang di pinggir jalan.
"Katanya daerah sini pernah ada yang bunuh diri dengan cara melompat ke danau, Nyonya," ucap Otis dengan begitu serius.
"Otis ... jangan menakutiku!" Nyonya Yolanda menatap tajam Otis yang di balas dengan senyuman manis. Pria itu menurunkan laju mobilnya ketika mobil yang ia kemudikan sudah memasuki jalanan berkelok.
Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, mereka berdua tiba di sebuah lokasi yang sangat indah. Otis membawa Nyonya Yolanda ke sebuah bukit. Bukan hanya Otis saja yang memutuskan untuk berkunjung ke bukit itu pada malam hari. Ada beberapa pasangan yang memilih untuk menghabiskan malam mereka dengan bersantai di beberapa pondok yang sudah disiapkan. Dari kursi-kursi itu, pengunjung bisa melihat keindahan kota pada malam hari. Malam ini langit sangat cerah. Lampu kota dan kerlipan bintang seakan saling bersautan dan bersatu di ujung sana.
"Aku tidak menyangka kalau Indonesia memiliki tempat seindah ini. Otis, apa kau sering ke sini sebelumnya?"
Otis menggeleng. "Saya tidak berani ke sini karena semua yang datang membawa pasangan mereka, Nyonya."
Nyonya Yolanda menyipitkan kedua matanya. "Lalu kau membawaku?"
"Anggap saja anda pasangan saya." Otis melangkah menuju ke tempat penjual kopi. "Nyonya, anda bisa duduk di sana. Saya akan membeli kopi dan jagung bakar untuk kita."
Nyonya Yolanda memandang ke kursi yang kosong sebelum melangkah perlahan. Sebelum tiba di kursi tersebut, sepasang kekasih sudah menerobos dan duduk di sana. Nyonya Yolanda menahan langkah kakinya. Ingin sekali ia memaki orang yang sudah merebut tempat duduknya. Tetapi entah kenapa Nyonya Yolanda tidak mau memperlihatkan sifat aslinya di depan semua orang untuk saat ini.
Nyonya Yolanda menghela napas sebelum kembali ke mobil. Otis berlari mengejar Nyonya Yolanda sambil membawa dua gelas kopi di tangannya.
__ADS_1
"Nyonya, duduk di sini saja," ucap Otis sambil menunjuk bagian depan mobil. Nyonya Yolanda menggeleng.
"Itu bukan ide yang bagus Otis," tolaknya.
"Setidaknya kita bisa duduk. Kita juga bisa menikmati pemandangan dari sini."
Nyonya Yolanda merasa tidak enak jika harus menolak tawaran Otis. Wanita itu mengangguk dan berdiri di depan mobil. Otis tahu kalau Nyonya Yolanda tidak bisa naik ke atas mobil. "Nyonya, pegangkan kopi ini."
Nyonya Yolanda menurut saja. Dia memegang dua cup kopi panas itu lalu mengangkat kedua tangannya ke atas. Dengan mudahnya Otis mengangkat tubuh Nyonya Yolanda dan mendudukkannya di atas mobil.
"Bagaimana? Nyaman bukan?"
Nyonya Yolanda memberikan kopi milik Otis sebelum dia menyeruput kopi miliknya secara perlahan. "Ini tidak enak."
"Kali ini saya setuju dengan anda, Nyonya," jawab Otis. Pria itu meminta kopi yang ada di genggaman Nyonya Yolanda. "Mau saya bantu untuk membuangnya, Nyonya?"
Nyonya Yolanda segera memberikan kopi tidak enak itu sebelum memandang ke depan lagi. Otis segera melempar kopi itu ke tong sampah terdekat. Sambil menunggu jagung pesanannya datang, pria itu berdiri bersandar di depan mobil sambil memandang ke depan.
"Bagaimana, Nyonya? Indah bukan?"
"Hemm," gumamnya tanpa mau memandang wajah Otis.
