Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Kabar Buruk


__ADS_3

Tuan Abraham sedang menyantap makan siangnya. Biasanya pria itu terlihat tidak berselera. Tapi siang ini, dia menghabiskan makan siangnya dengan porsi yang lumayan banyak. Tuan Abraham mendapat kabar kalau sekarang istrinya sedang dalam perjalanan menuju ke rumah. Ini kabar baik yang sejak kemarin ingin dia dengar.


Bahkan Tuan Abraham sudah menyiapkan banyak kejutan untuk Nyonya Yolanda yang telah dia simpan di dalam kamar. Di mulai dari bunga, cincin hingga beberapa barang branded keluaran terbaru. Tuan Abraham merasa yakin kalau dia dan Nyonya Yolanda bisa kembali seperti dulu lagi. Mereka akan memperbaiki pernikahan ini.


Tika yang sejak tadi membersihkan guci-guci yang terletak di dekat ruang makan, memperhatikan Tuan Abraham dengan tatapan curiga. Bagaimana tidak? Biasanya pria itu terlihat murung kali ini terlihat ceria.


"Apa yang terjadi? Apa dia sedang memikirkan wanita simpanannya?" gumam Tika di dalam hati.


Ekspresi Tuan Abraham sebenarnya bukan menjadi urusannya. Tetapi entah kenapa dia menjadi ingin ikut campur ketika mendengar gosip kalau Tuan Abraham selingkuh. Ini sangat mengecewakan. Bukan hanya Tika saja. Tetapi beberapa pelayan wanita lainnya juga merasa kecewa.


Pasalnya mereka sangat menjunjung tinggi Tuan Abraham selama ini. Memuji pria itu sebagai pria paling sempurna. Mereka mengimpikan memiliki suami seperti Tuan Abraham. Tetapi untuk sekarang, rasa simpati itu hilang. Mereka memandang Tuan Abraham sama seperti pria hidung belang pada umumnya.


"Tika, apa Otis ada menghubungimu?" tanya seorang wanita yang sejak tadi juga membersihkan guci.


"Tidak. Dia sombong sekali. Sejak Nyonya Yolanda menjadikannya orang kepercayaan, dia tidak lagi sering mengobrol denganku. Bahkan dia pergi kemana saja aku tidak tahu."


"Pak Rahmad katanya tidak kembali lagi ke rumah ini," bisik wanita itu lagi.


Tika Mengernyitkan dahinya. "Benarkah? kenapa?"


"Entahlah. Dengar-dengar Otis yang akan menggantikan posisi Pak Rahmad."


"Bukannya Otis itu masuk ke rumah ini karena Pak Rahmad? Kenapa dia tega sekali merebut posisi Pak Rahmad?" Wajah wanita itu terlihat kecewa. Tetapi entah kenapa sulit bagi Tika untuk menelan informasi itu bulat-bulat.

__ADS_1


"Tika, apa yang kau pikirkan? Cepat kerjakan," bisik wanita itu lagi. Dia membuat Tika tersadar dari lamunannya.


"Aku tidak memikirkan apapun," jawab Tika cepat. Mereka berdua sama-sama menahan gerakan mereka ketika mendengar suara mobil berhenti di depan. Bukan hanya Tika saja yang ingin tahu. Tetapi Tuan Abraham juga sampai beranjak dari kursi yang ia duduki karena ingin melihat langsung siapa yang datang siang ini. Dia berharap istrinya sudah tiba. Namun itu mustahil. Mengingat, seharusnya Nyonya Yolanda tiba di rumah sekitar dua jam lagi.


Seorang pengawal muncul di depan pintu. Pria itu seperti ingin menyampaikan sesuatu. Dia segera menunduk hormat melihat Tuan Abraham muncul di hadapannya. "Selama siang, Tuan."


"Siang. Ada apa?"


"Ada polisi yang ingin bertemu dengan anda, Tuan."


"Polisi?" Tuan Abraham terlihat sangat serius. Pria itu segera keluar.


