
"Otis, kehidupan konglomerat jauh berbeda dengan hidup kita yang miskin ini. Mereka memperhitungkan segala sesuatunya. Membesarkan masalah kecil. Menghilangkan jiwa toleransi. Bahkan rasa prikemanusiaan. Nyonya Yolanda yang berasal dari keluarga bangsawan saja sering mendapatkan hinaan dari keluarga Abraham hanya karena dia belum hamil sampai sekarang.
Pernikahan mereka sudah menginjak hampir 10 tahun. Tetapi mereka tidak dikaruniai anak. Nyonya Yolanda sudah berobat kemanapun namun tidak juga berhasil. Entah sudah berapa banyak uang yang dia keluarkan.
Namanya anak itu dari Tuhan langsung, jelas saja usaha manusia tidak akan bisa melebihi kekuatan sang pencipta. Tapi, namanya manusia. Tidak bisa bersabar. Apa lagi sudah menanti selama 10 tahun. Kasihan Nyonya Yolanda. Di balik kebahagiaan yang terlihat, aku yakin dia menyimpan sejuta kesedihan yang setiap saatnya ia bendung sendiri," kelas Tika.
"Apa mereka dua sehat? Maksudku, dari cerita yang baru saja kau katakan. Kau bilang kalau Nyonya Yolanda mengusahakan segala cara. Bagaimana dengan Tuan Abraham? Mungkin saja kesalahan ada pada dirinya kan?" Otis meneguk lagi teh manis yang ada di depannya. Entah kenapa sore ini ia ingin tahu bagaimana kehidupan majikannya. Beruntungnya Tika tahu segalanya. Jika tidak, Otis tidak tahu harus cari informasi dari mana lagi.
"Setahuku Tuan Abraham tidak pernah periksa. Mereka sudah menjamin kalau kesalahan ada pada diri Nyonya Yolanda."
"Tidak bisa seperti itu. Bagaimana kalau Tuan Abraham yang mandul?"
"Otis, kecilkan suaramu. Jika ada yang dengar kau bisa mati di penggal." Tika mengitari ruangan sekitar untuk memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Bukankah apa yang aku katakan ada benarnya?"
"Ya. Tapi, kita hanya sekedar cerita. Bukan ikut campur." Tika menjatuhkan tubuhnya di sandaran sofa. Dia memperhatikan kembali ikan-ikan yang ada di kolam. "Kita tidak tahu bagaimana hidup kita besok. Berbeda dengan mereka yang sudah memiliki masa depan. Orang seperti kita sebaiknya tidak banyak tahu. Karena semakin banyak tahu hanya akan membuat rugi diri kita sendiri."
"Tika, kau sudah lama bekerja di sini? Dari gajimu, kau sudah membeli apa? Apa kau tidak memiliki cita-cita ingin membangun rumah misalnya? Tidak mungkin kan kau mau menghabiskan sisa hidupmu dengan bekerja di rumah ini?" Otis mengalihkan topik pembicaraan. Benar kata Tika. Tidak sepantasnya mereka menceritai masalah majikan mereka.
"Aku ini wanita yang boros. Uang gajiku habis tidak terlihat. Aku tidak memiliki tabiat apapun. Inilah aku. Jika tidak tinggal di rumah ini, aku juga tidak tahu harus kemana."
Otis mengeryitkan dahinya. Setahu dia semua orang yang bekerja di rumah itu mendapatkan gaji yang lebih besar dari standardnya. Tetapi, kenapa Tika bisa tidak memiliki tabungan? Seboros apa dia? Dilihat dari penampilannya juga sederhana sekali.
"Kau benar-benar wanita yang cerdas. Maafkan aku karena sempat berprasangka buruk terhadapmu. Setiap orang memang memiliki rahasia yang tidak harus diketahui oleh orang lain. Maafkan Aku Tika." Otis terlihat sangat menyesal.
"Sudah biasa. Karena Kau bukan orang pertama saja yang memandangku seperti itu." Tika juga meneguk cokelat panas yang ada di meja. Rasanya gerimis sore ini sangat nikmat jika di gunakan untuk bersantai sambil mengobrol. Sampai-sampai mereka tidak ingat kalau langit sudah mulai gelap.
__ADS_1
"Otis, menurutmu. Apa kau cantik?"
Otis tersedak mendengar pertanyaan Tika. Hal itu membuat Tika seperti tersinggung.
"Maaf. Apa tadi kau bilang? Cantik?"
"Apa aku jelek?"
Otis geleng-geleng kepala. "Tidak. Kau cantik."
"Jujur," tanya Tika dengan mata menyipit.
"Ya. Kau cantik dan baik." Otis tersenyum hingga membuat Tika juga bahagia.
__ADS_1
"Kalau begitu, apa kau tidak keberatan untuk menjadi pacar bohonganku?'
"Apa?"