
Langkah Otis terhenti ketika ia berpapasan dengan Nyonya Yolanda. Wanita itu menatapnya sejenak sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sepertinya ia sakit hati dengan Otis. Terlihat jelas kalau dia sangat kecewa sampai-sampai tidak mau berbicara lagi. Meskipun ada rasa khawatir di dalam hatinya ketika melihat darah segar di sudut bibir Otis.
"Anda baik-baik saja, Nyonya?" tanya Otis dengan lembut.
"Tidak. Setelah kau menyakitiku hatiku tidak baik-baik lagi. Ternyata kau sama saja seperti Abraham. Untuk apa kau menolak untuk berhubungan denganku jika pada akhirnya kau tidur dengan Tika. Kau pria yang sangat munafik Otis. Sampai detik ini aku masih tidak percaya kalau kau seperti itu. Kau telah menyakiti hatiku begitu parah. Tadinya aku percaya kalau tidak semua pria itu berkhianat. Masih ada seorang pria yang hanya cukup dengan satu wanita saja. Tetapi Kau menghancurkan segalanya. Sekarang Aku sudah tidak percaya lagi dengan seorang pria. Siapapun itu. Tidak kau tidak juga Abraham. Kalian telah menyakiti hatiku dengan sangat parah."
"Jika anda benar-benar mencintaiku seharusnya anda tahu apa alasanku melakukan semua ini. Anggap saja kita memang tidak pernah berjodoh. Kembalilah kepada suami Anda. Jalani hidup Anda seperti dulu lagi. Hanya itu keputusan yang terbaik untuk kita berdua." Otis tahu kalimatnya sangat menyakiti Nyonya Yolanda. Tetapi apa lagi yang bisa dikatakan oleh Otis.
"Jika sejak awal kau memutuskan untuk berpisah untuk apa kau bersikap baik kepadaku. Biarkan saja aku mati setelah aku tahu suamiku selingkuh. Untuk apa kau memberiku harapan yang begitu indah. Kau sudah menjanjikan kehidupan yang begitu manis kepadaku Otis. Apa kau lupa itu?" Nyonya Yolanda memandang Otis dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu masih belum siap untuk berpisah dari Otis.
"Maafkan saya, Nyonya. Maaf." Otis menunduk.
Nyonya Yolanda menghapus air mata yang menetes di pipinya lalu masuk ke dalam ruang kerja Tuan Abraham. Entah apa yang ingin dilakukan oleh wanita itu di dalam sana. Otis ingin mencari tahu. Namun dia sadar sekarang di antara mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Otis harus mempercayakan kebahagiaannya Nyonya Yolanda kepada Tuan Abraham.
Dari ujung lorong Otis melihat Tika berjalan sambil menyeret koper. Tanpa pikir panjang pria itu segera mengejar jika untuk mencegah wanita itu pergi.
"Tika, berhentilah." Otis Memegang tangan Tika lalu menarik wanita itu agar menatap wajahnya. "Apa yang ingin kau lakukan. Kau akan pergi ke mana?"
"Nyonya Yolanda tadi memintaku untuk menemuinya. Aku sudah ceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Nyonya Yolanda. Tetapi wanita itu tetap saja tidak mempercayaiku. Dia memintaku untuk pergi dari rumah ini. Aku ini hanya seorang pekerja Otis. Apa kuasa ku untuk bertahan di rumah ini jika sang majikan saja sudah tidak membutuhkan tenagaku lagi."
"Tapi kau mau pergi ke mana. Bahkan kau tidak memiliki uang sama sekali. Apa lagi tempat tinggal. Apa kau mau menjadi gelandangan di luar sana?"
"Aku juga tidak tahu Otis harus ke mana
Jangan tanya lagi. Saat ini aku benar-benar pusing." Tika menangis. "Ini resiko yang harus aku terima, Otis. Bukankah lebih baik menjadi gelandangan daripada harus menjadi tahanan. Setidaknya aku masih memiliki kebebasan."