Di depan sana dua polisi berdiri dengan seragam tapi. Mereka memandang Tuan Abraham dengan tatapan tidak terbaca sebelum menyodorkan surat di depan Tuan Abraham.


"Keterangan apa?" Tuan Abraham terlihat bingung.


"Ini menyangkut kematian pria bernama Rahmad. Beliau tewas dengan cara yang begitu tragis. Nomor yang terakhir dihubungi adalah nomor anda," jawab polisi itu apa adanya.


Tuan Abraham memejamkan kedua matanya sejenak sebelum memandang polisi itu lagi. "Dia memang pekerja di rumah ini. Tetapi dia meminta cuti untuk pulang kampung. Saya sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah ini," sangkal Tuan Abraham. Pria itu berusaha membela diri.


Tuan Abraham bisa saja membayar pengacara untuk menyelamatkannya dari tuduhan ini. Toh memang dia tidak ada hubungannya dengan kematian Pak Rahmad. Tetapi, dia sekarang ingin mempersiapkan diri untuk menyambut kepulangan istri yang sangat ia cintai. Tuan Abraham tidak mau sampai ketiak Nyonya Yolanda pulang dia tidak ada di rumah.


"Baiklah," jawab Tuan Abraham pasrah. Pria itu melangkah menuju ke mobil. Sambil berjalan dia menghubungi pengacaranya. Pria itu ingin masalah ini segera selesai agar dia bisa pulang ke rumah sebelum Nyonya Yolanda tiba.

__ADS_1


Dari balik lemari, Tika dan rekannya mengintip karena ingin tahu dengan apa yang terjadi. Mereka kembali bersembunyi ketika Tuan Abraham sudah keluar rumah. Mereka juga tidak mau sampai ketahuan.


"Tika, kau dengar itu? Pak Rahmad tewas? itu artinya Pak Rahmad sudah meninggal?"


Tika memandang rekannya sambil geleng-geleng kepala. "Aku juga kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin? Bukankah Pak Rahmad itu pria yang baik. Kenapa ada yang tega mencelakainya? Bagaimana dengan keluarganya?" ucap Tika dengan wajah sedih.


"Dan anehnya, kenapa Tuan Abraham terlibat dalam masalah ini? Bukankah ini teka-teki yang harus kita pecahkan?" ujar wanita itu lagi penuh antusias.


"Sebaiknya kita pura-pura tidak tahu saja. Kita ini hanya pekerja. Tidak berhak ikut campur dalam masalah majikan kita. Salah bicara kita bisa terlibat. Ayo kita kerja lagi. aku berharap masalah ini segera selesai." Tika menarik rekannya untuk kembali bekerja. Wanita itu sebenarnya juga tidak tenang, tetapi apa yang bisa dia perbuat. Wanita itu ingin segera menyampaikan segala informasi ini kepada Otis ketika pria itu pulang nanti.


Di dalam mobil, Tuan Abraham menghubungi pria yang selama ini bertugas untuk memata-matai Nyonya Yolanda dan Otis. Pria itu juga ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi. Dia tidak mau sampai istrinya celaka. Pria itu sama sekali tidak peduli dengan berita kematian Pak Rahmad. Dia hanya ingin dirinya tidak terlihat dan istrinya pulang dengan selamat.


"Apa kau tahu informasi tentang Rahmad?"


"Dia tewas karena bunuh diri, Tuan. Jasadnya di temukan di dalam kamar dengan kondisi gantung diri. Awalnya semua keluarga berpikir dia gantung diri. Namun, ketika melihat ada luka tusuk di perutnya semua orang meminta polisi menyelidiki masalah ini."


"Bagaimana dengan Otis?"


"Saya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, Tuan. Yang pasti Nyonya Yolanda pulang dengan selamat. Sebentar lagi akan sampai ke rumah."


"Jika nanti pengacaraku membutuhkan bukti, kau harus membantunya. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk menghubungimu lagi."


"Baik, Tuan." Panggilan telepon itu segera berakhir. Tuan Abraham memandang mobil polisi yang ada di belakangnya sebelum menghela napas panjang. "Ini pertama kalinya aku datang ke kantor polisi," gumamnya di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2