
Tuan Abraham mengepal kuat tangannya sampai memutih ketika dia menyaksikan video Nyonya Yolanda dan Otis. Ternyata secara diam-diam Tuan Abraham mengirim orang untuk mengawasi mereka berdua. Setiap saatnya, mata-mata Tuan Abraham melaporkan kegiatan Nyonya Yolanda melalui video singkat.
Dada Tuan Abraham terasa panas ketika dia melihat Nyonya Yolanda mau membuka mulutnya saat Otis ingin menyuapinya. Padahal selama ini yang dia ketahui kalau istrinya itu tidak suka berbagi makanan dengan orang lain. Dia wanita yang sangat pembersih jika berhubungan dengan makanan. Tapi di video itu jelas-jelas terlihat Nyonya Yolanda mau membuka mulutnya. Bahkan mau memakan makanan yang berasal dari sendok yang sama dengan Otis. Sungguh menjijikkan. Batin Tuan Abraham.
"Siapkan mobil! Kita berangkat ke sana sekarang juga!" perintah Tuan Abraham kepada pria yang sejak tadi mengawalnya di sana.
"Anda yakin, Tuan?" Pria itu kurang setuju dengan keputusan Tuan Abraham.
"Dia istriku. Sekarang dia bersama dengan pria lain di tempat yang sangat jauh dari keberadaanku. Apa aku harus diam saja melihat istriku dirayu oleh pria lain? Bagaimana kalau Yolanda sampai tergoda dengannya?" Nada bicara semakin tinggi. Pria itu sudah kesulitan mengontrol emosinya.
__ADS_1
"Anda meragukan kesetiaan Nyonya, Tuan?"
Tuan Abraham diam sejenak. Ya. Sebenarnya dia sangat meragukan kesetiaan istrinya sejak dia sendiri tidak lagi setia. Namun sulit untuk mengakuinya selama ini.
"Bagaimana mungkin aku tidak meragukannya. Kau bisa lihat sendiri dari video ini dan beberapa video yang sudah dikirimkan sebelumnya. Semakin lama mereka terlihat semakin dekat. Aku tidak mau istriku disentuh oleh pria lain." Tuan Abraham menarik napas. "Dia mau naik bis. Dia mau tinggal di hotel murah. Dia mau mengikuti semua yang dipikirkan oleh Otis. Dia sudah gila! Dia wanita terhormat. Dia berasal dari kalangan bangsawan. Jangankan naik bis, naik taksi saja aku larang selama ini. Dia tidak seperti Yolanda yang aku kenal. Dia sudah jauh berbeda! Aku harus ke sana. Aku harus memastikan sendiri kalau dia masih mencintaiku. Hatinya tidak akan berpaling ke pria lain."
"Bukankah Nyonya sudah mengancam Anda agar tidak mengikutinya. Sebaiknya pikir-pikir lebih dulu sebelum mengambil keputusan, Tuan. Nyonya pergi bersama dengan supir itu hanya untuk menenangkan diri. Jika pun ia sampai terlihat akrab dan dekat itu hanya sekedar untuk bersenang-senang saja. Saya yakin, Tuan. Kalau cinta Nyonya hanya untuk anda. Jika memang Nyonya marah dan sangat membenci anda, sudah sejak kemarin dia melayangkan surat cerai. Namun dia masih mempertahankan rumah tangga ini. Jadi saran saya sebaiknya anda tunggu saja sampai Nyonya pulang sendiri. Jangan pernah memiliki pemikiran untuk menjemput Nyonya di sana."
"Tuan, semua sudah terjadi. Percuma saja menyesali dan menyalahkan diri. Sekarang hal yang harus kita pikirkan ialah bagaimana caranya membujuk Nyonya Yolanda agar mau memaafkan anda. Nyonya Yolanda wanita yang keras kepala. Keputusannya sulit balik untuk dipatahkan."
__ADS_1
"Rahmad. Ya, aku harus menghubungi Rahmad. Dia harus tahu kalau istriku dan Otis pergi ke tempat itu. Aku tidak perlu susah-susah untuk memperingati Otis. Otis adalah orang pilihan Rahmad. Dia yang harus bertanggung jawab atas sikap yang ditunjukkan Otis."
Tuan Abraham segera mengambil ponselnya. Dia menekan nomor Pak Rahmad. Namun, wajahnya terlihat marah ketika panggilan telepon itu tidak tersambung.
"Apa ini?"
Pria di depan Tuan Abraham menunduk hormat. "Di sana tidak ada jaringan, Tuan."
"Lalu, bagaimana caranya dia mengirim video?"
__ADS_1
"Setelah merekamnya, orang suruhan kita akan pergi ke tempat yang jauh untuk mencari jaringan. Seperti itu seterusnya, Tuan. Kita tidak bisa menghubunginya kapan saja."
Tuan Abraham memejamkan mata dan melemparkan ponselnya begitu saja ke meja. Pria itu terlihat semakin frustasi sekarang. "Otis benar-benar merencanakan semua ini!"