"Tenanglah. Jangan menangis lagi. Aku tahu kau harus pergi ke mana. Tinggallah di kampungku. Di sana ada rumah peninggalan orang tuaku yang tidak terurus lagi. Aku akan memberi nomor telepon tetanggaku. Kau bisa menemuinya. Dia bernama Lula. Orangnya sangat baik. Dia pasti akan membantumu untuk sampai tiba di sana dengan selamat." Otis mengambil dompetnya dari dalam saku dan mengambil seluruh uang yang ia miliki di dalam sana lalu memberikannya kepada Tika. "Hanya ini yang aku punya. Gunakan uang ini dengan sebaik mungkin. Hati-hati selalu dan tetap waspada. Jangan sampai kejadian yang sama terulang kembali. Jika kau sudah tiba di rumahku, kabari aku segera. Begitu juga jika kau mengalami kesulitan. Cepat hubungi aku agar aku segera menemuimu untuk menolongmu." Otis terlihat sangat khawatir ketika ingin melepas Tika untuk pergi. "Ini nomor teleponnya. Lula namanya." Otis memberikan nomor telepon itu kepada Tika.
Melihat kebaikan Otis yang tidak ada habisnya membuat Tika semakin ingin menangis. "Terima kasih Otis. Terima kasih. Maafkan aku karena sudah melibatkanmu dalam masalah yang terjadi dalam hidupku. Aku sangat menyesal."
"Jangan menangis lagi. Ini sudah menjadi takdir hidup kita. Kau wanita yang baik Tika. Aku tidak pernah salah menilai orang. Kita juga harus menghadapi kenyataan hidup meskipun rasanya begitu pahit." Otis menarik Tika ke dalam pelukannya lalu mengusap punggung wanita itu dengan lembut. Dia berharap perlakuan sederhana itu bisa membuat Tika kembali tenang.
Dari kejauhan Nyonya Yolanda dan Tuan Abraham sama-sama keluar dari ruang kerja. Lagi-lagi Mereka melihat pemandangan yang sangat tidak disangka-sangka. Nyonya Yolanda terlihat sedih namun wanita itu segera pergi. Sedangkan Tuan Abraham justru tersenyum lalu mengejar Nyonya Yolanda dari belakang.
Tika melepas pelukan Otis sebelum menatap pria itu dalam-dalam. "Aku tahu kau juga tidak tenang di sini. Mungkin kau akan menghadapi masalah yang jauh lebih berat daripada masalah yang aku hadapi. Aku tidak bisa membantu apa-apa. Aku hanya bisa memberimu satu trik agar bisa bertahan lama di rumah ini. Setidaknya kalaupun kau diusir dari rumah ini kau tetap dalam keadaan hidup."
"Sebuah trik?" Otis mengeryitkan dahinya.
__ADS_1
"Sebenarnya Tuan Abraham adalah pria yang sangat baik. Sering sekali orang-orang yang ada di dekatnya mengecewakannya. Tetapi sebenarnya dia pria yang sangat pemaaf. Berbeda dengan Nyonya Yolanda. Jika sudah disakiti wanita itu sulit sekali untuk memaafkan. Jika kau sudah memutuskan untuk mengakhiri hubunganmu dengan Nyonya Yolanda, tunjukkan di depan Tuan Abraham Kalau kau benar-benar ingin memperbaiki diri. Bantu Tuan Abraham untuk membina rumah tangganya kembali. Dengan begitu kau akan mendapat kepercayaan lagi dari Tuan Abraham. Kau akan diterima di rumah ini dan bisa tidur dengan tenang," ucap Tika dengan begitu serius.
"Tapi aku tidak akan bisa melakukan apa yang baru saja kau katakan. Itu berat bagiku," ucap Otis tidak yakin.
