Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Kau Wanitaku


__ADS_3

Otis terbangun ketika teleponnya berdering. Sebenarnya itu udah adalah deringan yang kesekian kalinya. Sejak pertama kali telepon itu berdering, Otis tidak mau membuka matanya karena terlalu lelah. Tertera jelas nama Tika di sana. Selama beberapa hari ini wanita itu tidak ada kabar. Tetapi kini tiba-tiba saja dia menghubungi Otis.


Otis memandang Nyonya Yolanda yang masih tertidur di atas kasur sederhana yang ada di rumah Kek Mun. Ternyata wanita bangsawan bisa juga terlelap jika sudah kelelahan. Tidak peduli di mana ia berbaring.


Otis memandang langit yang sudah gelap. Dari jendela ia bisa melihat sinar lampu yang membiaskan cahaya kekuningan. Pria itu cepat-cepat menutup jendela lalu mengangkat panggilan telepon Tika.


"Halo Tika."


"Tolong aku Otis. Tolong."


"Apa yang terjadi?" Wajah Otis seketika berubah panik.


"Mereka mengambil semuanya. Mereka mengambil uangku bahkan hampir memperkosaku. Sekarang aku kabur dari rumah itu. Aku tidak tahu harus ke mana. Hanya ponsel ini satu-satunya benda berharga yang aku miliki. Ponsel ini juga akan segera habis baterainya. Otis, Aku benar-benar tidak tahu harus ke mana. Bagaimana jika aku sampai tertangkap lagi."


Dari nada bicara Tika terdengar jelas kalau wanita itu memang sangat ketakutan. Otis yang juga khawatir mulai memikirkan cara untuk menyelamatkan Tika. Rasanya ia ingin segera pergi ke sana namun bagaimana dengan Nyonya Yolanda yang sekarang masih tertidur.


"Tika, beritahu aku kau ada di mana. Aku akan menolongmu."


"Aku nggak tahu. Aku akan kirim alamatnya melalui pesan sebelum ponselku mati. Semoga saja baterainya masih bertahan."


Otis segera memutuskan panggilan telepon itu dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia cepat-cepat memakai kemeja putih yang sempat tergeletak di lantai. Gerakannya membuat Nyonya Yolanda terbangun. Wanita itu duduk di atas tempat tidur lalu memandang Otis dengan tatapan penuh arti.


"Ada apa?" tanyanya sambil berusaha berdiri.


"Tika baru saja menghubungiku. Dia dalam bahaya." Otis memandang ponselnya lagi lalu memeriksa alamat tempat wanita itu berada. Setelah mengingat alamat tempat Tika berada Otis kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Kita harus menolongnya. Seseorang ingin memperkosanya."


Nyonya Yolanda melebarkan kedua matanya. Lalu berlari berjalan mendekati Otis. "Ayo sekarang kita harus segera pergi untuk menolongnya."


Otis menggenggam tangannya Nyonya Yolanda dan membawa wanita itu segera pergi menuju ke mobil. Mereka berjalan sedikit berlari agar segera sampai. Kompleks perumahan itu terlihat sunyi ketika langit sudah gelap. Otis bahkan tidak sempat melihat jam di pergelangan tangannya. Setelah tiba di dekat mobil pria itu segera membawa Nyonya Yolanda masuk ke mobil lalu mereka pergi.


Tidak ada yang terjadi. Ketika Nyonya Yolanda menggoda Otis. Otis tetap mempertahankan prinsipnya. Dia tidak mau menyentuh wanita yang belum menjadi miliknya. Mereka tidak boleh melakukan hubungan sebelum pernikahan. Bagaimanapun juga Nyonya Yolanda masih berstatus istri Tuan Abraham. Dia tidak mau mendapat karma atas perbuatan zina yang ia lakukan. Meskipun wanita yang akan ia ajak bercinta sudi untuk melakukannya.


"Apa yang tadi dikatakan oleh Tika?" tanya Nyonya Yolanda dengan wajah yang tidak kalah khawatir dengan Otis.


"Dia bilang mereka merampoknya dan berusaha untuk memperkosanya. Ponselnya hampir mati dan sekarang ia sedang kabur dari rumah itu. Orang-orang jahat itu masih mengejarnya. Sekarang Tika dalam keadaan ketakutan karena dia tidak mau sampai tertangkap lagi," jawab Otis sesuai dengan apa yang ia dengar di telepon tadi.


"Di mana sekarang posisinya berada? Apa sangat jauh dari sini?"


"Kita bisa tiba di sana dalam waktu 15 menit jika jalanan lancar. Yang aku pikirkan, ini sudah malam. Jalanan akan menjadi padat dan itu membuat kita terlambat tiba di sana."


"Apa tidak ada jalan lain?"


"Ada. Tapi akan membuat kita tetap menjadi lebih lama."


Nyonya Yolanda kembali duduk pada posisinya. Wanita itu mengambil ponselnya dari dalam tas. Otis melirik ke arah Nyonya Yolanda sekilas sebelum memandang ke depan lagi.

