Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Orang Baik


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu.


Otis hampir saja mati menggigil ketika kakinya sudah tidak mampu untuk melangkah lagi. Pria itu terjatuh di atas tumpukan salju yang begitu dingin. Sekujur tubuhnya sudah memutih. Di detik terakhir sebelum dia memejamkan mata, tiba-tiba seseorang datang dan memberinya selimut yang sangat tebal. Seseorang itu juga memberi Otis minuman hangat yang disimpan di dalam sebuah botol berbentuk termos. Tanpa melihat wajah orang yang sudah menolongnya, Otis segera meminum minuman hangat tersebut. Dia juga tidak mau sampai mati kedinginan.


"Bagaimana kalau minuman itu ada racunnya? Kenapa kau tidak bertanya dulu sebelum meneguknya," ucap seseorang tersebut hingga membuat Otis memandang wajahnya.


"Jika kau ingin membunuhku, seharusnya kau tidak memberi minuman dan selimut ini. Biarkan saja aku kedinginan maka aku akan mati dengan sendirinya," jawab Otis sebelum meneguk minuman hangat itu lagi. Rasanya darah di tubuh kembali hangat ketika minuman hangat itu masuk ke lambungnya.


"Kau ini benar-benar payah. Tadinya aku ingin membiarkanmu begitu saja. Tetapi aku tidak tega melihatmu mati kedinginan." Pria itu berjongkok di samping Otis.


"Terima kasih." Otis meletakkan botol minum itu di atas tumpukan salju.


"Hari ini matahari bersinar dengan cerah. Tadinya aku pikir akan ada hujan salju yang begitu lebat," ucap pria itu sambil memandang ke arah langit yang biru.


"Kenapa kau membuka maskermu? Dengan begitu aku bisa mengingat wajahmu." Otis tahu kalau pria yang sekarang menolongnya adalah pria yang sama dengan pria yang ia kejar tadi.


"Ingat saja. Aku tidak merasa kalau kau akan merugikanku. Dilihat dari penampilanmu kau sepertinya orang yang baik. Yang paling penting kau tidak berasal dari negara ini. Secara tidak langsung aku sudah memiliki teman baru yang berasal dari negara yang berbeda dengan tempat kelahiranku."


"Apa kau masih sekolah?" tanya Otis ingin tahu. Tadinya dia mengira orang yang ia pikir adalah penyusup itu usianya sama dengannya. Tetapi setelah pria itu membuka masker Dia terlihat seperti remaja yang masih berusia 19 tahun. Otis sama sekali tidak menyangka kalau sejak tadi dia sedang mengejar pria yang usianya jauh di bawahnya.


"Aku sudah tidak sekolah lagi. Usiaku masih 20 tahun. Aku tinggal tidak jauh dari sini. Tapi sepertinya kau tidak perlu tahu di mana aku tinggal."


"Kau takut jika aku mengunjungimu?" sahut Otis sambil tersenyum.


"Ya. Aku tidak tahu bagaimana caranya menyambut seorang tamu," jawabnya dengan begitu polos.


Otis tertawa mendengarnya. Dia menepuk pundak pria itu dan menganggapnya seperti Adiknya sendiri. "Apa aku boleh meminjam bajumu. Aku tidak mungkin pulang dengan selimut seperti ini. Selimut ini bahkan lebih berat dari tubuhku."


"Bukankah itu artinya secara tidak langsung kau memintaku untuk mengizinkanmu datang ke rumahku?"


Otis Mengangguk pelan. "Anggap saja seperti itu. Selain kau di rumahmu ada siapa saja."

__ADS_1


"Aku dan ibuku yang tinggal di rumah itu. Tetapi Ibuku sedang sakit. Dia tidak bisa berjalan lagi."


Otis merasa kasihan. Pria itu semakin tertarik untuk melihat keadaan rumah tersebut. "Aku Otis. Siapa namamu?"


"Aku Robe. Kau bisa memanggilku Obe. Ibu suka sekali memanggilku seperti itu," ucap Robe sambil tertawa kecil.


"Robe. Nama yang bagus. Senang bertemu denganmu."


"Aku juga senang bisa bertemu denganmu Otis!"


***


Nyonya Yolanda dan Tesya saling memandang satu sama lain sebelum mereka sama-sama memandang Otis lagi. Rasanya cerita yang baru saja disampaikan Otis sama sekali tidak menarik. Mereka menyesal sudah menghabiskan banyak waktu mereka hanya untuk mendengar cerita tidak penting seperti itu. Terutama Nyonya Yolanda.


"Lalu pria bernama Robe itu mengajakmu ke rumahnya dan meminjamkanmu baju ini?" tebak Nyonya Yolanda.


"Benar, Nyonya. Tebakan Anda benar," jawab Otis dengan senyuman.


"Maafkan saya, Nyonya. Tapi saya juga memiliki informasi penting yang harus saya sampaikan kepada anda. Robe bilang kalau rumah ini ditempati oleh seorang pembunuh. Beberapa bulan ini pembunuh itu menghilang setelah dia berhasil membantai satu keluarga yang tinggalnya tidak jauh dari rumah ini. Apakah Anda juga mengetahui masalah ini, Nyonya?"


"Itu tidak mungkin. Kami membeli rumah ini dari orang yang bisa dipercaya. Bahkan sekarang juga jika kami ingin menemuinya dia pasti akan datang untuk menemui kami. Rumah ini juga sudah dibeli sejak lama. Tidak ada yang pernah memasukinya selain Nyonya Yolanda," jawab Tesya apa adanya.


