Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Selingkuhan


__ADS_3

Nyonya Yolanda menangis sambil berjalan menuju ke kamar hotel. Foto panas Tuan Abraham bersama seorang wanita ada di genggaman tangannya. Ya, foto yang baru saja di lihat oleh Nyonya Yolanda adalah foto mesra Tuan Abraham bersama seorang wanita. Mereka sama-sama tidak mengenakan busana dan terlihat sangat mesra. Pemandangan itu membuat hati Nyonya Yolanda sangat sakit. Pria yang selama ini dia banggakan dan dia jamin tidak akan mungkin selingkuh kini telah berduaan dengan wanita lain ketika dia sedang berlibur ke luar negeri.


"Apa yang sudah kau lakukan?" Nyonya Yolanda tidak sanggup berjalan lagi. Dia terjatuh di lantai dan duduk bersandar di dinding. Kebetulan lorong itu sunyi,tidak ada yang menggangu Nyonya Yolanda yang kini sedang menangis. "Apa aku begitu buruk hingga aku memutuskan selingkuh?" Derai air mata menetes semakin deras. Nyonya Yolanda merasa sesak. Hidupnya telah hancur. Sekian lama dia sabar karena demi suami, kini rasanya harapannya untuk tetap hidup telah tiada. Anak tidak ada suami juga tidak setia. Detik ini Nyonya Yolanda merasa seperti wanita yang paling menyedihkan.


Di lantai bawah, Otis baru saja tiba di hotel yang sama dengan Nyonya Yolanda. Tadi sebelum ke hotel, pria itu berbelanja jaket dan baju yang akan ia kenakan selama di Kanada. Pria itu membawa sebuah koper dan menyeretnya ke lift. Kamar Otis ada di samping kamar Nyonya Yolanda. Hal ini akan memudahkan Otis untuk mengawasi Nyonya Yolanda setiap saatnya.


Otis berhenti di depan lift sambil melirik jam di pergelangan tangannya. Setelah bertemu dengan nyonya Yolanda nanti, Otis ingin istirahat walau hanya sebentar. Rasanya kedua matanya sangat lelah karena tidak bisa tidur nyenyak selama di pesawat.

__ADS_1


Suara lift terbuka. Otis segera masuk bersama dengan koper yang ia bawa. Pria itu menekan nomor 15 yang menjadi nomor lantai tempat kamarnya berada. Sambil menunggu lift kembali terbuka, Otis memandang keindahan kota Kanada. Lift itu tembus pandang. Semakin tinggi lift bergerak, maka semakin terlihat jelas pemandangan yang terlihat.


Pintu lift kembali terbuka. Otis lagi-lagi menyeret kopernya. Pria itu membaca kertas yang ada di genggaman tangannya untuk memeriksa kembali nomor kamar yang akan ia tempati. Di depan sana setiap beberapa meter akan ada persimpangan lorong yang menuju ke kamar yang berbeda. Otis sempat bingung karena tidak ada petunjuk apapun di sana.


Suara isak tangis seorang wanita mencuri perhatian Otis. Walau sempat berpikir kalau wanita itu bukan urusannya. Tetapi entah kenapa dia ingin sekali melihat wanita yang menangis itu. Semakin dekat semakin terdengar jelas. Otis mengitari keadaan sekitar untuk memastikan bukan hantu yang sedang menangis. Pria itu berbelok ke lorong sebelah kanan sebelum akhirnya berhenti mematung.


"Nyonya?" Otis melepas kopernya dan berlari mendekati Nyonya Yolanda. Pria itu merasa takut dan khawatir. Dia tidak mau sampai majikannya celaka. "Nyonya, apa yang terjadi? Kenapa anda bisa duduk di sini?"

__ADS_1


Tanpa sengaja Otis minat foto yang tergeletak di lantai. Pria itu memungut salah satu foto dan memperhatikan wajah dua orang di dalamnya. Sama seperti Nyonya Yolanda. Bahkan Otis sendiri sangat kaget ketika tahu foto di dalam itu adalah wajah Tuan Abraham.


"Tuan?" Otis kembali memandang Nyonya Yolanda. Di lihat dari matanya yang sudah bengkak, Otis tahu kalau wanita itu sudah lama menangis. Otis tidak memiliki pilihan lain selain memaksa Nyonya Yolanda untuk masuk ke dalam kamar.


"Nyonya, mari saya bantu. Anda tidak bisa duduk di sini seperti ini."


Nyonya Yolanda menggeleng. Dia mendorong Otis karena kesal. Tiba-tiba saja kedua matanya terpejam. Wanita itu tidak lagi sadarkan diri dan berbaring di lantai. Otis segera menarik kepala Nyonya Yolanda dan meletakkannya di atas pangkuan. Pria itu memperhatikan keadaan untuk meminta pertolongan.

__ADS_1


Seorang wanita yang tidak lain adalah petugas hotel segera berlari membantu Otis. Mereka sama-sama membawa Nyonya Yolanda ke dalam kamar yang letaknya tidak jauh dari posisi mereka berada.


"Pasti Nyonya Yolanda sangat terpukul. Dia sampai pingsan seperti ini. Aku jadi merasa kasihan. Kenapa masih ada pria yang tega selingkuh ketika memiliki istri secantik bidadari?" gumam Otis di dalam hati.


__ADS_2