
"Maaf, Tuan. Kali ini saya tidak bisa menerima tawaran Anda meskipun imbalan yang akan saya terima sangat besar jumlahnya. Bukan karena saya tidak menghargai kemurahan hati anda tetapi keputusan ini terlalu beresiko. Saya juga tidak mau mendapat masalah lagi. Saya ingin memperbaiki semuanya dan tidak mau mengulang kesalahan yang sama," tolak Otis. Pria itu mendorong amplop coklat berisi uang yang ada di atas meja. Terlihat jelas kalau pria itu sama sekali tidak tertarik dengan tawaran pekerjaan baru yang ditawarkan oleh Tuan Abraham.
"Kau yakin akan menolaknya? Sebaiknya pikirkan saja dulu sebelum menolak pekerjaan baru ini." Tuan Abraham masih belum mau menerima amplop yang kini di tolak oleh Otis. "Aku tidak akan menawarkannya untuk yang kedua kalinya. Bukankah selama ini kau dan Yolanda sama-sama saling mencintai? Kenapa sekarang ketika aku berniat untuk menyatukan kalian berdua kau justru memilih untuk mundur? Apa kau tidak serius dengannya?"
Otis diam sejenak. Dia juga tidak mau sampai salah bicara. "Karena anda adalah majikan saya dan saya tahu kalau Anda masih mencintai Nyonya Yolanda meskipun kini Anda dan Nyonya Yolanda sudah bercerai."
"Bukankah sebelumnya aku juga majikanmu tetapi kau tetap saja memutuskan untuk mendekati istriku hingga akhirnya hubungan kami kandas." Tuan Abraham meneguk kopi yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Saat itu situasinya berbeda, Tuan. Nyonya Yolanda merasa disakiti. Sejak awal niat Saya hanya ingin membuat Nyonya Yolanda tidak patah semangat. Tetapi lama-kelamaan rasa peduli itu berubah menjadi rasa nyaman hingga saya putuskan untuk mendekati Nyonya Yolanda."
"Apapun alasannya aku tetap ingin kau yang menjadi supir Yolanda. Aku tidak bisa mempercayai pekerjaan ini kepada orang lain. Jika kau yang berada di sisi Yolanda, aku akan merasa tenang. Aku sendiri tidak mungkin turun tangan langsung untuk menjaga Yolanda karena saat ini diantara kami sudah tidak ada hubungan apapun lagi."
"Anda tidak berniat untuk rujuk kembali dengan Nyonya Yolanda, Tuan?" Otis masih belum percaya kalau Tuan Abraham akan menjauhi Nyonya Yolanda begitu saja.
"Anda serius, Tuan?" tanya Otis sekali lagi. "Anda tidak sedang menjebak saya kan?"
__ADS_1
"Apa wajahku tidak terlihat serius? Bisa-bisanya kau berpikir kalau ini hanya jebakan. Aku memang pernah jahat bahkan hampir mencelakai nyawamu. Tapi sekarang aku sudah benar-benar berubah. Melihatmu bisa memaafkanmu membuatku menjadi malu. Sebagai seorang pria kau bisa bersikap baik dan bijaksana kenapa aku tidak bisa. Kau bahkan rela masuk ke dalam rumahku lagi hanya untuk bekerja agar aku percaya kalau kau tidak lagi memiliki hubungan dengan Yolanda. Memang awalnya Aku curiga tetapi ketika tadi aku melihat ekspresi Yolanda aku menjadi percaya dengan apa yang kau katakan. Aku tahu kalau kau bisa saja menolong Yolanda tanpa harus memberi tahuku. Tetapi kau tetap memberi tahuku hingga akhirnya aku yang menjadi pahlawan di depan Yolanda. Otis, usiaku sudah tidak muda lagi. Tidak sepantasnya hidupku berhenti di sini. Mungkin memang perpisahan di antara kami adalah jalan terbaik untuk kami. Aku akan fokus dengan karirku. Selama ini aku sudah terlena sampai-sampai tidak serius dalam bekerja."
Otis lagi-lagi dibuat tertegun mendengarnya. Padahal niat awal pria itu masuk ke rumah Tuan Abraham hanya ingin mencari informasi. Sekarang setelah ia mendapatkan semuanya ia tidak lagi tertarik untuk bekerja di rumah itu. Bahkan Otis sempat berpikir kalau dia akan keluar dari rumah itu setelah menyalahkan Tuan Abraham karena sudah pernah memiliki niat untuk membunuhnya. Tidak di sangka sekarang keadaannya berbeda. Kini posisinya justru Otis yang jahat. Pria itu mendekati Tuan Abraham karena memiliki tujuan tertentu saja.
"Baiklah Tuan. Saya akan menemui Nyonya Yolanda. Tapi anda harus ingat kalau saya melakukan semua ini demi anda. Karena anda memaksa saya."
Tuan Abraham tersenyum. Ppria itu tidak tahu harus bicara apa lagi sekarang. Berbeda dengan Otis yang terlihat kegirangan namun ia masih menyembunyikannya di dalam hati saja.
__ADS_1
"Ini benar-benar bonus. Aku tidak menyangka kalau pada akhirnya Tuan Abraham sendiri yang menjodohkan kami berdua," gumam Otis di dalam hati.