
Otis semakin cemburu ketika tahu Nyonya Yolanda pulang bersama dengan pria lain. Wanita itu tidak lagi naik di mobil yang sama dengannya. Sekarang hanya ada Tika di dalam mobil itu. Karena Nyonya Yolanda tidak ada, Tika mengambil kesempatan untuk duduk di depan. Wanita itu merasa sangat senang. Bahkan sampai detik ini dia juga belum memiliki niat untuk mengatakan kalau pria yang pulang bersama dengan Nyonya Yolanda adalah sepupu Tuan Abraham.
"Tubuhku benar-benar terasa lelah. Setelah tiba di rumah aku akan langsung mandi dan tidur. Tapi aku tidak memiliki pakaian ganti lagi. Sepertinya nanti aku akan meminjam pakaian temanku." Tika memandang wajah Otis yang terlihat tidak bersahabat. "Otis Apa aku boleh meminjam uangmu untuk beli baju. Setelah gajian aku akan membayarnya." Otis hanya menjawab dengan anggukan saja. Jelas saja hal itu membuat Tika tidak puas. Wanita itu memutar otaknya lagi dan mencari cara agar Otis mau bicara dengannya dan melupakan Nyonya Yolanda. "Hmmm, makanan tadi enak sekali bukan? Kenapa kau tidak menghabiskan makan malammu. Makanan mahal sayang untuk dibuang-buang."
Otis memandang wajah Tika sejenak sebelum memandang ke depan lagi. "Tika, seperti apa Nyonya Yolanda?"
"Kau bertanya padaku?" Tika menunjuk dirinya sendiri.
"Kau sudah lama bekerja di rumah itu tentu kau tahu bagaimana sifat asli Nyonya Yolanda."
"Ya, aku memang sudah lama bekerja di rumah itu. Tapi aku tidak pernah dekat dengan Nyonya Yolanda seperti kau dekat dengan Nyonya Yolanda sekarang," sahut Tika cepat.
"Jadi intinya kau tidak tahu seperti apa sebenarnya Nyonya Yolanda. Kau tidak tahu bagaimana sifat asli Nyonya Yolanda?"
"Yang Aku tahu Nyonya Yolanda wanita yang baik. Selalu menurut dengan suaminya. Suka belanja dan suka jalan-jalan. Sisanya Aku tidak tahu lagi." Tika memandang ke arah lain dengan wajah kesal.
Otis menghela nafas sebelum menambah laju mobilnya lagi. Pria itu ingin segera tiba di rumah dan istirahat. Dia juga merasa lelah karena terlalu banyak beraktivitas hari ini.
...***...
Setibanya di rumah, Otis segera turun diikuti oleh Tika. Pria itu sangat yakin kalau Nyonya Yolanda sudah ada di dalam kamarnya. Wanita itu pasti sekarang sedang berendam sebelum tidur. Entah kenapa tiba-tiba saja Otis tertarik untuk menemui Nyonya Yolanda di kamarnya. Ia ingin mendengar penjelasan langsung dari Nyonya Yolanda mengenai pria yang tadi mengantarkannya.
Tika hanya memandang Otis dari kejauhan. Wanita itu ingin segera masuk ke dalam kamar tanpa peduli dengan apa yang dilakukan oleh Otis. Beberapa pelayan wanita yang belum tidur berteriak memanggil nama Tika. Mereka senang sekali melihat Tika kembali ke rumah.
"Tika, akhirnya kau kembali. Kami sangat merindukanmu." Mereka segera memeluk Tika dengan wajah yang sangat bahagia.
"Sejak Kau tidak ada, rumah ini menjadi terasa sunyi," ucap pelayan lainnya.
"Kalian ini terlalu berlebihan. Bukankah aku sangat cerewet seharusnya kalian senang jika aku tidak ada lagi di rumah ini."
"Justru cerewetmu yang kami rindukan. Tika, Apa kau benar-benar sudah kembali ke rumah ini atau hanya ingin mengambil sesuatu yang ketinggalan saja."
"Aku sudah kembali ke rumah ini berarti aku akan bekerja lagi seperti biasa. Sebenarnya aku datang ke rumah ini karena ada masalah. Aku baru saja dirampok. Bahkan aku hampir saja diperkosa."
"Apa?" Mereka semua terlihat kaget ketika mendengar cerita Tika. Mereka segera membawa Tika ke tempat yang lebih nyaman. Ada kursi dan mereka mendudukkan Tika di kursi tersebut. Pelayan lainnya mengambilkan air putih dari dapur. Mereka benar-benar teman yang sangat pengertian. Mereka semua tidak pernah menyangka kalau Tika baru saja makan di restoran mewah yang bahkan mereka semua belum pernah.
"Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir hingga seperti ini," ucap Tika. Dia juga tidak mau sampai teman-temannya repot.
"Tika, duduklah yang tenang. Kami tahu kalau kau pasti sangat syok tadi. Ini kabar buruk. Beruntung Kau bisa tiba di rumah ini dengan selamat."
