Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Dimana Otis?


__ADS_3

Rumah megah dan mewah itu terlihat sangat tenang. Semua orang kembali berduka ketika mereka mendapat informasi kalau Otis telah tiada. Otis dikabarkan meninggal karena kecelakaan setelah mengantarkan Tuan Abraham. Kecelakaan yang dialami Otis jauh lebih tragis daripada kecelakaan yang dialami oleh Tika. Pasalnya mobil Otis saja yang ditemukan sedangkan jasad Otis tidak berhasil ditemukan karena tenggelam di dalam laut.


Mobil yang dikemudikan Otis jatuh ke jurang yang saat itu berhadapan langsung dengan lautan lepas. Polisi sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan jasad pria itu namun mereka tidak berhasil hingga akhirnya pencarian di akhiri pada hari kelima.


Kini semua orang semakin ketat dalam bekerja. Bukan karena mereka takut dipecat. Melainkan mereka takut mendapat bahaya seperti yang dialami oleh Tika dan Otis. Pekerjaan yang dulunya terasa sangat nyaman dan aman kini terasa begitu menakutkan.


Mereka tidak hanya takut dengan Nyonya Yolanda melainkan dengan Tuan Abraham. Sepasang suami istri itu benar-benar tidak tertebak karakternya. Masing-masing dari mereka memiliki sisi positif dan negatif yang sulit untuk dibedakan.


Tuan Abraham berhasil membuat sidang perceraian gagal. Kini pria itu masih menyandang status sebagai suami Nyonya Yolanda. Ia benar-benar menutup akses Nyonya Yolanda terhadap dunia luar. Bahkan alat komunikasi apapun ditahan oleh Tuan Abraham agar Nyonya Yolanda tidak bisa mendapat pertolongan dari luar. Tuan Abraham mengurung Nyonya Yolanda di rumah layaknya seorang sandera. Pria itu berubah menjadi gila karena ia takut kehilangan istri yang sangat ia cintai. Belum lagi rasa bersalah yang sampai detik ini masih mengganggu pikirannya karena ia sudah nekat untuk menembak Otis.


Sejujurnya Sampai detik ini juga Tuan Abraham tidak tahu bagaimana kabar Otis. Karena panik, Tuan Abraham meminta pria yang sudah menembak Otis untuk membawanya ke rumah sakit. Dengan uang yang dimiliki oleh Tuan Abraham masalah ini bisa ditutup rapat dari kepolisian. Otis di kabarkan masih bernyawa saat berangkat ke rumah sakit. Pria itu masuk ke dalam ruang operasi.


Setelah itu, Tuan Abraham tidak mendapat kabar apapun dari pihak rumah sakit. Hingga tiba-tiba saja Tuan Abraham sudah mendengar berita kalau Otis kabur dari rumah sakit. Sebenarnya hal itu membuat Tuan Abraham bertanya-tanya. Tidak mungkin Otis kabur dari rumah sakit dalam keadaan kritis seperti itu. Ia sangat yakin kalau ada seseorang yang dengan sengaja membawa Otis pergi meninggalkan rumah sakit. Namun Tuan Abraham tidak mau ambil pusing. Bagi pria itu sekarang yang terpenting Nyonya Yolanda masih ada di sisinya. Melayaninya layaknya seorang istri dan menemaninya layaknya seorang pendamping hidup.


Berbeda dengan Nyonya Yolanda saat ini. Ketika Nyonya Yolanda mendengar langsung kabar kematian Otis. Kini wanita itu seperti manusia tidak bernyawa. Dia tidak berselera melakukan hal apapun termasuk makan dan minum. Bahkan sejak mendengar kabar kematian Otis wanita itu tidak lagi memiliki keinginan untuk hidup. Nyonya Yolanda bisa keluar dari dalam kamarnya namun wanita itu tidak tertarik lagi untuk keluar kamar.

__ADS_1


Terakhir kali yang ia lakukan setelah keluar kamar Ia datang ke kamar Otis yang terlihat sangat berantakan. Wanita itu sangat merindukan Otis. Aroma tubuh Otis masih tercium jelas di sana. Namun sayangnya sekarang Nyonya Yolanda tidak bisa melihat pria itu lagi bahkan untuk selama-lamanya.


Nyonya Yolanda terus saja menyalakan Tuan Abraham ketika dia mendengar kematian Otis. Namun apa yang bisa ia lakukan karena kini nasi sudah menjadi bubur. Tesya yang seharusnya menjadi pelindungnya juga sudah tiada. Nyonya Yolanda sekarang tidak memiliki pegangan apapun untuk berdiri dan melangkah.


Sehari dua hari wanita itu menangisi kepergian Otis. Namun setelahnya wanita itu menjadi bisu. Bahkan tuli. Siapapun yang mengajaknya bicara dia tidak peduli. Bahkan ketika Tuan Abraham memaksanya untuk bersetubuh Nyonya Yolanda seperti patung yang tidak memiliki perasaan apapun. Tidak berontak tidak juga menolak.


