Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Rayuan Nyonya


__ADS_3

Otis tersentak kaget ketika Nyonya Yolanda tiba-tiba saja muncul di kamar tidurnya. Pria itu mendekati Nyonya Yolanda. Satu hal yang tidak terduga terjadi. Tiba-tiba saja Nyonya Yolanda memeluk Otis lalu menangis tersedu-sedu.


"Aku tidak menyangka kalau Tika sudah tiada. Rasanya aku sangat menyesal karena sudah mengusirnya dari rumah ini. Kalau saja aku tidak mengusirnya, mungkin dia sekarang masih ada di antara kita," lirih Nyonya Yolanda.


Otis mengangkat tangannya lalu mengusap punggung Nyonya Yolanda dengan lembut. Pria itu semakin yakin kalau Nyonya Yolanda tidak terlibat dalam kecelakaan yang dialami oleh Tika. Air mata yang menetes di pipi Nyonya Yolanda membuat Otis mempercayai Nyonya Yolanda begitu saja.


"Semua sudah terjadi. Sekarang Tika sudah tenang di sana," jawab Otis dengan nada yang lembut. Ada rasa bahagia di dalam hatinya karena kini ia bisa memeluk Nyonya Yolanda lagi. Namun akal sehat Otis tetap berusaha untuk menolak agar masalah ini tidak semakin parah.


"Polisi bilang kalau ada kejanggalan dalam kecelakaan yang dialami Tika. Aku yakin seseorang telah merencanakan semua ini. Apa kau tahu kira-kira siapa dalang dari semua ini?" tanya Nyonya Yolanda sambil memandang wajah Otis.


Otis menggeleng dengan wajah polosnya. "Saya tidak suka menebak-nebak, Nyonya."


"Panggil aku Yolanda seperti biasa. Di sini hanya ada kita berdua." Nyonya Yolanda terlihat protes.

__ADS_1


"Anda adalah majikan saya Tidak sepantasnya Saya memanggil nama anda."


PLAKKK


Sebuah tamparan mendarat di pipi Otis. "Semudah itu kau melupakan cerita tentang kita. Kita berdua pernah sangat dekat dan saling mencintai. Bahkan sempat berpikir untuk menikah dan hidup bersama. Kenapa sekarang kau bersikap seolah-olah kita ini adalah orang asing. Jangan seperti ini Otis. Sikapmu membuatku sangat sakit."


"Anda tahu sendiri apa yang terjadi di antara saya dan Tika. Apa Anda tidak cemburu? Apa Anda tidak marah. Apa Anda tidak berpikir kalau saya ini adalah pria yang murahan. Tidak bisa menjaga omongan saya sendiri."


Ini benar-benar pilihan yang sangat sulit bagi Otis. Pria itu sudah bertekad untuk tidak mau terlibat dalam masalah yang lebih rumit lagi. Ia ingin menjauhi Nyonya Yolanda. Tapi sekarang tiba-tiba saja Nyonya Yolanda muncul dan memberikan harapan yang baru terhadap Otis. Dia sebenarnya tidak tahu harus bagaimana sekarang.


"Maafkan saya Nyonya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya ini hanya seorang sopir. Bagaimana mungkin Anda memposisikan saya sebagai pendamping anda?"


"Tidak Otis. Kau adalah calon suamiku. Nanti setelah aku bercerai dengan Abraham, Kau tidak lagi menjadi sopir."

__ADS_1


Otis tertawa. Dia sedang menertawakan dirinya yang terlihat begitu bodoh. "Saya ini hanya supir Nyonya. Sadarlah kalau ada dinding yang begitu tinggi yang membatasi kita berdua. Kita tidak mungkin bisa bersama. Meskipun anda telah bercerai dengan Tuan Abraham, tetapi kita berdua tidak bisa bersatu."


"Kau menolakku, Otis?"


"Anggap saja seperti itu karena setelah aku pikir-pikir kembali. Hubungan kita yang seperti dulu itu jauh lebih baik daripada yang sekarang. Saya adalah supir dan anda adalah majikan saya. Cerita yang terjadi di antara kita sebaiknya lupakan saja. Saya tidak mau melanjutkannya lagi. Sebagai seorang manusia saya takut dengan bahaya. Bukan saya tidak mau memperjuangkan Anda, Nyonya. Tetapi saya sadar kalau saingan saya kali ini adalah pria yang hebat. Saya tidak akan pernah mungkin menang melawannya."


"Selama ada aku di sisimu, Abraham tidak akan berani berbuat apa-apa terhadapmu Otis. Percayalah padaku." Nyonya Yolanda masih berusaha menyakinkan Otis.


"Maafkan saya, Nyonya. Biarkan saya kembali menjadi supir seperti saat pertama kali saya datang ke rumah ini. Tolong jangan buat Saya dalam masala yang terjadi antara anda dan Tuan Abraham."


"Baiklah jika memang itu keinginanmu." Nyonya Yolanda melangkah mundur. Wanita itu menghapus air mata di pipinya lalu memutar tubuhnya dan pergi. Otis sempat merasa bersalah namun dia tidak mau masalah ini semakin panjang. Sudah cukup Tika yang menjadi korban, jangan sampai ada korban lagi.


"Anda memang wanita yang berharga di hati saya. Tetapi saya sudah cukup senang bisa mencintai anda dan bisa mendapatkan balas cinta dari anda. Kita tidak harus bersama karena cinta tidak harus memiliki, Nyonya," gumam Otis di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2