Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Aksi Tante Renata


__ADS_3

Tante Renata sudah ada di dalam kamar Tesya. Hanya dia satu-satunya yang mengetahui tempat tinggal Tesya. Bahkan Nyonya Yolanda sendiri tidak pernah tahu dimana Tesya tinggal selama ini. Wanita itu sudah menyimpan semua senjata tersembunyi milik Tesya. Kali ini targetnya adalah Tesya. Dia tidak akan pergi meninggalkan ruangan itu sebelum Tesya dinyatakan tewas.


Tesya kaget bukan main melihat seorang wanita berada di kamarnya. Karena orang yang muncul di kamarnya adalah orang asing, dia segera mengambil senjata apinya. Wajahnya terlihat panik ketika senjata yang ia cari tidak ada di tempatnya. Dia segera mengencangkan handuk yang melilit di tubuhnya lalu siap untuk melawan wanita yang ada di hadapannya.


"Siapa kau? Apa yang kau inginkan?" Sambil mengulur waktu, Tesya mencari cara untuk mengalahkan lawan di depannya. Kali ini musuhnya memegang senjata sedangkan dia tidak. Nyawanya bisa melayang kapan saja jika musuhnya menarik pelatuk senjata tersebut.


"Aku adalah orang yang selama ini kau cari. Sekarang kau tidak perlu susah-susah mencariku lagi karena aku sudah ada di hadapanmu," jawab Tante Renata dengan santai.


Tesya diam sejenak. Dia tidak pernah mencari siapapun untuk saat ini kecuali orang yang berniat mencelakai Nyonya Yolanda. Kedua matanya melebar. "Kau seorang wanita?" ujar Tesya masih dengan wajah tidak percaya.


"Berarti selama ini kau tidak sehebat yang aku pikirkan. Aku bukan hanya seorang wanita saja. Jika aku tidak menutupi wajahku, kau pasti akan kaget. Aku tidak mau membuka identitasku di depan wanita yang masih sehat sepertimu. Kau bisa melihat wajah asliku ketika kau akan meregang nyawa."


"Itu hanya akan ada di dalam imajinasimu." Tesya mengambil vas bunga yang ada di dekatnya lalu ia lemparkan ke arah Tante Renata. Bersamaan dengan itu Tante Renata melepas senjata apinya. Peluru yang ia keluarkan membuat vas bunga tersebut pecah. Tesya yang ingin menyelamatkan diri, segera mengambil tongkat baseball yang terselip di balik lemari.


"Jika kau benar-benar hebat hadapi aku dengan tangan kosong," tantang Tesya.


"Tidak semudah itu anak kecil. Apa Kau pikir aku mudah untuk dipermainkan. Hanya dengan sekali tembak saja kau akan mati. Memang nyawamu yang aku inginkan. Lalu untuk apa aku repot-repot melawanmu. Ada cara yang cepat untuk apa menggunakan cara yang lama?"


Tesya semakin kehilangan akal. Dia tahu berlari untuk mendekat agar bisa memukul hanya akan membuat nyawanya semakin pendek. Sekarang senjata api itu mengarah ke dirinya. "Sekarang aku harus bagaimana?" gumamnya di dalam hati.


"Bersiaplah untuk menemui rekanmu Tesya. Semoga kau dan Otis hidup menyenangkan di sana," ucap Tante Renata sebelum melepas pelurunya.

__ADS_1


Tesya segera menunduk dan melempar tongkat baseball yang ada di genggamannya ke depan. Hal itu membuat Tante Renata terjatuh. Bahkan senjata apinya terlepas dan melayang di udara. Jelas saja Tesya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia segera berdiri dan melompat untuk merebut senjata api itu.


Tante Renata tidak kehabisan cara. Dia mengambil belatih dan menusukkannya ke perut Tesya saat wanita itu melompat. Darah segar mengalir dengan deras. Handuk putih yang dikenakan Tesya telah berubah warna.


Di sisi tenaga yang ia miliki, Tesya masih sempat-sempatnya menembak Tante Renata. Wanita paruh baya itu juga tidak luput dari maut. Satu peluru yang tersisa berhasil bersarang di kepala Tante Renata. Wanita itu juga terjatuh dan tergeletak di lantai dengan mata terbuka. Tesya terduduk dan memegang perutnya yang berdarah. Tenaganya habis. Dia berjalan merangkak. Handuknya terlepas. Tesya masih berusaha mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Wanita itu meneteskan air mata atas rasa sakit yang ia derita.


Dengan tubuh tanpa busana, Tesya berhasil meraih ponselnya. Dia segera menekan nomor Nyonya Yolanda.


"Halo, Tesya."


"Maafkan saya karena sudah tidak bisa melindungi anda lagi, Nyonya. Setidaknya saya sudah berhasil membunuhnya. Tetapi saya sudah gagal melindungi Otis."


