
Mobil itu meluncur cepat menembus kabut malam dalam kebisuan. Sepanjang jalan Otis berusaha fokus ke jalanan yang ada di depan sana. Namun lehernya ingin sekali segera miring untuk memandang wajah Nyonya Yolanda. Bahkan bibirnya yang sejak tadi ingin mengucapkan kata maaf terasa keluh.
Otis merasa sekarang dia dalam masalah besar. Sampai-sampai seluruh tubuhnya gemetar ketakutan. Berulang kali ia mengumpat dan menyalahkan dirinya sendiri. Berulang kali ia mengatai dirinya tidak tahu diri. Otis benar-benar menyesal. Dia terlalu kurang ajar. Bahkan jika saat ini Nyonya Yolanda tidak memaafkannya lagi pria itu siap untuk dipecat.
Setibanya di parkiran Hotel Nyonya Yolanda segera turun. Tidak mengatakan satu kata pun lagi. Bahkan menutup pintu mobil saja dengan cara dibanting. Otis memandang punggung Nyonya Yolanda yang semakin menjauh. Pria itu menghela nafas panjang sebelum menjatuhkan kepalanya di stir mobil.
Tiba-tiba pintu mobil terbuka. Dua pria menyeretnya untuk keluar. Otis ingin melawan tetapi perutnya lebih dulu di pukul. Sambil menahan sakit Otis berusaha untuk memandang pria yang ingin mencelakainya. Pria itu bertopeng. Otis tidak tahu identitas pria itu.
Otis di seret masuk ke dalam mobil lagi. Satu pria menjaga Otis di belakang sedangkan satunya lagi mengambil alih kemudi. Mereka membawa Otis pergi menjauh dari hotel. Seseorang yang duduk di samping Otis menyuntikkan sesuatu ke leher Otis. Otis masih berusaha memberontak namun tenaganya menjadi lemah. Samar-samar ia memandang pria bertopeng yang membawanya sebelum kedua matanya terpejam dan dia tidak sadarkan diri lagi.
***
Otis membuka kedua matanya secara perlahan. Cahaya matahari membuat kepalanya terasa sakit. Matanya masih terasa berat. Lehernya juga. Seperti ada beban berat di pundaknya. Otis masih belum sadar kalau kini dia tergeletak di dalam jurang. Ya, jurang!
"Dimana ini?" Otis segera terperanjat kaget. Mendongakkan kepalanya dan memandang pepohonan besar di atas sana. Dia merasa seperti dihimpit oleh bukit-bukit. Otis tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa dia bisa sampai tertidur di sana. Dia tidak ingat apapun selain masuk ke dalam mobil dan dua pria bertopeng.
Otis merogoh sakunya berharap ponselnya ada di dalam saku. Tetapi hasilnya nol besar. Otis tidak menemukan apapun di dalam sana. Rahangnya terasa sakit ketika digerakin. Sekujur tubuhnya juga terasa sakit.
"Siapa mereka? Apa mereka membuangku ke jurang ini berharap aku tewas? Apa mereka tahu kalau aku masih hidup?" Otis berusaha berdiri. Kakinya juga terasa sakit. Detik itu Otis tahu kalau dia di hajar habis-habisan sampai babak belur ketika tidak sadarkan diri sebelum dibuang ke jurang. Nasip yang menyedihkan. Lagi-lagi dia menderita karena pekerjaan yang ia lakoni.
Otis diam sejenak di sana sambil memikirkan cara untuk naik ke atas. Dia juga tidak tahu apa sekarang masih ada di wilayah kampung halamannya atau bukan. Setahu Otis memang di kampung halamannya ada banyak jurang. Namun, dia belum pernah sekalipun berada di dalam jurang tersebut.
"TOLONG!" teriak Otis. Berharap seseorang mendengar teriakannya dan datang untuk menyelamatkannya. Namun, sudah berulang kali berteriak minta tolong hasilnya tetap nihil. Di sana sangat sunyi. Hanya terdengar suara binatang hutan yang Otis sendiri tidak tahu bagaimana rupanya.