__ADS_1
Tika yang tadinya ingin mengatakan kalau dia kembali ke rumah ini bersama Otis mengurungkan niatnya. Melihat temannya begitu antusias membuatnya tidak tega untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi. Biarlah semua teman-temannya memandangnya kalau ia baru saja mendapat musibah.
"Ini minum lah," tawar seorang pelayan yang baru muncul dari arah dapur.
"Terima kasih." Tika menerima minuman itu lalu meneguknya secara perlahan. Wanita itu merasa jauh lebih baik sekarang. Rasa sakit hati yang tadi sempat menyesakkan dada kini sudah hilang.
"Kami akan membereskan kamarmu. Kau bisa tidur setelahnya." Tika meletakkan gelas yang telah kosong di atas meja. Wanita itu tersenyum bahagia melihat teman-temannya berlari ke kamar tidurnya.
"Tika, kau mau dengar gosip nggak?" ujar salah satu pelayan wanita yang ada di sana.
"Gosip apa?" tanya Tika dengan wajah polosnya.
"Nyonya Yolanda menjalin hubungan dengan supir tampan yang ada di rumah ini."
"Supir tampan? Siapa yang kalian maksud dengan supir tampan?"
"Supir baru Nyonya Yolanda yang bernama Otis. Memang kami akui wajahnya sangat tampan. Kami saja sampai jatuh cinta padanya. Wajar sih kalau sampai Nyonya Yolanda jatuh hati kepada Otis. Tapi Ini masalahnya masih ada Tuan Abraham. Nyonya Yolanda dan Tuan Abraham masih resmi menjadi suami istri. Ya Meskipun Tuan Abraham sekarang ada di penjara tapi tidak sepatutnya Nyonya Yolanda selingkuh dengan Otis seperti itu."
"Bahkan semua pelayan saja sudah mengetahui hubungan mereka," gumam Tika di dalam hati. "Badanku benar-benar capek. Aku butuh istirahat. Apa sekarang Aku boleh ke kamar?"
"Tentu saja. Masih banyak waktu untuk kita bercerita. Setelah ini kau jangan pergi-pergi lagi. Bukankah sudah kami bilang kemarin kalau di luar sana tidak enak lebih enak di rumah ini."
...***...
Otis tidak mau melepaskan Nyonya Yolanda. Pria itu menciumnya dengan penuh nafsu. Dia menahan pinggang Nyonya Yolanda agar tidak terjatuh. Mereka berdua saling menikmati dan saling memiliki. Setelah Nyonya Yolanda menjelaskan semua yang terjadi, Otis tidak lagi cemburu. Pria itu justru segera mencium kekasihnya.
"Cukup Otis," desah Nyonya Yolanda. "Kau tidak boleh menggodaku seperti ini. Bukankah kau tidak mau kita lanjut ke tahap yang lebih panas."
Otis melepas cumbuannya lalu duduk di sofa. Pria itu memandang ke depan dan memijat kepalanya yang terasa pusing. "Aku sangat cemburu. Bahkan sempat berpikir kalau kau akan meninggalkanku dan memilih pria tadi."
Nyonya Yolanda merangkul lengan Otis lalu mengecupnya dengan mesra. "Maafkan aku karena sudah membuatmu cemburu. Tidak ada niat di dalam hatiku untuk melukai hatimu. Semua terjadi begitu saja. Selama dia ada di Indonesia kita tidak bisa seperti ini. Harus ada jarak diantara kita. Aku tidak mau proses perceraianku dan Abraham mengalami kendala. Bersabarlah sebentar saja. Maka kita akan memetik kebahagiaan pada akhirnya."
Otis memandang wajah cantik Nyonya Yolanda lalu mengusap pipi wanita itu. "Apa kau belum mandi, Yolanda?"
"Belum. Aku juga baru saja tiba di kamar ini. Aku duduk sebentar di sofa sambil memikirkanmu. Aku tahu kau pasti cemburu. Aku juga tidak tenang sepanjang perjalanan tadi. Ingin mengirimimu pesan tapi ponselku mati."
"Sana pergi mandi. Aku akan menunggumu di sini."
Nyonya Yolanda menyipitkan kedua matanya. "Kau tidak mau ikut mandi?"
__ADS_1
Otis menggeleng kepalanya. "Cepat sana mandi. Aku ingin melihat wajahmu setelah mandi."
"Baiklah. Jangan pergi sebelum aku selesai mandi," ancam Nyonya Yolanda. Wanita itu segera masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Otis mencari posisi yang nyaman untuk berbaring. Sofa itu sangat-sangat empuk untuk dijadikan tempat tidur.
Otis masih memiliki harga diri dan batasan. Pria itu tidak mau membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang biasa ditiduri oleh Tuan Abraham.