"Itu hanya trik sederhana yang aku pikirkan. Mau digunakan atau tidak Itu terserah padamu yang penting aku sudah memberi masukan. Aku harus segera pergi. Setelah tiba di sana Aku akan segera menghubungimu. Terima kasih karena sudah mau menjadi temanku." Tika memasukkan uang yang diberikan Otis ke dalam tas.
Otis tersenyum lalu menepuk pundak Tika dengan pelan. "Jaga dirimu baik-baik."
Tika menggangguk lalu menarik kopernya lagi untuk pergi dari sana. Sedangkan Otis masih berdiri sambil memandang punggung Tika yang semakin menjauh. Pria itu sendiri tidak tahu sekarang harus bagaimana. Tugasnya memang masih sebagai sopir. Tetapi Otis tidak yakin kalau Tuan Abraham akan membiarkannya menjadi sopir pribadi Nyonya Yolanda lagi.
"Otis, Tuan Abraham memanggilmu."
Tiba-tiba seseorang menyapa Otis dari belakang. Otis memandang Tika yang sudah menghilang lalu memandang pria yang tadi memanggilnya.
"Tuan Abraham sudah menunggumu di depan."
"Baiklah." Otis segera melangkah menuju ke pintu utama. Pria itu sendiri bertanya-tanya di dalam hati sebenarnya Tuan Abraham ingin memanggilnya karena ingin mengatakan apa. Bukankah Obrolan mereka di ruang kerja sudah cukup jelas.
Di depan rumah, Tuan Abraham telah berdiri dengan setelan yang telah rapi. Di samping pria itu telah ada Nyonya Yolanda yang kini berpenampilan sangat cantik. Melihat kemunculan Otis membuat Tuan Abraham tersenyum.
Nyonya Yolanda menatap wajah Otis sekilas sebelum menggandeng Tuan Abraham. Mereka berdua sama-sama melangkah menuju ke dalam mobil. Otis menghela nafas kasar sebelum berjalan mendekati mobil.
"Well, sekali supir selamanya akan tetap menjadi supir," gumam Otis di dalam hati.
...***...
Otis melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Belum juga jauh mereka meninggalkan rumah Otis sudah dikagetkan dengan adanya kecelakaan di sana. Sebuah taksi menabrak pohon besar. Kondisinya begitu mengerikan. Tidak bisa dibayangkan seperti apa keadaan penumpang di dalam sana. Warga sekitar sudah berkumpul dan jumlahnya semakin ramai. Mereka berbondong-bondong ingin menolong korban.
Otis tetap melajukan mobilnya karena memang tidak ada yang menghalangi jalan mereka. Namun pria itu tiba-tiba saja mengerem mobilnya ketika melihat wajah Tika duduk di jok penumpang.
"Tika?" celetuknya.
"Jalan Otis! Kenapa kau berhenti!" sahut Nyonya Yolanda geram.
"Nyonya, wanita yang ada di dalam taksi itu adalah Tika. Saya harus segera menolongnya."
Tuan Abraham memandang ke samping. Pria itu juga melihat Tika duduk di belakang sana. Warga sekitar berusaha untuk mengeluarkan Tika dari dalam mobil. Bahkan Tuan Abraham juga merasa kasihan dan setuju dengan keputusan Otis untuk menolong Tika dan membawa wanita itu ke rumah sakit. Bagaimanapun juga Tika pernah bekerja di rumahnya dan memberikan banyak jasa di sana.
__ADS_1
Namun pemikiran itu tidak sama dengan Nyonya Yolanda. Meskipun ia jelas-jelas melihat Tika ada di dalam kecelakaan tersebut. Namun hatinya tidak tergerak untuk menolong.
"Cepat jalan. Aku tidak peduli lagi dengannya. Bagaimanapun keadaannya, bukan lagi menjadi urusanku karena dia bukan lagi pekerja di rumahku," sahut Nyonya Yolanda.
"Maafkan saya, Nyonya. Tetapi saya tetap akan menolong Tika," bantah Otis. Pria itu segera keluar dari mobil dan berlari menuju ke arah taksi yang kecelakaan.