__ADS_1


"Apa yang ingin anda lakukan?" tanya Otis ingin tahu.


"Aku baru sadar kalau ponselku mati. Tadinya aku sempat berpikir kenapa Tika menghubungimu dan tidak menghubungiku," jawab Nyonya Yolanda dengan wajah polosnya.


"Anda cemburu, Nyonya?" Otis tersenyum puas bisa mengatakan kalimat seperti itu di depan wanitanya.


Pipi Nyonya Yolanda tersipu malu. Wanita itu bahkan memalingkan wajahnya karena tidak mau memandang wajah Otis secara langsung. "Jelas saja aku cemburu. Kau adalah pria yang sangat aku cintai saat ini. Aku tidak mau wanita lain mendekatimu. Apa kau lupa kalau aku sampai seperti ini karena suamiku selingkuh. Aku tidak mau sakit hati lagi dengan masalah yang sama."


Otis menggenggam tangan Nyonya Yolanda lalu mengecupnya dengan lembut. "Kejadian seperti itu tidak akan terjadi lagi. Aku adalah pria yang setia. Aku hanya akan bersama dengan wanitaku sampai akhir hayatku nanti. Wanita secantik dirimu tidak ada duanya. Jika aku sampai selingkuh itu berarti aku tidak memiliki pikiran lagi. Mungkin saat itu aku sedang amnesia."


"Jangan cerita soal perselingkuhan karena hanya dengan mendengarnya saja hatiku sudah terasa teriris perih. Sekarang kita harus fokus kepada Tika. Dia pasti sangat ketakutan karena sekarang langit sudah sangat gelap."


Otis menggangguk lalu menambah laju mobilnya meskipun jalan yang sekarang mereka lewati tidak memungkinkan untuk balapan. Tapi mau bagaimana lagi. Jika kecepatan mobil terus dibawa rata-rata mereka tidak akan tiba tepat waktu. Otis tidak mau sampai terlambat menyelamatkan Tika.


"Maafkan aku, Otis."


Ketika Otis ingin kembali fokus pada laju mobilnya, tiba-tiba saja ia harus kembali memandang wajah Nyonya Yolanda. "Untuk apa?"


Nyonya Yolanda memandang wajah Otis dengan begitu serius. "Karena aku telah menggodamu berulang kali. Aku benar-benar wanita murahan bukan? Entah Seperti apa aku ini di dalam pikiranmu sekarang. Biasanya seorang pria yang menggoda wanitanya agar hal seperti itu bisa sampai terjadi. Tetapi di antara kita justru berbeda. Aku yang lebih agresif. Padahal jelas-jelas aku ini masih berstatus istri Abraham. Dengan murahannya aku menggoda pria lain. Apa seperti ini rasanya sakit hati. Sampai-sampai akal sehat pun tidak ada lagi."


Sekarang Otis benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Dia ingin kembali fokus dengan laju mobilnya agar bisa segera tiba di lokasi tempat kita berada. Namun melihat genangan air mata di wajah Nyonya Yolanda membuat Otis tidak tega. Pria itu ingin memeluknya dan menenangkannya. Meskipun ia tahu perbuatan itu akan mengulur waktu yang lama.


Setelah tiba di jalanan yang sedikit ramai Otis memberhentikan nobilnya di pinggir jalan. Hal itu membuat Nyonya Yolanda bingung. Namun ketika Otis memeluknya dia kembali tenang.


"Terima kasih Otis karena sudah mengerti dengan perasaanku."


Otis mengecup pucuk kepala Nyonya Yolanda lalu mengusap lengan wanita itu dengan lembut. Pria itu berharap dengan sentuhan itu, Nyonya Yolanda bisa jauh lebih tenang. "Apa sekarang kita bisa berangkat lagi. Kita harus tiba di tempat Tika sebelum terlambat."


Nyonya Yolanda segera menarik dirinya dari pelukan Otis dengan wajah kaget. "Maafkan Aku. Hampir saja aku lupa tentang Tika. Pikiranku benar-benar aneh akhir-akhir ini. Tidak bisa lagi fokus pada satu hal saja."


"Aku bisa memakluminya dan anda tidak perlu minta maaf."


Otis kembali melajukan mobilnya dan menambah kecepatannya ketika mereka sudah di tiba jalan yang tidak berlubang lagi. Pria itu kali ini benar-benar fokus dengan laju mobilnya dan tidak mau memandang ke kiri untuk melihat wanitanya.


...***...


Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam akhirnya Otis tiba di lokasi yang tadi sempat dikirimkan oleh Tika. Ternyata lokasinya tidak sesepi yang dipikirkan oleh Nyonya Yolanda dan Otis sebelumnya. Lokasi itu terdapat banyak gedung-gedung yang memang sudah tutup. Namun beberapa masih ada ruko yang buka. Otis Sempat berpikir kenapa Tika tidak minta tolong pada salah satu ruko yang ada. Otis memberhentikan mobilnya di jalanan yang sedikit sunyi. Otis berharap wanita itu mau mengangkat teleponnya.


"Halo Tika. Kau ada di mana?"


