
Tuan Abraham berdiri di ruang tamu. Sambil mengepal kedua tangannya pria itu meneriaki nama Otis. Seorang penjaga yang kebetulan mendengar teriakan Tuan Abraham segera berlari ke kamar Otis untuk memanggil pria itu. Dia tidak mau ada masalah lagi di sana.
"Otis! Otis!" ujar pengawal itu sambil menggedor-gedor pintu kamar Otis. "Keluarlah."
Otis segera membuka pintu kamarnya dengan handuk yang masih melilit di pinggang. Ternyata pria itu baru saja selesai mandi dan belum memakai pakaian. Tadinya ia ingin memakai pakaian dulu sebelum membuka pintu. Namun karena tamu yang datang menggedor pintunya dengan sangat keras, akhirnya Otis membuka pintu dengan penampilan seperti itu.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Otis dengan wajah yang sangat khawatir.
"Tuan Abraham memanggilmu. Dia terlihat sangat marah. Cepat temui dia di ruang tamu." Pengawal itu memandang penampilan Otis yang masih mengenakan handuk. "Tapi kenakan dulu pakaianmu. Kau tidak akan mungkin bertemu dengan Tuan Abraham dengan penampilan seperti ini. Aku harus kembali ke sana untuk memastikan keadaan tetap aman," ujar pengawal tersebut sebelum pergi meninggalkan Otis begitu saja.
__ADS_1
"Apalagi yang dia inginkan. Apa dengan aku menjauhi Nyonya Yolanda belum cukup baginya?" umpat Otis kesal sebelum dia kembali masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu tersebut.
Otis memakai kaos hitam dan celana jeans. Dia tidak tahu sekarang harus bekerja dengan siapa. Kini dia tidak lagi memakai pakaian seragam supir yang disediakan di rumah itu. Setelah menyisir rambutnya dengan rapi Otis segera meninggalkan kamar tidurnya. Pria itu berjalan menuju ke ruang tamu dengan langkah yang begitu cepat.
Namun semakin dekat dengan keberadaan Tuan Abraham, Otis semakin lambat untuk melangkah. Pria itu memperhatikan punggung Tuan Abraham yang kekar. Hanya dari posisi belakang saja Otis sudah tahu kalau kini pria itu sedang disulut emosi.
"Apa Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Otis penuh dengan basa-basi. Tidak lupa pria itu menundukkan kepalanya untuk memperlihatkan rasa hormatnya terhadap Tuan Abraham sebagai majikannya.
Otis segera membukakan pintu untuk Tuan Abraham. Sebelum Tuan Abraham masuk ke dalam mobil, pria itu memandang ke arah pintu sekali lagi. Dia mencari Nyonya Yolanda. Wanita itu tidak terlihat sejak perpisahan mereka di kamar tadi. Namun Otis kembali tersadar dan melupakan wanita itu dari ingatannya. Otis menutup pintu mobil secara hati-hati sebelum berlari menuju samping mobil dan masuk ke dalam. Otis duduk dan memandang Tuan Abraham sejenak melalui spion sebelum menghidupkan mesin mobilnya.
__ADS_1
"Apa seperti itu caramu memandang istriku setiap kali kalian berduaan di dalam mobil ini?" tanya Tuan Abraham dengan wajah memerah menahan amarah. Terlihat jelas kalau pria itu sangat cemburu ketika membayangkan kedekatan istrinya dengan supir yang sempat dia percaya.
"Maafkan saya, Tuan." Otis tidak tahu harus berkata apa lagi selain permintaan maaf. Hanya ini yang bisa ia lakukan agar hidupnya kembali tenang.
"Istriku marah besar karena kau memutuskan hubungan yang ada di antara kalian berdua. Aku senang mendengarnya. Bagiku ini kabar yang sangat bagus. Tapi bukan berarti aku sudah memaafkanmu Otis. Sampai sekarang aku masih belum percaya denganmu."
"Itu pilihan Anda, Tuan. Sebagai seorang supir Saya hanya menjalankan perintah yang akan Anda katakan." Otis melajukan mobilnya secara perlahan. Karena tidak tahu tujuannya kemana, pria itu melajukan mobilnya begitu saja tanpa tujuan yang pasti.
"Kita ke cafe. Aku ingin menemui seseorang di sana," ucap Tuan Abraham sebelum memalingkan wajahnya ke samping.
__ADS_1
"Baik, Tuan," jawab Otis. Pria itu mengikuti arah yang tertera di layar di depannya menuju ke tempat yang akan mereka tuju.