
Sandra masih belum bisa berhenti menangis. Dia malu. Sangat malu. Dua pria itu telah memperkosanya secara bergilir. Bukan hanya itu saja. Mereka sudah memberi suntikan yang membuat Sandra menjadi gila. Sandra dengan suka rela melayani dua pria itu. Mereka merekam semua kejadiannya. Menjadikannya sebagai barang bukti untuk di tunjukkan kepada Tesya.
Sandra duduk bersandar di pinggir tempat tidur masih dengan wajah yang trauma. Rambutnya berantakan dan penampilannya terlihat sangat menyedihkan. Tidak secantik dan semempesona biasanya. Perutnya terasa sakit namun ia abaikan begitu saja. Sandra merasa putus asa dan sekarang tidak tahu harus berbuat apa. Dia menyesal karena sudah mengganggu Nyonya Yolanda. Jika saja dia tahu kalau hidupnya akan menjadi seperti ini, mungkin dia tidak akan memiliki pemikiran untuk mendekati bahkan memiliki Abraham.
Suara deringan ponsel membuat Sandra memandang ke samping. Ponselnya jatuh di lantai. Sambil merangkak Sandra mengambilnya ponsel itu. Dia meneteskan air mata melihat nama Abraham yang muncul di layar ponselnya.
"Halo," lirihnya dengan begitu pelan.
"Kita harus bertemu."
Sandra tersenyum simpul. "Datang ke rumahku. Aku akan kirimkan alamatnya," ucap Sandra. Wanita itu melemparkan ponselnya. Dia beranjak dari lantai dan melangkah ke kamar mandi.
Di tempat lain, Tuan Abraham segera memasukkan ponselnya ke dalam saku. Pria itu mengemudikan mobilnya menuju ke alamat yang baru saja di kirimkan oleh Sandra. Dia ingin meminta Sandra untuk pergi meninggalkan Indonesia. Istrinya tidak boleh sampai bertemu dengan Sandra lagi. Berapapun biayanya akan di bayar oleh Tuan Abraham asalkan Sandra pergi jauh dari hidupnya.
Tidak butuh waktu lama Tuan Abraham sudah tiba di alamat yang dikirimkan Sandra. Pria itu sempat kaget melihat rumah mewah di depannya. Dia tidak menyangka kalau hunian wanita simpanannya itu cukup mahal. Sesegera mungkin Tuan Abraham turun dari mobil dan melangkah menuju ke pintu. Dia tidak jadi mengetuk pintu ketika melihat pintu itu terbuka sedikit.
"Sandra?" Tuan Abraham segera masuk ke dalam. Dia melangkah dengan hati-hati. Memperhatikan dekorasi rumah dan prabot yang tersusun rapi di sana. "Apa kau di dalam?"
Tuan Abraham mengernyitkan dahi melihat pintu kamar yang terbuka lebar. Dia segera melangkah ke sana dan masuk ke dalam. Wajahnya semakin bingung melihat kamar yang begitu berantakan. Tempat tidur yang seharusnya rapi kini justru terlihat sangat acak-acakan. Suara air di kamar mandi lagi-lagi menjadi perhatiannya.
"Sandra, apa kau di dalam?"
Tuan Abraham mendorong pintu kamar mandi. Kedua mata pria itu melebar melihat Sandra yang sudah merendamkan diri di dalam bak mandi. "Sandra, apa yang ingin kau lakukan?" Tuan Abraham segera menarik Sandra. Pria itu menurunkan Sandra dari bak mandi. Dia menepuk-nepuk pipi Sandra untuk membangunkan wanita itu.
Tuan Abraham kembali bernapas lega ketika melihat Sandra sadarkan diri. Wanita itu terbatuk-batuk sambil memegang dadanya yang sakit.
"Apa kau gila?" Tuan Abraham marah dan segera mendorong tubuh Sandra. "Kenapa kau menyuruhku datang jika kau ingin bunuh diri? Kau mau menjebakku?"
__ADS_1
"Abraham! Kau harus tahu kalau istrimu telah membayar orang untuk memperkosaku. Mereka telah merenggut harga diriku. Mereka memperlakukanku seperti sampah. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini. Aku lebih baik mati saja bersama anak yang ada di dalam kandunganku daripada hidup menanggung malu. Bukankah kau juga tidak menginginkan anak ini. Bukankah kau juga tidak mau menikahiku dan meninggalkan Yolanda. Lalu kenapa kau menyelamatkanku? Biarkan saja aku mati karena bunuh diri."