Di dalam kamar mandi Nyonya Yolanda segera melepas seluruh pakaian yang ia kenakan. Wanita itu masuk ke dalam bak mandi dan berendam. Tubuhnya benar-benar lelah untuk saat ini. Lilin aromaterapi ia hidupkan untuk membantunya menenangkan pikiran. Sambil berendam Nyonya Yolanda kembali ingat dengan perkataan sepupu Tuan Abraham selama di perjalanan tadi.
Beberapa saat yang lalu...
"Yolanda, sebenarnya ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa itu?" tanya Nyonya Yolanda dengan bingung.
"Tadi Abraham sempat cerita kalau kau datang sambil membawa surat cerai. Apa itu benar?" Sepupu Abraham ingin menyelidikinya.
"Dia selingkuh. Aku tidak pernah mau memaafkan pria yang selingkuh. Apapun kesalahan yang dia lakukan pasti masih bisa aku maafkan kecuali selingkuh. Dia tidur dengan wanita itu sampai hamil. Entah sudah berapa lama dia membohongiku. Entah sudah berapa kali juga mereka berhubungan. Hatiku sangat sakit dan kecewa. Sulit sekali untuk memaafkan dan menerimanya kembali." Nyonya Yolanda bicara dengan emosi. Wanita itu kembali sakit hati setiap kali membayangkan perselingkuhan suaminya.
"Kau pernah bertanya apa alasan dia selingkuh?"
"Tidak ada alasan yang bisa membenarkan perselingkuhan."
"Sebenarnya aku juga tidak ada di pihak Abraham untuk saat ini. Aku tahu keputusan yang dia ambil salah. Tidak seharusnya dia selingkuh dan merusak rumah tangga yang harmonis ini. Tetapi sebagai seorang anak Abraham juga merasa memiliki tanggung jawab terhadap ibu kandungnya. Dia terus dituntut untuk memberikan cucu. Sementara Abraham sendiri sangat mencintaimu. Dia tahu jika ia membahas soal anak, Kau pasti akan sakit hati. Mengingat sudah sejauh ini rumah tangga kalian tetapi kalian belum juga diberikan anak."
"Tapi aku sehat. Beberapa dokter menjaminnya. Tidak tahu dengan Abraham seperti apa. Dia selalu menolak setiap kali aku mengajaknya periksa."
"Sebenarnya Abraham mandul."
Nyonya Yolanda kaget bukan main mendengarnya. "Dari mana kau dapatkan informasi itu?"
"Aku yang memeriksanya sendiri. Tapi Abraham tidak tahu kalau saat itu aku sedang memeriksa kesuburannya. Apa kau lupa kalau aku ini adalah seorang dokter. Aku memiliki banyak cara untuk mengetahui penyakit pasienku. Hanya aku dan ibu kandung Abraham yang mengetahuinya. Aku juga baru memberitahu informasi ini kepada Abraham tadi. Dia terlihat sangat sok ketika mendengarnya. Sekarang sudah jelas kalau anak yang dikandung wanita itu pasti bukan anak Abraham. Sampai kapanpun kau tidak akan bisa hamil jika terus bersama dengan Abraham. Tapi saranku jangan gugat Abraham untuk saat ini. Dia masih mengupayakan kebebasannya. Jiwanya bisa terguncang jika kau tidak ada di sampingnya untuk mendukungnya. Bagaimanapun juga kalian pernah bersama dan paling mencintai. Apa tidak ada sedikit saja rasa kasihan di hatimu terhadapnya ketika dia berada dalam posisi sekarang. Yolanda, aku tahu kalau kau ini adalah wanita yang sangat baik dan berperasaan. Aku tidak akan mencegahmu untuk menggugat cerai Abraham jika pria itu sudah keluar dari penjara. Tapi untuk saat ini aku mohon tetaplah jadi istrinya. Menjadi pegangannya agar dia tetap kuat dalam menghadapi semua ini."
"Aku akan pertimbangkan lagi nanti. Tapi aku tidak janji. Hatiku terlalu sakit hingga tidak mau dekat-dekat dengannya lagi."
"Namamu selalu ada di dalam hati Abraham. Bukan aku ingin menakut-nakutimu. Tapi Abraham tidak akan tinggal diam jika kau bersama dengan pria lain. Keputusanmu untuk menjalin hubungan dengan pria lain hanya akan mencelakai pria itu sendiri. Abraham mungkin tidak akan pernah melukaimu karena dia sangat mencintaimu. Namun bagaimana dengan keselamatan pria yang sudah nekat untuk jatuh cinta padamu. Kita berdua sama-sama tahu bagaimana kerasnya Abraham."
Nyonya Yolanda memejamkan kedua matanya. Perkataan sepupu Tuan Abraham membuat kepalanya semakin pusing. Wanita itu benar-benar tidak tahu sekarang harus berbuat apa. Dia juga tidak mau Otis sampai celaka.
"Aku berharap Otis bisa melindungi dirinya sendiri dari bahaya yang akan dikirimkan oleh Abraham," gumam Nyonya Yolanda di dalam hati.
__ADS_1