Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Kecurigaan Nyonya Yolanda


__ADS_3

Nyonya Yolanda sudah tiba di rumah sekitar pukul tiga sore. Wanita itu sempat mencari keberadaan suaminya ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah. Biasanya pria bernama Abraham itu selalu menyambutnya setiap kali dia pulang. Kali ini kelihatan berbeda. Tuan Abraham tidak terlihat bahkan mobilnya juga tidak ada.


Nyonya Yolanda memandang Tika yang kini menyambut kedatangannya. Wanita itu seperti sedang mencari keberadaan Otis. Wajahnya tampak kecewa ketika supir yang mengantarkan Nyonya Yolanda bukan Otis. Melainkan pria lain yang Tika sendiri tidak mengenalnya.


"Dimana Tuan?" tanya Nyonya Yolanda kepada Tika. Wanita itu melangkah cepat masuk ke dalam rumah.


"Tuan pergi ke kantor polisi, Nyonya," jawab Tika tanpa berani memandang langsung.


Nyonya Yolanda menahan langkah kakinya. "Kantor polisi?" tanya wanita itu sembari melebarkan kedua matanya. Terlihat jelas kalau sekarang dia sangat mengkhawatirkan suaminya. "Apa yang terjadi? Kenapa Abraham harus pergi ke kantor polisi?" Nyonya Yolanda memandang Tika dengan begitu serius. Berharap wanita di depannya bisa memberikan jawaban yang memuaskan.


"Saya juga tidak tahu, Nyonya. Tadi saya hanya melihat polisi datang ke rumah lalu tidak lama kemudian Tuan juga pergi bersama dengan polisi itu." Tika tidak suka menjawab pertanyaan majikannya seperti ini. Posisinya akan jadi terjebak jika dia sampai salah bicara. Ada banyak sekali mata-mata di rumah yang bisa melaporkannya kapan saja.


Nyonya Yolanda mengambil ponselnya dari dalam tas. Wanita itu tidak akan tenang sebelum tahu kabar dari suaminya. Cepat-cepat dia menekan nomor Tuan Abraham lalu duduk di sofa yang ada di dekat pintu utama. Tidak butuh waktu lama bagi Nyonya Yolanda untuk mendengar suara Tuan Abraham. Dia memandang Tika yang berjalan pergi menuju ke dapur.


"Yolanda, aku harus pergi ke sebuah tempat. Aku juga tidak tahu apa nama daerahnya."


"Ada masalah?" tanya Nyonya Yolanda. Dia khawatir, tetapi tidak mau sampai suaminya tahu.


"Rahmad tewas. Semua bukti ada padaku. Aku akan menemui keluarga Rahmad. Aku harap masalah ini segera berakhir agar kita bisa bertemu. Aku merindukanmu."


Nyonya Yolanda tahu kalau daerah yang di datangi suaminya sama dengan daerah yang kemarin ia kunjungi bersama Otis. Sampai detik ini Otis belum ada kabar. Lalu tiba-tiba saja mereka mendapat kabar buruk kalau Pak Rahmad telah tewas. Hal ini membuat Nyonya Yolanda khawatir.


"Baiklah."


"Jangan kemana-mana. Setelah masalah ini berakhir, aku akan segera pulang."


Panggilan telepon berakhir. Nyonya Yolanda menekan nomor Tesya. Wanita itu ingin tahu kabar terbaru Otis.


"Halo, Nyonya."


"Bagaimana? Apa sudah ada informasi terbaru keberadaan Otis?"

__ADS_1


"Belum, Nyonya. Kami tidak menemukan petunjuk apapun. Otis menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun. Apa dia juga belum anda menghubungi anda, Nyonya?"


"Belum ada." Nyonya Yolanda memejamkan mata sejenak. "Apa ponselnya juga tidak bisa di hubungi sampai sekarang?"


"Kami menemukan ponselnya di pinggir jalan, Nyonya. Sudah dalam keadaan rusak. Tidak jauh dari sana ada jurang."


"Jurang?" Nyonya Yolanda beranjak dari sofa. "Bagaimana bisa ponselnya ditemukan di pinggir jurang? Apa dia dalam bahaya?"


"Nyonya, kami masih melakukan penyelidikan. Secepatnya akan segera saya kabari jika kami berhasil menemukan Otis."


"Baiklah." Nyonya Yolanda menurunkan ponselnya lalu berjalan pergi menuju ke kamar. Tika yang saat itu mengintip secara diam-diam terlihat khawatir. Dia tahu kalau telah terjadi sesuatu terhadap Otis. Ekspresi Nyonya Yolanda sudah menjawab rasa curiganya.


"Kenapa kehidupan orang kaya selalu saja seperti ini? Ini bukan yang pertama kalinya. Beberapa tahun yang lalu juga supir Nyonya Yolanda hilang tanpa kabar. Apa yang sudah terjadi sama Otis? Aku harap dia bisa bertahan dimanapun dia berada saat ini. Aku tidak mau nasip Otis sama seperti supir sebelumnya yang hilang tanpa kabar.