"Yolanda membayar orang untuk memperkosamu?" tanya Tuan Abraham dengan wajah tidak percaya.
"Ya. Pasti dia ingin balas dendam padaku karena aku telah menggoda suaminya. Tapi cara yang dia gunakan salah. Saya bisa saja melaporkannya ke polisi agar dia dijebloskan ke dalam penjara."
"Kau tidak bisa melakukan hal itu karena aku akan melindunginya!" sahut Tuan Abraham.
Sandra tertawa mendengar jawaban Tuan Abraham. "Kalian suami istri sama saja. Kalian berdua sama-sama manusia yang kejam dan tidak memiliki hati. Saya menyesal karena sudah pernah kenal dengan kalian berdua. Sekarang untuk apa Anda ada di sini lagi? Jika saya sudah tidak dibutuhkan untuk apa anda menemui saya. Pergi sana. Pergi dari rumah ini. Jangan temui saya lagi karena di antara kita sudah tidak ada hubungan apapun." Sandra memegang perutnya dan menatap wajah Tuan Abraham dengan mata berkaca-kaca. "Aku akan merawat anak ini. Aku akan melahirkannya. Aku akan membesarkannya dan mengatakan padanya kalau ayahnya adalah pria yang begitu kejam. Aku akan membuat dia benci pada ayahnya sendiri."
"Terserah kau saja. Aku datang ke sini karena ingin memintamu untuk pergi meninggalkan Indonesia. Aku tidak mau kau bertemu dengan Yolanda. Dia sudah cukup menderita atas masalah ini. Aku tidak mau dia sampai sakit hati ketika bertemu denganmu. Tadinya aku putuskan untuk merawat anak ini. Tetapi aku sadar kalau anak itu hanya akan membuat luka di hati Yolanda. Hanya Mama yang menginginkan cucu. Sekarang mama sudah tidak ada. Kau sudah tidak dibutuhkan lagi. Aku tahu anak ini adalah darah dagingku. Tetapi aku lebih memilih istriku."
"Aku tidak akan pernah meninggalkan Indonesia. Akan akan tetap tinggal di sini! Di rumah ini. Aku akan terus menjadi bayang-bayangmu. Aku akan membuat hidupmu tidak tenang," ancam Sandra.
"Aku tidak memberimu sebuah pilihan. Seseorang akan datang untuk menjemputmu dan membawamu pergi meninggalkan Indonesia. Kau tidak akan bisa menolaknya. Karena jika kau menolak itu hanya akan membuatmu merasa sakit saja."
Tuan Abraham beranjak dari sana dan segera merapikan penampilannya. Sebelum keluar dari kamar mandi, pria itu memandang wajah Sandra sekali lagi. "Aku menyesal sudah bertemu denganmu," ucap Tuan Abraham sebelum pergi.
Otis tidak bisa berkonsentrasi melajukan mobilnya. Berulang kali dia melirik wajah cantik Nyonya Yolanda yang kini tertidur pulas di sampingnya. Otis tahu kalau wanita itu kelelahan karena terlalu banyak menangis. Tapi yang membuat Otis tidak habis pikir kenapa Nyonya Yolanda sampai menciumnya seperti tadi. Mereka seperti sepasang kekasih yang saling merindukan. Jika saja Otis tidak mengakhirinya, mungkin sesuatu yang di luar nalar akan terjadi.
Kini Otis tidak memiliki pilihan lain selain membawa Nyonya Yolanda ke kampung halamannya. Dia tahu kalau Pak Rahmat juga akan pulang kampung. Dan bisa saja Pak Rahmat menyampaikan berita ini kepada Tuan Abraham nantinya. Tapi Otis memiliki ide yang lebih cemerlang. Dia tidak akan membawa mobil mewah ini sampai ke kampung. Pria itu berencana untuk membawa Nyonya Yolanda pulang menggunakan bis. Berpenampilan layaknya orang biasa. Jika Otis dan Nyonya Yolanda sudah ada di rumah, maka semua warga kampung tidak akan ada yang curiga. Termasuk Pak Rahmad yang saat itu letak rumahnya hanya 10 rumah dari tempat Otis tinggal.
Setibanya di terminal bis, Otis memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Sebelum meninggalkan mobil itu di sana dia sudah menghubungi sopir yang ada di rumah utama. Otis meminta Sopir itu untuk membawa mobil kembali ke rumah.
Nyonya Yolanda sendiri seperti tidak keberatan ketika diajak pergi dengan menggunakan bis. Meskipun Ini pengalaman pertama baginya, tapi wanita itu terlihat lebih pasrah dan menurut saja.
