Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Balas Budi


__ADS_3

Tuan Abraham sangat-sangat emosi. Kemampuan bela dirinya sangat bisa diandalkan. Meskipun dengan tangan kosong pria itu berhasil mengalahkan sang pembunuh. Tidak lama setelah itu polisi datang. Mereka segera menangkap orang-orang yang terlibat dalam rencana pembunuhan malam hari itu.


Tidak ada korban jiwa di dalam rumah itu karena para pembunuh hanya mengikat para pengawal dan pelayan yang ada di rumah itu tanpa mau melukainya. Mereka dikumpulkan di gudang. Satu-satunya nyawa yang mereka incar hanya nyawa Nyonya Yolanda. Sepertinya mereka juga tidak mau mendapat banyak masalah hingga memutuskan untuk tidak membunuh pelayan dan pengawal.


"Yolanda, apa kau baik-baik saja? Mari duduklah di sini," ajak Tuan Abraham sambil membawa Nyonya Yolanda menuju ke sofa. "Kau pasti sangat takut. Pria itu benar-benar sungguh kejam. Bisa-bisanya ia ingin membunuhmu yang hanya seorang wanita lemah."


Nyonya Yolanda memandang ke arah pintu. Pembunuh telah di tangkap oleh polisi. Namun entah kenapa dia masih belum bisa tenang.


"Aku sangat kaget dan takut. Aku tidak menyangka kalau malam ini akan melewati hari buruk seperti sekarang. Entah seperti apa jadinya jika tadi kau datang terlambat Abraham."


"Ini semua berkat Otis. Aku akui kali ini dia sangat berguna." Tuan Abraham memberikan segelas air kepada Nyonya Yolanda.


"Otis?" Nyonya Yolanda terlihat syok. "Dia masih hidup?"


Tuan Abraham diam sejenak. Entah tadi dia keceplosan atau memang sengaja ingin memberi tahu Nyonya Yolanda kalau Otis masih hidup.

__ADS_1


"Maafkan aku karena merahasiakan keberadaan Otis selama ini. Sebenarnya dia masih hidup dan sekarang dia ada di rumah. Dia bekerja sebagai sopir pribadiku. Tadinya aku tidak benar-benar serius ingin menjadikannya karyawan di rumahku lagi. Aku sangat dendam padanya. Bahkan sampai tadi ketika ia mengatakan yang sebenarnya terjadi aku juga belum mau mempercayainya."


"Lalu sekarang di mana Otis? Aku ingin bertemu dengannya."


Tuan Abraham terlihat sangat cemburu ketika mendengar Nyonya Yolanda menyebut nama Otis di depannya. Namun sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas soal perasaan karena keselamatan Nyonya Yolanda jauh lebih utama.


"Kita harus ke kantor polisi untuk memberikan keterangan."


Nyonya Yolanda tidak mau terlalu memaksa. Bagaimanapun juga malam ini Tuan Abraham sangat berjasa. Dia tidak mau terus-menerus membuat Tuan Abraham sakit hati. "Tunggu. Aku ingin menemui seseorang karena saat ini aku sangat mengkhawatirkan keadaannya," ucap Nyonya Yolanda dengan wajah khawatir.


"Nenek Zue. Dia pasti sangat mengkhawatirkan Keadaanku saat ini."


Tuan Abraham terlihat menahan amarah ketika mendengar nama Nenek Zue. "Apa kau tahu kalau semua kekacauan ini disebabkan olehnya. Pertama kali tiba di rumah ini aku mencari keberadaannya karena sudah tidak sabar untuk memberinya pelajaran. Tetapi dia sudah tidak ada di rumah ini lagi. Sepertinya dia sudah tahu kalau dia akan kalah hingga ia memilih untuk kabur dan meninggalkan orang bayarannya di dalam sini."


"Apa yang kau katakan? Aku yakin Nenek Zue tidak akan seperti itu. Dia sangat tulus menyayangiku."

__ADS_1


"Kau terlalu polos Yolanda. Hatimu terlalu baik sampai-sampai dengan mudah ditipu oleh orang lain. Dia memandangmu sebagai saingannya. Dia ingin menguasai seluruh harta keluargamu. Ada banyak sekali rahasia yang ia simpan agar kau tidak mengetahuinya. Ketika kau kembali ke rumah ini dia merasa tidak tenang karena dia berpikir kalau kau akan merebut semua yang sudah ia dapatkan."


"Dari mana kau bisa memberikan informasi seperti itu? Apa kau memiliki bukti?"


"Mungkin kau tidak akan pernah percaya dengan apa yang aku katakan. Tapi aku mendapatkan informasi ini dari Otis. Karena dia yang berhasil mendapatkan semua informasi ini. Tetapi setelah aku menyuruh orang untuk melakukan penyelidikan ternyata informasi yang diberikan Otis benar. Nenek Zue adalah wanita yang jahat. Aku berhasil menemukan ponsel Nenek Zue di dalam kamar. Ponsel itu menghubungkan nomor pembunuh yang tadi. Bahkan aku juga sudah mendengar rekaman percakapan mereka. Di sana terdengar jelas kalau nenek Zue ingin kau mati dan membuat semua kematianmu menjadi berita bunuh diri. Sekarang nenek Zue sudah menjadi buronan polisi. Dia harus ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Aku yakin tidak lama lagi tim polisi pasti akan berhasil menangkapnya."


Nyonya Yolanda tidak tahu harus bicara apa lagi. Hatinya sangat kecewa ketika mengetahui kalau wanita yang ia pikir akan menyayanginya ternyata memiliki hati yang begitu busuk.


"Yolanda, demi keselamatanmu. Tinggallah di rumah."


Nyonya Yolanda memandang wajah Tuan Abraham. Dia segera melepas genggaman tangan Tuan Abraham. Bagaimanapun juga mereka sudah bercerai. Nyonya Yolanda tidak memiliki perasaan apapun untuk Tuan Abraham. Dia tidak mau melukai perasaan Tuan Abraham dengan memberi pria itu harapan palsu.


"Aku akan tetap tinggal di rumah ini. Aku akan baik-baik saja."


Tuan Abraham terlihat frustasi karena gagal membujuk Nyonya Yolanda. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku akan meminta Otis untuk menjagamu."

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2