
Otis tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara yang berasal dari sebuah laptop. Ternyata pria yang bersama dengannya itu sudah memeriksa flashdisk yang ia temukan. Ada beberapa rekaman yang diputar pria itu secara acak. Ketika melihat rekaman itu tidak penting pria itu segera menggantinya dengan rekaman yang lain.
"Flashdisk ini berisi video tidak penting. Aku tidak tahu kenapa wanita itu menyimpan video tidak penting seperti ini di dalam sebuah flash disk. Tadinya aku pikir akan mendapatkan informasi penting dari sini," ucap pria itu dengan wajah kecewa. Karena apa yang ia dapatkan tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Mungkin tersimpan di flashdisk lainnya. Anda baru memeriksanya satu," kata Otis. Pria itu memberikan ponsel tersebut kepada pemiliknya. "Apa aku sudah boleh pergi dari sini?" tanya Otis.
"Sebenarnya sejak tadi kau sudah tidak dibutuhkan lagi. Kau boleh pergi kapan saja," jawab pria itu tanpa memandang Otis. Dia masih sibuk memeriksa satu persatu flashdisk yang ia temukan di dalam kotak.
Otis menggangguk mendengar jawaban pria itu. Sungguh tidak ramah namun Otis tidak bisa protes. Ketika ingin turun dari mobil, Otis berhenti lagi karena mendengar obrolan dari suara yang sangat tidak asing di telinganya.
"Aku mencintaimu. Sangat-sangat Mencintaimu. Aku tidak akan meninggalkanmu Yolanda."
Suara itu milik Tuan Abraham. Dia sedang membujuk Nyonya Yolanda yang sedang marah karena akan sesuatu. Otis melirik ke arah layar laptop untuk melihat rekaman yang ada di dalam sana. Terlihat jelas kalau Tuan Abraham dan Nyonya Yolanda sedang bulan madu. Mereka masih sangat muda dan momennya seperti sedang bulan madu.
__ADS_1
"Apa kau ingin melihat videonya sampai habis?" tawar pria itu sambil tersenyum.
"Kenapa video seperti ini harus di simpan? Apa tujuan dia sebenarnya?" Otis mengeryitkan dahinya. Kali ini Otis semakin penasaran dengan seseorang yang menjadi target mereka.
"Aku juga belum mendapatkan jawabannya. Tapi Dari video ini kita bisa tahu kalau Renata selalu mengikuti Nyonya Yolanda dan Tuan Abraham. Bukankah video ini diambil secara diam-diam? Tidak dari cctv seperti video sebelumnya. Dia sengaja merekam kegiatan mereka untuk dikirimkan kepada seseorang. Aku menjadi sangat penasaran. Sebenarnya siapa dalang dari semua ini."
Pria itu mengganti flashdisk-nya dengan flash disk yang lain. Sedangkan Otis lagi-lagi mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil. Tiba-tiba saja Otis tergelitik untuk melihat semua isi flashdisk yang mereka temukan di dalam kotak yang ada di dalam kamar Tante Renata.
"Ini adalah flashdisk terakhir. Jika isinya video tidak penting lagi, dari mana kita harus mencari petunjuk?" ujar pria itu sebelum mencolokkan flashdisk-nya ke laptop. Wajah pria itu terlihat berseri ketika melihat isi di dalam flashdisk tersebut tidak lagi berisi video-video tidak penting seperti sebelumnya. Di dalam flashdisk itu terlihat beberapa dokumen yang membuat pria itu sangat tertarik untuk membacanya satu persatu.
Otis mengangkat kedua bahunya. "Aku orang baru di rumah itu. Tetapi dari pengalamanku selama ini Aku tidak pernah mendengar nama wanita bernama Zurairah. Apa wanita itu berhubungan dengan masalah yang terjadi?"
"Kita tidak bisa asal menuduh tanpa bukti." Pria itu membuka dokumen lainnya. Namun isinya rata-rata sama. Peralihan ahli waris kepada wanita bernama Zurairah. "Bukankah seharusnya kedua orang tua Nyonya Yolanda mewariskan hartanya kepada Nyonya Yolanda? Ini kenapa mewariskannya kepada wanita lain? Sebenarnya sepenting apa wanita bernama Zurairah ini di dalam keluarga Nyonya Yolanda?"
__ADS_1
"Sepertinya kita harus bertemu dengan Nyonya Yolanda dan menanyakannya langsung sebenarnya siapa wanita ini."
"Jangan. Dilihat dari foto-foto yang ada di dalam flashdisk ini kelihatannya wanita ini sangat dekat dengan keluarga Nyonya Yolanda. Itu berarti dia juga sangat dekat dengan Nyonya Yolanda. Kita tidak bisa menuduh tanpa bukti. Ini hanya akan membuat musuh kita bergerak lebih cepat lagi."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
"Bekerja sama dengan Tuan Abraham. Sepertinya jika berhubungan dengan keselamatan Nyonya Yolanda dia akan setuju," ujar pria itu tanpa beban.
"Kenapa harus Tuan Abraham?"
"Karena dia yang sudah lama kenal dengan keluarga Nyonya Yolanda."
"Dia tidak akan mau," jawab Otis dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Dia pasti mau," ucap pria itu mantap. "Cobalah. Aku yakin dia mau bekerja sama dengan kita. Semua demi Nyonya Yolanda."
Otis menghela napas panjang. "Baiklah. Akan aku coba."