Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Penampilan Baru


__ADS_3

Otis membuka matanya secara perlahan. Pengaruh obat bius membuatnya tidur terlalu lama. Otis mengeryitkan dahi melihat seorang pria berdiri tidak jauh dari posisinya berbaring. Karena ini pertama kalinya dia membuka mata setelah beberapa minggu tidak sadarkan diri, Otis merasa pusing dan matanya sakit. Otis bahkan harus menutup wajahnya dengan tangan karena tidak sanggup terkena cahaya. Pria itu masih berpikir kalau sekarang dia sudah mati. Namun, hembusan udara yang menyentuh kulit membuatnya tersadar kalau sebenarnya dia selamat dari maut yang hampir saja merenggut nyawanya.


"Otis, bagaimana kabarmu? Apa kau sudah bisa mendengarku?"


Otis menyingkirkan tangannya secara perlahan agar bisa dengan jelas melihat wajah pria itu. Meskipun sudah berulang kali ia melihatnya, tetap saja ia tidak bisa mengingat siapa pria itu. Otis merasa sangat yakin kalau dia tidak amnesia. Pria yang berdiri di hadapannya benar-benar pria asing yang kini baru pertama kali ia temui.


"Siapa anda?" Hanya itu Kalimat yang kini terpikirkan oleh Otis.


"Aku pria yang sudah menyelamatkanmu dari maut. Mungkin jika aku tidak membawamu kabur dari rumah sakit itu, Tuan Abraham sudah menyuruh orang untuk menghabisimu di ruang operasi. Kau berhutang budi padaku Otis."


"Tuan Abraham?" Otis kembali mengingat kekejaman yang dilakukan oleh Tuan Abraham. Ada rasa marah di dalam hatinya. Sebagai orang miskin harga dirinya terlalu diinjak-injak oleh orang kaya seperti Tuan Abraham. Padahal sudah jelas-jelas Otis tidak memiliki niat untuk mengusik pria itu lagi.


"Sebenarnya dia tidak terlalu kejam. Dia hanya suka mengancam saja. Terutama mengancam pria lemah sepertimu. Mungkin kemarin keadaannya sangat mendesak dan dia benar-benar marah sampai-sampai dia tega melakukan perbuatan itu padamu." Pria itu menjelaskan.


"Kau ada di pihaknya?" tanya Otis sambil mengernyitkan dahi.


"Tentu saja tifak. Sekarang aku tidak ada di pihak manapun. Tidak ada di pihakmu tidak ada juga di pihak Tuan Abraham."

__ADS_1


"Lalu apa tujuanmu menolongku? Aku tahu semua perbuatan ini tidak gratis," ujar Otis lagi.


"Anggap saja Tesya yang memintaku untuk melakukan semua ini."


"Tesya?" Otis semakin kaget mendengarnya. Setau Otis, Tesya sudah tiada. Bahkan Otis sendiri tahu di mana makam wanita itu.


"Tesya tidak menjadi hantu gentayangan. Aku tahu dia sudah tiada. Kau tidak perlu tahu apa hubunganku dengan Tesya. Seperti apa kedekatan kami selama ini. Yang harus kau tahu, Aku ini ingin mencari dalang dari pembunuhan yang terjadi pada Tesya. Aku merasa ada yang janggal dari kematian Tesya. Tetapi sebagai orang baru aku tidak memiliki kuasa apapun. Aku merasa sangat yakin kalau orang yang sudah merencanakan pembunuhan Tesya berada di rumah itu. Masih ada di lingkungan Tuan Abraham dan Nyonya Yolanda. Oh iya, sekedar informasi penting. Nyonya Yolanda dan Tuan Abraham sudah bercerai. Seharusnya kabar ini bisa membuatmu tambah semangat. Bukankah kau mencintainya Nyonya Yolanda."


"Bercerai? Sejak kapan mereka bercerai? Lalu sekarang Nyonya Yolanda ada di mana? Apa dia masih tinggal di rumah itu?" tanya Otis dengan wajah khawatir.


"Aku sedang tidak ingin bercanda. Katakan padaku di mana Nyonya Yolanda? Apa dia masih tinggal di rumah itu?"


"Tidak Otis. Nyonya Yolanda sudah pergi dari rumah itu. Ini yang membuatku kesulitan. Aku harus menyelidiki sesuatu yang disimpan di dalam rumah itu. Aku butuh bantuanmu. Kau harus masuk lagi ke dalam rumah itu dan membantuku untuk mengumpulkan bukti-bukti. Setelah kita berhasil aku serahkan semuanya padamu. Kau boleh keluar dari rumah itu kapan saja."


Otis terlihat berpikir. Pria itu memandang wajah lawan bicaranya.


"Apa secara tidak langsung kau ingin memintaku untuk masuk ke lubang yang sama. Masuk ke rumah itu sama saja menyerahkan nyawa terakhirku kepada Tuan Abraham. Dia pasti memiliki rencana untuk menghabisi nyawaku."

__ADS_1


"Tentu saja kita masuk ke dalam rumah itu harus menggunakan sebuah trik. Tuan Abraham tidak akan berani melukaimu sedikitpun. Kita harus mengancamnya. Dia pasti masih takut dengan polisi karena sebanyak apapun uang yang ia miliki jika kita bisa memberikan bukti kejahatannya kepada polisi, maka dia pasti akan ditangkap. Dia juga merupakan pria yang sangat terkenal. Kita bisa menghancurkannya dengan menggunakan media. Dia pasti tidak akan berani mengancammu kali ini. Dia pasti akan memilih untuk menerimamu dan melupakan semuanya."


"Apa yang harus aku katakan kepadanya agar dia mau menerimaku untuk berada di rumah itu lagi?" tanya Otis sambil berpikir.


"Kau hanya perlu katakan padanya kalau kau benar-benar sudah melupakan Nyonya Yolanda dan membutuhkan pekerjaan itu. Aku yakin dia pasti akan percaya. Setelah dia percaya dan kau diterima bekerja lagi di rumah itu kau harus segera menyelidiki bukti-bukti yang ada di kamar Tika dan juga Renata."


"Tika? Apa maksudmu Tika terlibat dalam kematian Tesya?"


"Aku tidak tahu. Yang aku tahu Tika orang yang sangat dekat dengan Renata. Sementara Renata ini ada di lokasi kejadian saat Tesya terbunuh."


"Baiklah. Sejak awal aku juga ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi sampai Tesya tewas dengan cara tragis seperti itu. Karena setahuku dia wanita yang jago bela diri. Aku akan membantumu untuk menyelidiki kematian Tesya dan menangkap pelakunya. Semoga saja hasilnya tidak mengecewakan."


"Terima kasih, Otis. Tapi ada satu hal lagi yang ingin aku minta padamu. Selama masa penyelidikan kita belum berhasil, sebaiknya lupakan dulu cintamu terhadap Nyonya Yolanda."


Otis senyum simpul mendengarnya. "Itu akan menjadi urusanku. Aku berani jamin kalau aku akan bekerja secara profesional."


"Terima kasih, Otis. Senang bekerja sama denganmu."

__ADS_1


__ADS_2