Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Amarah Abraham


__ADS_3


Ketika Otis dan Nyonya Yolanda sedang tidur nyenyak di Kanada, Tuan Abraham justru terlihat kesal karena sampai detik ini Otis tidak memberikan kabar apapun. Bahkan nomor teleponnya juga tidak bisa dihubungi. Entah sudah berapa puluh kali Tuan Abraham mengirim pesan makian ke ponsel Otis. Tetapi tidak ada satu pesan pun yang dibaca bahkan beberapa juga tidak terkirim.


Tuan Abraham juga sudah menghubungi pihak hotel yang sempat menjadi tempat tinggal Otis dan Nyonya Yolanda. Namun dia hanya mendapat kabar yang mengecewakan ketika pihak hotel mengatakan kalau Nyonya Yolanda dan Otis tidak pulang semalaman.


"Dasar pria tidak berguna. Seharusnya Aku tidak percaya padanya. Sejak awal aku sudah curiga. Dia pasti mengagumi istriku. Pertama kali melihatnya saja dia sudah seperti ingin memiliki!" umpat Tuan Abraham dengan wajah kesal. Dia meremas ponselnya sambil memikirkan cara agar bisa mengetahui kabar istrinya.



"Sayang, ada yang ingin aku katakan."


Tuan Abraham memutar tubuhnya dan memandang wanita yang baru saja bicara dengannya. Pria itu meletakkan ponselnya ke atas nakas sebelum mengukir senyuman manis. Wajah marah dan kesal yang sempat tersemat di sana hilang begitu saja. "Ada apa, sayang? Apa kau sudah selesai mandi?" Pria itu berjalan mendekat. Dia menarik kekasihnya lalu mencium bibirnya dengan mesra. Membelainya dengan sentuhan penuh nafsu.


"Aku punya kabar baik untukmu," bisik wanita itu dengan nada yang begitu menggoda. Dia membuat lingkaran kecil pada dada bidang Tuan Abraham.


"Kabar baik apa? Cepat katakan. Aku ingin segera mendengarnya." Tuan Abraham menyelipkan rambut wanita itu dibalik telinga. Dia memperlakukan wanita itu dengan lembut seolah wanita itu adalah berlian yang begitu berharga.


"Aku hamil!" ujar wanita itu sambil memamerkan hasil tespek di tangannya. Dia baru saja mengetahui kehamilannya ketika dia memeriksanya dengan testpack di kamar mandi.


"Hamil?" tanya Tuan Abraham dengan wajah tidak percaya. Dia sangat-sangat kaget tapi juga bahagia.


Wanita itu mengangguk cepat. "Ya. Ini anakmu." Wanita itu memamerkan perutnya yang masih rata dengan wajah yang ceria.


"Sandra, kau benar hamil? Anak ini adalah anakku?" tanya Tuan Abraham masih dengan ekspresi tidak percaya.


"Sayang, kenapa kau bertanya seperti itu. Bukankah kau tahu sendiri ketika pertama kali bertemu denganmu aku masih perawan. Hanya kau satu-satunya pria yang pernah tidur denganku. Tolong jangan tanya lagi siapa ayah anak ini. Karena jawabannya sudah pasti itu adalah kau." Wajah wanita itu berubah sedih.

__ADS_1


"Ini kabar baik yang tidak pernah aku bayangkan. Terima kasih, Sandra. Anak ini membuktikan kalau aku tidak mengalami masalah. Aku sehat. Berarti selama ini apa yang dikatakan keluargaku benar. Yolanda mandul. Sampai kapanpun wanita itu tidak akan bisa memberikan keturunan kepadaku," ucap Tuan Abraham dengan begitu meyakinkan.


"Jika sudah seperti ini bagaimana dengan statusku? Aku tidak mau terus-terusan menjadi wanita simpanan. Aku juga ingin dipandang sebagai Nyonya Abraham."