"Aku harus naik ke atas."
Otis kali ini berhasil berdiri tegap. Pria itu berpegangan ranting pohon yang ia temui di dekatnya berbaring tadi. Ranting itu dia jadikan tongkat dan untuk membuka jalan yang begitu semak di depan.
__ADS_1
Munculnya ular di depan membuat Otis kaget bukan main. Pria itu sampai terjatuh karena sangat kaget. Otis diam sambil memandang ular itu. Bahkan tarik napas saja tidak berani. Dia berusaha mematung seperti kayu sampai ular itu benar-benar menjauh.
"Tuan Abraham. Aku yakin ini ulahnya!" umpat Otis di dalam hati.
Di sisi lain. Nyonya Yolanda menghubungi nomor Otis hingga berulang kali. Wanita itu terlihat kesal karena pagi ini Otis tidak menemuinya. Padahal seharusnya Otis datang dan menemaninya sarapan pagi.
"Dimana dia? Seharusnya aku yang marah. Kenapa sekarang terbalik?" protes Nyonya Yolanda di dalam hati. Dia meletakkan ponselnya ke atas tempat tidur. Di sana Nyonya Yolanda tidak memiliki kendaraan. Dia tidak bisa pergi sesuka hatinya. Nyonya Yolanda mengatur napasnya lagi berusaha kembali tenang. Dia kembali mengingat kejadian tadi malam. "Dia tersinggung karena aku menampar wajahnya?"
Suara ketukan pintu memecah lamunan Nyonya Yolanda. Wanita itu terlihat ceria ketika berjalan ke pintu. Dia tahu kalau orang yang sudah mengetuknya pasti Otis. Nyonya Yolanda bahkan sudah menyiapkan ekspresi untuk memarahi Otis. Dia juga tidak mau sampai terlihat sedang mengkhawatirkannya.
Nyonya Yolanda menarik pintunya lebar-lebar. "Otis, kenapa kau-"
"Nyonya."
Nyonya Yolanda mengeryitkan dahinya. "Tesya? Kenapa kau bisa ada di sini?"
Nyonya Yolanda segera memberi jalan. Wanita itu sangat kecewa karena bukan Otis yang muncul di sana. Dia berjalan mengikuti Tesya dari belakang.
"Kau tidak membaca pesanku?" Sebelum pergi ke kampung halaman Otis, Nyonya Yolanda sempat mengirim pesan kepada Tesya. Dia melarang wanita itu untuk mengikutinya selama ia pergi bersama Otis. Bahkan Nyonya Yolanda juga sempat mengatakan kalau sebaiknya Tesya percayakan keselamatannya kepada Otis. Nyonya Yolanda meminta Tesya untuk memata-matai Tuan Abraham selama dia pergi. Tapi kini justru yang terjadi jauh dari apa yang ia pikirkan. Otis menghilang dan Tesya muncul di hadapannya.
"Sudah, Nyonya." Tesya memutar tubuhnya dan memandang Nyonya Yolanda. "Anda apa kabar? Apa anda sudah sarapan, Nyonya?"
"Kenapa kau bisa ada di sini?" Nyonya Yolanda menahan kalimatnya. Tesya adalah wanita yang serba bisa. Jelas saja sangat mudah baginya untuk mengetahui keberadaan Nyonya Yolanda. "Maksudku, kau tidak menuruti perintahku?"
"Saya tidak mau anda celaka."
"Celaka?" Nyonya Yolanda menyunggingkan senyuman tipis. "Kau bisa lihat sendiri kalau aku baik-baik saja. Aku masih sama seperti terakhir kali kita bertemu bukan? Apa yang kau khawatirkan. Udah ada Otis di sini. Dia menjagaku dengan sebaik mungkin. Dia pria baik. Kau tidak perlu meragukannya."