"Anda baik-baik saja, Nyonya?" Otis memperhatikan kedua mata Nyonya Yolanda yang kini berkaca-kaca. Cahaya lampu di sana membuat mata berkaca-kaca itu terlihat dengan jelas. Dari samping Otis bisa melihat jelas wajah sedih Nyonya Yolanda. Bagaimanapun caranya dan kemanapun dia membawa Nyonya Yolanda, ternyata wanita itu tetap tidak bahagia. Dia masih kepikiran suaminya. Dia masih memikirkan rumah tangganya dengan Tuan Abraham. Otis yang hanya seorang supir merasa tidak ada harganya.
__ADS_1
"Anda pasti kedinginan. Pakai ini Nyonya." Otis melepas jaket yang ia kenakan lalu menyelimuti tubuh Nyonya Yolanda. Waktu itu Nyonya Yolanda sendiri sudah memakai pakaian tebal. Tapi Otis yakin kalau baju tebal itu tidak cukup menghangatkan tubuh Nyonya Yolanda.
"Aku mau pulang." Nyonya Yolanda memalingkan wajahnya. Sebelum wanita itu menyembunyikan wajahnya Otis bisa melihat buliran air mata yang menetes. Nyonya Yolanda menghapus air mata di pipinya secara diam-diam sebelum memandang Otis lagi dengan senyuman palsu.
"Baiklah nyonya. Saya akan mengantar anda pulang jika anda sudah tidak nyaman lagi di tempat ini. Apa tujuan saya membawa anda ke sini untuk membuat anda Tersenyum. Bukan untuk melihat air mata Anda menetes lagi."
"Terima kasih. Oh pria yang sangat baik. Kau rela repot-repot melakukan sesuatu yang jelas-jelas bukan tugasmu." Nyonya Yolanda memandang seorang pria yang datang menghampiri mereka dengan dua jagung bakar di tangannya. Wanita itu menghela napas panjang lalu memalingkan wajahnya lagi. Otis memandang ke depan. Pria itu mengeluarkan dompet dan mengambil sejumlah uang untuk membayar dua jagung bakar pesanannya.
"Ambil saja kembaliannya," ujar Otis sambil menerima jagung bakar tersebut.
"Terima kasih, Pak," ucap si penjual. Penjual jagung itu segera pergi meninggalkan Otis dan Nyonya Yolanda berduaan di sana.
Nyonya Yolanda memaksa dirinya untuk segera turun. Otis sempat kaget. Untungnya Nyonya Yolanda tidak sampai terjatuh. Wanita itu segera masuk ke dalam mobil sedangkan Otis masih berdiri di depan dengan dua jagung bakar di tangannya.
Nyonya Yolanda menutup wajahnya dengan tangan. Air matanya mengalir deras. Ternyata senyum dan wajah cerianya sejak di restoran tadi hanya ekspresi palsu. Inilah dia yang sebenarnya. Dia merasa sakit hati dan kecewa. Sampai-sampai dia tidak bisa tersenyum lagi sekarang.
Otis masuk ke dalam mobil. Jagung bakar yang sejak tadi ia genggam sudah tidak ada. Entah kemana pria itu membuangnya. Ketika Otis masuk, Nyonya Yolanda segera memalingkan wajahnya. Dia berusaha untuk kembali tegar lalu memang wajah Otis dengan wajah menantang. Wajah angkuh ciri khasnya.
"Nyonya ...."
Nyonya Yolanda memandang Otis lalu mengeryitkan dahinya. Otis merasa kasihan. Wajah wanita itu sungguh memelas. Dia ambil tisu lalu menghapus air mata yang masih tersisa di pipi. Sentuhannya berhenti di sudut bibir Nyonya Yolanda. Lagi-lagi Otis hilang kendali ketika membayangkan sentuhan hangat bibir Nyonya Yolanda kemarin.
Otis mendekatkan wajahnya dengan wajah Nyonya Yolanda. Dia benar-benar sudah lupa batasan. Sebelum bibir itu berhasil mendarat sempurna, tiba-tiba Nyonya Yolanda menarik tubuhnya dan melayangkan tamparan keras di pipi Otis.
__ADS_1
"LANCANG SEKALI KAU OTIS!"