Tuan Abraham membisu. Walaupun dia senang karena Sandra sudah memberinya anak, tetapi rasa cintanya begitu banyak untuk Yolanda. Pria itu tidak mau menceraikan istrinya. Bahkan bisa dibilang selama ini dia menjalin hubungan dengan Sandra karena memang dia ingin mendapatkan anak dari wanita itu dan untuk bersenang-senang saja ketika Yolanda tidak ada. Tidak ada niat untuk menikahinya karena Tuan Abraham cinta mati pada Nyonya Yolanda.


"Untuk saat ini kita fokus saja dulu kepada anak kita. Masalah Yolanda bisa kita bahas nanti setelah anak ini lahir."


"Tidak! Aku tidak sebodoh itu. Jika kau tidak menikahiku aku akan membawa pergi anak ini. Aku tidak akan sudi anak ini diakui oleh pria pengecut sepertimu," ketus Sandra dengan emosi tertahan.


"Sandra, jangan seperti itu. Kau pasti tahu betapa pentingnya Yolanda di dalam bisnisku. Apa kau mau Aku jatuh miskin?" Tuan Abraham terpaksa mengarang cerita yang sebenarnya tidak pernah ada hanya demi membuat Sandra percaya. Dia tidak mau sampai kehilangan anak yang sekarang ada di dalam kandungan Sandra.


"Apa benar seperti itu? Atau jangan-jangan kau hanya sedang membodohiku saja," ucap Sandra dengan wajah tidak percaya. Wanita itu memalingkan wajahnya.


"Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan asalkan hubungan ini kita rahasiakan dulu. Soal Yolanda akan aku pikirkan nanti. Aku janji akan menikahimu." Tuan Abraham memegang kedua pipi Sandra. Menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Percayalah padaku."


Bujuk rayu Tuan Abraham memang selalu saja bisa meluluhkan hati seorang Sandra. Dengan uang pria itu bisa dengan mudah menaklukkan hati wanita miskin seperti Sandra. "Sebagai hadiah kehamilanmu bagaimana kalau aku belikan sebuah mobil? Apa kau senang?"


Sandra mengukir senyuman yang sangat indah di bibirnya. "Tentu saja aku senang. Aku ingin mobil keluaran terbaru warna putih. Aku akan memamerkan mobil itu di depan teman-temanku nanti."


"Baiklah. Aku akan segera mengirim mobil impianmu. Sekarang Aku harus pergi ke perusahaan. Besok kita akan periksa ke dokter. Aku mau anakku tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar."


Tuan Abraham berjongkok lalu mencium perut Sandra. Pria itu sangat-sangat bahagia meskipun benih yang ia siram tidak tumbuh di rahim wanita yang ia cintai. Keinginannya untuk memiliki anak sudah membutakan akal sehatnya. "Terima kasih sayang karena kau sudah hadir. Papa sangat menantikan kehadiranmu," bisiknya kepada bayi yang ada di dalam kandungan Sandra.


Sandra tersenyum sambil mengusap rambut Tuan Abraham. "Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia. Aku sudah mengirim foto-foto itu ke Kanada. Aku yakin Yolanda sudah melihatnya. Dia sekarang sudah tahu perselingkuhan kami. Sampai detik ini Yolanda tidak bisa dihubungi pasti karena wanita itu sengaja mematikan teleponnya. Dia sangat frustasi ketika mengetahui suami yang sangat dia cintai selingkuh. Tidak lama lagi Yolanda akan menggugat cerai Abraham. Hanya aku satu-satunya wanita yang akan menjadi istrinya. Kami bertiga akan hidup bahagia. Tidak ada lagi nama Yolanda di pikiran Abraham," gumam Sandra di dalam hati.


...***...

__ADS_1


"Apa lagi ini?" tanya Nyonya Yolanda sambil membolak-balikkan makanan yang baru saja di masak oleh Otis. Kali ini makanannya berkuah. Memang sangat segar dan cocok di nikmati saat cuaca dingin. Tetapi dilihat dari bentuknya yang aneh, Nyonya Yolanda mulai ragu jika makanan itu enak di makan. Bahkan dari segi aromanya sudah tidak menyakinkan kalau makanan itu rasanya lezat.