__ADS_1
"Saya merindukan Anda, Nyonya. Rasanya tidak puas jika saya tidak melihat keadaan anda langsung. Terakhir kali kita bertemu keadaan anda sangat buruk. Anda menangis karena Tuan Abraham selingkuh. Itu membuat saya tidak tenang setiap malam."
"Aku sendiri tidak tahu sekarang kondisiku ini termasuk baik-baik saja atau tidak. Yang aku tahu sekarang air mataku sangat mudah untuk menetes. Perasaanku sensitif sekali."
"Pulang, Nyonya. Tempat ini juga tidak baik untuk anda. Penjagaan di sini sangat kurang. Bagaimana kalau ada yang mengetahui keberadaan Anda di sini. Anda juga tidak boleh lupa kalau sampai detik ini nyawa Anda masih diincar oleh seseorang. Bahkan saya sendiri tidak tahu identitasnya. Saya tidak mau sampai Anda celaka. Otis sangat tidak bisa diandalkan. Lihat saja sekarang. Dia bahkan tidak tahu kalau aku ada di sini. Jika saya ini adalah orang jahat yang selama ini kita takuti bagaimana dengan keadaan anda. Anda yakin bisa melindungi diri Anda sendiri?"
Nyonya Yolanda terdiam. Ya, memang selama ini Nyonya Yolanda menjadi target seseorang. Mereka juga tidak tahu. Jika tidak ada Tesya yang selalu menjaganya mungkin detik ini Nyonya Yolanda sudah tidak ada di dunia ini lagi.
"Kau benar. Tidak seharusnya aku pergi sejauh ini. Ke tempat yang jaringan teleponnya susah dan sangat jauh dari kota. Di sini sangat berbahaya." Nyonya Yolanda duduk di sebuah sofa yang ada di dekatnya. "Aku benar-benar bodoh. Karena sakit hati melihat Abraham aku sampai berubah menjadi wanita bodoh. Tidak lagi memikirkan keselamatanku."
"Sekarang ayo pulang bersama saya Nyonya."
Nyonya Yolanda mengangkat kepalanya. "Bagaimana dengan Otis?"
"Saya akan mencarinya dan membawanya juga pulang ke kota. Tetapi yang utama untuk saat ini adalah keselamatan anda. Kita harus segera pulang. Soal Tuan Abraham, anda tenang saja. Mereka sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Terakhir bertemu mereka bertengkar. Sebenarnya ada informasi penting yang ingin saya sampaikan. Saya tidak tahu ini kabar baik atau kabar buruk bagi anda. Tapi saya berharap informasi yang saya berikan ini bisa mengurangi rasa sakit di anda."
Nyonya Yolanda mengangguk. "Cepat katakan."
"Saya sudah berhasil memberi pelajaran kepada wanita murahan itu. Saya sudah pastikan dia sakit hati dan tidak bisa tidur dengan nyenyak sejak saat itu. Saya bahkan sudah memiliki video yang bisa membuatnya dipandang rendah oleh seluruh orang yang ada di dunia ini. Saya yakin dia tidak akan berani mengangkat wajahnya untuk memandang semua orang. Informasi terakhir yang saya terima, Tuan Abraham meminta seseorang dan membawanya pergi meninggalkan Indonesia. Saya tidak terlalu tahu ke mana dia dibawa pergi."
"Itu sudah tidak penting lagi bagi saya. Mau dia mati atau hidup saya sudah tidak peduli."
"Informasi selanjutnya mungkin ini sedikit mengejutkan bagi anda. Tapi saya harap Anda siap untuk mendengarnya. Wanita itu hamil Nyonya."
Nyonya Yolanda mematung mendengarnya. Dia Memandang wajah Tesya dengan mata berkaca-kaca. "Anak Abraham?"
Tesya terlihat ragu. "Saya tidak tahu, Nyonya. Dia juga bukan wanita baik-baik."
__ADS_1
Nyonya Yolanda terlihat sangat frustasi. Wanita itu menutup wajahnya dengan tangan. "Bawa aku pulang sekarang. Aku ingin bertemu Abraham!"