Tesya melepas ponselnya dengan posisi masih menyala. Nyonya Yolanda terus saja memanggil Tesya tetapi Tesya tidak lagi bisa menjawab. Wanita itu tergeletak di sana dengan posisi miring. Tangannya memegang perutnya menahan rasa sakit yang begitu luar biasa.


Di sisi lain, Nyonya Yolanda tidak bisa tenang lagi. Wanita itu menghubungi seseorang yang ia harapkan bisa membantunya kali ini.


"Halo Nyonya. Ada yang bisa saya bantu."


"Aku ingin kau melacak nomor seseorang. Aku ingin tahu keberadaannya sekarang juga."


"Baik, Nyonya. Anda hanya perlu mengirimkan nomor teleponnya."

__ADS_1


"Aku butuh cepat. Kirimkan alamatnya lima menit lagi."


"Baik, Nyonya, Saya akan melakukannya lebih cepat dari itu."


Panggilan telepon segera terputus. Nyonya Yolanda mengambil barang-barang pribadinya dan memasukkannya ke dalam tas. Dengan terburu-buru wanita itu pergi meninggalkan kamar. Tidak lupa dia mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas laci. Beberapa pelayan juga sempat bertanya-tanya karena Nyonya Yolanda terlihat sangat terburu-buru.


"Nyonya, Anda baru saja tiba. Anda mau pergi ke mana? Apa perlu saya minta supir Untuk mengantarkan Anda?" tanya salah satu pelayan wanita yang ada di sana.


"Tidak perlu, Saya akan membawa mobil sendiri," tolak Nyonya Yolanda. Wanita itu segera masuk ke mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ponselnya masih ada di genggaman. Dia sedang menunggu alamat yang dikirimkan.


Tidak sampai satu menit alamat itu sudah masuk ke dalam ponselnya. Nyonya Yolanda membaca alamat itu dengan seksama. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempatnya tinggal saat ini. Sesegera mungkin Nyonya Yolanda berangkat ke alamat tempat Tesya berada.


Memang jalan yang kini dilalui adalah jalanan yang begitu sunyi. Nyonya Yolanda sendiri tidak pernah melalui jalan itu. Bisa dibilang tidak ada tempat tinggal di sana. Kalaupun ada, tempat tinggal itu sudah tidak berpenghuni lagi. Nyonya Yolanda masih tidak habis pikir kenapa Tesya memilih tempat tinggal seperti itu. Padahal bisa saja wanita itu membeli apartemen atau menyewa rumah mewah.


Tidak butuh waktu lama, Nyonya Yolanda sudah tiba di alamat yang ada di ponsel. Wanita itu segera memberhentikan mobilnya dan turun. Dia memperhatikan sekali lagi rumah sederhana yang ada di hadapannya. Tanpa pikir panjang wanita itu berlari masuk ke dalam dia sudah sangat khawatir dan takut kalau Tesya kenapa-kenapa.


Pintu rumah dikunci dan itu membuat Nyonya Yolanda kebingungan. Bagaimanapun juga Yolanda tidak memiliki bakat untuk menerobos rumah orang yang sedang dikunci. Wanita itu menggedor-gedor pintu rumah tersebut sambil meneriaki nama Tesya. Namun tidak ada juga jawaban di dalam sana. Nyonya Yolanda berlari ke samping mengintip setiap jendela yang ada di rumah itu. Ia berharap di dalam sana ia bisa bertemu dengan Tesya. Langkahnya terhenti ketika dia berdiri di depan jendela kamar. Pemandangan yang ada di dalam kamar sana bukan pemandangan yang patut untuk ia lihat. Karena terlalu syok, Nyonya Yolanda sampai terduduk. Wanita itu memegang dadanya dengan tatapan tidak percaya. Lihat darah yang begitu banyak dan mengerikan membuatnya ingin pingsan. Nyonya Yolanda mengambil ponselnya dengan tangan gemetar. Suaranya hilang hingga dia tidak bisa berbicara. Nyonya Yolanda benar-benar ketakutan saat ini. Dia butuh seseorang untuk menguatkannya. Nyonya Yolanda menekan nomor polisi lalu melekatkan ponselnya di telinga.


"Tolong saya," lirih Nyonya Yolanda. Wanita itu melepaskan ponselnya. Dia menangis tersedu-sedu. Nyonya Yolanda melihat Tesya tergeletak dalam keadaan tubuh dipenuhi darah. Entah apa sekarang yang ia pikirkan. Dia benar-benar kacau sampai tidak tahu harus berbuat apa.


"Tesya ... Tesya ...," teriaknya dengan suara histeris. Nyonya Yolanda menangis sejadi-jadinya di sana. Di tempat sunyi yang jauh dari pemukiman warga.

__ADS_1


__ADS_2