Siang itu Nyonya Yolanda berdiri di tepian balkon yang ada di dalam kamarnya. Dia menatap ke lantai bawah dengan tatapan kosong. Beberapa pelayan yang melihat keberadaan Nyonya Yolanda berteriak histeris. Mereka berpikir kalau Nyonya Yolanda ingin bunuh diri. Pengawal sudah berlari menuju ke kamar untuk menyelamatkan Nyonya Yolanda. Namun belum juga para pengawal tiba di kamar, Nyonya Yolanda sudah berbalik badan dan masuk ke dalam. Dia tahu kalau orang-orang di bawah sana sedang mengkhawatirkannya.


Nyonya Yolanda duduk di sebuah sofa lalu memandang ke arah pintu. Wanita itu terus saja berharap kalau Otis yang muncul di sana. Bukan pengawal-pengawal yang selama ini ingin melindunginya.


Kali ini Nyonya Yolanda memiliki pemikiran untuk mengunci pintu kamar. Jelas saja hal itu membuat panik orang satu rumah. Terdengar suara ketukan pintu yang berulang kali di depan sana. Teriakan Tuan Abraham. Mereka berpikir kalau kini Nyonya Yolanda sedang berusaha untuk bunuh diri. Nyonya Yolanda mengambil majalah yang ada di bawah meja lalu membacanya. Karena tidak tertarik wanita itu melempar majalah yang tadi sempat ia genggam ke lantai bersamaan dengan itu pintu terbuka lebar karena didobrak beramai-ramai. Tuan Abraham berlari menghampiri Nyonya Yolanda dengan wajah yang sangat khawatir.


Para pengawal yang ada di sana memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar. Mereka tidak mau menjadi pengganggu ketika Tuan Abraham ingin bicara dengan Nyonya Yolanda.


"Aku tidak akan pernah baik-baik saja sebelum kita bercerai," ucap Nyonya Yolanda tanpa memandang. Kali ini wanita itu mau berbicara namun kalimat yang ia ucapkan sungguh menusuk hati Tuan Abraham.

__ADS_1


"Tidak! Kau pasti tahu jawabannya. Akan selalu tidak. Aku tidak akan pernah mau menceraikanmu. Kau selamanya harus menjadi istriku," jawab Tuan Abraham.


"Terserah kau saja. Sampai kapan kau menahanku seperti ini? Karena selama apapun itu, perasaanku kepadamu tetap tidak akan berubah. Rasa cinta itu sudah tiada selamanya. Aku tidak akan bisa menjadi Yolanda yang seperti dulu. Yolanda yang dulu saat pertama kali kau kenal. Sudah tidak ada rasa cinta di dalam hatiku untukmu. Hanya ada nama Otis di dalam hati ini."


"Tapi pria itu sudah tiada! Apa kau masih mau mencintai pria yang sudah mati!" teriak Tuan Abraham dengan penuh emosi. Lagi-lagi dia cemburu dengan pria yang sudah tidak bisa berdiri di hadapannya.


"Aku tahu kalau semua ini adalah rencanamu. Perasaanku berkata kalau Otis tidak mungkin akan mati. Dia pasti masih hidup. Dia pasti sedang menyusun rencana untuk menjemputku dari neraka ini. Aku bertahan sampai sekarang karena aku sedang menunggunya. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya lagi dan pergi bersama dengannya." Tuan Abraham semakin emosi dibuat Nyonya Yolanda. Namun pria itu juga tidak tega melukai Nyonya Yolanda. Hingga akhirnya Ia memilih untuk diam dan mengontrol emosinya agar kembali tenang.


"Tapi kau juga tidak akan bisa bersatu dengan pria itu karena sekarang kalian sudah beda alam." Tuan Abraham berusaha menyadarkan Nyonya Yolanda.


"Itu jauh lebih baik daripada aku harus menyandang status sebagai istrimu," sahut Nyonya Yolanda.


Tuan Abraham mengepal kuat tangannya. Dia memandang ke arah jendela. Sebenarnya dia belum siap untuk mengatakan kalimat ini. Tapi mau sampai kapan lagi ia menahan Nyonya Yolanda. Bisa-bisa Nyonya Yolanda beneran mati bunuh diri.


"Baiklah. Jika memang ini yang kau inginkan. Aku akan menceraikanmu Yolanda. Aku juga tidak bisa melihatmu tersiksa seperti ini. Tubuhmu kurus dan wajahmu tidak terawat lagi. Aku tidak mau kau menderita karena ulahku. Tapi ada satu syarat yang harus kau lakukan sebelum kita benar-benar berpisah sebagai suami istri. Aku ingin melihatmu sebagai Yolanda yang dulu pertama kali aku kenal. Kembalilah menjadi Yolanda yang dulu. Wanita ceria yang selalu tersenyum. Aku mohon."

__ADS_1


Nyonya Yolanda hanya diam saja mendengar perkataan Tuan Abraham. Tidak terlihat aura senang tidak juga terlihat kesedihan di wajahnya. Lagi-lagi pikiran wanita itu hanya dipenuhi dengan nama Otis. Dia ingin Otis datang untuk menemuinya dan memeluknya seperti dulu lagi.


"Aku tidak akan tinggal diam Abraham. Jika saja aku tahu kalau kecelakaan yang dialami Otis ada campur tangan darimu. Maka Aku pastikan kalau kau akan mendekam di penjara seumur hidupmu," gumam Nyonya Yolanda di dalam hati dengan penuh dendam.


__ADS_2