Nyonya Yolanda terlihat sangat kesal. Tuan Abraham memegang tangan wanita itu lalu mengusapnya dengan lembut. "Apa kau takut terlambat? Aku bisa menjadi supir dalam perjalanan kita kali ini?"
"Tidak. Aku ingin Otis yang menjadi sopirnya. Mobil ini tidak akan boleh jalan sebelum Otis duduk di kursinya," jawab Nyonya Yolanda masih dengan wajah yang kesal.
Otis dibantu oleh warga sekitar menarik tubuh Tika yang terjepit di dalam taksi. Pria itu benar-benar kaget. Keadaan Tika sangat mengenaskan. Setelah berhasil mengeluarkan Tika dari dalam taksi, Otis segera meletakkannya di atas rumput. Seorang warga sudah menghubungi ambulans dan kini ambulans tersebut masih dalam perjalanan. Otis menepuk-nepu pipi Tika berharap wanita itu masih mendengarnya.
"Tika bangunlah. Ini aku Otis. Apa kau masih bisa mendengar suaraku?"
Tika membuka matanya secara perlahan. Otis tersenyum lega melihatnya. "Tika, kau akan selamat. Aku akan segera membawamu ke rumah sakit."
"Aku tidak bisa merasakan sekujur tubuhku Otis. Tubuhku terasa sangat lemah. Aku sudah tidak kuat lagi. Sepertinya inilah akhir dari hayatku. Terima kasih karena kau sudah mau mengenalku sebagai Tika yang baik. Tetap ingat aku sebagai Tika yang baik sampai kapanpun itu."
"Apa yang kau bicarakan. Kau akan selamat karena sebentar lagi ambulans akan datang dan membawamu ke rumah sakit," jawab Otis.
"Maafkan kesalahan yang pernah ku perbuat." Tika memejamkan matanya secara perlahan. Darah segar keluar dari telinga dan hidung wanita itu. Otis semakin panik. Dia memegang tangan Tika dan mengusapnya berharap wanita itu mau bangun lagi. Namun tidak ada respon yang terlihat.
"Tika bangunlah. Aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit." Mata Otis terlihat berkaca-kaca. Pria itu tidak sanggup melihat Tika tewas dengan cara mengenaskan seperti ini.
"Bangun Tika, aku mohon."
Dari dalam mobil Nyonya Yolanda juga menangis namun wanita itu bukan menangisi Tika yang kini sudah tiada di dunia ini melainkan menangisi Otis yang terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Tika. Tuan Abraham merasa senang karena tanpa dia rencanakan pemandangan seperti itu sudah tersaji di hadapannya. Pria itu berharap istrinya akan segera membuka mata dan hatinya. Tidak lagi berharap dan tidak lagi mencintai Otis.
"Sepertinya mereka sudah lama menjalin hubungan. Lihat saja wajahnya yang begitu khawatir. Bahkan Otis sampai menangisi wanita itu," ucap Tuan Abraham. Dia berharap kalimatnya bisa membuat Nyonya Yolanda semakin panas dan membenci Otis.
"Bawa aku pergi dari sini sekarang," pinta Nyonya Yolanda tanpa memandang. Tuan Abraham tersenyum simpul mendengarnya.
"Baiklah sayang. Sebagai suami aku akan mengantarmu kemanapun kau ingin pergi. Tapi bisakah kau pindah ke kursi depan. Jangan memperlakukanku layaknya seorang supir."
Tanpa banyak protes lagi Nyonya Yolanda turun dari mobil dan duduk di bangku depan. Tuan Abraham tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia segera duduk di balik kemudi lalu melajukan mobilnya untuk meninggalkan Otis yang masih menangisi kepergian Tika di sana.
"Aku tahu prosesnya akan berjalan dengan sulit tapi aku yakin aku bisa memenangkan hati Istriku lagi," gumam Tuan Abraham di dalam hati dengan penuh percaya diri.
__ADS_1