"Aku bersembunyi di balik gedung. Mereka berkumpul di dekat mobilmu berhenti. Aku tidak mungkin muncul dan memperlihatkan diriku di depan mereka. Bukan hanya aku saja yang nantinya akan celaka. Tapi kau juga. Tetaplah di dalam mobil dan lakukan sesuatu. Aku akan keluar dari tempat persembunyianku jika mereka sudah pergi dari sana."


Otis memperhatikan keadaan sekitarnya. Tatapan pria itu terhenti ketika dia melihat segerombolan pria bersepeda motor yang duduk di pinggiran jalan tidak jauh dari mobilnya berhenti. Otis merasa sanggup untuk menghadapi mereka semua sendirian. Namun hal yang membuatnya bingung saat ini adalah Nyonya Yolanda. Otis tidak mau sampai wanitanya celaka.


"Ada apa Otis. Di mana Tika. Kenapa dia tidak muncul?" tanya Nyonya Yolanda bingung.

__ADS_1


"Pria-pria itu adalah orang yang ingin menangkap Tika. Sekarang Tika bersembunyi tidak jauh dari posisi kita berada. Namun dia tidak berani masuk ke dalam mobil karena takut ketahuan oleh mereka."


"Telepon polisi saja. Kenapa kau harus bingung seperti ini," jawab Nyonya Yolanda dengan ekspresi tenang.


"Karena saya juga tidak tahu masalah yang terjadi itu masalah apa. Jika memang bisa menghubungi polisi, kenapa sejak tadi Tika tidak melakukannya?"


"Tapi kita tidak bisa duduk diam di dalam mobil seperti ini. Bagaimana jika pria-pria itu menyadari kalau kita sedang mengawasi mereka. Bagaimana kalau nanti mereka mendatangi kita dan berniat untuk mencelakai kita? Bukankah itu akan jadi lebih berbahaya."


"Selama masih ada aku di sini semua akan baik-baik saja. Anda tenang saja. Saya janji anda akan aman." Otis memperhatikan kios kecil yang menjual kopi panas.


"Aku mau beli kopi di kios sana. Selama aku keluar jangan pernah turun dari mobil dan jangan buka mobil untuk siapapun. Apa Anda mengerti, Yolanda?"


"Aku tidak mau ditinggal sendirian. Aku takut," jawab Nyonya Yolanda cepat. Bahkan Wanita itu sudah memegang lengan Otis agar tidak keluar meninggalkannya.


"Semua akan baik-baik saja. Saya tidak mungkin membawa anda keluar. Itu sangat beresiko."


"Kenapa harus beli kopi di saat seperti ini. Setelah keadaan aman, aku akan membawamu ke cafe yang menjual kopi terenak yang ada di Indonesia. Aku janji."


Otis memijat dahinya sendiri. Sebenarnya tujuannya bukan membeli kopi tapi mencari keberadaan Tika. Dia harus bertemu langsung dengan Tika.


"Baiklah saya akan duduk di sini dan tidak jadi minum kopi," jawab Otis pasrah dan itu membuat Nyonya Yolanda tersenyum manis. Wanita itu justru bergelayut manja di lengan Otis sambil memejamkan mata.


"Aku lapar," lirih Nyonya Yolanda.


Otis menghela napas panjang. "Maafkan saya. Saya sampai lupa kalau kita belum makan malam."


Otis dan Nyonya Yolanda dibuat kaget ketika segerombolan pria itu memandang ke arah mobil mereka. Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kaca mobil dengan begitu kuat. Seseorang itu adalah Tika.


Otis segera membuka kunci mobil agar Tika bisa masuk ke dalam.


Bersama dengan itu segerombolan pria di depan sana berlari menuju ke arah mobil Otis.


"Jalan. Cepat jalan. Jalan sekencang mungkin," teriak Tika panik.


Tanpa pikir-pikir lagi Otis segera melajukan mobilnya. Beberapa pria yang sempat menghalangi ia tabrak begitu saja. Nyonya Yolanda berteriak histeris melihat kejadian itu.


Tika memandang ke depan. Wanita itu juga sempat kaget ketika tahu kalau Nyonya Yolanda juga ada di dalam mobil bersama dengan Otis. Tadinya dia pikir Otis akan menjemputnya sendirian. Tetapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk memikirkan rasa sakit hati dan cemburu. Tika ingin berada di tempat yang aman.


"Pegangan!" perintah Otis. Sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sekali. Pria itu melihat sepeda motor yang mengejarnya di belakang sana.


"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Nyonya Yolanda sambil berpegangan. "Kita pergi saja ke kantor polisi. Mereka pasti tidak akan berani jika kita ada di sana."


"Jangan," tolak Tika. "Lebih baik kita pulang saja. Kantor Polisi tidak akan bisa menolong kita untuk masalah kali ini."


Otis yang tidak tahu harus bagaimana hanya fokus dengan melaju mobilnya saja. Jika memang pada akhirnya ia harus terkepung, pria itu akan menghadapinya sendirian.

__ADS_1


__ADS_2