Tika tersentak kaget ketika seseorang menepuk pundaknya. Wanita itu hampir saja menjerit jika saja seseorang itu tidak segera membungkam mulutnya.


"Sampai kapan kau seperti ini, Tika? Berhenti campuri urusan orang lain. Kau ini hanya pekerja di rumah ini!"


Wanita itu mendengus kesal sebelum berdiri di samping Tika. "Aku selalu hadir di rumah ini setiap kali ada masalah yang serius."


"Masalah serius?" Tika memandang wajah Tante Renata tanpa berkedip. "Maksud anda rumah ini dalam masalah besar? Tapi, kenapa? Bukankah masalah utamanya hanya perselingkuhan Tuan Abraham? Kenapa Otis sampai terjebak?"


"Karena dia mengetahui sesuatu. Dia juga memiliki rasa kepada Nyonya Yolanda. Ini larangan yang tidak boleh di langgar!"


Tika berlutut di depan Tante Renata. Wanita itu memegang tangannya dan memohon. "Tolong lepaskan Otis, Tante. Dia pria yang baik. Memang dia tampan. Tapi sekarang saya membela dia bukan karena dia tampan. Dia pria yang baik. Tolong, Tante."


"Tika, kau sudah lupa tugasmu ada di rumah ini apa? Jangan campuran urusanku. Urus saja masalahmu sendiri." Tante Renata pergi meninggalkan Tika sendirian di sana. Dia sama sekali tidak peduli dengan wajah sedih Tika saat itu.


Tika menunduk dengan tangan terkepal kuat. "Tidak! Aku tidak akan membiarkan Otis bernasip sama seperti supir sebelumnya. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus menolong Otis!" gumam Tika di dalam hati.


...***...

__ADS_1


Nyonya Yolanda menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wanita itu masih belum bisa tenang. Bukan mengkhawatirkan keselamatan suaminya justru wanita itu kini mengkhawatirkan keadaan supirnya. Nyonya Yolanda terus menebak-nebak dan mengaitkan kalau hilangnya Otis ada hubungannya dengan Tuan Abraham. Dia tahu bagaimana suaminya. Jika pria itu sampai cemburu apapun bisa ia lakukan.


"Bagaimana kalau Otis sampai celaka. Bagaimana kalau Otis tidak bisa bertahan. Otis dan Rahmad saling kenal. Apa mungkin Abraham membayar seseorang untuk menghabisi mereka berdua karena dia marah? Tapi, ini tidak mungkin. Dari nada bicaranya terdengar jelas kalau dia juga bingung karena sampai terlibat dalam masalah ini. Bagaimana kalau ada orang lain yang sengaja menjebak Abraham untuk mempertanggung jawabkan perbuatan yang dia lakukan? Tapi siapa?"


Suara ketukan pintu membuat Nyonya Yolanda kaget. Wanita itu mengatur posisi duduknya lalu memberi izin untuk masuk.


Tante Renata masuk ke dalam dengan senyum di bibirnya. Nyonya Yolanda memandang Tante Renata sekilas sebelum berdiri.


"Sejak kapan kau datang, Renata? Kau selalu saja datang di saat rumah ini di terpa masalah," sindir Nyonya Yolanda.


"Nyonya, anggap saja ikatan batin kita kuat. Jika anda dalam masalah, saya akan hadir di dekat anda untuk membantu anda," jawabnya dengan santai.


"Duduklah."


"Terima kasih, Nyonya."


Yolanda duduk lebih dulu di sofa. Wanita itu melipat kedua kakinya lalu menatap Tante Renata dengan penuh tanya. "Dimana Otis?"


Tante Renata tertawa kecil. "Bahkan saya tidak pernah mendengar namanya, Nyonya. Tugas saya mengurus rumah ini agar selalu aman. Bukan pencari alamat."


Nyonya Yolanda memalingkan wajahnya. Semua bisa saja terlibat. Tuan Abraham. Tante Renata bahkan Rahmad. Tetapi Nyonya Yolanda tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang harus bertanggung jawab.


"Lalu, apa yang ingin kau sampaikan?"


"Saya mau meminta izin, Nyonya. Saya harus membawa Tika pergi."


"Tika? Kenapa mendadak sekali?" Nyonya Yolanda semakin curiga.


"Karena memang urusannya juga sangat mendadak, Nyonya. Apa boleh saya membawa Tika pergi, Nyonya? Tidak lama. Satu minggu saja. Dia satu-satunya keponakan yang saya miliki."


Nyonya Yolanda mengangguk. Dia juga tidak memiliki alasan untuk tidak mengizinkan Tika keluar dari rumah ini. "Cepat kembalikan Tika ke rumah ini. Saya sangat menyukai cara kerjanya."

__ADS_1


Tante Renata mengukir senyuman penuh arti. "Baik, Nyonya."


__ADS_2