"Nyonya, biasakan untuk mencicipi lebih dulu sebelum berkomentar," ujar Otis. Pria itu memasukkan makanannya ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan penuh suka cita. Dia merasa bangga karena masih bisa memasak makanan lezat seperti sekarang.


Nyonya Yolanda memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya dengan hati-hati. Dia memandang wajah Otis lagi dengan ragu. "Otis, ayam ini rasanya aneh sekali. Apa benar ini ayam?"


Otis tertawa geli mendengar pertanyaan Nyonya Yolanda. "Nyonya, anda itu terlalu kaya hingga tidak pernah makan bakso. Ini bakso ayam. Daging ayam yang digiling dan dicampur tepung. Rasanya memang seperti ini. Sangat cocok jika disantap saat cuaca dalam keadaan dingin seperti sekarang. Biasanya saya makan bakso daging. Tapi berhubung stok daging di kulkas habis, saya mengolah ayam ini menjadi bakso."


"Apa ini makanan orang miskin?" celetuk Nyonya Yolanda tanpa mikir.


Otis tertawa lagi mendengar pertanyaan Nyonya Yolanda. Entah wanita itu sedang menghinanya atau memang wanita itu terlalu polos. "Tidak, Nyonya. Ini bukan makanan orang miskin. Bahkan orang kaya saja sering memakannya. Anda termasuk orang kaya yang ketinggalan zaman."


"Berani sekali kau menghinaku, Otis. Apa kau sudah lupa posisiku ini apa dan posisimu apa?" Nada bicara Nyonya Yolanda meninggi.


Otis terdiam. Dia tidak mau bicara lagi karena takut menyinggung perasaan Nyonya Yolanda.


Nyonya Yolanda memperhatikan bakso itu lagi dan menghabiskan satu bulatan penuh. Daging ayam dan bumbu khas menjadi satu di dalam mulutnya hingga menciptakan rasa yang membuat nagih. "Tapi kau benar. Makanan ini memang enak walau bentuknya terlihat aneh. Apa memang bakso bentuknya lonjong seperti ini?"


"Tidak, Nyonya. Seharusnya bentuknya bulat seperti bola pingpong. Berhubung kemampuan saya tidak sampai ke situ, Saya hanya bisa buat yang seperti ini saja. Yang penting rasanya enak dan bisa kita makan." Otis kembali melanjutkan makannya yang tertunda.


Nyonya Yolanda mulai menikmati bakso ayam buatan Otis. Walau awal-awalnya ekspresi wajah wanita itu terlihat aneh tetapi pada akhirnya ia mulai bisa menikmati. Hingga akhirnya semangkuk bakso yang disajikan oleh Otis habis dilahap olehnya.


"Nyonya, untuk menu makan malam sebaiknya kita pesan saja. Saya takut salah buat makanan lagi. Saya juga bukan koki. Saya tidak bisa jika terus-terusan memasak seperti ini."


Nyonya Yolanda memandang wajah Otis sejenak sebelum memandang bakso yang masih ada di mangkok tidak jauh dari posisinya. "Apa aku boleh tambah?" tanya Nyonya Yolanda tanpa mau menjawab pertanyaan Otis sebelumnya.


"Boleh, Nyonya. Anda habiskan saja pun juga tidak apa-apa," jawab Otis sembari mendekatkan mangkuk itu di dekat Nyonya Yolanda. Dia tersenyum di dalam hati melihat Nyonya Yolanda begitu lahap memakan bakso. "Melihat Nyonya Yolanda seperti ini membuatku sedikit lega. Aku tahu luka di dalam hatinya belum sembuh. Tetapi dia sudah bisa bangkit dan tidak terpuruk lagi seperti kemarin," gumam Otis di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2