Otis diam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu. "Itu berarti anda tidak membeli rumah dari seorang pembunuh. Tetapi si pembunuh lah yang menginap di rumah ini. Apakah anda pernah menyimpan barang berharga di rumah ini nyonya?"


"Ada banyak sekali uang yang ditinggal di rumah ini dan jumlahnya tidak pernah berkurang. Kami juga mengirim petugas kebersihan untuk mengurus rumah ini. Otis, sepertinya kau sudah dikerjai oleh pria bernama Robe itu. Remaja sini memang suka sekali membuat para pendatang khawatir." Tesya ingin meyakinkan Otis agar tidak perlu percaya dengan perkataan orang asing yang baru ditemui.


"Tesya benar. Sebaiknya Kau tidak perlu percaya dengan perkataan orang itu. Rumah ini milikku. Jika memang benar seorang pembunuh telah menempati rumah ini, pasti akan ada jejak yang mencurigakan. Semua masih sama pada posisinya. Aku yakin rumah ini tidak ada yang berani memasukinya selain aku pemiliknya." Nyonya Yolanda beranjak dari sofa yang ia duduki. "Aku ingin istirahat di kamar. Aku sudah tidak berselera lagi untuk jalan-jalan di luar. Jika kau ingin pergi, pergi saja Tesya. Jika Aku membutuhkan bantuanmu aku akan menghubungimu lagi nanti. Dan untukmu Otis. Pikirkan menu untuk kita makan siang nanti."


"Baik, Nyonya," jawab Otis dan Tesya bersama-sama. Mereka memandang punggung Nyonya Yolanda sejenak sebelum saling memandang satu sama lain.


Tesya terdiam memandang wajah tampan Otis. Sama seperti wanita yang selama ini bertemu dengan Otis. Wanita itu juga tergila-gila melihat ketampanan Otis. Rasanya Ini pertama kalinya dia bertemu pria tampan dan gagah seperti Otis.

__ADS_1


"Nona Tesya, apa yang Anda lihat? Apa ada yang salah dengan wajah saya?"


"Ya," jawab Tesya cepat. "Kau terlalu tampan," sambungnya lagi.


Otis mengeryitkan dahinya. "Anda tidak jadi pergi?"


"Kau mengusirku?" Tesya menopang wajahnya dengan tangan. "Otis, kenapa kau tampan sekali. Pria tampan sepertimu tidak pantas menjadi sopir. Kau seharusnya menjadi suamiku saja," puji Tesya dengan wajah memerah karena malu. Padahal wanita itu terlihat sangar dan kejam. Tetapi ternyata dia juga tergila-gila terhadap ketampanan Otis.


Otis menaikan satu alisnya. "Nona, anda terlalu berlebihan memuji saya. Saya ini hanya pria biasa. Sudah sepantasnya pria biasa seperti saya bekerja sebagai seorang sopir." Otis mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Pria itu awalnya sempat bingung kenapa ponselnya bisa ada di sana. Terakhir kali ia menggunakan ponsel itu dia meletakkannya di dapur.


"Nomor siapa ini?" tanya Otis dengan wajah bingung ketika dia melihat nomor baru tersimpan di ponselnya.


"Itu nomor teleponku. Kapan saja kau butuh bantuan kau bisa menghubungiku," jawab Tesya sambil tersenyum merayu.


"Bagaimana caranya anda bisa menghubungi saya? Bukankah di sini tidak ada jaringan."


"Otis, jaringan itu sengaja dimatikan agar kau tidak bisa berhubungan dengan Tuan Abraham. Jika kau ingin jaringan ini aktif kembali, kau hanya perlu meminta izin dari Nyonya Yolanda. Aku akan segera mengaktifkannya jika kau sudah mendapat izin."


Otis kembali diam. Pria itu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. "Sepertinya jika tidak ada jaringan itu akan jauh lebih baik. Aku juga tidak tahu harus bicara apa kepada Tuan Abraham nanti."


"Oh ya, aku sempat melihat mata Nyonya Yolanda bengkak. Apa dia baru saja menangis?"


"Apa Nyonya Yolanda tidak menceritakan apapun kepadamu?" tanya Otis balik.


Tesya menggeleng pelan. "Ada apa? Apa kau mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui?"


"Maafkan aku Nona Tesya. Tapi aku tidak berani untuk menceritakannya kepadamu. Aku tahu kau adalah orang yang dipercaya oleh Nyonya Yolanda. Tetapi aku tadi tidak berani menceritakan yang sebenarnya terjadi kepadamu. Jika kau ingin tahu, kau bisa tanya langsung dengan Nyonya Yolanda." Otis beranjak dari kursi itu. "Sekali lagi maafkan aku Tesya. Aku mau ke kamar untuk istirahat. Terima kasih atas baju gantinya. Aku harap ukurannya pas di tubuhku."


Tanpa mau banyak bicara lagi Otis segera pergi menuju ke kamar meninggalkan Tesya yang masih duduk di sana.


Tesya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sambil tersenyum. "Dia satu-satunya pria yang tidak tergoda ketika melihatku. Benar-benar menarik. Nyonya Yolanda memang tidak pernah salah ketika memilih sopir. Selalu saja sopirnya pria-pria tampan. Tapi aku juga ingin tahu kemampuan bela diri Otis. Apa dia pria tangguh seperti supir-supir sebelumnya?" gumam Tesya di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2