
Otis ada di dalam ambulans. Meskipun tadi perawat yang ada di ambulans sempat mengatakan kepada Otis kalau Tika sudah tidak tertolong lagi. Tetap saja Otis bersikeras mengatakan kalau Tika masih hidup. Sepertinya pria itu belum siap untuk kehilangan Tika. Meskipun hubungan mereka hanya sebatas teman, tetapi rasanya Otis tidak tega jika Tikq harus pergi dengan cara mengenaskan seperti ini.
Setibanya di rumah sakit, Otis di datangi oleh supir Tuan Abraham. Pria itu tadinya mau mengikuti Tika dibawa oleh perawat-perawat tersebut. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat rekannya ada di rumah sakit juga.
"Otis, Apa yang kau lakukan di sini?" tanya supir itu bingung. "Apa Nyonya dan Tuan baik-baik saja?"
Otis mengusap wajahnya dengan kasar lalu duduk di kursi yang ada di dekat pintu masuk. Pria itu menunduk dan mengatur nafasnya yang tidak karuan. Dia berusaha menenangkan pikirannya. "Tika kecelakaan."
"Di mana?" tanya Supir itu ingin tahu.
"Tidak jauh dari rumah. Jika dilihat-lihat lagi jalan di sana lurus dan tidak pernah macet. Bagaimana mungkin taksi yang ditumpangi Tika mengalami kecelakaan. Taksinya menabrak pohon besar. Mobil itu tidak akan rusak parah seperti itu jika tidak melaju dengan kecepatan tinggi. Dilihat dari posisinya sepertinya supir taksi itu sengaja menabrakkan mobil yang ia tumpangi ke pohon. Tapi ini hanya pikiranku saja. Aku juga tidak tahu kejadian yang sebenarnya karena aku tidak melihat langsung di lokasi kejadian. Polisi masih dalam penyelidikan."
__ADS_1
"Bagaimana mungkin ada orang yang sanggup untuk bunuh diri? Maksudku supir taksi itu pasti memiliki keluarga dan apa dia tidak memikirkan nasib keluarganya sebelum memutuskan untuk menabrakkan taksi yang ia tumpangi ke pohon." Supir itu terlihat kurang percaya dengan tebakan Otis.
"Itu hanya perkiraanku saja. Benar atau tidaknya kita tidak tahu. Lalu apa yang anda lakukan di sini. Apa Anda tidak bekerja?"
"Tadi aku izin sama Tuan Abraham untuk membawa istriku ke rumah sakit. Istriku hamil sudah 9 bulan. Sebentar lagi akan lahiran. Aku memeriksakannya ke rumah sakit agar tahu tanggal operasi."
Otis menepuk pundak pria itu. "Semoga semua lancar. Aku harus ke dalam untuk melihat Tika. Meskipun nyawanya sudah tidak tertolong lagi, tetapi setidaknya aku bisa sampai memakamkannya dengan layak." Supir itu hanya diam saja. Dia memandang ke pergian Otis sampai jauh.
Otis melirik berkas itu lalu mengambilnya. Dia membacanya dengan saksama. Surat itu berisi keterangan kematian Tika. Detik itu Otis baru benar-benar sadar kalau Tika memang sudah tidak ada lagi di dunia ini. "Saya akan membayarnya. Biar saya yang menanggung semua biayanya. Tolong mandikan jenazah Tika dengan layak. Setelah semua prosesnya selesai saya yang akan memakamkannya."
"Baik, Pak. Tapi sebelumnya anda harus mengurus administrasinya terlebih dahulu. Ini adalah prosedur yang harus anda selesaikan sebelum kami proses jenazah Ibu Tika." Otis tidak mau banyak bicara lagi. Pria itu segera berangkat ke meja depan untuk melunasi segala biaya. Sambil berjalan Otis kembali ingat dengan Nyonya Yolanda dan Tuan Abraham. Saat mereka pergi membawa mobil, sebenarnya Otis sempat memanggil mereka untuk berhenti. Tetapi Tuan Abraham tidak peduli lagi. Pria itu melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan Otis yang masih sendirian di sana.
__ADS_1
"Mereka orang kaya yang tidak memiliki hati nurani. Bisa-bisanya mereka meninggalkan Tika dalam keadaan seperti ini," gumam Otis di dalam hati. Pria itu mengambil ponselnya yang tiba-tiba saja berdering. Melihat nama Tuan Abraham di layar ponselnya, membuat Otis segera mengangkat panggilan masuk pria itu.
"Halo, Tuan."
"Bagaimana keadaan Tika?"
"Nyawanya tidak tertolong. Sekarang saya akan mempersiapkan proses pemakamannya."
"Biar semua biaya saya yang tanggung. Kau urus saja semuanya di sana. Kirimkan nomor rekeningmu, Aku Akan mengirim uangnya sekarang."
Otis diam sejenak. Sebenarnya uang tabungan yang ia miliki cukup untuk membiayai semuanya. Namun rasanya terlalu sombong Jika ia menolak kebaikan Tuan Abraham. "Baiklah, Tuan. Saya akan segera mengirim nomor rekening saya."
__ADS_1