"Nyonya, kita sudah sampai. Kita harus segera turun dan naik bis," ajak Otis sambil menyentuh lengan Nyonya Yolanda.
__ADS_1
Nyonya Yolanda membuka kedua matanya secara perlahan. Dia memandang wajah Otis tanpa mengatakan kalimat apapun. Wanita itu menghela nafas lalu memandang ke depan. Melihat ada banyak bus berbaris di depan sana membuatnya memijat kepalanya sendiri. Dia tidak yakin kalau bisa ada di dalam bus itu. Namun dia juga tidak mau sampai ketahuan Tuan Abraham jika pergi menggunakan mobil ini.
"Ayo nyonya," Ajak Otis untuk turun.
Nyonya Yolanda membuka pintu mobil. Otis segera turun dan menarik lebar pintu mobil. Mengulurkan tangannya untuk membantu Nyonya Yolanda turun dari sana. Pria itu memegang Nyonya Yolanda dengan begitu kuat agar wanita itu tidak sampai terjatuh. Nyonya Yolanda seperti sudah tidak ada tenaganya lagi karena terlalu banyak menangis. Otis takut wanita itu jatuh sakit.
"Kita bisa nunggu di kursi sana, Nyonya. Busnya akan berangkat 15 menit lagi."
Nyonya Yolanda mengangguk pelan. Wanita itu mengikuti Otis menuju ke kursi. Memandang bis-bis yang sebentar lagi akan berangkat.
"Kita mau ke mana?"
"Ke kampung halaman saya, Nyonya. Di sana Ada banyak tempat untuk menenangkan diri. Saya akan membawa anda jalan-jalan ke tempat wisata alam yang sering saya kunjungi. Memang tidak sebagus di luar negeri. Tapi saya berani jamin kalau anda akan bahagia ketika ada di sana."
Nyonya Yolanda memandang ke depan lagi. Dia menggunakan masker yang selalu Ia bawa di dalam saku. Wanita itu juga mengenakan kacamata hitam favoritnya. Dia tidak mau sampai orang yang mengenalinya melihatnya ada di sana.
"Nyonya, Ayo kita naik ke bis. Bisnya akan segera berangkat," ajak Otis. Pria itu menggandeng lengan Nyonya Yolanda dan membawanya masuk ke dalam bis.
Pulang kampung bersama dengan Nyonya Yolanda Otis memesan tiket bus Yang VIP. Ia ingin Nyonya Yolanda merasa nyaman selama dalam perjalanan. Meskipun harga tiket bisnya hampir sama dengan harga tiket pesawat.
Nyonya Yolanda duduk di salah satu kursi dengan wajah yang heran. Ini pertama kalinya dia duduk di angkutan umum seperti itu. Tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Tidak terlalu buruk. Bersih dan cukup nyaman.
"Apa yang Anda pikirkan, Nyonya? Anda pasti merasa jijik ada di bis ini karena tidak semewah dengan pesawat pribadi yang biasa anda tumpangi."
"Tidak, Otis. Aku tidak berpikir demikian. Aku merasa bis ini sangat nyaman. Bis ini jauh lebih baik dari apa yang selama ini aku pikirkan."
"Nyonya, zaman sudah canggih. Angkutan umum juga semakin canggih dan berkembang. Sekarang setiap pengguna sudah diberi pilihan. Mereka bisa menumpangi angkutan umum sesuai dengan uang yang mereka miliki. Dari jenisnya, bis yang sekarang kita tumpangi termasuk yang paling mahal. Berbeda lagi jika Anda duduk di kelas ekonomi. Saya tahu Anda pasti akan langsung masuk rumah sakit jika sampai duduk di bis kelas ekonomi seperti yang selama ini saya tumpangi. Di sana sangat bau dan kotor. Belum lagi Anda akan bertemu dengan para pengamen setiap waktunya. Masih membayangkannya saja, Saya yakin anda sudah mual."
__ADS_1
Nyonya Yolanda tertawa mendengar cerita Otis. "Kau ini bisa saja." Nyonya Yolanda memandang ke samping. Dia mulai belajar kembali tersenyum dan melupakan kesedihan yang sejak kemarin mengganggunya. Otis masih tetap memandang Nyonya Yolanda sambil tersenyum kecil.
"Nyonya, tersenyumlah. Anda wanita tercantik yang pernah saya temui seumur hidup saya. Senyum anda sangat indah hingga membuat saya tenang setiap memandangnya."